ANMELDENArkan tidak menghindar. Dengan dorongan insting yang cepat, ia merentangkan kedua tangannya dan menangkap telur berat itu tepat di pelukannya. Benturan keras membuat Arkan sedikit terdorong ke belakang, namun ia berhasil menjaga keseimbangannya agar telur itu tidak jatuh menghantam tanah.
Zen terkekeh sinis melihat Arkan memeluk telur "mati" tersebut, lalu berbalik pergi meninggalkan mereka dengan gaya angkuh.
Namun, di saat Zen melangkah jauh, hal aneh mendadak terjadi.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Guru Jian panik seraya mendekat.
Arkan tidak menjawab. Rasa nyeri yang tajam menusuk telapak tangannya saat pisau pemburu menggores kulitnya secara tak sengaja. Arkan bermaksud meletakkan telur berat itu ke tanah, tetapi terlambat—cangkang hitam pekat itu mendadak menyerap seluruh tetesan darahnya hingga tak berbekas.
Aura merah tipis berkilat sekilas di permukaan cangkang, menandakan bahwa sebuah hubungan batin mutlak telah terikat. Telur itu telah mengunci Arkan sebagai pemiliknya!
“Kau ... kenapa kau malah membuat Kontrak Darah dengan telur ini?!” seru Guru Jian dengan suara bergetar penuh penyesalan.
“A-aku ... aku tidak tahu, Guru! Ini tidak sengaja!” jawab Arkan gagap, matanya membelalak menatap telapak tangannya yang kini meninggalkan bekas tanda bintang.
Guru Jian memegang dahinya, menarik napas panjang dengan raut wajah frustrasi. “Bahkan telur ini tak pernah menetas selama ribuan tahun! Tidak ada satu pun sesepuh akademi yang tahu ini telur dari Hewan Roh apa, atau apakah ia benar-benar masih hidup!”
Meskipun Kontrak Darah telah sah terbentuk secara magis, telur hitam pekat itu kembali menjadi dingin dan kaku. Tidak ada tanda-tanda keretakan, tidak ada retakan cahaya, dan tak ada indikasi sedikit pun bahwa makhluk di dalamnya akan menetas dalam waktu dekat.
Arkan terduduk di tanah, merengkuh telur "mati" yang kini telah mengikat takdir jiwanya. Rasa penyesalan dan kebimbangan mulai merayapi pikirannya.
“Lalu sekarang bagaimana, Guru?” tanya Arkan dengan suara bergetar penuh penyesalan. Matanya menatap nanar ke arah telur hitam pekat di pangkuannya.
Guru Jian menghela napas panjang, menatap muridnya dengan tatapan campur aduk antara prihatin dan pasrah.
“Kita tidak bisa mencari Hewan Roh lain lagi,” jawab Guru Jian pelan namun terasa menghantam dada Arkan. “Aturan alam kultivasi mutlak: jiwa seorang manusia hanya bisa menampung satu Kontrak Darah utama. Karena kau sudah terikat dengan telur ini, takdirmu sudah terkunci dengannya.”
Arkan seketika terduduk lemas di atas tanah yang dingin. Lulutnya terasa tak bertulang. Harapannya untuk bangkit dan merebut keberadaan Hewan Roh tingkat Kaisar di Hutan Bulan Perak hancur berkeping-keping dalam sekejap.
“Lalu ... apa yang harus aku lakukan?” gumam Arkan lirih, menatap telapak tangannya yang masih berbekas tanda ikatan magis.
“Kita hanya bisa menunggu telur ini menetas,” sahut Guru Jian seraya menepuk bahu Arkan berusaha memberi ketenangan, walau ia sendiri ragu. “Bahkan jika harus memakan waktu bertahun-tahun, atau jika ia tak pernah menetas sama sekali ... kau harus menanggung ikatan ini.”
Arkan meremas jemarinya. Di saat saudara-saudaranya disanjung karena membawa telur berharga tinggi dan bersiap melatih Hewan Roh dewasa, ia justru terjebak dengan sebuah telur pajangan yang dicap "mati" oleh seluruh akademi selama ribuan tahun.
Malam itu, Arkan benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Kata-kata Guru Jian terus bergema di kepalanya bagai dentang lonceng kematian: kontrak darah hanya bisa dilakukan satu kali. Harapannya untuk merebut takdir dan membuktikan diri seolah sirnah, menyisakan telur hitam bisu yang terpajang dingin di sudut kamar kusamnya.
Namun, penderitaan Arkan belum selesai. Naasnya, Zen tidak berhenti sampai di sana.
Merasa hinaan siang tadi belum memuaskan dahaga kesombongannya, Zen menyelinap ke gubuk Arkan di tengah malam bersama dua pengikut setianya. Tanpa peringatan, Zen mendobrak pintu kayu tua itu hingga hancur berkeping-keping.
"Masih meratapi telur busukmu, Sampah?" bisik Zen penuh rasa dengki seraya melangkah masuk.
Sebelum Arkan sempat membela diri atau menarik pisau pemburunya, kedua pengikut Zen langsung mencengkeram kedua tangan Arkan, menekannya hingga berlutut di lantai. Zen berjalan mendekati telur hitam pekat yang tergeletak di meja, lalu tertawa sinis.
"Aku mendengar kabar menarik," ujar Zen seraya mengangkat telur itu tinggi-tinggi. "Katanya kau sudah mengikat darah dengan benda mati ini? Bagus sekali! Artinya kesempatanmu untuk memiliki Hewan Roh seumur hidupmu sudah habis!"
"Hentikan, Zen! Kembalikan telur itu!" teriak Arkan mencoba memberontak, namun cengkeraman di bahunya terlalu kuat.
"Kembalikan? Tentu saja," jawab Zen dengan senyum licik.
Tanpa belas kasihan, Zen mengayunkan tangannya dan mencampakkan telur hitam itu sekuat tenaga ke arah lantai batu keras di luar gubuk!
PRANG!
Suara benturan keras menggetarkan lantai batu di luar gubuk. Namun, keajaiban terjadi. Bukannya hancur berkeping-keping menjadi pecahan busuk seperti yang diharapkan Zen, telur hitam pekat itu justru berguling tenang. Permukaannya mulus sempurna, tidak retak mau pun tergores sedikit pun. Lantai batu di bawahnya malah retak menjalar akibat kerasnya hantaman tersebut.
Melihat hal itu, wajah Zen seketika memerah padam. Rasa malu dan amarah yang meluap membuat kesabarannya habis sepenuhnya.
"Benda mati sialan!" geram Zen murka.
Menumpahkan kekesalannya karena gagal mempermalukan Arkan lebih jauh, Zen berbalik dan melampiaskan seluruh amarahnya. Tanpa belas kasihan, Zen melayangkan pukulan bertubi-tubi tepat ke tubuh Arkan.
Bugh! Bugh!
Pukulan bermuatan aura kultivasi melayang keras mengenai perut dan wajah Arkan. Tubuh pemuda itu terhempas menghantam dinding kayu yang lapuk, memuntahkan setetes darah segar dari mulutnya.
"Kau pikir kau beruntung, hah?!" bentak Zen seraya mencengkeram kerah baju Arkan dan menghantamkannya sekali lagi ke lantai. "Walaupun telur busuk itu tidak hancur, kau tetaplah seonggok sampah yang terikat pada benda mati selamanya!"
Dua pengikutnya tertawa terbahak-bahak melihat Arkan tergeletak tak berdaya di atas tanah, memegangi perutnya yang serasa diremas hebat.
Setelah puas melampiaskan emosi dan memukuli adiknya hingga babak belur, Zen menghempaskan Arkan dengan kasar, lalu mendesis dingin, "Ayo pergi. Biarkan dia memeluk telur tidak bergunanya itu sampai mati!"
Dengan gelak tawa yang menggema di kegelapan malam, Zen dan para pengikutnya melangkah pergi meninggalkan gubuk yang kini makin hancur.
Arkan mengerang kesakitan, terbatuk-batuk seraya berusaha merayap di tanah dingin. Pandangannya samar, namun jemarinya terus merayap maju ke arah tempat telur hitam itu tergeletak.
Saat jemari Arkan yang berdarah akhirnya menyentuh permukaan telur tersebut, sesuatu yang asing mendadak terjadi. Darah dari luka pukul di jemari dan bibir Arkan yang menetes ke atas cangkang perlahan-lahan terserap habis.
Tiba-tiba, cangkang telur hitam pekat itu memancarkan kilatan garis emas tipis yang menyala hangat. Rasa hangat yang amat kuat menjalar cepat dari telapak tangan Arkan, merambat melewati pembuluh darahnya, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya yang lebam dan remuk.
Rasa sakit yang membakar di perut dan dadanya perlahan menyusut. Luka robek di bibirnya menyatu kembali, memar di wajahnya memudar tanpa bekas, dan napasnya yang semula sesak mendadak kembali ringkas serta segar.
Luka-luka Arkan tiba-tiba sembuh total hanya dalam hitungan detik!
Arkan terbelalak, menatap telapak tangannya sendiri dengan rasa tak percaya. Ia mengepalkan jemarinya—rasa lelah dan lemah yang biasanya menghantui tubuhnya mendadak berganti menjadi aliran energi hangat yang asing namun sangat murni.
Lie terduduk kaku, seluruh persendiannya gemetar hebat. Bayangan tinju Arkan yang menghancurkan tengkorak monster tingkat empat itu terus berputar di otaknya bagai mimpi buruk. Rasa dingin merayapi punggungnya ketika Arkan berjalan melewatinya begitu saja, meninggalkannya yang bersimbah peluh dingin di tengah bangkai Beruang Besi Berduri."Dia... dia bukan manusia," bisik Lie serak. Ketakutan murni melumpuhkan harga dirinya yang selama ini ia agungkan sebagai murid bertalenta klan Tan Hau. Dengan sisa-sisa tenaga, Lie merangkak menjauhi tempat itu, meratapi fakta bahwa pemuda yang selalu ia sebut sampah kini memegang kendali atas hidup dan matinya.Sementara itu, di pinggir Hutan Hitam yang berbatasan dengan Sektor Sembilan, Tan Hau dan Tetua Kelam berdiri di atas tebing batu dengan tangan terlipat. Waktu ujian hampir habis, dan senyum kemenangan merekah di bibir mereka."Sudah terlalu lama," ujar Tetua Kelam seraya menyunggingkan seringai puas. "Ketiga pembunuh bayaran yang kita utus
Hutan Hitam langsung menyambut Arkan dengan udara lembap yang berbau tanah basah dan desis tajam angin malam yang menyelinap di antara pepohonan purba. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari hingga area Sektor Sembilan hanya diterangi pendar redup jamur-jamur beracun yang tumbuh di akar-akar besar.Arkan berjalan perlahan dengan langkah tanpa suara. Di dadanya, telur hitam bergaris emas bergetar halus, mengirimkan gelombang kehangatan yang memperajam indra penglihatannya di tengah kegelapan.Srak... Srak...Suara gesekan dedaunan terdengar dari tiga arah berbeda. Bukannya jeritan monster, Arkan justru merasakan pancaran tekanan mana manusia yang dingin dan dipenuhi niat membunuh.Tiga sosok berjanggut hitam mengenakan pakaian serba gelap melompat turun dari dahan pohon, mengepung Arkan dalam formasi segitiga. Dari aura yang dipancarkan, ketiganya adalah pendekar tingkat menengah—pembunuh bayaran yang disewa oleh Tetua Kelam dan Tan Hau."Sayang sekali, Bocah,"
Keesokan paginya, suasana di lapangan utama Akademi Cakrawala tampak ramai seperti biasa. Para murid berkumpul untuk menyimak pengumuman rutin, tetapi suasana tenang itu mendadak buyar saat Lie melangkah maju dengan wajah congkaknya.Didorong rasa iri dan ketakutan usai menyaksikan latihan rahasia Arkan semalam, Lie sengaja mencari gara-gara untuk memancing Arkan memamerkan kekuatannya di depan umum—sekaligus memojokkannya.BRAK!Lie menendang wadah air milik seorang murid junior hingga pecah berantakan di tengah lapangan. Murid itu terlonjak kaget dan menunduk ketakutan."Hei, sampah!" teriak Lie dengan suara lantang, matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan Arkan yang sedang berjalan tenang di tepi lapangan sambil mengenakan kembali Gelang Penutup Jiwa-nya.Seluruh perhatian murid-murid seketika tertuju pada Arkan dan Lie."Kau pikir dengan berlindung di balik ketiak Guru Jian, kau bisa melupakan statusmu di tempat ini?" Lie melangkah mendekati Arkan, memamerkan senyum licikn
"Kau sudah pulang? Bagaimana latihanmu di sana?" tanya Guru Jian begitu Arkan melangkah masuk ke dalam kediamannya yang tenang."Mereka tidak melatihku, Guru... mereka hanya fokus menghindari serangan dan menilaiku," jawab Arkan. "Pasti Guru benar-benar orang yang sangat hebat, hingga seluruh guru di akademi begitu sungkan dan segan pada Guru."Guru Jian tertawa lepas mendengar kepolosan muridnya itu."Tentu saja! Aku saja sebenarnya sudah cukup untuk melatihmu. Tan Hau saja yang sengaja ingin menghalangi perkembanganmu dengan berbagai muslihat," ujar Guru Jian penuh percaya diri. "Jika memang begitu situasinya, aku akan menjadwalkan latihan khusus pada malam hari untukmu.""Baik, Guru," sahut Arkan mantap."Sekarang, copot gelangmu. Aku ingin melihat seberapa jauh kau berkembang," perintah Guru Jian seraya menatap pergelangan tangan muridnya.Arkan mengangguk lalu perlahan melepaskan Gelang Penutup Jiwa dari tangannya. Begitu gelang itu terlepas, gelombang mana yang amat murni dan pe
"Tapi aku masih belum bisa menguasai kekuatanku..." bisik Arkan pelan, menatap telapak tangannya sendiri yang sesekali masih bergetar hebat akibat luapan energi liar dari telur misterius itu.Guru Jian menatap muridnya dengan tatapan lembut namun sarat akan kebijaksanaan. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuat keputusan yang tak terduga."Baiklah, kalau begitu kau pergi ke akademi sana sesuai apa yang dikatakan Tan Hau," ujar Guru Jian pelan. "Tenang saja, aku akan membayangimu dan melindungimu dari balik layar."Arkan mendongak, terkejut mendengar perubahan rencana gurunya."Ingat pesan pentingku ini, Arkan," lanjut Guru Jian dengan nada amat serius. "Jangan pernah menarik perhatian mereka, dan jangan pula memancing amarah siapa pun di sana. Kau harus bisa bersabar lebih lama lagi. Meskipun perlakuan mereka nantinya tetap tidak akan baik kepadamu, setidaknya masih ada ilmu dan pengetahuan teknik pertarungan di perpustakaan akademi yang bisa kau pelajari."Guru Jian menepu
Sementara itu, di dalam aula megah Kediaman Tan Hau, suasana terasa begitu mencekat. Tan Hau berjalan mondar-mandir dengan raut wajah gusar, menghempaskan langkah kakinya ke lantai batu pualam yang dingin."Masih tidak ada laporan yang berarti?!" geram Tan Hau, suaranya membentak rendah hingga membuat para pengawal di sekelilingnya tertunduk gemetar.Salah seorang mata-mata yang bertugas mengintai Lembah Dalam membungkuk makin dalam. "Ampun, Tetua Tan... Gubuk itu terus-menerus diselimuti asap obat yang amat pekat. Kami hanya melihat Guru Jian keluar sesekali untuk mengambil air, sedangkan Arkan sama sekali tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Tidak ada pendar mana ataupun lonjakan energi yang terdeteksi."Tan Hau mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa panik perlahan mulai menggerogoti pikirannya."Jian sialan itu..." umpat Tan Hau seraya mengepalkan tinju ke meja kayu di sampingnya hingga retak. "Dia sengaja memasang benteng informasi! Dia melindungi bocah







