ANMELDENTanpa menghiraukan perebutan di belakang mereka, Guru Jian akhirnya memutuskan untuk berbalik arah.
“Ayo, kita kembali ke akademi,” ajak Guru Jian singkat seraya melangkah pergi.
Arkan pun patuh dan mengekor di belakangnya. Namun, raut kekecewaan tidak bisa disembunyikan dari wajah pemuda itu.
“Kita tidak mendapatkan apa-apa hari ini, Guru ...” gumam Arkan pelan. Ia lalu memberanikan diri bertanya karena penasaran, “Sebenarnya, apa bedanya mengikat Hewan Roh dari telur dengan menangkap Hewan Roh yang sudah dewasa secara langsung?”
Guru Jian terkekeh pelan mendengar pertanyaan muridnya. Sembari menuntun jalan keluar menyusuri rimbunnya Hutan Bulan Perak, ia mulai menjelaskan.
“Perbedaannya sangat besar, Arkan,” ujar Guru Jian penuh kesabaran. “Menangkap Hewan Roh yang sudah dewasa—seperti yang dilakukan kedua kakakmu—memang memberikan tambahan kekuatan secara instan. Tapi, Hewan Roh liar yang sudah dewasa memiliki naluri membangkang. Ikatan batinnya dangkal, dan ia bisa saja memberontak jika kau dalam keadaan lemah.”
Guru Jian menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Arkan.
“Sebaliknya, jika kau meneteskan Hewan Roh langsung dari telurnya, kau bisa menorehkan Jejak Jiwa sejak pertama kali ia bernapas di dunia. Hewan Roh itu akan menganggapmu sebagai keluarga dan bagian dari jiwanya sendiri. Kesetiaannya mutlak, serta pertumbuhan kekuatannya akan menyatu sempurna dengan Jiwa Harmoni milikmu.”
Arkan mengangguk-angguk paham, matanya kembali berbinar. Penjelasan tersebut membakar kembali semangatnya yang sempat redup.
“Suasana hati sedang tidak baik. Lebih baik besok kita kembali lagi. Untuk sekarang, biarkan mereka mendapatkan itu terlebih dahulu,” kata Guru Jian santai.
Ucapan sang guru seketika membuat Arkan lega dan mengangguk setuju. Kini Arkan bisa mempersiapkan dirinya jauh lebih baik, sebab ia sudah mengetahui gambaran situasi, kondisi medan, serta ancaman bahaya yang ada di dalam sana.
Guru Jian menepuk bahu muridnya pelan. “Ingat Arkan, dalam dunia kultivasi, kekuatan bukan satu-satunya kunci. Mengetahui kapan harus maju dan kapan harus menahan diri jauh lebih penting untuk bertahan hidup.”
Arkan mengepalkan tangannya, memutar kembali ingatan tentang posisi telur misterius, pola serangan sang Kaisar hutan, hingga kelemahan pergerakan kedua kakaknya. Tekad di dadanya kian membara—besok, saat mereka kembali, ia tidak akan lagi melangkah sebagai pemuda yang ketakutan.
Malam itu, gubuk kumuh tempat tinggal Arkan dipenuhi suasana hening yang sarat akan tekad. Sinar rembulan menerobos lewat celah-celah dinding kayu yang lapuk, menerangi pemuda itu yang sibuk mempersiapkan diri.
Arkan tahu betul bahwa ia tak boleh lagi menjadi beban bagi Guru Jian. Besok, ia harus jauh lebih berguna.
Dengan teliti, Arkan mengasah sebilah pisau pemburu tua peninggalan ibunya hingga berkilat tajam. Ia juga menyiapkan beberapa lembar kain lapis untuk membebat jemari serta pergelangan tangannya agar genggamannya tak mudah tergelincir saat bertarung. Walau belum memiliki aura kultivasi yang kuat, setidaknya jika bahaya mendadak mengintai, ia tidak akan lagi hanya pasrah berdiri—ia bisa melawan.
Arkan kemudian menyampirkan tas kain sederhana di bahunya, mengisinya dengan sedikit perbekalan dan kantung air. Setiap gerakan tangannya dilakukan dengan cermat, memutar kembali ingatan tentang posisi gundukan batu raksasa dan pola pergerakan Hewan Roh tingkat Kaisar yang ia lihat siang tadi.
Mata Arkan menatap tajam ke arah kegelapan di luar jendela. Rasa takut yang semula menghantuinya kini perlahan berubah menjadi keberanian yang dingin. Besok, ia siap melangkah kembali ke Hutan Bulan Perak bukan sebagai "sampah" yang lemah, melainkan seorang murid yang siap merebut takdirnya sendiri.
Keesokan paginya, suasana Akademi Cakrawala gempar. Berita tentang keberhasilan Zen dan Lie membawa pulang telur emas dari Hewan Roh tingkat Kaisar menyebar kilat ke seluruh penjuru area.
Tan Hau, sang Ketua Akademi sekaligus ayah mereka, membusungkan dada bangga. Tanpa membuang waktu, ia segera mengumpulkan seluruh siswa dan pengajar di lapangan utama akademi hanya untuk memamerkan serta mengumumkan pencapaian gemilang kedua putra kesayangannya itu.
Di sudut terujung lapangan, berdiri Arkan di antara kerumunan. Ia menatap panggung megah itu dalam diam, tanpa berniat memberikan komentar apa pun.
"Lihat itu! Tuan Muda Zen dan Tuan Muda Lie memang jenius sejati!" seru seorang siswa di depan Arkan dengan mata berbinar kagum. "Mendapatkan telur dari Hewan Roh tingkat Kaisar ... masa depan mereka pasti tak tertandingi!"
Siswa di sampingnya mengangguk setuju, lalu melirik ke arah Arkan dengan tatapan mencemooh. "Tentu saja. Tidak seperti adik mereka yang di sana itu. Sudah sepintas lalu, tak berbakat, hanya jadi benalu akademi."
"Ssst! Jangan keras-keras, nanti si 'sampah' itu dengar!" bisik temannya seraya tertawa geli.
Arkan mendengar setiap kata hinaan itu, tetapi ekspresi wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi. Ia mengepalkan tangannya di balik jubah kain kusamnya, merasakan pisau pemburu yang sudah ia asah tajam semalam tersimpan rapi di balik pinggangnya.
"Biar mereka bersenang-senang untuk hari ini," sebuah suara berbisik sangat pelan tepat di samping telinga Arkan.
Arkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang bicara. Guru Jian sudah berdiri menyamping di dekatnya, menatap ke arah panggung dengan senyum tipis yang sarat akan makna.
"Apa Guru yakin itu telur yang sama?" tanya Arkan sangat pelan, hampir tak terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
"Telur itu memang bernuansa emas, tapi tidak memiliki garis aura hitam yang pekat," sahut Guru Jian tenang. "Mereka merebut telur yang salah dari sarang luar, sementara telur kaisar yang sebenarnya ... masih berada di bagian terdalam hutan."
Arkan menahan napasnya sejenak. ‘Mereka mempermalukan diri sendiri tanpa menyadarinya ...’ batin Arkan.
"Persiapanmu sudah selesai?" tanya Guru Jian lagi.
"Sudah, Guru. Saya siap kapan saja," jawab Arkan mantap, mengunci pandangannya ke arah gerbang belakang akademi yang menuju Hutan Bulan Perak.
Baru saja mereka hendak berbalik pergi meninggalkan lapangan, langkah Arkan mendadak terhenti. Zen berjalan menghampiri dengan gaya sombongnya, dikawal oleh beberapa murid akademi yang sibuk menjilat. Dengan tatapan merendahkan, Zen berdiri menantang di hadapan adik kandungnya itu.
"Hei, anak tak berguna! Mau ke mana kau?" cerca Zen dengan nada memprovokasi. "Untuk apa kau kembali ke hutan itu? Apa kau membuntutiku kemarin hanya untuk berharap mendapat remah-remah keberhasilanku?"
Ejekan itu seketika memicu gelak tawa dari para siswa di sekeliling mereka.
"Tuan Muda Zen benar! Pemuda tanpa bakat seperti dia lebih cocok mengurus kandang kuda daripada melangkah ke dalam hutan!" seru salah seorang murid dengan tawa meledek.
"Memangnya dia pikir bisa mendapatkan Hewan Roh? Menyentuh bulunya saja mungkin sudah membuat tulang-tulangnya patah!" timpal murid lainnya, disambut derai tawa yang makin riuh.
Zen tersenyum puas melihat Arkan dihujani hinaan. Ia lalu menepuk-nepuk jubah sutranya dengan gestur pamer. "Dengar Arkan, Hewan Roh tingkat Kaisar hanya tunduk pada jenius seperti aku dan Lie. Kau yang bahkan tak bisa membangkitkan Spirit Root hanya akan menjadi umpan monster di sana. Sebaiknya kau pulang ke gubuk kumuhmu dan belajar sadar diri!"
Hutan Hitam langsung menyambut Arkan dengan udara lembap yang berbau tanah basah dan desis tajam angin malam yang menyelinap di antara pepohonan purba. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari hingga area Sektor Sembilan hanya diterangi pendar redup jamur-jamur beracun yang tumbuh di akar-akar besar.Arkan berjalan perlahan dengan langkah tanpa suara. Di dadanya, telur hitam bergaris emas bergetar halus, mengirimkan gelombang kehangatan yang memperajam indra penglihatannya di tengah kegelapan.Srak... Srak...Suara gesekan dedaunan terdengar dari tiga arah berbeda. Bukannya jeritan monster, Arkan justru merasakan pancaran tekanan mana manusia yang dingin dan dipenuhi niat membunuh.Tiga sosok berjanggut hitam mengenakan pakaian serba gelap melompat turun dari dahan pohon, mengepung Arkan dalam formasi segitiga. Dari aura yang dipancarkan, ketiganya adalah pendekar tingkat menengah—pembunuh bayaran yang disewa oleh Tetua Kelam dan Tan Hau."Sayang sekali, Bocah,"
Keesokan paginya, suasana di lapangan utama Akademi Cakrawala tampak ramai seperti biasa. Para murid berkumpul untuk menyimak pengumuman rutin, tetapi suasana tenang itu mendadak buyar saat Lie melangkah maju dengan wajah congkaknya.Didorong rasa iri dan ketakutan usai menyaksikan latihan rahasia Arkan semalam, Lie sengaja mencari gara-gara untuk memancing Arkan memamerkan kekuatannya di depan umum—sekaligus memojokkannya.BRAK!Lie menendang wadah air milik seorang murid junior hingga pecah berantakan di tengah lapangan. Murid itu terlonjak kaget dan menunduk ketakutan."Hei, sampah!" teriak Lie dengan suara lantang, matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan Arkan yang sedang berjalan tenang di tepi lapangan sambil mengenakan kembali Gelang Penutup Jiwa-nya.Seluruh perhatian murid-murid seketika tertuju pada Arkan dan Lie."Kau pikir dengan berlindung di balik ketiak Guru Jian, kau bisa melupakan statusmu di tempat ini?" Lie melangkah mendekati Arkan, memamerkan senyum licikn
"Kau sudah pulang? Bagaimana latihanmu di sana?" tanya Guru Jian begitu Arkan melangkah masuk ke dalam kediamannya yang tenang."Mereka tidak melatihku, Guru... mereka hanya fokus menghindari serangan dan menilaiku," jawab Arkan. "Pasti Guru benar-benar orang yang sangat hebat, hingga seluruh guru di akademi begitu sungkan dan segan pada Guru."Guru Jian tertawa lepas mendengar kepolosan muridnya itu."Tentu saja! Aku saja sebenarnya sudah cukup untuk melatihmu. Tan Hau saja yang sengaja ingin menghalangi perkembanganmu dengan berbagai muslihat," ujar Guru Jian penuh percaya diri. "Jika memang begitu situasinya, aku akan menjadwalkan latihan khusus pada malam hari untukmu.""Baik, Guru," sahut Arkan mantap."Sekarang, copot gelangmu. Aku ingin melihat seberapa jauh kau berkembang," perintah Guru Jian seraya menatap pergelangan tangan muridnya.Arkan mengangguk lalu perlahan melepaskan Gelang Penutup Jiwa dari tangannya. Begitu gelang itu terlepas, gelombang mana yang amat murni dan pe
"Tapi aku masih belum bisa menguasai kekuatanku..." bisik Arkan pelan, menatap telapak tangannya sendiri yang sesekali masih bergetar hebat akibat luapan energi liar dari telur misterius itu.Guru Jian menatap muridnya dengan tatapan lembut namun sarat akan kebijaksanaan. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuat keputusan yang tak terduga."Baiklah, kalau begitu kau pergi ke akademi sana sesuai apa yang dikatakan Tan Hau," ujar Guru Jian pelan. "Tenang saja, aku akan membayangimu dan melindungimu dari balik layar."Arkan mendongak, terkejut mendengar perubahan rencana gurunya."Ingat pesan pentingku ini, Arkan," lanjut Guru Jian dengan nada amat serius. "Jangan pernah menarik perhatian mereka, dan jangan pula memancing amarah siapa pun di sana. Kau harus bisa bersabar lebih lama lagi. Meskipun perlakuan mereka nantinya tetap tidak akan baik kepadamu, setidaknya masih ada ilmu dan pengetahuan teknik pertarungan di perpustakaan akademi yang bisa kau pelajari."Guru Jian menepu
Sementara itu, di dalam aula megah Kediaman Tan Hau, suasana terasa begitu mencekat. Tan Hau berjalan mondar-mandir dengan raut wajah gusar, menghempaskan langkah kakinya ke lantai batu pualam yang dingin."Masih tidak ada laporan yang berarti?!" geram Tan Hau, suaranya membentak rendah hingga membuat para pengawal di sekelilingnya tertunduk gemetar.Salah seorang mata-mata yang bertugas mengintai Lembah Dalam membungkuk makin dalam. "Ampun, Tetua Tan... Gubuk itu terus-menerus diselimuti asap obat yang amat pekat. Kami hanya melihat Guru Jian keluar sesekali untuk mengambil air, sedangkan Arkan sama sekali tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Tidak ada pendar mana ataupun lonjakan energi yang terdeteksi."Tan Hau mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa panik perlahan mulai menggerogoti pikirannya."Jian sialan itu..." umpat Tan Hau seraya mengepalkan tinju ke meja kayu di sampingnya hingga retak. "Dia sengaja memasang benteng informasi! Dia melindungi bocah
Arkan mengepalkan jemarinya di balik selimut tebal, merasakan sensasi mana yang mengalir makin tenang dan solid di dalam meridian tubuhnya. Suara langkah kaki kedua pengawal yang makin menjauh dari Lembah Dalam menjadi pertanda bahwa giliran Tan Hau yang kini terjebak dalam permainannya sendiri.Guru Jian menyilangkan tangan di depan dada, menyandarkan punggungnya pada tiang kayu gubuk. "Tan Hau berpikir dia memegang kendali penuh atas akademi ini. Namun, racun terbesar bagi seorang pemimpin yang otoriter adalah kecurigaan berlebih. Makin dia berspekulasi tentang kekuatanmu, makin banyak langkah ceroboh yang akan dia ambil.""Lalu bagaimana dengan persidangan Dewan Tetua, Guru?" tanya Arkan seraya mengubah posisinya menjadi duduk bersila secara perlahan—sama sekali tak terlihat seperti orang yang kemarin nyaris tewas tertebas. "Apakah Tan Hau akan membiarkan Lie lolos begitu saja dari tuduhan melepaskan binatang Tingkat Raja di arena?""Tentu saja tidak seratus persen aman," sahut Gur







