로그인Sekar keluar dari kamar sesaat setelah ia selesai mengeringkan rambutnya. Di lantai bawah terdengar suara Mamanya yang begitu heboh. Ia mengernyitkan dahi, heran. Tak biasanya sang Mama seperti ini saat di rumah Papanya.Setelah bercerai, Mamanya seperti menjaga image di depan Papanya. Bahkan jika berkumpul pun mereka jarang berbicara meski Papanya selalu mencoba mengajak berkomunikasi. Mama hanya akan berkomunikasi dengan Eyang Putri - mantan mertuanya.Karena penasaran, ia akhirnya menuruni tangga dan berpapasan dengan Arjuna yang tersenyum meledek ke arahnya."Apa lo senyum-senyum begitu?" Ucapnya sambil melirik pada sang adik."Dih! Ini muka gue, ya terserah gue lah."Sekar menatap tajam pada Arjuna yang kini menaiki tangga. Saat ia akan kembali melangkah turun, tiba-tiba dari atas suara adiknya terdengar."Ada kejutan buat lo. Semoga lo nggak kena serangan jantung, ya." Kemudian tawa Arjuna terdengar menggema di lantai atas.Sekar menggeram kesal. Adiknya itu memang paling pintar
Jagat keluar dari kamar mandinya dengan rambut yang masih basah. Di tangannya ada handuk kecil yang sedang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya itu. Melirik ke arah jam di dinding, ia baru menyadari ternyata sudah hampir tengah malam, bertepatan dengan malam tahun baru.Tadi sehabis mengantar Sekar ke bandara, ia langsung pulang ke rumah dan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Jika saja sepulang kerja ia tak melihat Sekar masuk mobil bersama Dhika, ia pasti sudah pulang ke rumah saat itu juga dan pekerjaannya bisa selesai tak sampai larut malam seperti ini.Namun ia tak menyesali keputusannya untuk mengikuti Sekar.Mengingat wanita itu, ia juga teringat dengan apa yang sudah mereka lakukan. Tiba-tiba pipinya terasa panas saat satu per satu adegan ia dan Sekar muncul di pikirannya. Sentuhan, desahan, erangan, dan sensasi penyatuan mereka kini mulai membayangi dirinya.Tapi Jagat tak terganggu sama sekali. Jikalau bayangan itu terbawa sampai mimpi pun ia rela, sungguh. Karena saat
Meski sudah didorong hingga jatuh ke lantai, Jagat tetap mau saja ketika Sekar memintanya untuk mengantarkan ke bandara. Pria itu bahkan belum sempat mandi karena ia yang terburu-buru."Mas, kecepatan mobilnya ditambah aja. Aku nggak mau ketinggalan pesawat, nanti malah nggak bisa tahun baruan di Surabaya.""Kamu memangnya tidak takut kalau mobil ini terlalu cepat?" Tanya Jagat sambil menoleh ke arahnya.Ia hanya menggeleng, begitu yakin tak masalah jika Jagat menambah kecepatan pada mobilnya. Fokusnya satu, cepat sampai ke bandara. "Aku percaya sama kamu, Mas. Tambah aja kecepatannya."Jagat menuruti apa mau Sekar. Untungnya jalan ke arah bandara tidak terlalu macet sehingga tidak menghalangi laju mobilnya yang cepat. Namun baru tiga menit pria itu mempercepat laju mobilnya, ia justru sudah memegang hand grip yang ada di bagian atas. Jantungnya berdebar kencang karena mobil berjalan begitu cepat. Ia tak menduga rasanya akan seperti ini.Karena terlalu fokus dengan dirinya sendiri, Se
"Ahhh..."Sekar hanya bisa pasrah dan mendesah saat satu jari Jagat mulai memasukinya. Tangannya mencengkram erat pinggiran sofa, melampiaskan sensasi yang ada di tubuhnya. Seolah satu jari tak cukup, pria itu kini menambahkan satu jarinya lagi.Namun saat ia sudah hampir sampai di titik lebur, Jagat menarik kedua jarinya keluar. Saat ia menatap pria itu dengan raut kehilangan, justru dibalas dengan senyum miring dan saat ia membuka mulut untuk berbicara, Jagat kembali memasukkan kedua jarinya hingga bukan kata-kata yang keluar dari bibirnya, tapi desahan serta erangannya.Dan Jagat melakukannya berkali-kali hingga Sekar merasa frustasi karena tak kunjung mendapat pelepasan."Kamu kenapa, Sekar? Frustasi, hm?"Ucapan itu membuat Sekar semakin tak nyaman dibuatnya. Tubuhnya kini meminta lebih, tapi Jagat terlihat masih ingin bermain-main dan tak mungkin ia memohon pada pria itu.Tangan Jagat kemudian terulur menyentuh bibirnya, mengusapnya sensual. Ekspresi di wajah pria itu tidak sama
Sekar memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen, ia lalu menyandarkan punggungnya di kursi kemudi. Matanya terpejam mengingat kembali setiap kata yang keluar dari mulut Dhika. Semuanya jelas di luar dugaannya, ia tak pernah menyangka bahwa pria itu ternyata menyimpan perasaan padanya."Gue udah suka sama lo dari dulu. Sejak kita masih jadi karyawan baru di AYT Tech. Awalnya gue mau kasih tahu lo, tapi ternyata waktu itu lo udah punya pasangan.""Gue nggak tahu harus ngomong apa, Dhik."Sepenggal percakapan terakhir ia dan Dhika tadi di mobil juga tak luput dari ingatannya. Ia tak tahu harus mengatakan apa tentang pengakuan Dhika padanya. Ia bingung bukan karena memiliki perasaan pada pria itu, tapi karena jika ia menolak dengan alasan bahwa sekarang ia sudah memiliki Jagat sebagai tunangannya, jelas Dhika tak akan mundur karena pria itu tahu yang sebenarnya.Namun jika ia secara terang-terangan menolak Dhika karena tak memiliki perasaan apa pun, tentu itu akan sangat menyakiti."K
"Tadi waktu makan siang mobil diambil adik laki-laki gue. Kalau boleh gue mau numpang sama lo."Sekar terdiam sejenak. Ia ingat dengan peringatan Jagat, tapi ia juga tak enak pada Dhika. Pria itu dulu selalu membantunya untuk beradaptasi saat pertama kali mereka masuk ke perusahaan ini sebagai management trainee. Di sampingnya kini juga ada Prily yang meski tak melihat ke arahnya dan Dhika, tapi pasti mendengar pembicaraan mereka."Okay.""Makasih ya, Sekar."Sekar hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Tak ada salahnya menolong rekan kerja. Toh dia juga hanya berniat menolong, tidak lebih. Nanti ia akan memberitahu Jagat agar pria itu tak salah paham."Kamu kelihatan akrab banget sama Pak Dhika, Kar." Bisnis Prily saat Sekar sudah mulai fokus dengan pekerjaannya lagi."Banget sih nggak. Mungkin karena kita seangkatan masuk ke perusahaan ini, Pril. Nggak cuma aku sama Dhika aja yang akrab, sama semua yang seangkatan juga kita akrab.""Senang ya, masuknya bareng-bareng jadi banyak teman







