Chapter: Bab 174. Kembali ke Asrama"Pantas saja Kyrran menanyakan concealer, ternyata untuk ini," gumam Andrea pada dirinya sendiri saat menatap cermin dalam kamar mandi paviliun. Gadis itu kemudian membuka tutup concealer dan menarik aplikator kecil dari dalam tabung kecil di tangannya. Sedikit cairan berwarna senada dengan kulit beningnya menempel di ujung spons. Ia menepuk-nepukkan concealer di area lehernya yang ingin disamarkan. Setelah itu, ia membaurkannya perlahan menggunakan ujung jari hingga warnanya menyatu dengan kulit Andrea. Belum keluar dari sana, Andrea malah berkutat dengan ponselnya. Dia membuka aplikasi pintar pencari informasi dan mengetik sesuatu. Gadis itu mengulum bibir rapat-rapat sembari memfokuskan manik hazelnya ke layar, membaca informasi yang muncul. Selanjutnya, gadis itu menyunggingkan senyum. "Jadi… aku dan Kyrran beneran sudah pacaran?" Di sisi lain, di balkon p
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: Bab 173. Kyrran Seorang Vampir? Andrea tidak berhenti terpana dengan kecantikan danau berkilau merah. Untuk beberapa saat, ia fokus mengambil gambar dan foto bersama Kyrran. Namun tak berselang lama, bisikan Kyrran di telinganya membuyarkan perhatian gadis itu. "Mau lihat apa yang dipastikan Gal di lehermu?" suara Kyrran berat dan rendah, tepat di daun telinga Andrea. Ia bahkan merasakan ujung bibir Kyrran menyentuh kulitnya samar-samar. Jantungnya berdebar cepat untuk kesekian kalinya. Lantas gadis itu mengerjap pelan sebelum sedikit menoleh."Mau," jawab Andrea polos. Rasa penasaran membelenggunya. Dia memang ingin tahu apa yang dicari oleh kakaknya Kyrran. "Memangnya apa?" ucapnya bertanya balik. Tanpa menjawab pertanyaan itu, Kyrran menarik pergelangan tangan Andrea dengan lembut, kemudian menyandarkan punggung Andrea ke batang pohon besar yang berdiri di tepi danau. Untuk beberapa saat tatapan mereka saling bertaut. Kyrran meniti garis hidung Andrea l
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: Bab 172. Menuju Danau MerahKyrran menuntun kudanya berjalan pelan menuju area keberangkatan. Begitu mereka tiba, semua orang menoleh pada kedua remaja di atas kuda yang sama tersebut. Papa Adriell dan Mama Drassha serta Om Kayrell dan Tante Raisa saling melemparkan lirikan. Nampaknya mereka sedang nostalgia masa muda ketika berkuda bersama seperti Kyrran dan Andrea sekarang. Sementara itu, kedatangan dua remaja itu disambut rentetan komentar jahil para saudara dan sepupu Kyrran. "Apa kalian gak ada kegiatan lain selain mengganggu?" desis Kyrran. Para saudaranya semakin mencengcengi mereka. Andrea merasakan wajahnya menghangat, kemudian menunduk sambil mencengis-cengis. Noela menuntun kudanya berhenti di sebelah kuda Kyrran. "Uww… sudah berani go public ya." Elyse melingkarkan lengannya ke pinggang Noela dan menyandarkan kepala di punggung gadis itu. "Awww… kalian so sweet banget." J
Last Updated: 2026-06-16
Chapter: Bab 171. Berkuda dengan KyrranAndrea sudah tahu betul kalau Kyrran tidak akan suka jika dirinya dekat dengan cowok lain—meskipun itu kakak Kyrran sendiri. Namun, bagaimana Andrea bisa langsung menghindar kalau dia saja tiba-tiba dihampiri? Melihat tatapan Kyrran yang begitu tajam dan rahangnya mengeras, Andrea akhirnya sampai pada keputusan untuk menenangkan cowok itu. Dengan memberi kecupan singkat di bibir Kyrran. "Masih marah?" ujar Andrea sembari menurunkan tumitnya yang menjinjit, sambil menahan tatapan ke wajah Kyrran. Meski hanya sesaat, nyatanya kecupan itu sudah cukup untuk membuat sorot mata Kyrran yang semula dipenuhi rasa cemburu sedikit melunak. "Jangan marah ya," bisik Andrea pelan. Namun alih-alih menjauh, Kyrran justru meraih wajah Andrea. Tatapannya masih tajam, meski kini terselip kelegaan yang sulit disembunyikan. Cowok itu menunduk dan meraup benda kenyal berwarna merah itu. Kyrran melumatnya tanpa ampun dan Andrea sendiri mengikuti ritme yang diciptakan cowok itu di bibirnya.
Last Updated: 2026-06-16
Chapter: Bab 170. Misi Iseng IsaacIsaac sempat berkumpul dengan Jergar, Narell dan Darell. Lelaki berusia dua puluh tahun itu kemudian menyampaikan sebuah ide iseng untuk mengerjai Kyrran. "Aku mau lihat bagaimana adik kita cemburu," ucapnya menyeringai tipis. Area persiapan berkuda mulai ramai oleh anggota keluarga yang sibuk memilih helm, sarung tangan dan kuda masing-masing. Di tengah keramaian itu, Isaac melancarkan aksinya. Ia berjalan santai menghampiri gadis pujaan hati adiknya. "Andrea," sapa pria berambut cokelat terang itu, tersenyum ramah. "Mau berkuda bersamaku?" ajaknya pada gadis cantik itu, kemudian menoleh ke arah beberapa kuda yang sedang disiapkan staf. Andrea berkedip bingung, bahkan bibirnya terlihat sulit mengucapkan satu kata pun. Isaac maju selangkah sehingga jarak di antara mereka menipis. Senyum jahil mulai muncul di wajahnya lantaran sudut mata lelaki itu sudah melihat Kyrran memperhatikan dari kejauhan. Isaac menurunkan sedikit wajahnya. "Aku bisa membantu memilih kuda untuk
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: Bab 169. Brunch Bersama Keluarga KyrranSunroom mansion keluarga Yoseviano pagi itu dipenuhi suara percakapan hangat dan dentingan halus peralatan makan porselen.Cahaya matahari menembus dinding kaca tinggi, menerangi meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan brunch. Andrea dan para sahabatnya serta seluruh anggota keluarga Yoseviano telah berkumpul di sana. Keributan pagi tadi di kamar Kyrran tiba-tiba mengubah arah perbincangan lantaran celetukan Papa Adriell terdengar. "Papa mendengar kalau pagi-pagi tadi ada keributan di kamarmu, Kyrran." Tatapan tajam pria itu tertuju pada sang putra. "Apa yang terjadi?" ucapan Papa Adriell begitu tenang namun seperti ada tekanan sarkas di untaian katanya. Pria itu kemudian menyesap kopi dalam cangkir tanpa mengalihkan pandangan. Semua orang yang tahu kejadian sebenarnya memilih fokus pada makanan mereka meski sempat menahan napas. Andrea sendiri hampir tersedak jus yang sedang diminumnya. Jantungnya mulai berde
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: Bab 218. Arabella Sherryline RavindraEllena pikir hidupnya sudah berakhir ketika dilempar ke laut, tenggelam membawa semua rasa kehilangan dan dendamnya. Namun, dia sadar kalau jantungnya masih berdetak. Suara ombak yang menghantam sesuatu di luar sana terdengar samar di telinganya. Kelopak mata Ellena bergerak, berat, seolah ditarik kembali dari tempat yang sangat dalam. Cahaya redup menembus pandangannya yang masih kabur.Ketika matanya terbuka sempurna, langit-langit kayu asing menyambutnya. Napas gadis itu tersengal pelan.Ellena berkedip beberapa kali, mencoba fokus. Bau obat-obatan samar tercium di udara, bercampur dengan aroma asin laut.Dalam satu sentakan, Ellena langsung duduk. Kepalanya berdenyut dan napasnya memburu. Ia menoleh cepat ke sekeliling.Ruangan itu luas tapi sunyi. Dinding-dindingnya dipenuhi rak tinggi berisi buku-buku tua, beberapa botol kaca, alat-alat medis sederhana, dan cairan-cairan kimia yang tersusun rapi di atas meja pan
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Bab 217. Keputusan ReonSudah beberapa hari berlalu, Reon masih tidak bisa menerima kenyataan kalau Ellena sudah pergi untuk selamanya. Lelaki itu berdiri di tengah ruang tamu, tatapannya kosong menyapu setiap sudut, mengulang semua kenangan bersama Ellena juga neneknya. Dia mulai melangkah pelan tanpa arah, lalu berhenti di depan sebuah lukisan istrinya yang tergantung di dinding. Wajah yang dulu melengkapi hidupnya… kini hanya diam dalam rangkaian warna.Tangan Reon terangkat menyentuh bingkai itu untuk beberapa lama. Lalu perlahan dia menariknya turun dan memeluknya, seolah itu satu-satunya cara untuk memastikan bahwa Ellena masih ada di sampingnya… di pelukannya. Namun, sayang kenyataan terlalu cepat menghantam. Napas Reon mulai tidak teratur dan akhirnya dia runtuh. Tangisnya kembali pecah, lebih dalam dan hancur. "Elle…"Dia kemudian berjalan tertatih ke kamar, lalu jatuh di atas ranjang. Lukisan Ellena masih ia peluk erat.
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Bab 216. Tangisan PecahReon tidak berhenti mencari keberadaan Ellena. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain.Ponsel di tangannya tidak pernah jauh. Setiap dering membuat Reon langsung menjawab. Setiap pesan dibuka dalam hitungan detik.Mengira itu Ellena. Namun ternyata bukan. Sampai satu panggilan datang dari nomor tidak dikenal. Apakah ini jebakan lagi? Reon mengangkat telepon itu. "Ya?"Beberapa detik Reon hanya mendengarkan. Lalu, wajah lelaki itu semakin pucat. Retinanya terasa panas. "Apa…?" suara Reon pelan, malah hampir tidak keluar. "Tidak mungkin…" Tangannya mulai gemetar. Dia berdiri diam di samping mobilnya, dunia seolah berhenti berputar.Reon mendapatkan kabar bahwa istrinya, Ellena Satya telah tiada. Beberapa jam kemudian, Reon sudah berada di lokasi bersama Vino asistennya. Di ruang kantor otoritas pelabuhan.Seorang pet
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Bab 215. Amarah ReonLangit sore tampak pucat di atas sana. Angin berhembus pelan, menggoyangkan rumput-rumput liar di sekitar makam yang masih terlihat baru. Tanahnya belum sepenuhnya padat, bunga-bunga di atasnya masih segar.Reon berdiri di depan makam dengan napas berat. Matanya terpaku pada nama yang terukir di nisan."Nek… maaf…" lirih Reon, "aku selalu terlambat," ujarnya parau, tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya.Reon menunduk sedikit, kelopak matanya mulai panas. Selain kehilangan, dia juga tidak bisa membayangkan betapa rapuhnya Ellena. Dia tahu istrinya itu sangat menyayangi neneknya, dia rela melakukan apapun. Kini, nenek istrinya telah tiada dan Reon tidak ada di samping Ellena saat berduka. "Maaf, Nek… ma—af…" suaranya pecah. Namun, sekarang, di mana dia bisa menemukan Ellena? Istrinya… tidak bisa dihubungi, tidak menjawab telepon ataupun membalas pesan, seolah menghilang begitu saja dari dunia.
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: Bab 214. Ellena Tidak SelingkuhDalam ruangan kerja, Reon berdiri di dekat jendela, memandang kosong ke arah langit malam kota. Rahangnya mengeras, masih terus memikirkan pengkhianatan Ellena. Dia mengusap cincin yang melingkar di jarinya. Dia selalu melakukan itu akhir-akhir ini. Bahkan pekerjaan yang seharusnya dia lakukan semua dibackup oleh asistennya. Tok… Tok… Ketika halus di pintu memecah hening. "Masuk," ujar Reon tanpa menoleh. Vino melangkah masuk dengan langkah hati-hati. Di tangannya, sebuah amplop."Pak, ada yang mengirimkan ini," kata Vino, meletakkan amplop tersebut di meja. Reon menoleh sedikit. Terakhir kali dia menerima amplop seperti itu membuat dadanya kacau. "Dari siapa?" sahutnya. "Tanpa nama, Pak. Saya ambil dari resepsionis barusan."Lelaki itu berjalan mendekat, mengambil amplop tersebut tanpa banyak kata lagi. Dia membukanya malas. Namun saat isi di dalamnya terl
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 213. Tragedi di Kapal PesiarKetika kesempatan terbuka lebar, Ellena akhirnya masuk ke dalam suite Sharron. Berbeda jauh dari kabin biasa, ruangan di dalam suite ini luas dan elegan—lantai kayu mengilap, sofa empuk, lampu hangat, dan jendela besar yang menghadap langsung ke laut malam.Ketika pintu tertutup, matanya langsung menyapu ruangan untuk mencari tempat persembunyian. Ellena bergerak ke arah ruang dalam—kamar tidur utama dengan tirai setengah tertutup, lampu redup dan ranjang besar berada di tengah ruangan.Ellena melihat lemari besar di sudut. Tanpa ragu, dia membukanya perlahan dan masuk ke dalam, menyisakan celah kecil untuk mengintip keluar.Waktu terasa berjalan lambat dan di luar sana ombak terdengar keras, hingga akhirnya pintu terbuka. Ellena menahan napas. Dari celah lemari, ia melihat Sharron masuk ke kamar. Gaun elegan yang wanita itu kenakan dilepas perlahan, digantikan pakaian tidur.Setelah itu dia duduk di depan meja rias untuk mengh
Last Updated: 2026-03-26