Cinta Tak Kenal Tetangga

Cinta Tak Kenal Tetangga

last updateLast Updated : 2026-07-09
By:  Dea AnggieUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Terlibat emosi, terseret hati. Padahal cuma tetangga! Di tengah malam yang dingin, Valentine Lyra berbisik, "Tolong peluk aku sebentar saja. Aku ingin terlelap dalam dekapanmu-dan Michael Easton tak bisa menolak." Michael adalah lawan adu mulut Valentine. Sejak pertama bertemu, keduanya tidak pernah akur. Sampai saat Valentine pindah tempat tinggal ke sebuah apartemen mewah. Dia secara tidak sengaja menjadi tetangga Michael. Setiap harinya, dilalui Valentine dan Michael dengan keributan. Ada saja kejadian atau hal yang memicu keduanya adu argumen atau bertengkar. Meski seperti tikus dan kucing, anehnya ada rasa saling peduli diantara keduanya. Dan yang paling mengharukan adalah, Michael selalu menjadi orang pertama yang menolong dan membantu Valentine dalam masa-masa sulit. Sampai akhirnya benih cinta pun tumbuh dalam hati masing-masing. Awalnya bertengkar, akhirnya berdebar. Begitulah kisah antara Valentine dan Michael, dua orang yang tidak pernah menyangka bahwa cinta bisa datang dari pertengkaran.

View More

Chapter 1

1. Kucing Galak

Lyn berjalan terburu-buru masuk ke dalam sebuah kafe, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Mike di lorong kafe. Membuat kopi berhamburan. Dan tas milik Lyn terjatuh ke lantai, dengan isi tas yang berserakan.

"Apa kamu sedang memejamkan mata sambil berjalan? Bagaimana bisa nggak lihat ke depan sih!" bentak Lyn kesal. Menatap tajam Mike dihadapannya yang memegang gelas berisikan kopi.

"Hei, aku juga kena! Tidak perlu marah," ucap Mike.

Lyn mendesis, "Kamu yang menabrakku!"

Mike menaikkan alis. "Tidak. Kamu yang..."

"Ah, sudahlah. tidak usah debat! Aku nggak punya waktu meladenimu," kata Lyn, memotong perkataan Mike.

Lyn segera berjongkok mengambil tas dan memungut isi tas yang berserakan. Mike juga ikut jongkok, dia mencoba membantu mengambil barang milik Lyn yang tercecer, tapi Lyn langsung merebutnya kasar.

"Aku bisa sendiri!" kata Lyn kesal.

Mike segera mengangkat kedua tangan, "Oke, sorry. Aku tidak bermaksud apa-apa. Cuma ingin membantu saja. Tidak perlu marah," katanya tenang.

"Tidak bermaksud? Kamu hampir merusak hari santai ku," kata si wanita. Dia berdiri dan membanting tasnya ke bahu. "Bereskan sendiri kopimu. Kamu yang salah, bukan aku."

Lyn berbalik dan langsung pergi, meninggalkan Mike dengan kopi yang masih berhamburan di lantai.

Mike menghela napas panjang usai melihat Lyn pergi dengan langkah keras.

"Ada-ada saja. Aku merusak hari santainya katanya?" kata Mike pada diri sendiri, sambil menatap ceceran kopi di lantai.

Seorang barista mendekat. "Mau ganti kopi, Pak? Gratis," tawarnya.

Mike tersenyum miring. "Tidak apa. Kopiku masih ada dan bisa diminum kok. Oh ya, tolong panggilan petugas kebersihan ya, lalu berikan ini padanya," katanya, memberikan sejumlah uang pada barista.

Barista tersenyum, "baik, Pak. Kalau ingin kopi lagi, silakan memanggil saya. Saya permisi," katanya yang langsung pergi.

Mike segera memilih meja, lalu duduk, dan menikmati sisa kopinya. Dia mengeluarkan laptop dari dalam tas dan mulai bekerja, tapi pikirannya terus memikirkan Lyn.

"Siapa wanita itu? Ah, apa sih? Kenapa juga aku jadi memikirkannya?" kata Mike dalam hati.

***

Beberapa saat Mike bekerja dengan santai. Saat ia selesai, dilihatnya Lyn kembali masuk ke dalam kafe. Mereka bertatap, dan Lyn langsung mengalihkan pandangan.

Mike tersenyum, "kekanakan sekali," katanya dalam hati.

Lyn duduk di meja seberang, memesan teh. Dia mengeluarkan buku, tapi tidak bisa fokus. Dia sering melihat ke arah Mike yang sedang sibuk dengan laptopnya.

Setelah beberapa menit, Lyn berdiri untuk pergi ke kamar mandi. Saat melewati meja Mike, mereka bertatap lagi.

Saat melewati Mike, Lyn berbisik pada diri sendiri, "menyebalkan."

***

Lyn berjalan kembali dari kamar mandi. Dilihatnya Mike sudah pergi entah kemana. Hanya menyisakan gelas kopi.

"Eh, dia sudah pergi aja," kata Lyn.

Lyn kembali duduk dan segera menikmati tehnya yang mulai dingin. Selesai minum teh dan melakukan pembayaran, ia langsung pergi.

Siapa sangka, di luar kafe, Mike menunggu Lyn. Dengan senyum cerah ia menghampiri Lyn.

"Lyn, kan? Aku Mike," kata Mike memperkenalkan diri.

Lyn berhenti, matanya melebar. "Kamu..."

Mike mengulurkan tangan. "Aku akui aku salah. Aku yang menabrak kamu tadi. Mau damai?" tanyanya.

Lyn menyilangkan dua tanganya di dada, ekspresinya masih kesal. "Tidak perlu. Aku tidak mau damai dengan orang yang tidak hati-hati."

Mike tersenyum lagi, "Oke, aku catat itu."

Lyn membalikkan badan, pergi tanpa menoleh.

Sementata itu Mike hanya bisa diam menatapi kepergian Lyn. Ia masih tidak percaya, permintaan maafnya ditolak. Padahal ia sudah mengalah dan mengaku salah meski sebenarnya yang salah adalah Lyn.

***

Lyn ditemani seseorang sedang melihat unit apartemen yang baru saja dibelinya.

"Bagaimana? Apakah anda puas dengan hasil kerja tim kami? Kami sudah merenovasi semuanya bagian yang Anda inginkan."

Lyn menganggukkan kepala perlahan, "puas sekali. Terima kasih banyak sudah mau repot dengan banyaknya permintaanku. Aku memang cerewet," katanya.

"Tidak masalah. Pembeli adalah raja. Selagi kami mampu dan bisa, akan kami lakukan. Jika berlebihan, tentu saja kami akan mencarikan alternatif lain."

"Oh ya, di lantai ini kan cuma ada dua unit. Boleh aku bertanya? Unit sebelah ada penghuninya atau kosong?" tanya Lyn penasaran.

"Ada penghuninya. Lantai ini sebenarnya tidak dijual untuk umum, karena akan digunakan pribadi oleh Bos. Tapi, karena anda ingin area super luas, maka Bos kami melepasnya dengan harga yang telah disepakati."

Lyn cukup terkejut, "ah, aku nggak tahu kalau ada hal kayak gitu. Ngomongin soal Bos, apakah Bos kalian juga tinggal di sini?" tanyanya.

"Tentu saja. Bos menempati penthouse."

Lyn menganggukkan kepala, "oh, pantas saja. Kemarin pas aku tanya-tanya soal penthouse katanya nggak bisa dijual karena milik pribadi," katanya dalam hati.

"Nona Lyn, kapan rencana anda akan pindah?" tanya seseorang itu penasaran.

"Besok," jawab Lyn singkat.

"Apakah anda membutuhkan jasa pindahan? Kami juga menyediakan layanan tersebut," tawar seseorang itu.

"Benarkah? Boleh saja. Nanti aku kirim jam pastinya. Besok suruh saja mereka datang ke apartemen lamaku ya. Kebetulan aku butuh, tapi baru sadar belum cari jasa pindahan. Untung ditawarin," kata Lyn senang.

Karena sudah puas melihat isi unitnya, Lyn dan seseorang itu langsung pergi. Lyn juga masih harus menyiapkan semua barangnya agar tak ada yang terlupa saat pindahan esok hari.

***

Mike berjalan memasuki gedung apartemennya. Melihat Bosnya, seseorang buru-buru menghampiri dan menyapa.

"Bos," sapa seseorang itu tersenyum cerah.

"Halo, Na. Katanya janjian sama pembeli unit 801. Nggak jadi?" tanya Mike.

"Jadi dong, Pak. Orangnya puas dengan kerjaan kita. Seneng banget deh."

"Syukurlah kalau puas. Dia pelanggan pertama yang punya banyak permintaan. Tapi, untungnya dia nggak tawar menawar harga dan langsung setuju. Nggak basa-basi juga. Saya suka orang seperti itu," kata Mike memuji pelanggannya.

"Orangnya baru aja pergi sekitar lima menit lalu. Bos datengnya telat sih. Padahal kalau ketemu pasti seru. Dia cantik banget kayak artis. Siapa tahu kan jadi jodohnya bapak," kata seseorang itu heboh.

Mike tersenyum, "Nana, oh Nana. Kamu ini ya. Kalau ada yang tampan dan cantik langsung heboh. Ngapain juga kamu jodoh-jodohin saya, kayak saya ini nggak laku aja. Sudah dulu, saya mau mandi. Badan saya lengket kena kopi tadi pas di kafe," katanya.

Nana melihat kemeja Bosnya dan kaget, "astaga, Bos. Kok bisa sih. Siapa yang berani numpahin kopi di kemeja puluhan juta ini?" tanyanya heran.

"Dia kucing galak. Datang-datang nabrak, malah ngomel-ngomel dan nyalain orang lain. Kamu kalau ketemu dia sudah pasti langsung emosi," jawab Mike.

"Terus, Bos nggak minta ganti rugi gitu? Biaya cuci misalnya?" tanya Nana, yang adalah Manager gedung apartemen.

Mike menggelengkan kepala, "nggak. Ah, sudah dulu ya. Selamat kerja," katanya yang langsung pergi.

Mike berjalan santai menuju lift. Sementara Nana hanya terpaku menatap punggung lebar Bosnya.

"Duh, Bosku ini emang terlalu baik orangnya. Kalau aku sih bakalan marah-marah lah. Siapa yang mau bajunya dikotorin. Baju murah aja rasanya sayang kalau kotor, apalagi baju mahal? Ckckck... Yang numpahin kopi bener-bener ya. Awas aja kalau aku tahu siapa dia. Aku omelin," kata Nana dalam hati kesal.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status