LOGINDicap sebagai sampah, Arkan hanya bisa menelan penderitaan sebagai putra Ketua Akademi yang dianggap tak berbakat. Hinaan dari saudara-saudaranya serta tatapan remeh orang-orang telah menjadi makanan sehari-hari. Namun, arah hidup Arkan berubah total ketika Guru Jian—sosok misterius berkekuatan mengerikan—tiba-tiba mengangkatnya sebagai murid. Di tengah usahanya untuk bangkit, Arkan justru dihadapkan pada ujian yang membingungkan: ia hanya mendapatkan sebuah telur Hewan Roh yang bahkan tak kunjung menetas. Mampukah Arkan mengubah takdirnya dengan telur "mati" tersebut, ataukah ia akan selamanya menjadi pecundang di mata dunia?
View MoreSrak srak srak
Di depan halaman sebuah akademi, Arkan memegang sapu bambu itu, menjadi kesehariannya. Tidak ada yang tahu jika dia merupakan anak ke-3 dari pemilik akademi.
Keberadaannya memang tidak diakui oleh keluarganya karena sejak lahir ia memiliki qi yang sedikit, qi sebagai fondasi awal seseorang bisa berkultivasi. Jadi, ia dibuang oleh keluarganya sendiri.
Tian Hao yang merupakan ayahnya pun mengabaikan Arkan. Ia tinggal di akademi hanya untuk bersih-bersih dan ia bahkan tinggal di gubuk dekat kandang kuda. Hanya ada satu orang kakek yang peduli padanya, kakek itu merupakan penjaga kuda di akademi.
Hari mulai sore, ia berniat kembali ke belakang akademi. Namun sial, ia dihadang oleh Zen dan Lie yang merupakan kedua kakaknya.
Zen menarik kerah Arkan dengan keras lalu membantingnya ke tanah tanpa perikemanusiaan.
“Mau ke mana kau, adik kecil? Belum juga latihan sudah mau pulang!” cemooh Zen dengan tatapan licik dan senyum meremehkan.
“Aku sudah selesai membersihkan semua...” sahut Arkan gemetar, mencoba membela diri sembari menahan sakit.
“Siapa yang menyuruhmu kembali? Kita latihan dulu!” potong Lie tajam dengan wajah penuh kedengkian, bertindak seolah Arkan adalah sasaran empuknya, sambil melancarkan tinju keras tepat pada perut Arkan.
Duk! Duk! Duk!
Suara pukulan itu benar-benar menghantam Arkan. Kedua kakaknya tanpa ampun terus memukulinya dengan rasa puas yang kejam.
Banyak murid yang lewat hanya melihatnya saja tanpa peduli. Hal itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Tidak ada yang tahu jika Arkan adik mereka, murid akademi hanya tahu Arkan adalah pelayan.
Setelah terkapar lemas, Zen dan Lie pergi begitu saja tanpa rasa salah sedikit pun. Arkan hanya bisa meringis, menahan rasa sakit luar biasa itu sendirian. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba untuk bangkit dan berjalan tertatih-tatih menuju gubuk reot yang merupakan tempat tinggalnya.
Ia segera masuk, membiarkan tubuhnya roboh dan berbaring pasrah di atas tumpukan jerami yang keras.
“Sial ... sakit sekali,” umpat Arkan meringis kesakitan, meremas dada dan perutnya yang masih berdenyut nyeri sembari menahan air mata kekecewaan yang hampir menetes.
Arkan memejamkan mata, hingga tanpa terasa ia tertidur karena tubuhnya yang terlalu lelah.
Tok ... tok ... tok ...
Suara pintu kayu tua itu terdorong terbuka. Kakek Ma datang membawakan sedikit makanan. Hari sudah mulai malam, dan kakek tua itu tahu betul jika Arkan pasti belum menyentuh makanan sama sekali.
“Arkan, bangun ... makan dulu,” panggil Kakek Ma lembut, menatap iba ke arah tumpukan jerami.
“Ehhmmm ...” Arkan menguap pelan sembari menyipitkan mata. Begitu sinar remang menerangi ruang gubuk, wajahnya yang penuh lebam kebiruan terlihat begitu jelas.
Kakek Ma terperanjat pelan. “Kau ... dipukuli lagi?”
“Sudah biasa, Kek,” sahut Arkan mengulas senyum tipis yang dipaksakan, mencoba terkekeh kecil walau bibirnya yang pecah terasa begitu perih.
Arkan mengambil nampan berisi makanan yang dibawakan Kakek Ma, lalu mulai memakannya dengan perlahan. Makanan itu terasa sangat hambar, bahkan hampir tidak ada rasanya sama sekali, tetapi cukuplah untuk mengganjal perutnya yang sangat lapar.
“Kau besok tidak perlu menyapu, biar Kakek saja yang menggantikanmu,” usul Kakek Ma dengan raut wajah cemas, menatap iba luka-luka di tubuh Arkan.
“Tidak perlu, Kek. Mereka akan semakin merajalela kalau Kakek yang berada di sana,” tolak Arkan pelan sembari menggelengkan kepala.
“Tapi kondisimu itu belum pulih! Kau bisa mati kalau dipukuli lagi!” seru Kakek Ma dengan nada panik, suaranya bergetar menahan kekhawatiran yang mendalam.
Aku justru jauh lebih khawatir kalau Kakek yang malah kena pukul nanti, batin Arkan resah. Ia paham betul karakter kedua kakaknya yang sangat bertangan besi itu.
“Tidak perlu, Kek ... aku masih sanggup,” jawab Arkan mantap, memegang tangan Kakek Ma untuk menahannya. Ia sungguh tidak ingin satu-satunya orang yang peduli padanya ikut mendapatkan masalah karena kejahatan keluarganya sendiri.
Arkan sadar ia tidak memiliki pendukung sama sekali di akademi ini. Ia tahu betul apa yang akan dilakukan oleh kakak-kakaknya, dan sang ayah jelas-jelas akan mendukung kedua putranya tersebut.
“Baiklah ... langsunglah beristirahat setelah makan. Kakek akan mencarikan obat untukmu,” kata Kakek Ma mengalah, hendak beranjak pergi. Namun, Arkan langsung menghentikan langkahnya.
“Tidak perlu, Kek. Kakek juga harus istirahat, lagipula malam sudah sangat larut. Sangat berbahaya kalau kita keluar sekarang,” cegah Arkan dengan nada khawatir. Ia tahu akademi dijaga sangat ketat saat malam hari, dan jelas akan menimbulkan kesalahpahaman jika ada orang yang keluyuran di jam seperti ini.
Meski menahan rasa kasihan yang teramat sangat di dadanya, Kakek Ma akhirnya mengangguk pelan dan menuruti perkataan Arkan.
Pagi harinya, Arkan merasa semua tulangnya serasa patah. Tubuhnya terasa begitu berat, tetapi ia tahu bahwa ia harus tetap bangkit. Dengan susah payah, ia memaksakan fisiknya untuk bangun.
Saat ia melangkah keluar gubuk, Kakek Ma terlihat sedang sibuk memberi makan kuda-kuda, dan para pekerja akademi lainnya pun sudah mulai bekerja. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu siapa Arkan sebenarnya; mereka semua hanya mengira Arkan adalah seorang anak yatim piatu yang bernasib malang.
“Bagaimana kondisimu? Kakek mendapatkan ini,” kata Kakek Ma tiba-tiba sambil menyodorkan sebungkus obat pereda nyeri dengan raut wajah penuh perhatian.
Arkan terkejut bukan main. Rasa khawatir langsung menyergap hatinya, takut jika Kakek Ma nekat melakukan sesuatu yang berbahaya demi dirinya.
“Dari mana ini, Kek?” tanya Arkan penuh kecemasan. “Kakek tidak melakukan hal yang membahayakan, 'kan?”
“Tenang saja. Buktinya Kakek masih baik-baik saja di hadapanmu,” jawab Kakek Ma terkekeh pelan, mencoba menenangkan.
“Minumlah ini dan oleskan obat ini,” lanjut Kakek Ma seraya menyodorkan beberapa jenis obat sederhana. Meski bukan kualitas tinggi, bagi orang seperti mereka, yang namanya obat tetaplah barang yang sangat mahal.
Walau masih memendam sedikit rasa curiga, Arkan berusaha berpikir positif. Ia segera meminum obat tersebut dan mengoleskan ramuan pada luka-lukanya. Sungguh tak disangka, tubuhnya terasa jauh lebih ringan setelah mengonsumsi obat dari Kakek Ma.
“Terima kasih banyak, Kek! Aku akhirnya bisa bekerja dengan lebih ringan,” ujar Arkan dengan mata berbinar lega, langsung merasakan khasiat ajaib dari obat itu.
Hari itu, Arkan menyapu halaman akademi yang luas seperti biasa, membersihkan lorong dan ruangan. Semua terasa ringan berkat obat dari Kakek Ma. Di siang harinya, ia sengaja tidak makan dan menyimpan jatah makanannya. Ia juga memetik beberapa buah di halaman belakang akademi secara sembunyi-sembunyi. Makanan dan buah-buahan itu rencananya akan ia berikan pada Kakek Ma nanti.
Sore hari, seluruh siswa pulang seperti biasa. Arkan sengaja tidak langsung pergi, menunggu hingga Zen dan Lie berlalu. Sambil memegang sapu bambunya, ia melihat kedua kakaknya lewat dengan melemparkan senyum mencurigakan ke arahnya.
Arkan yang tidak paham maksud senyuman itu hanya bisa merasa lega karena hari ini ia tidak dipukuli. Akhirnya, ia bisa pulang ke gubuk dengan tenang sembari membawa makanan untuk Kakek Ma sebagai rasa terima kasihnya.
Brukkk!
Semua makanan yang dibawanya terjatuh berserakan di tanah. Arkan berdiri membeku dengan mata terbelalak lebar, napasnya tertahan saat melihat Kakek Ma sedang diseret paksa oleh dua orang penjaga akademi.
“Iya, dia adalah anak ketiga dari Ketua Akademi,” jawab Jian tenang.Mendengar hal itu, Kakek Ma langsung membungkuk cemas. “M-maafkan aku, Tuan Muda! Selama ini aku sudah berlaku sembarangan padamu!”Arkan dengan cepat menggeleng dan memegang bahu Kakek Ma. “Tidak apa-apa, Kakek. Lagipula, aku hanya dianggap sebagai aib keluarga oleh Ayah. Tolong ... jangan ubah sikap Kakek padaku. Tetaplah seperti biasa.”Kakek Ma tak habis pikir dengan perlakuan keluarga pimpinan akademi itu. Bagaimana bisa seorang anak kandung dibuang dan diperlakukan sebegitu buruknya?“Aku tahu Zen dan Lie memang tidak menyukaiku. Apalagi dengan kondisi diriku yang lemah ini ...” lanjut Arkan menunduk pelan.Guru Jian menepuk bahu Arkan, menghentikan kalimat anak itu. “Makanya, jadilah kuat. Besok kita mulai latihan,” ucap Jian singkat namun tegas, sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Arkan dan Kakek Ma.“Baik, Guru!” seru Arkan penuh tekad.Arkan berusaha memapah Kakek Ma kembali ke gubuk kecil y
Sosok itu melangkah maju dengan amat pelan, sadar betul bahwa Tian Hao tidak mengenali wajahnya dengan jelas.“Aku ...,” ucap pria tua itu dengan suara pelan namun terdengar mantap di tengah aula yang hening. Ia berjalan dengan penuh kehati-hatian menghampiri Arkan yang berdiri mematung di sana.Tian Hao memperhatikan pergerakan itu dalam diam, tatapannya dingin dan tajam. Ia tidak mengenali, bahkan tidak pernah berurusan dengan orang tua tersebut. Ia terus mengamati setiap jengkal langkah si guru tua, menduga-duga apakah selama ini ada sosok di akademinya yang terlewat dari pengawasannya.“Oh ya ... namaku Jian,” ujar pria tua itu memperkenalkan diri dengan senyum tipis. “Kebetulan satu tahun lagi aku pensiun, dan sudah beberapa tahun ini aku tidak aktif mengajar di akademi ini.”Mendengar alasan yang terkesan sekadarnya itu, Tian Hao hanya terdiam dengan dengusan tipis. Baginya, siapa pun gurunya tidak akan berpengaruh apa-apa—memang tidak ada yang bisa diperbaiki dari seorang anak
“Hentikan!!!” teriak Arkan bergetar penuh kemarahan.Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari kencang ke arah kedua penjaga itu, berniat menahan mereka. Namun, salah satu penjaga menyenggol dan mendorong tubuhnya kuat-kuat hingga Arkan yang masih lemah kembali tersungkur ke tanah. Menepis rasa sakitnya, ia bangkit meringis dan kembali mengejar kedua penjaga itu.“Apa yang kalian lakukan pada Kakek Ma?!” bentak Arkan dengan napas terengah-engah.“Jangan halangi kami! Ini perintah langsung dari Ketua!” gertak penjaga itu dingin, tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.Arkan seketika mengepalkan tangannya. Rasa kesal dan amarah membakar dadanya, apalagi saat melihat Kakek Ma hanya bisa tertunduk pasrah diseret menuju aula utama. Tidak ingin tinggal diam, Arkan bergegas menyusul mereka menuju aula.Di dalam aula, atmosfer terasa begitu menekan.“Ternyata ini pencurinya,” ucap Tian Hao datar. Ia adalah Ketua Akademi Cakrawala—pria yang terkenal tegas, dingin, dan selalu mengutamakan
Srak srak srakDi depan halaman sebuah akademi, Arkan memegang sapu bambu itu, menjadi kesehariannya. Tidak ada yang tahu jika dia merupakan anak ke-3 dari pemilik akademi.Keberadaannya memang tidak diakui oleh keluarganya karena sejak lahir ia memiliki qi yang sedikit, qi sebagai fondasi awal seseorang bisa berkultivasi. Jadi, ia dibuang oleh keluarganya sendiri.Tian Hao yang merupakan ayahnya pun mengabaikan Arkan. Ia tinggal di akademi hanya untuk bersih-bersih dan ia bahkan tinggal di gubuk dekat kandang kuda. Hanya ada satu orang kakek yang peduli padanya, kakek itu merupakan penjaga kuda di akademi.Hari mulai sore, ia berniat kembali ke belakang akademi. Namun sial, ia dihadang oleh Zen dan Lie yang merupakan kedua kakaknya.Zen menarik kerah Arkan dengan keras lalu membantingnya ke tanah tanpa perikemanusiaan.“Mau ke mana kau, adik kecil? Belum juga latihan sudah mau pulang!” cemooh Zen dengan tatapan licik dan senyum meremehkan.“Aku sudah selesai membersihkan semua...” sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.