LOGINTring …Wajah Sesil merasa senang karena ia tahu tidak mungkin kakak iparnya akan marah. Reno menatap penuh harap. “Gimana?” tanya Reno.“Aman aku sudah tahun apa yang dia inginkan.” Sesil berdiri. “Main ke mana?” tanya Reno lagi. “Eh, kamu nggak bilang aku nyuruh kamu tanya, ‘kan?” Reno memastikan. “Nggaklah, Kak.” Sesil menarik Reno agar mengikuti.Sesil mengajak Reno untuk memesan makanan ke pihak hotel. Sesil bercakap-cakap di telepon. Reno hanya mengangguk saja. “Selesai,” ucap Sesil. “Buat Yasmine apa tadi?” Reno masih belum paham. “Sup Miso, cocok untuk ibu hamil.” Sesil tahu jika sang kakak ipar suka yang berkuah. “Apa itu?” sahut Dimas mendengar namanya saja sudah membuat lapar. “Sup Miso (Miso Soup) adalah hidangan sup tradisional Jepang yang berbahan dasar kaldu dashi yang dicampur dengan pasta miso (pasta kedelai fermentasi). Sup ini merupakan makanan pendamping pokok dalam diet Jepang yang sering disajikan sebagai sarapan atau pendamping menu utama karena rasanya
Sampai di bandara Yasmine merasa bersalah. Reno yang menyeret koper sendirian. “Aku bantu ya,” ucap Yasmine ingin mengambil alih koper besar di tangan kiri pria itu. “Jangan aneh-aneh. Ini berat, Yasmine.” Reno dengan tegas.“Aku mau bantu,” lirih Yasmine.“Cukup kamu diem, nggak merepotkan saja itu buat aku sudah senang, Sayang.” Reno yang menghentikan langkahnya.“Beneran?” Suara lembut Yasmine yang terdengar imut membuat Reno merasa gemas.“Iya.” Reno memeluk Yasmine sesaat di tengah kerumunan.“Baiklah.” Wanita itu tersenyum sangat manis.Dimas dan Sesil merasa geli sendiri melihat pasutri itu. Padahal, mereka juga tidak kalah mesra. “Eh, itu private car kita.” Dimas menunjuk ke arah mobil. Mereka pergi ke sana. Yasmine lagi-lagi mual kembali. “Huek!” Wanita muntah di pinggir trotoar. “Kamu masih kuat nggak?!” Sesil panik.“Masih kok.” Yasmine tersenyum tawar.Reno langsung membukakan pintu. Pria itu membawa masuk ke dalam mobil sang istri. Yasmine langsung bersandar di kurs
“Hei, kamu malah ngelamun itu kenapa?” tanya Reno memakai kaus lalu memakai sweater karena di Jepang masih winter.“I-iya Kak.” Yasmine memakai pakaiannya.Di depan cermin wanita itu bersolek. Reno memeluk dari belakang.“Jangan cantik-cantik,” bisik Reno di telinga sang istri.“Apa si Kak!” Yasmine mengomel.“Galak banget,” balas Reno sambil menegakkan tubuhnya.Pria itu keluar dari kamar, Yasmine menoleh merasa tidak enak hati sudah membuat sang suami kecewa. Wanita berdiri lalu turun ke bawah. Melihat Reno yang sedang mengawasi sopir memasukan koper mereka berdua.“Tumben ngambekan?” batin Yasmine lalu menghampiri sang suami. “Sayang!” Yasmine bergelayut mesra.“Hem!” Reno cuek.“Kamu kenapa?” tanya Yasmine polos.“Nggak pa-pa.” Reno tersenyum tawar.“Ish.” Yasmine lalu masuk ke dalam mobil.Aura canggung sangat terasa, wanita itu memilih memejamkan mata hingga bandara. Pria itu pun sibuk dengan tablet-nya. Tanpa terasa mereka sampai di bandara. Yasmine langsung turun tanpa mengata
Amara menekan tombol lift lalu menuju ruang CEO. Sampai di sana Fero dan Reno akan keluar dari ruangan.“Kalian mau ke mana?” tanya Amara.“Kapan kamu pulang?” Fero tidak menyangka jika wanita itu datang kembali.“Aku duluan ya, sebentar lagi ada jam bimbingan di kampus.” Reno mengabaikan Amara.Amara cemberut, ia kesal sekali. Fero menahan tawa melihat Amara diabaikan oleh Reno. “Ada yang lucu?!” bentak wanita itu. “Sudahlah kamu jangan berharap lebih. Dia sudah ada istri.“Apa!” Amara syok.“Aku duluan, mau jemput anak sekolah.” Fero pergi.Amara masih terdiam, ia mencoba mencerna ini semua. Wanita itu masih tidak percaya begitu saja.***Di kampus, Reno baru saja selesai mengisi kelas. Ternyata Bella menunggu di depan kelas. Gadis itu memberanikan diri untuk mengajak Reno makan.“Pak Reno!” Bella menyelipkan rambut di telinga dengan gaya centil. “Kenapa?” Reno dingin. “Bapak sibuk?” Bella mulai basa-basi.“Saya hari ini tidak ada bimbingan jadi mau pulang.” Reno menolak halus.
“Aku pusing,” lirih Yasmine. “Kamu gimana Istrimu begini nggak peduli.” Fero yang hampir menggendong Yasmine. Reno tidak menggubris ia langsung menggendong sang istri. Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian. Beberapa karyawan pergi dari snaa. “Kak Fero tolong jaga sikapmu.” Sesil meninggalkan Fero yang masih terpaku di tempat. *** Reno meletakkan Yasmine di sofa ruang kerjanya. Tatapan Reno sulit diartikan oleh wanita itu. Ia tahu Reno khawatir bercampur marah. “Sayang, antar aku pulang,” lirih Yasmine takut Reno marah beneran. “Yakin?” Suara dingin itu mampu menusuk relung hati Yasmine. Yasmine menganggukkan kepalanya. Wanita itu memeluk sang suami yang masih berjongkok. “Maaf,” lirih Yasmine tanpa sadar air mata itu turun. Fero melihat itu, hatinya menghangat ia menjadi ingat dengan almarhum sang istri. Namun, Yasmine tersenyum ke arah Reno. Bukan karena suka, melainkan untuk menghormati Fero berdiri di sana. “Besok nggak usah kerja dulu ya,” ucap Reno sambil melepa
Malam mulai larut, Leo turun ke bawah untuk mengambil minum. Ternyata wanita gatal itu duduk di sofa ruang tengah. Leo apatis, apalagi dia mengenakan lingerie.“Leo!” Wanita gatal itu meraih tangan pria itu. “Apa.” Leo menoleh sambil melirik seseorang berdiri di anak tangga. “Kamu mau ngapain?” tanya Friska sambil membelai wajah Leo. “Haus.” Leo diam dengan sengaja menikmati apa yang dilakukan oleh Friska.Friska makin berani menyentuh anggota tubuh Leo. Pria itu sebenarnya muak. Namun, demi rencana Venya ia mau tidak mau harus melakukan itu.Tangan Friska akan menarik celana pendek Leo. Namun, tangan Leo menahan tangan wanita gatal itu. “Jangan.” Leo menatap Friska. “Apa ada kamar lain? Kita bisa melakukan di sana,” bisik Friska dengan suara yang menggoda.“Nanti Papa tahu gimana?” tanya Leo.“Aku mencintaimu Leo! Papamu hanya penggantimu saja.” Friska memeluk Leo.“Cih! Aku tidak sudi Suamiku dipegang-pegang seperti itu!” batin Venya yang masih merekam mereka berdua dari anak t