LOGINAmarah yang berkumpul di dadanya membuat Ellena akhirnya mampu melepaskan ikatan belt di pergelangan tangannya yang sudah merah. "Apa kamu tahu, Reon? Aku selalu merasa bersalah karena mencampakkan kamu walaupun aku gak nunjukin terang-terangan." Ellena menyeka air di sudut mata lalu pipinya. Tatapannya menusuk pada bola mata hitam Reon. "Tapi, terima kasih… malam ini kamu sudah bikin aku sadar kalau kamu memang pantas ditinggalkan!"Ellena merampas kain segitiganya yang ada di lantai setelah merapikan gaunnya. Selanjutnya, dia pergi dari ruangan itu, meninggalkan Reon yang kembali mematung. Dia hanya bisa melihat punggung Ellena yang hilang dari balik pintu. Sungguh, pengakuan Ellena membuat semua pertahanan Reon porak-poranda. Dia lalu menyugar kasar rambut hitamnya dengan napas frustasi. Tak berselang lama, Vino masuk ke dalam ruangan. Laki-laki itu berdiri di sisi meja dengan postur tegap, menatap bosnya yang tampak begitu kacau.
Ellena benci Reon yang memperlakukannya kasar apalagi meremehkannya seolah dia merelakan tubuh demi uang. Gadis itu ingin berteriak, tapi suaranya seolah terjebak di balik tulang rusuknya sendiri. Hanya desahan dan rintihan yang keluar dari bibirnya. "Reon… sakit… nghh… ahh…"Reon yang dikuasai gairah, amarah dan cemburu seolah tidak peduli, dia terus menggempur Ellena. Benturan tubuh mereka makin liar sehingga menciptakan suara penyatuan yang sangat indah di telinga Reon. Sensasi milik Ellena yang menjepit pusakanya membuat adrenalin Reon memuncak."Kamu enak banget, Elle," geram Reon dengan suara beratnya. Tangan lelaki itu mencengkram pinggul Ellena sangat kuat. "Argh… Elle… sebut nama aku, sayang…" suara Reon makin serak, sembari gerakannya semakin mendesak. Alih-alih menuruti permintaan Reon, Ellena memalingkan wajah, menatap minuman keemasan dalam botol kaca. Reon akhirnya memegang dagu Ellena, memaksa gadis i
Tamparan keras Ellena tidak membuat Reon berhenti, lelaki itu justru makin gelap mata. Dia menggendong Ellena yang terus meronta dan membaringkan gadis itu ke sofa lalu menindihnya. "Lepas, Reon! Kamu jahat!" suara Ellena pecah. Dia mencoba bangun untuk lepas dari kungkungan Reon. Ellena melakukan apa yang dia bisa—meronta, memukul dan menendang. Sayangnya, Reon menahan gerakan Ellena dengan tangan dan lutut. Cengkraman lelaki itu juga semakin mengeras. "Jahat? Kamu yang jahat, Elle! Kamu yang mencampakkan aku! Kamu yang memutuskan hubungan kita sepihak!" napas Reon memburu di sekitar wajah Ellena yang merah dan basah karena air mata. "Kamu bilang kamu sudah move on," Ellena masih memberontak denga sekuat tenaga, "kamu juga sudah punya pacar sekarang, kenapa bahas masa lalu lagi," dia terisak, "lepas… Reon… aku mau lanjut bekerja," rintih Ellena. Tangisan Ellena membuat hati Reon tersayat, tapi ego dan amarah lebih menguasainya. Dia menahan k
Setelah mendapatkan informasi dari Vino bahwa Ellena bekerja sebagai VVIP server di klub malam, amarah Reon meledak. Dia memecahkan kaca di kamarnya dengan tinjunya. Segera, dia menuju Highmark Night Club menggunakan McLaren yang meraung dan melaju kencang membelah jalanan. Setibanya di tempat tujuan, Reon bergegas memasuki ruangan VVIP yang sudah dibooking oleh Vino asistennya. "Kamu yakin Ellena kerja di sini?" tanya Reon pada Vino. Vino menyerahkan sebuah dokumen berisi informasi mengenai VVIP Server bernama Elsa. "Iya, Pak, dari informasi yang saya dapatkan Kak Ellena mulai kerja kemarin malam." Reon menatap foto gadis itu. Ternyata benar Ellena. "Jadi selfie dia yang itu buat ini," gumam Reon, mencengkram kertas itu sampai remuk. Vino melirik jam tangan di pergelangannya. "Sebentar lagi Kak Ellena pasti lewat untuk mendatangi ruangan VVIP utama, Pak." "Oke, kamu tunggu di luar," kata Reon, menatap lurus ke depan. Sementara itu, pandangan Vino turun ke punggun
Ellena pergi dari ruangan luas itu, menyisakan Reon seorang diri dengan pikirannya yang berkecamuk. Rasa sakit di pusakanya masih terasa karena hantaman lutut Ellena, tapi tidak dipedulikan. Reon justru memikirkan darimana Ellena mendapatkan uang satu miliar dalam waktu singkat? Apakah ada yang meminjamkan uang pada gadis itu? Tapi siapa? Atau apa Ellena… "Gak mungkin—" napas Reon tercekat. Dia cepat-cepat menepis pikiran negatif yang mulai merambat di kepalanya. Lantas Reon meraih hape dan menelepon Vino. Tidak lama, panggilannya segera dijawab. "Halo, Pak Reon," kata Vino di seberang sana."Awasi Ellena, ikuti dia ke mana aja dan cari tahu dia dapat uang satu miliar dari mana," titah Reon. "Kak Ellena dapat uang satu miliar?""Iya, dia mau mengajukan resign besok dan membawa uang penalti.""Saya mengerti, Pak."Setelah telepon itu berakhir, Reon menoleh ke pintu rua
"Karena gak ada yang perlu dibicarakan lagi, Pak Reon." Ellena menarik tangannya tapi cengkraman Reon begitu kuat. Gadis itu akhirnya menyerah dengan perlawanannya. Dia mendongak menatap iris hitam itu. "Oke, kalau begitu saya mau tanya," sahut Ellena, suaranya mulai parau. "Apa malam itu Anda benar-benar mabuk atau hanya memanfaatkan keadaan saya yang dalam pengaruh obat?"Reon tidak melepaskan cengkraman pada pergelangan tangan Ellena. Matanya menunduk tajam. "Saya mabuk dan kamu yang duluan mencium saya, Elle," ujar Reon datar dengan suaranya yang dalam. Ellena terpaku beberapa jenak, menatap Reon. Ya, soal mencium Reon lebih dulu, Ellena mengingatnya dan dia benci dirinya sendiri karena melakukan itu. "Kenapa, Elle? Kamu ingat sesuatu?" Reon memiringkan sedikit kepalanya, menyeringai tipis. Ellena tersentak. Dia mencoba menarik tangannya lagi. Tapi cengkraman jemari Reon tidak mau lepas. Gadis itu mengembuskan napas kasa







