LOGINShelly mengangguk. "Baik."Keduanya beranjak pergi bersama.Tepat saat pintu ruang rapat tertutup, Gunawan mendadak bangkit berdiri hingga kakinya menyenggol kursi dengan suara berderit keras.Shelly mendengarnya, tapi langkah kakinya sama sekali nggak berhenti saat melangkah pergi."Kalau aku sampai mengacaukan kerja sama ini, kerugian Grup Vantara bakal besar nggak?" Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kerja, Harrison langsung bertanya pada Shelly.Shelly duduk di sofa. "Melihat situasi sekarang, bukan cuma nggak rugi, kita malah bisa dapat keuntungan lebih banyak. Tapi bagaimana rencana Grup Vantara berkembang di Kota Sentara ke depannya, aku kurang tahu. Itu harus ditanyakan ke Pak Wirya."Wirya adalah pemegang kendali tertinggi Grup Vantara. Bagaimana rencananya, tidak seorang pun yang tahu.Bahkan Harrison sendiri pun tidak tahu."Nggak usah mikir sejauh itu, yang penting sekarang nggak ada kerugian." Harrison menepuk pahanya, tampak sudah punya keputusan sendiri di dalam hati.
"Sialan, ngapain dia ada di sini?"Harrison juga akhirnya bisa melihat jelas siapa orang yang duduk di dalam ruang rapat itu, sampai-sampai spontan mengumpat kasar.Terhalang sekat kaca jendela, orang yang berada di dalam ruang rapat mendengar suara Harrison lalu menoleh ke arah mereka."Pak Harrison."Asisten Johan melangkah keluar dari ruang rapat, menyapa Harrison dengan sikap penuh hormat. "Pak Johan sudah menunggu cukup lama. Silakan masuk.""Aku kira siapa yang bisa bikin Ayahku rela bagi jatah keuntungan, ternyata orang ini."Raut wajah Harrison tampak keruh. Dia menatap sinis ke arah asisten Johan, lalu menoleh menatap Shelly. "Mending kamu balik ke ruanganmu aja. Biar aku yang hadapi Keluarga Gunawan.""Nggak perlu, aku bisa."Shelly sadar dirinya mungkin bisa menghindar sesaat, tapi tidak bisa lari selamanya.Kerja sama antara Wirya dan Keluarga Gunawan sudah menjadi kesepakatan mutlak.Sebagai penanggung jawab di Kota Sentara, berurusan dengan orang-orang Keluarga Gunawan ad
Bibi Sari berujar sembari meletakkan sarapan ke atas meja.Jeffry duduk di kursinya, menyantap makanan itu perlahan tanpa tergesa. Gerakan mengunyahnya sempat terhenti sejenak saat mendengar penuturan Bibi Sari, kemudian berlanjut seperti biasa.Dari cerita Bibi Sari saja, dia sudah bisa membayangkan raut cemas dan rasa berat hati di wajah Shelly saat mengucapkan kata-kata tersebut.Dia melirik ke arah si kecil di dalam kereta bayi. "Walau dia nggak ada, masih ada aku.""Kalau ada urusan pekerjaan, silakan Pak Jeffry selesaikan saja. Ada kami yang menjaga Jery, jadi tenang saja," sahut Bibi Sari santai.Selesai sarapan, Jeffry mendorong kereta bayi menuju ruang keluarga. Dia mulai menangani urusan pekerjaan sambil mengawasi si kecil.…Di kantor Grup Vantara.Shelly baru saja melangkah turun dari mobil, Harrison langsung berjalan keluar dari gedung perusahaan."Sini!"Seruan lantang itu seketika membuat orang-orang di dalam lobi menoleh serempak.Shelly menyampirkan tas di lengannya, t
Aroma alkohol tercium makin pekat dari dekapan Jeffry.Namun, pelafalannya tetap terdengar jernih dan sorot matanya begitu gelap pekat, sama sekali nggak mencerminkan seseorang yang sedang mabuk.Shelly mendorong pelan dada pria itu. Begitu tubuh mereka yang menempel erat itu agak merenggang, Jeffry justru mengeratkan pelukannya dengan tenaga yang jauh lebih kuat."Berjanjilah padaku," bisik Jeffry tepat di samping telinga Shelly."Jeffry, ini urusanku, nggak ada hubungannya denganmu."Nada pasrah Shelly bercampur dengan sindiran tipis.Jeffry baru saja pulang dari pertemuan dengan Elora, tapi kini maah menuntutnya untuk menjaga jarak dari Harrison.Sekalipun hanya ikatan kontrak, status mereka tetap suami-istri.Kenapa Jeffry bisa bebas menemui wanita lain, sementara dirinya dituntut untuk menjauhi pria lain?Standar ganda memang ada banyak di luar sana, tapi Shelly belum pernah melihat yang seegois dan semunafik ini."Nggak ada hubungannya denganku, lalu berhubungan dengan siapa?" Ce
"Pujianmu terhadap Harrison tinggi banget. Sini biar aku bantu."Orang yang sedang mabuk berat memang biasanya meracau tanpa arah, melontarkan apa pun yang melintas di kepala. Kalimatnya berantakan tak keruan.Herman sudah tak ingat lagi apa saja yang baru dikatakannya. Yang tersisa di benaknya saat ini hanya rasa sakit yang luar biasa.Bahkan ketika ponsel di sakunya diambil oleh Jeffry, dia sama sekali tak berusaha merebutnya kembali. Tak lama kemudian, kesadarannya lenyap dan dia jatuh pingsan di sana.Jeffry mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa pesan, lalu memanggil staf hotel untuk membopong Herman ke kamar agar bisa beristirahat. Setelah semuanya beres, dia sendiri langsung pulang.Mobil Maybach itu melaju dan perlahan menghilang ditelan kepekatan malam. Begitu mobil itu pergi, Elora melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.Awalnya dia berniat mencari celah lain untuk berbicara dengan Jeffry.Siapa sangka Herman malah mabuk separah itu. Jeffry pun langsung pergi begitu
"Situasiku beda dari punyamu."Jeffry berinisiatif mengangkat gelas dan mendentingkannya ke gelas Herman. "Shelly adalah mantan istriku. Kami sudah pernah melakukan hal paling intim. Di dunia ini nggak ada kata seandainya. Anaknya sudah jelas adalah anakku."Herman, "Maksudmu, kamu memang suka pada She ….""Masalah utamanya justru ada di kamu. Wanita yang memilih spermamu itu bisa jadi sudah jelek, tua, dan miskin lagi. Anakmu cuma makan sekam dan sayur layu. Percuma punya gen jenius darimu kalau sekolah saja nggak mampu ...."Jeffry menekan setiap kata dengan dingin, sukses menaburkan kabut kelam di benak Herman.Saat membayangkan 20 tahun lagi mungkin ada bocah laki-laki berambut pirang urakan yang tampak mirip dengannya atau anak perempuan dekil berpenampilan kumal tiba-tiba muncul di hadapannya sambil memanggilnya ayah ....Herman langsung mendongak dan menenggak habis isi gelasnya.Rasa alkohol yang pekat dan panas seketika membakar tenggorokannya.Hatinya terhenyak. Dia melirik g
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb







