로그인Jagat tak langsung menjawab panggilan Mamanya. Ia tahu apa yang akan dikatakan oleh wanita yang telah melahirkannya itu. Pasti tentang rencana pertemuan dengan Rachel dan keluarganya.Tadi pagi saat ia baru mengisi daya ponsel dan menyalakannya, ada satu pesan dari sang Mama tentang pertemuan itu, tapi ia tak membalasnya. Namun sekarang saat Mamanya menelpon ia tak sampai hati untuk mengabaikan panggilan itu."Hallo, Ma." Sapanya sesaat setelah ia menerima panggilan sang Mama."Hallo, Jagat. Nanti malam kita makan malam dengan Rachel dan keluarganya, ya. Sesibuk apa pun, kamu harus datang." Ucap Mamanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.Ingin rasanya ia menolak permintaan Mamanya. Ia sudah pernah mengatakan keberatan tentang rencana makan malam ini. Ia tahu pertemuan mereka hanya sebagai jembatan agar dirinya dan Rachel kembali dekat. Sepertinya Sang Mama ingin sekali menjodohkannya dengan Rachel.Jagat jadi penasaran, kenapa Mamanya melakukan ini semua? Seolah mempertemukannya dengan
Jagat menatap tajam ke arah Sekar dan pria di sebelahnya yang tak ia ketahui namanya itu. Padahal niatnya adalah makan bersama wanita itu. Ia sengaja akan memberi kabar jika sudah sampai di kantin perusahaan karena tidak ingin membuat Sekar tidak nyaman jika ia menemui wanita itu langsung di ruangannya.Namun baru saja ia memasuki kantin dan mengetikkan pesan untuk dikirimkan pada Sekar, pemandangan di depannya tiba-tiba membuat nafsu makannya hilang. Ia urung menghubungi Sekar. Wanita itu kini sudah duduk di sebelah seorang pria dan pria itu tengah membukakan tutup botol air mineral milik Sekar. Sungguh perhatian sekali.Hatinya terasa panas hanya karena ada pria lain yang perhatian pada Sekar. Entah mengapa meski hubungan mereka berawal dari kepalsuan dan belum memiliki kejelasan sampai sekarang, tapi ia merasa Sekar itu miliknya dan ia tak suka jika ada pria lain yang mendekati wanitanya.Ia ingin melangkah, menghampiri meja di mana Sekar berada lalu membawa wanita itu pergi dari s
"Saya minta maaf atas sikap saya semalam. Jujur saya kesal sama kamu karena saya pikir kamu menyesal tidur dengan saya." Sekar menganggukkan kepala, lalu kembali menoleh ke arah Jagat. "Aku juga minta maaf, Mas, sudah kesal tanpa mau tahu alasan kamu nggak kasih kabar."Sesaat setelah ia mengatakan itu, Jagat tersenyum lalu menggeser tubuh ke arahnya. Refleks ia mundur dan punggungnya mengenai dinding lift."Kamu sekhawatir itu sama saya, Sekar?"Ia pun dengan polosnya mengangguk. Memang ia begitu khawatir dengan Jagat semalam. Sebenarnya ia bersikap seperti itu juga pada semua orang yang dirasa dekat dengannya. Setiap kali mereka pulang dari apartemennya atau setelah hangout dan pulang masing-masing, ia akan meminta mereka semua mengabari jika sudah sampai di rumah."Sekarang saya sudah di hadapan kamu dan baik-baik saja. Kamu mau apa, hm?" Tanya Jagat sambil menatap dalam dan merapatkan tubuhnya ke Sekar."A-aku nggak mau apa-apa, M-mas."Sial! Kenapa ia jadi gagap seperti ini bica
Sekar terus berjalan ke arah lift diikuti oleh Jagat di belakangnya. Pria itu tampak berusaha menjelaskan pada Sekar meski tak dihiraukan sama sekali. Saat pintu lift tertutup barulah Dhika keluar dari mobilnya. "Jadi hubungan mereka hanya pura-pura? Status tunangan itu palsu?" Gumamnya pelan. Satu senyuman tercipta di bibirnya, hatinya berbunga-bunga mengetahui hal ini. Setelah ini ia bisa mendekati Sekar, memperjuangkan perasaanya yang selama ini ia pendam. Ia telah jatuh cinta pada Sekar sejak pandangan pertama. Dulu mereka masuk di perusahan ini melalui jalur yang sama, yaitu Management Trainee. Di masa orientation dan onboarding mereka mulai akrab dan saling mengenal, lalu dilanjut dengan masa classroom training di mana ia mulai menaruh rasa pada Sekar seorang gadis yang tak hanya cantik, tapi juga pintar. Namun perasaannya harus ia pendam saat suatu sore melihat Sekar dijemput oleh seorang pria yang pada akhirnya ia ketahui sebagai kekasih wanita itu. Ternyata hubungan mereka
"Lo yang bener dong servicenya. Bolanya kena gue mulu."Jagat menghela napas, lalu menatap Devan yang berada di seberang net. Temannya itu sedang menatap jengkel ke arahnya. Siapa suruh memaksanya main tennis malam-malam begini. Ia sudah bilang tidak mau, tetap saja dipaksa."Gue mau minum dulu. Lo main aja sendiri."Ia lalu berbalik melangkah ke arah bangku di mana tadi ia sempat meletakkan sebotol air mineral, tas kerja, dan ponselnya.Botol minum masih ada di tangannya ketika ia ingat dengan Sekar. Tadi wanita itu memintanya mengabari jika telah sampai tujuan. Meski belum berada di rumah, ia tetap ingin memberi kabar pada wanita itu.Namun saat ingat percakapan mereka di apartemen tadi, rasanya ia masih kesal dengan Sekar yang seperti menyesal telah melakukan hubungan badan dengannya. Terlebih saat ia tahu wanita itu ternyata meminum pil KB agar benihnya tidak bisa tumbuh di dalam rahimnya. Apa seenggan itu Sekar dengannya, sampai-sampai tak mau mengandung anaknya?Akhirnya ia hany
Ia dan Jagat saling melirik dan saat pria itu sudah membuka mulutnya, dengan cepat Sekar mendahuluinya berbicara. "Ini Ma, Mas Jagat ngajakin aku liburan berdua, terus aku nggak bisa karena bukan di hari libur. Terus dia bilang dia akan tanggung jawab kok kalau aku nggak masuk kerja. Tapi kan aku yang nggak enak sama teman-teman kantor." "Ohh... Benar begitu, Nak Jagat?" Sekar menggenggam tangan Jagat yang ada di paha pria itu, memberi pertanda untuk mengiyakan cerita yang tadi ia karang. Lagian Mamanya ini apa-apaan sih, omongan anak sendiri tidak dipercaya? "Iya, Ma. Jagat memang mau mengajak Sekar liburan. Apa boleh, Ma?" Ini kenapa Jagat jadi minta ijin sih? Pria itu terlalu menghayati sandiwaranya atau memang mau modus untuk benar-benar mengajaknya liburan? "Ya tentu boleh dong, Mama mengijinkan. Tapi keputusan tetap ada di tangan Sekar, anaknya mau apa nggak?" Meski seolah memberikan kebebasan padanya, tapi ia tahu semua itu hanya omong kosong Mamanya karena saat ini Sang M







