Compartilhar

Bab 9

Autor: Ratih Larasati
Setiap kali bertemu di acara seperti ini, Harrison selalu mencari masalah dengan Jeffry.

Namun karena dia bukan saingan Jeffry, dia pun memilih cara lain, yaitu mempersulit orang-orang di sekitar Jeffry.

Salah satunya … Shelly.

Shelly berbalik dan mengganti arah, berniat keluar lewat pintu belakang.

Namun Harrison langsung melihatnya. Dia mendorong orang yang sedang diajaknya bicara, lalu berjalan cepat mengejar.

Baru saja Shelly keluar dari aula, dia sudah dihadang di sudut.

“Wah, Shelly … aku kira tadi aku salah lihat.”

Jeffry termasuk tipe orang yang dingin dan tidak banyak bicara, dengan wajah tampan yang tegas dan berkarisma.

Sedangkan Harrison, wajahnya juga tampan, bahkan lebih halus, tapi mulutnya tidak bisa diam dan cukup menyebalkan.

“Bukannya kamu sudah dibuang ke pinggiran? Kok sekarang balik lagi?”

Sebagai tangan kanan Jeffry, Shelly lumayan dikenal di kalangan bisnis.

Setengah tahun lalu, dia tiba-tiba dipindahkan ke cabang sebagai manajer umum, terlihat naik jabatan, tapi sebenarnya seperti diturunkan.

Banyak orang menduga dia melakukan kesalahan.

“Kebutuhan pekerjaan.” Shelly menjawab singkat sambil sedikit menunduk.

“Pak Harrison, saya masih ada urusan, permisi.”

Harrison menahan jalannya dengan menyandarkan siku ke dinding.

“Lihat tuh bosmu sibuk banget. Aku bahkan tidak sempat menyapanya. Jadi … kamu saja yang mewakili dia minum satu gelas denganku.”

Dia merebut air hangat di tangan Shelly, lalu menggantinya dengan segelas anggur merah.

“Harus dihabiskan ya.”

Keluarga Harrison berada tepat di bawah Keluarga Anderson di Tavira.

Harrison juga termasuk tokoh penting di sini.

Dulu, Shelly pernah dipaksa minum olehnya. Demi menjaga hubungan baik, dia tidak menolak.

Tapi hari ini ….

“Pak Harrison, saya sedang kurang sehat dan sedang minum obat. Tidak bisa minum alkohol.”

Alasan itu jelas tidak dipercaya Harrison.

“Kamu kelihatannya sehat-sehat saja. Wajahmu malah segar.”

Dia lalu mendekat, suaranya menekan.

“Apa Jeffry sudah bilang sesuatu? Mau benar-benar bermusuhan denganku?”

Aura menekan semakin terasa. Gelas anggur hampir menyentuh bibir Shelly.

Jika dia masih menolak, Harrison benar-benar bisa saja memaksa.

Pintu aula masih terbuka.

Dari posisi mereka, Jeffry terlihat jelas.

Dan pada saat itu, Jeffry juga melihat ke arah mereka.

Tatapan mereka sempat bertemu sejenak.

Namun pria itu hanya menyipitkan mata sedikit … lalu memalingkan pandangan dan kembali bersosialisasi seolah tidak terjadi apa-apa.

“Lihat itu.” Harrison mencibir. “Jeffry sama sekali tidak peduli kamu hidup atau mati. Dia cuma sibuk pamer mesra dengan calon istrinya.”

Dia menatap Shelly lagi.

“Aku aja jadi merasa kasihan padamu.”

Suara Shelly terdengar sedikit serak.

“Pak Harrison jangan bercanda. Saya hanya bawahan beliau, tentu tidak bisa dibandingkan dengan Nona Elora.”

“Bagaimana kalau begini.” Harrison sedikit membungkuk, menyamakan tinggi pandang dengan Shelly. “Kamu kerja untukku saja. Aku kasih gaji dua kali lipat.”

Shelly mengangguk pelan, mengikuti alurnya.

“Merupakan kehormatan bagi saya jika Anda mau merekrut saya.”

Harrison tipe orang yang makin dilawan makin menjadi.

Detik berikutnya, sebuah kartu nama muncul di depan Shelly.

“Bawa kartu ini, datang ke Grup Vantara untuk lapor.”

Shelly mengangkat kepala, bertemu dengan tatapan mata Harrison yang tersenyum.

Dia memang tersenyum … tapi jelas serius.

Jika dia berhasil merebut Shelly dari Jeffry, itu sama saja menampar harga diri Jeffry.

Kesempatan seperti ini tentu tidak akan dia sia-siakan.

Justru karena keseriusannya itu, Shelly tidak bisa menolak secara langsung.

Kalau tidak, dia akan terus dikejar.

Shelly pun menerima kartu nama itu, lalu menunduk.

“Terima kasih, Pak Harrison, atas kesempatan ini.”

“Tidak perlu berterima kasih. Bu Shelly cantik, pintar, memang pantas mendapatkannya.” Harrison berkata jujur, dia memang mengagumi wanita itu.

Di bawah tatapannya, Shelly memasukkan kartu itu ke dalam tasnya.

“Terima kasih atas pujiannya.”

Harrison tersenyum puas.

“Aku tunggu ya.” Harrison berbalik hendak kembali ke aula.

Namun begitu menoleh … dia melihat Jeffry berdiri tidak jauh dari sana.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 726

    "Semalam dia rewel hampir sepanjang malam, tadi pagi-pagi sekali juga sudah bangun dan hampir nggak makan apa-apa. Ini baru saja tertidur sebentar, kemungkinan masih bakal tidur agak lama," bisik Agnes seraya merendahkan suaranya.Shelly melangkah mendekat, merapikan selimut Nana, lalu menepuk-nepuk lembut punggung bocah itu."Nana, anak pintar, Ibu Angkat ada di sini. Jangan menangis."Isakan lirih Nana perlahan reda. Kerutan di kening kecilnya pun ikut mengendur.Agnes masih berdiri di sana. Setelah terdiam sejenak, dia berucap, "Pemungutan suara besok sangat penting. Kemampuanmu jauh melampaui Saryna, peluangmu untuk membalikkan keadaan sangat besar. Ayahmu juga sudah menghubungi beberapa pihak secara diam-diam. Asal kamu bisa merebut kembali hak waris Keluarga Gunawan, dia akan melepaskan Nana. Aku rasa pihak Diana juga akan merelakan hak waris itu.""Aku paham. Kamu keluar saja." Shelly sama sekali tidak menatapnya.Agnes sempat mematung sejenak sebelum akhirnya melangkah keluar d

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 725

    "Lalu Bu Shelly? Dan Jery?"Maxwell baru tersadar, Johan membawa Nana pergi semata-mata untuk menekan Shelly."Dia sudah kembali ke rumah keluarga Gunawan," jawab Jeffry singkat. "Jery ikut aku.""Aku … aku langsung temui Rendy sekarang. Pastikan dia nggak bikin masalah lagi!"Maxwell menutup telepon dan langsung bergegas mencari Rendy.…Sementara itu, di dalam mobil yang melaju pulang, Rendy duduk di belakang kemudi dengan Diana di kursi penumpang. Kabin mobil membisu seperti kubur, Rendy menatap lurus ke depan, Diana membuang pandang ke jendela, tidak satu kata pun terucap sepanjang jalan.Sesampainya di depan rumah, Maxwell sudah berdiri menunggu di pintu. Rendy menyuruh Diana masuk duluan.Setelah Diana menghilang ke dalam, Rendy melangkah mendekat dengan kepala tertunduk."Pasti Pak Jeffry yang suruh kamu ke sini."Maxwell mengangguk pelan. "Pak Rendy, di momen sepenting ini kita nggak boleh sampai tersandung."Kemenangan sudah di depan mata. Johan sudah kehilangan harapan untuk

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 724

    Shelly melirik jam di tangannya, sudah lewat pukul 15.00. Sejak Nana jatuh ke tangan Johan, sudah satu hari satu malam berlalu.Dia seorang ibu. Dia paham betul perasaan Saryna sekarang. Kesabaran itu sudah lama habis terkikis."Sebelumnya kami …." Diana refleks mau berkata sesuatu.Shelly memotongnya lagi, "Pulang dulu. Jangan biarkan Saryna menunggu terlalu lama."Rendy berdiri, menarik Diana yang masih mau bicara, lalu mengangguk singkat. "Terima kasih."Dua kata itu meluncur berat dari mulutnya, sebelum dia melangkah cepat keluar.Shelly berdiri sendirian di ruang tamu, entah sudah berapa lama. Keningnya makin berkerut, rasa terdesak itu makin menghimpit dadanya, sampai akhirnya dia terpaksa mengangkat kaki, naik ke lantai atas.Baru saja melewati tikungan di lantai 2, matanya langsung menangkap sosok Jeffry yang berdiri di sudut tangga.Shelly mendongak menatapnya. Bibirnya bergerak pelan, tapi suaranya tidak keluar. Dia nggak tahu harus mulai dari mana."Aku dengar semuanya." Jef

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 723

    Shelly yang membuka pintu. Dua orang di luar sana terpaku begitu melihatnya, sudut bibir mereka sama-sama bergetar, tapi tidak satu kata pun yang keluar."Silakan masuk." Shelly tidak tahu harus memanggil mereka apa. Dia membuka pintu selebar-lebarnya, mempersilakan mereka masuk.Mereka masuk ke dalam vila. Pasangan suami istri Keluarga Gunawan itu duduk di sofa, sementara Shelly menyeduh teh di meja kecil. Keheningan yang mati menggantung di antara mereka, sampai akhirnya Rendy yang lebih dulu membuka suara."Kami datang hari ini karena Saryna dan Nana."Tangan Shelly yang sedang menuang teh tiba-tiba berhenti. "Mereka kenapa?""Kemarin adalah hari Saryna resmi masuk silsilah keluarga, dicatatkan dalam buku marga. Kami membawa dia dan Nana pulang ke rumah leluhur. Keluarga Gunawan ada ratusan orang, ramai sekali, dan baru sebentar saja kami mengalihkan pandangan ... Nana hilang."Wajah Rendy yang biasanya tampan dan tenang perlahan-lahan dirayapi rasa malu dan sesal yang tidak bisa di

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 722

    Semua itu bermula dari ayah Johan, lelaki yang menikahi ibu Johan semata-mata demi harta Keluarga Gunawan.Sejak Johan lahir, sang ayah sudah menanamkan satu obsesi ke dalam benaknya: kuasai seluruh warisan Keluarga Gunawan, lalu kembalikan marga ke nama aslinya, Sunjaya. Dengan begitu, Keluarga Sunjaya akan bangkit dari keterpurukan!Dua generasi berkorban, dua generasi bersiasat. Kalau hasilnya bisa mendongkrak Keluarga Sunjaya ke puncak dalam sekali lompatan, semua itu sepadan!Berbagai bisikan itu sama sekali tidak menggoyahkan Johan.Yang membuatnya gelisah hingga bolak-balik tidak bisa tidur adalah hal lain. Rendy baru saja menggelar rapat dewan keluarga untuk membahas pembagian warisan. Rapat resminya tinggal 3 hari lagi.Johan sudah menyelidiki. Sebagian besar anggota Keluarga Gunawan berpihak pada Rendy, karena Rendy berhasil menemukan putrinya yang hilang bertahun-tahun lamanya.Artinya, warisan itu pada akhirnya akan jatuh ke tangan Saryna.Itu tidak akan pernah dia izinkan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 721

    "Ayo makan," kata Jeffry.Dia melepaskan pegangan kereta bayi Jery, mengambil sendok, lalu menyendok beberapa lauk ke piring Shelly.Ruang makan sunyi senyap. Sinar matahari sore menyeruak hangat ke dalam ruangan, sementara Jery di dalam kereta bayinya tidur dengan nyenyak.Namun hati Shelly yang tadinya tenang seperti permukaan danau. kini seperti dilempar batu. Riak demi riak mengembang dari dadanya, menjalar ke mana-mana, tidak mau berhenti."Aku ingat," ucapnya pelan. "Kamu bilang setelah urusan Keluarga Gunawan beres, ada yang mau kamu sampaikan padaku. Ini yang kamu maksud?"Jari-jarinya mencengkeram sendok lebih erat.Dia selalu merasa ada lapisan tipis yang memisahkan mereka, seperti selembar kertas jendela yang sudah Jeffry robek dari sisinya, tapi dari sisinya sendiri, dia masih buta sama sekali.Dia melirik Jery. Hatinya bergetar kecil."Ah, aku cuma ngomong sembarangan. Kalau aku mau ketemu kamu, memangnya ada urusan apa lagi."Nada Jeffry terdengar aneh, sedikit dipaksakan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 4

    Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 3

    Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 2

    Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 1

    Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status