Share

Pergi

Mendengar teriakan Ayara, Thalita terkejut dan menangis. Ayara mencoba untuk menenangkan buah dari pernikahannya dengan Adam. Lalu, mengambil ancang-ancang untuk segera pergi meninggalkan sang suami. Namun, secepat kilat laki-laki itu mengunci pergerakan Ayara.

“Kamu mau ke mana, Ayara?"

“Terserah aku!” Ayara mencoba melepaskan cekalan tangannya, tetapi usahanya sia-sia.

“Kamu harus dengar penjelasanku, Ay ....” Wajah Adam terlihat memelas.

“Penejelasan?” Penjelasan apa?!” Air mata wanita itu lagi-lagi tumpah. Bagaimana tidak, kebahagiaan yang selama ini ia bangun dengan susah payah bersama sang Suami, kini hancur berantakan. 

Selama ini, Ayara merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena dinikahi oleh laki-laki yang menutup mata pada masa lalunya yang kelam, masa lalu yang hampir semua orang akan merasa jijik padanya jika mengetahuinya. Namun, tidak dengan Adam, laki-laki yang berpengetahuan luas itu merengkuh Ayara dalam kehidupan yang sarat dengan kebahagiaan dan nilai-nilai positif kehidupan.

Jika ada orang yang mengenalnya bertanya kenapa Ayara berhijab? Maka Adamlah jawabannya. Jika mereka bertanya sejak kapan ia mulai rutin mengerjakan salat lima waktu? Jawabannya sejak menikah dengan Adam. Jika mereka bertanya sejak kapan ia bisa membaca Al-Quran? Lagi-lagi semuanya karena Adam. Ayara berubah karena Adam. 

Namun, apa yang Adam lakukan saat ini telah membuat Ayara ingin menghapus segala kebaikan-kebaikan yang pernah Adam perbuat untuknya. Betapa sakitnya saat suami yang teramat Ayara cintai ternyata diam-diam ingin berbagi kasih dengan wanita lain.

Bagaimana Adam bisa melakukan ini padanya? Apa salahnya? Selama ini ia selalu berusaha menjadi istri yang berbakti, melakukan segala perintah suami, menjaga anak dan kehormatannya, tapi apa balasannya? 

“Dengar, Ayara ... aku tidak bermaksud untuk ....”

“Apa?!” Adam terlalu bertele-tele, membuat emosi Ayara semakin mendidih.

“Kita bicarakan baik-baik di dalam, malu kalau didengar orang,” ajak Adam dengan sorot mata memohon.

“Malu?” Ayara menumbuk tatapan pada mata sang suami dengan lekat. Senyum sinis terukir di bibirnya.

“Iya, Sayang. Kita bicarakan baik-baik di dalam saja.” Adam mencoba untuk menarik Ayara masuk, tetapi ia tahan. Hati wanita tersebut sudah terlanjur teriris oleh sikap Adam yang diam-diam menyalahi ucapannya dahulu akan menjadikan Ayara satu-satunya wanita di sampingnya hingga akhir hayat. Kini, bahkan ia tidak meminta pendapat Ayara terlebih dahulu untuk menikahi wanita lain! Apa karena ia sudah tahu jika Ayara akan menolaknya mentah-mentah?

“Aku benci kamu, Mas!” Tangan Ayara terlepas, ia memukul-mukulkan kepalan tangan pada dada Adam yang terbalut jasko. Pria itu hanya melihat sang istri melampiaskan emosi.

Ayara tertunduk sambil terisak setelah pukulan tangannya ternyata tak mampu meredam emosi yang mendidih. Justru, air matanya semakin deras membanjiri pipi.

“Aku akan berlaku adil, Ay....” Adam berucap lirih, membuat Ayara mendongak, menatapnya dengan mata menjegil.

“Adil? Sekiranya kamu adil, kamu akan terlebih dahulu membicarakan keputusanmu ini padaku, Mas. Bukan diam-diam seperti ini!” Suara Ayara bergetar, menahan gejolak di dada yang berdentam keras.

“Aku takut kamu tidak setuju.”

“Kamu benar, Mas. Wanita mana yang setuju suaminya menikah lagi?” Ayara menatap mata sayu Adam. Pria itu menelan ludah, kebingungan hendak berkata apa.

“Aku tahu, Ay. Tapi ....”

“Kalau kamu tahu, kenapa kamu melakukannya, Mas? Kamu tahu jika kamu melakukannya akan membuat keluarga kita berantakan.”

“Dengar, Ayara. Poligami tidak dilarang.”

Ayara tersenyum sinis mendengar ucapan suaminya. Memang tidak pernah dilarang dalam agama, tapi Adam pernah berkata kalau Islam sangat menjunjung monogami, karena dengan monogami sebuah rumah tangga akan tetap beridiri kokoh. Lalu jika sebuah bangunan keluarga bisa berantakan dengan adanya poligami, bukankah sebisa mungkin poligami dihindari? 

Lupakah dia akan ucapannya itu?

“Kamu benar. Tapi Islam tidak membenarkan menuruti hawa nafsu!”

Adam terlonjak kaget mendapati ucapan wanita di depannya.

“Jadi kamu menganggap aku melakukannya karena nafsu? Jangan asal bicara kamu!” Emosinya mulai menguap. Tidak terima dengan ucapan Ayara yang seolah menjustifikasi bahwa dirinya ingin berpoligami atas dasar nafsu belaka, seperti kebanyakan laki-laki di dunia.

Senyum sinis Ayara kembali menyungging.

“Lalu apa kalau bukan karena nafsu? Dalam agama kita sudah ada aturannya semua, bagaimana seharusnya suami jika ingin menikah lagi. Bukan dengan cara diam-diam seperti ini! Ternyata kamu sama saja dengan laki-laki di luar sana yang menjadikan agama sebagai tameng untuk berpoligami!”

Plak!

“Jaga ucapanmu, Ayara!” Adam mendelik. Detik berikutnya wajahnya berubah, menyiratkan penyesalan telah menampar wanita yang telah membersamainya dua tahun terakhir. Bibirnya bergetar, tangannya terjulur untuk menyentuh pundak Ayara.

Thalita kembali menangis melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Seharusnya mereka tidak melakukan ini di depan anak kecil itu, tetapi emosi yang mengungkug dada masing-masing telah menumpulkan akal.

Lihat, laki-laki yang tidak pernah berkata kasar pada Ayara, kini menamparnya. Pipi Ayara terasa panas, tetapi itu bukan apa-apa dibandingkan dengan semua perih yang menjalar di dalam rongga dada.

“Seharusnya kamu tidak tersinggung jika kamu merasa ingin berpoligami bukan karena nafsu," ucap Ayara sembari menatap sinis pria di hadapannya.

Tangis Thalita semakin mengeras. Ayara segera  melangkah menuju mobil di dekat pagar, meninggalkan Adam. 

Adam masih mematung ketika Ayara sudah berada beberapa langkah menuju mobil Nadia. Sejurus kemudian, pria itu berlari menyusul dengan wajah bergurat penyesalan. Ayara membuka pintu mobil dan mendapati Nadia menatapnya prihatin.

Adam menggedor-gedor kaca mobil di dekat Ayara. “Buka, Ay!”

Nadia masih menatap Ayara, menunggu konfirmasi untuk menjalankan mobil. Ayara sudah terlihat tenang. Ayara membuka kaca jendela mobil.

“Ayara ... aku minta maaf.” Adam memelas.

“Aku harus pergi, Mas.” Ayara melihatnya sekejap, kemudian beralih pada Thalita yang hendak terlelap.

“Ayara ... aku mohon jangan pergi. Aku sayang kamu, Ayara.” Adam tetap bersikukuh agar Ayara tetap tinggal. Apa harus Ayara katakan kalau ingin tetap bersamanya maka harus membatalkan pernikahan itu? Ah, baiklah!

“Aku akan memaafkanmu jika kamu sudah membatalkan pernikahan itu.” 

Kaca jendela mobil tertutup. Adam kembali menggedor, tapi tidak Ayara hiraukan. Ia memberi kode pada Nadia agar menjalankan mobil. Tanpa berkata-kata, Nadia mulai menginjak pedal gas.

Adam masih berusaha untuk mengikuti mobil, sampai akhirnya menyerah. Ayara melihat dari kaca spion pantulan sang suami yang semakin mengecil, bersamaan dengan semakin derasnya bulir bening dari netra Ayara.

BERSAMBUNG

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
suami yg main tangan dan gampang berpaling g perlu dipertahankan. tapi klu mau bertahan pastikan kamu ikhlas berbagi.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status