Share

Bab 7

Penulis: Ratih Larasati
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.

“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”

Shelly menggeleng.

“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”

Maxwell langsung menarik napas tajam.

“Mengundurkan diri? Kenapa?!”

“Alasan pribadi,” jawab Shelly singkat. Lalu dia menambahkan, “Perintah pemindahan itu … masih bisa dibatalkan?”

“Kalau mau dibatalkan juga harus lewat persetujuan Pak Jeffry.” Maxwell terlihat serba salah.

Shelly mengangkat tangan, memijat pelipisnya. Rasa lelah dan tidak berdaya muncul di hatinya.

Maxwell mencoba menenangkannya, “Sekarang sudah menjelang akhir tahun, perusahaan lagi sibuk banget. Urusan pengunduran diri bisa dibicarakan setelah tahun baru. Cepat pergi bereskan barangmu. Nanti begitu kembali, kamu sudah ada tugas. Nona Elora minta kamu bawakan dia bubble tea nanti siang.”

“Baik.” Shelly hanya bisa mengangguk, lalu berbalik pergi ke cabang untuk mengambil barangnya.

Pukul satu siang, Shelly sudah kembali tepat waktu di posisi direktur sekretaris.

Setelah merapikan barang, dia membawa segelas Mango Velvet masuk ke dalam kantor.

Sinar matahari siang jatuh terang menyinari Jeffry.

Dia mengenakan kemeja putih, wajahnya tegas dan tampan, memancarkan aura dingin dan berwibawa.

Elora duduk santai di sofa area istirahat, meja di depannya penuh camilan.

Melihat Shelly masuk, Jeffry hanya melirik sekilas lalu kembali fokus bekerja.

Shelly berjalan ke arah Elora.

“Nona Elora, ini minuman Anda.”

“Taruh saja.” Elora berkata sambil memainkan kukunya, nada suaranya angkuh.

Shelly meletakkan minuman lalu berbalik pergi.

Namun baru saja kembali ke meja, telepon internal berdering.

Suara rendah Jeffry terdengar.

“Masuk.”

Shelly meletakkan barangnya dan kembali masuk ke kantor presiden.

Begitu membuka pintu, yang pertama terlihat tetap Jeffry di balik meja.

Dia sedikit mengangkat kelopak mata, lalu melirik Elora.

Shelly mengikuti arah pandangannya dan langsung bertemu dengan tatapan tidak puas dari Elora.

“Minuman yang kamu beli, kenapa hangat?”

“Sekarang musim dingin. Anda ingin yang dingin?” Shelly menjawab sambil sedikit menunduk.

Elora mendengus ringan.

“Tentu saja.”

Shelly refleks menoleh ke Jeffry, tapi pria itu tetap diam, tidak ikut campur.

“Baik, saya akan beli yang dingin.”

Tidak lama kemudian, Shelly kembali dengan Mango velvet dingin.

Namun Elora tidak langsung mengambilnya, malah bertanya, “Ini esnya sedikit atau banyak?”

“Nona Elora mau banyak atau sedikit, maka itu jawabannya.” Shelly meletakkan minuman di depannya. “Silakan dinikmati.”

“Kamu!”

Elora kesal karena dijawab dengan celah kata-katanya sendiri.

“Kalau begitu, pergi lagi dan belikan aku keripik!”

“Selain keripik, ada lagi yang ingin Anda beli? Sekalian saya bawakan, supaya Anda tidak perlu menunggu lagi.”

Shelly sudah mengeluarkan kertas catatan, siap menulis.

“Kak Jeffry!” Elora menatap tajam Shelly, lalu berjalan ke arah Jeffry. “Lihat dia .…”

Baru saat itu Jeffry mengangkat pandangan dari pekerjaannya.

Dia melirik jam, lalu tampak tidak berdaya.

“Malam ini ada acara. Aku masih banyak pekerjaan. Jangan buat masalah.”

Mata Elora berputar, lalu dia menunjuk Shelly.

“Kalau begitu biarkan dia temani aku pilih gaun.”

Jeffry berpikir sejenak, lalu mengeluarkan kartu hitam dan menyerahkannya pada Shelly.

“Temani Nona Elora pilih gaun. Sekalian pilih satu untukmu juga.”

Shelly sedikit mengernyit, tapi tetap menerima kartu itu.

“Baik.”

Biasanya jika dia menemani Jeffry ke acara, gaun dan riasannya ditanggung perusahaan.

Karena harga gaun paling murah saja bisa mencapai puluhan juta.

Namun Elora berbeda.

Dia memilih studio rias pribadi terkenal di Tavira.

Setengah jam kemudian, mobil berhenti.

Shelly turun, membuka pintu kursi belakang.

“Pegang ini.”

Tas berwarna biru-pink edisi terbaru langsung disodorkan ke arahnya.

Shelly menerimanya. Setelah Elora turun, dia menutup pintu dan mengikuti dari belakang.

Karena sudah membuat janji sebelumnya, perias sudah menunggu di pintu.

“Nona Elora!”

Elora melirik sekilas, lalu memberi isyarat halus.

Perias itu langsung mengerti, melirik Shelly, lalu tersenyum penuh arti.

“Tolong keluarkan semua model terbaru.”

Elora berjalan masuk dan duduk di sofa.

Beberapa staf langsung mengelilinginya, ada yang mengambil gaun, menunjukkan katalog rias, menyajikan minuman, bahkan buah dan kue kecil.

Shelly melihat deretan gaun mewah di toko itu.

Yang paling murah saja harganya ratusan juta.

Dia berniat mencari yang tidak terlalu mahal.

Namun ….

“Bu Shelly, ke sini.”

Shelly berbalik dan berjalan mendekat, menyerahkan tas.

“Berdiri di sini. Jangan ke mana-mana.” Elora memberi perintah tanpa menoleh.

Shelly menarik kembali tangannya, lalu berdiri diam di belakangnya tanpa bicara.

Dua jam penuh.

Setiap kali Elora melakukan sesuatu, dia selalu berkata pada Shelly, “Berdiri di situ, jangan bergerak.”

Shelly tidak terburu-buru.

Bagaimanapun gaun harus dipilih dan waktu yang terbuang tetap dihitung jam kerja.

Berdiri digaji terasa lebih ringan daripada bekerja.

Akhirnya, setelah selesai semua …. Elora menoleh ke arahnya.

“Tolong ambilkan gaun paling murah di sini.”

Perias tersenyum penuh arti dan memberi kode pada asistennya.

Tidak lama kemudian, sebuah gaun hitam dengan pita abu-abu dan oranye dibawa keluar.

Kata “jelek” saja tidak cukup mendeskripsinya.

Benang jahitannya kasar, warnanya mencolok dan tidak serasi.

Alis Shelly langsung berkerut.

“Nona Elora sudah sangat baik padamu. Gaun ini harganya 840 juta.”

Perias itu menyindir sambil merapikan gaun Elora.

840 juta jelas tidak murah.

Bahkan Shelly sendiri tidak pernah membeli gaun semahal itu.

“Kalau pakai uang Jeffry, ya harus ikutin apa mauku. Kalau tidak suka, beli sendiri saja kalau kamu mampu!”

Elora meliriknya dari cermin.

Dengan gaun ungu muda dan riasan sempurna, dia tampak anggun dan memukau.

Jika Shelly berdiri di sampingnya dengan gaun itu … dia hanya akan terlihat seperti badut.

“Sudah, cukup.”

Elora puas melihat dirinya di cermin.

“Bayar.”

Kasir membawa tagihan dua gaun itu dan menyerahkannya pada Shelly.

Shelly menarik napas dalam, lalu menggunakan kartu itu untuk membayar semuanya.

“Kamu mau sekalian dirias?” tanya perias asal-asalan.

“Tidak perlu,” jawab Shelly tanpa menoleh.

Dia mengambil gaun, membawa tas Elora, lalu keluar lebih dulu.

Elora meliriknya, lalu tersenyum penuh arti pada perias.

Dalam perjalanan kembali, ponsel Shelly berdering.

Jeffry yang menelepon.

“Waktu tidak cukup. Langsung ke hotel.”

“Baik.” Shelly menjawab singkat.

Dia langsung memutar mobil dan menuju hotel.

Lima menit sebelum acara dimulai, mobil berhenti di depan pintu.

Maxwell sudah menunggu.

Melihat mereka datang, dia membuka pintu mobil.

“Di mana Kak Jeffry?” tanya Elora.

“Ada partner kerja yang datang. Pak Jeffry sudah masuk duluan.”

Saat itu, Maxwell melihat Shelly belum berganti pakaian dan tampak heran.

“Bu Shelly, kamu belum ganti baju?”

Shelly mengangguk ringan.

“Kamu bawa Nona Elora masuk dulu. Aku menyusul.”

Dia pun turun sambil membawa gaun.

Elora meliriknya dengan puas, lalu berjalan masuk dengan langkah anggun di atas sepatu hak tingginya.

“Ada apa ini?” Maxwell merasa suasana mereka aneh.

Shelly menggeleng pelan.

“Aku lagi flu dan minum obat, jadi tidak bisa minum alkohol malam ini. Nanti kamu saja yang temani Pak Jeffry.”

Biasanya mereka berbagi tugas, satu menemani, satu menyetir.

“Baik.” Maxwell mengangguk dan masuk lebih dulu.

Shelly menunduk, melihat gaun di tangannya.

Bibirnya terkatup beberapa detik .… Lalu dia melangkah masuk ke dalam hotel.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 50

    “Hanya … sekadar bertanya.”Bagi Joycelin, menyelidiki keberadaan Shelly selama enam bulan saat dia tidak berada di kantor pusat bukanlah hal yang mudah. Semua harus dilakukan secara diam-diam.Ketika dia mendengar hari ini Shelly pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Harrison, dia segera datang untuk mencari tahu.“Tidak terlalu dekat,” jawab Shelly dengan jujur. “Jangan lupa, dia itu musuh bebuyutan kakakmu.”Jika dia terlihat terlalu akrab dengan Harrison, tentu akan menimbulkan kesalahpahaman.Joycelin mengangguk pelan. “Oh, begitu. Aku cuma tanya sekilas, jangan dimasukkan ke hati.”Mata Shelly yang jernih menatapnya, seolah menunggu pertanyaan lanjutan. Namun, Joycelin justru berdiri sambil berkata, “Aku belikan makan siang untukmu dulu. Tunggu di sini!”“Eh ….” Shelly hendak menghentikannya, tetapi tidak bisa. Joycelin berlari pergi dengan cepat, bahkan lebih gesit dari seekor kelinci.Dalam perjalanan membeli makan siang, Joycelin menelepon Nenek Mina.“Dia bilang tidak terlalu

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 49

    Pukul sebelas tepat, Shelly kembali ke perusahaan sesuai jadwal. Belum sempat menangani tumpukan dokumen di mejanya, dia sudah diajak oleh Jeffry untuk menghadiri wawancara terkait kerja sama antara Grup Dominion dan Keluarga Laurent.Sejak awal hingga akhir proyek tersebut, Shelly terlibat langsung dalam setiap prosesnya. Dia telah menyiapkan seluruh dokumen yang diperlukan untuk wawancara dan setiap kali Jeffry membutuhkannya, dia dengan sigap menyerahkan berkas yang tepat. Jika ada bagian yang terlewat, dia segera mengingatkan dengan suara pelan.“Pak Jeffry, terlihat bahwa Anda begitu memperhatikan kerja sama dengan Keluarga Laurent, ini menunjukkan bahwa hubungan Anda dengan Nona Elora sangat stabil. Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa pertunangan kalian berdua dibatalkan secara mendadak. Apakah Anda bersedia menjelaskan alasannya?”Setelah pembahasan pekerjaan selesai, para wartawan mulai mengalihkan pertanyaan ke kehidupan pribadi Jeffry.“Kami hanya bertengkar,” jawab Jeffry

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 48

    Dengan Harrison yang kini dicopot dari jabatannya, dia tidak lagi mampu membayar denda pelanggaran kontrak. Akibatnya, Shelly pun tidak dapat meninggalkan Grup Dominion.Wajahnya yang halus dan ekspresif membuat perasaannya mudah terbaca. Garis rahang Jeffry tampak tegas, sementara ujung lidahnya menekan bagian dalam pipinya. Sekilas dia terlihat tenang, namun sebenarnya menyimpan gejolak emosi yang kuat.“Sepertinya Bu Shelly sangat mengkhawatirkan Harrison. Kalau begitu, pergilah mewakili Grup Dominion untuk menjenguknya di rumah sakit. Pergi lebih awal dan kembali sebelum rapat pukul sebelas,” ujar Jeffry.Saat itu, Shelly tiba-tiba menyadari Harrison dan Jeffry telah bertemu. Rekaman suara yang dia terima adalah percakapan di antara mereka dan itu terjadi semalam.“Kenapa?” Jeffry berdiri tegak dengan kedua tangan di saku celana, menatapnya dari atas dengan sorot mata tajam. “Bu Shelly tidak bersedia?”Nada suaranya membuat Shelly sulit menebak apakah Jeffry benar-benar ingin dia p

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 47

    Awalnya, Shelly masih mempertimbangkan apakah dia perlu meminta bantuan Harrison. Namun sekarang, dia tidak perlu berharap lagi, jalan itu telah tertutup.Pagi itu, Shelly tampak diliputi banyak pikiran. Wajahnya terlihat pucat dan tidak bersemangat.“Kak Shelly.”Tania memanfaatkan kesempatan saat mengantarkan dokumen untuk bergosip, “Kakak tahu kenapa Livia dipecat?”Shelly menarik kembali pikirannya yang melayang dan menggeleng pelan. “Aku tidak tahu.”“Livia menulis di grup pribadi Departemen Sekretaris bahwa Kak Shelly yang hasut Pak Jeffry untuk memecatnya. Dia juga bilang Kak Shelly menjadi orang ketiga di antara Pak Jeffry dan Nona Elora, serta merusak hubungan mereka!”Tania tentu saja tidak mempercayai tuduhan tersebut. Dia bahkan sempat membela Shelly di dalam grup, tetapi karena Livia adalah admin grup, Tania langsung dikeluarkan.“Tapi anggota grup itu kebanyakan teman dekat Livia. Mereka percaya ucapannya dan sebarkan rumor ke mana-mana.”Sejak kabar pembatalan pertunanga

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 46

    “Ingin mengambilnya? Ambil saja dengan kemampuanmu.”Setelah mengatakan itu, Jeffry berbalik dan berjalan menuju ruang VIP.Harrison tertawa lebar sambil mengikuti di belakangnya. “Kenapa Pak Jeffry tidak berani panggil Shelly ke atas dan tanyakan pendapatnya?”Saat mereka berbicara, Jeffry telah memasuki ruangan. Dia menarik sebuah kursi dan duduk, lalu meletakkan satu kakinya di atas kursi lain. Gerakan itu dengan sengaja menghalangi Harrison yang berniat duduk di sampingnya.“Dia tidak punya hak untuk memilih.”Baginya, Shelly hanyalah seorang sekretaris yang berasal dari latar belakang yatim piatu. Meskipun kemampuannya luar biasa, dia tetap tidak berada pada posisi untuk memilih di antara mereka.Harrison pun duduk di kursi yang terpisah satu kursi dari Jeffry.“Pak Jeffry benar-benar tidak berperasaan. Dia telah mengikuti kamu begitu lama, tapi di mata kamu, dia hanya seperti bidak catur. Kamu bersikeras mempertahankannya, apa karena ingin balas dendam sama Elora yang dulu mening

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 45

    “Sepertinya Pak Maxwell lupa bahwa hubungan aku dengan Pak Jeffry tidak sekadar hubungan atasan dan bawahan.”Maxwell tampak kebingungan. “Tapi kalian sudah bercerai, bukan? Lagi pula, meskipun Bu Shelly punya perasaan terhadap Pak Jeffry, yang jelas Pak Jeffry sendiri tidak punya perasaan seperti itu. Kamu juga tidak mungkin merusak hubungan beliau dengan Nona Elora. Jadi, kenapa Nona Elora sampai tidak bisa berpikir jernih?”Shelly hanya bisa terdiam. “Pak Maxwell, sebaiknya kamu fokus saja pada pekerjaan,” ujarnya akhirnya, menyadari percakapan ini tidak akan menemukan titik temu.Maxwell pun mengangguk. “Oh ya, hari ini Pak Jeffry ada urusan jadi tidak datang ke kantor. Untuk jamuan makan malam dengan Pak Bima dari Grup Dacore, kita berdua yang akan menghadirinya.”“Baik, mengerti,” jawab Shelly sambil melirik pintu kantor Jeffry yang tertutup rapat.Sejak Elora kembali, jadwal kerja Jeffry tidak lagi sepenuhnya mengikuti prosedur seperti sebelumnya, sesuatu yang kini menjadi hal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status