Chapter: Bab 178. Semalam Kenapa, Angkasha?Sinar matahari yang menembus celah tirai membuat mata Asha terbuka perlahan. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum meregangkan tubuhnya. Bahunya terasa sedikit pegal dan kepalanya berat.Namun, saat ingatannya kembali pada kejadian semalam, seketika wajah Asha memanas.Asha buru-buru menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya."Astaga… yang semalam itu benar-benar nyata," gumam Asha. "Aku dan Kak Angkasa—"Bahkan semua yang terjadi semalam melekat erat di pikiran Asha. Gadis itu memejamkan mata sejenak lalu mengatur napasnya.Dengan jantung yang kembali berdebar, ia menoleh ke kiri dan kanan. Namun ia tidak menemukan Angkasa. Asha ingat mereka berciuman lembut sebelum tidur di pelukan pria itu.Asha kemudian mereka ulang semua kejadian-kejadian di tengah malam yang ia kira mimpi."Pantas saja tiap pagi aku sering bangun dalam keadaan lemas," gumamnya pelan. "Ternyata memang karena melakukan itu…"Waja
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20
Chapter: Bab 177. Racun yang Nikmat"Atau kamu pura-pura tidak ingat, hm?"Asha tidak menjawab lagi. Sungguh isi kepalanya bagai benang kusut sekarang. Hangat tubuh mereka yang bergesekan membuat Asha tidak bisa berpikir jernih.Angkasa kemudian menurunkan wajahnya, meraup salah satu benda kembar Asha dan menyusu pada gadis itu sembari terus mendesakkan milik mereka di bawah sana.Asha mendongak dengan desahan yang lolos dari bibirnya. Satu tangannya mencengkeram punggung Angkasa, satunya lagi meremas rambut hitam pria itu dengan kuat."Kak… Ahh… Hnghh… hhh…"Asha memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Getaran di tubuhnya begitu hebat dan jantungnya sendiri sudah tak karuan.Beberapa saat kemudian, Angkasa berhenti sejenak, napasnya tersengal-sengal. Begitu juga dengan Asha yang memeluk pria itu. Debar jantung mereka bersahutan seolah saling menyapa.Angkasa kemudian mengubah posisi Asha meski tetap memangku gadis itu. Angkasa memutar tubuh Asha
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20
Chapter: Bab 176. Pura-pura Tidak Ingat?"Belum ingat juga, Angkasha?"Asha yang masih terengah-engah hanya bisa menggigit bibirnya dan menggeleng pelan. Kedua lengan Asha bersilang lemas di atas dadanya, menutupi benda kembarnya.Sementara itu, Angkasa mengangkat tubuh Asha, membantu hingga celana piama gadis itu terlepas seluruhnya. Angkasa melemparkan kain oranye lembut itu ke lantai. Asha kini terbaring polos di bawah tubuh angkasa yang masih mengenakan celana, menyisakan kain tipis segitiga berwarna senada dengan piamanya.Apa yang akan Angkasa lakukan padanya?Asha tidak punya jawaban kecuali pikirannya yang terpatri saat Angkasa menggosok miliknya di bawah sana dan menjilatnya. Membayangkan hal yang ternyata bukan mimpi itu, membuat wajah Asha semakin merah padam.Angkasa kemudian menegakkan tubuh dan bertumpu pada lututnya yang mengangkang di atas tubuh mungil Asha. Gadis itu yang melihat lagi otot-otot kekar dan keras Angkasa membuat Asha terdorong ingin menyentuhnya. T
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20
Chapter: Bab 175. Belum Ingat Juga?Kebingungan melanda Asha, tak tahu harus jawab apa untuk pertanyaan Angkasa. Menyentuh ‘milik’ Ketua BEMnya?Otak Asha terasa kosong, bibirnya kelu dan napasnya tercekat di tenggorokan. Untuk mengeluarkan satu kata saja membuatnya kesusahan."K-kak… a-aku…"Angkasa dengan tubuh atasnya yang polos mendekat, pria itu turun mengungkung Asha. Kedua sikunya bertumpu di kasur mengapit Asha dengan posesif. Iris hitamnya tidak beralih sedikitpun dari manik cokelat Asha.Gadis itu menahan napas sekilas kala mendapati wajah tampan Angkasa yang kini tersisa beberapa senti dari wajah memerahnya."Kamu mau bilang… tidak ingat apapun lagi, kan?" bisik pria itu datar dengan mata yang sedikit memicing tajam.Asha mengulum bibirnya yang padat dan bengkak, jawabannya hanya kedipan bingung. Lantas tangan Angkasa bergerak turun meraih paha Asha, mengangkatnya pelan dan membukanya lebar."Ah… Kak…" Asha merasakan benda keras milik Angkasa ya
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20
Chapter: Bab 174. Mau Coba Sekarang?"Kamu belum ingat apa-apa, Angkasha?" tanya Angkasa lagi. Asha memejamkan mata, menahan gelombang yang tercipta di dadanya.Satu tangan Angkasa kini tengah meremas satu gundukan kenyalnya."A-aku… mhmm… gak ingat, Kak," jawab Asha terus berbohong. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Di sisi lain ia memang tidak pernah ingat bagaimana ia menggoda Angkasa jika tengah malam tiba. Asha juga terlalu malu untuk mengungkapkan apa yang melekat di kepalanya.Tidak ada yang berkata-kata lagi di antara mereka. Keduanya hanya mengeluarkan desahan dan geraman tipis.Satu tangan Angkasa mencengkeram pinggang Asha, telapak tangannya yang besar begitu panas menembus kain piama yang Asha kenakan. Asha mematung, seluruh otot di tubuhnya menegang, ia berusaha kembali pada logikanya, namun sial baginya Asha sudah terbuai. Ketegangan itu seolah menguras tenaganya dan Asha tidak bisa menahannya.Kamar mereka yang dingin mendadak pengap. Asha terkesiap, tubuhnya langsung kaku karena benda keras di bawah
Terakhir Diperbarui: 2026-09-19
Chapter: Bab 173. Belum Ingat?Beberapa menit kemudian, Asha bangkit dari kasur. Ia mulai mondar-mandir di depan meja belajar sembari menggigit bibir bawahnya dengan gelisah."Aku pura-pura tidur aja kali ya?" gumamnya.Ia menghentikan langkah dan menoleh ke arah kasur. Ya, opsi teraman untuk sekarang adalah pura-pura tidur.Tanpa membuang waktu, Asha berlari kembali ke kasur, menyelinap ke bawah selimut, lalu menutupi hampir seluruh tubuhnya hingga kepala. Setelah menemukan posisi yang menurutnya cukup meyakinkan, ia memejamkan mata rapat-rapat.Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka.Klik.Jantung Asha seketika berdegup lebih kencang. Lantas ia menahan napas sejenak.Namun, ia tidak menangkap suara langkah yang mendekat ke kasurnya. Mungkin Angkasa mengira Asha memang sudah tertidur dan sekarang sudah ke kasur pria itu.Asha membatin. 'Baguslah kalau dia sudah ke kasurnya sendiri, aku bingung harus menghadapi Kak Angkasa bagaimana sekarang…'Namun, tiba-tiba—Selimut yang menutupi tubuhnya tertarik.
Terakhir Diperbarui: 2026-09-19
Chapter: Campus Era 26Di kota Grandchester, dalam sebuah kamar apartemen, Daisy sedang berbaring santai di atas kasur. Wajahnya tertutup sheet mask beraroma lavender, sementara ponselnya berada di depan wajahnya. Jemarinya sibuk membuka berbagai aplikasi perjalanan.Matanya menyipit memperhatikan daftar penerbangan ke NY, Amric yang muncul di layar.Ia sudah bertekad untuk pergi ke sana, meski Kyrran melarangnya. Kali ini, Daisy harus ke sana. Toh, ia sudah mengumpulkan uang untuk beli tiket. Ia juga sudah melakukan berbagai macam perawatan. Karena tujuannya ingin memiliki Kyrran seutuhnya, membuat cowok itu terikat padanya.Gadis itu bahkan sudah meminta untuk cuti kuliah agar kembali dekat dengan Kyrran.Sejak mengaku sebagai pacar Kyrran, mereka tidak lama menghabiskan waktu bersama. Kyrran ke NY dan tidak ada niat membawa Daisy.Namun, sebelum menemukan tiket yang terjangkau dengan uang yang disiapkan, sebuah notifikasi masuk.Ting.Daisy awalnya tidak terlalu memperhatikan. Namun ketika melihat pesan
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20
Chapter: Campus Era 25Noela menggigit bibir bawahnya lalu menepuk jidatnya pelan."Aduh."Hampir saja. Sedikit lagi ia bisa keceplosan sesuatu yang seharusnya tidak boleh diketahui Kyrran.Pertama—kedua orang tua dan keluarganya sudah mengingatkan Noela agar tidak menyebut soal Andrea lagi.Kedua—Andrea sendiri juga sudah kelihatan move on dari Kyrran. Gadis itu lebih fokus pada cita-cita dan sudah mulai jatuh hati pada tunangannya.Jadi, ia tidak boleh mengungkapkan yang sebenarnya pada Kyrran. Cukup mencegah kembarannya itu semakin lama terlibat dengan Daisy.Untungnya mereka tidak video call, jadi ekspresi Noela tidak akan terbaca oleh Kyrran. Ia segera memutar otak mencari jawaban."Oh, itu maksudku…" Ia berdeham."Kalaupun kamu merasa pernah punya pacar atau apa, mungkin cuma efek ingatan kamu yang belum beres.""Maksudnya?" desis Kyrran di seberang sana."Ya semacam halu."Kyrran mendengkus. "Aku mema
Terakhir Diperbarui: 2026-09-19
Chapter: Campus Era 24Sejak malam itu, Kyrran tidak pernah lagi menagih kesepakatannya dengan Andrea. Ia tidak lagi menggoda Andrea tentang janji ciuman dan ngedate mereka.Melihat tangisan Andrea yang histeris seperti waktu itu membuat Kyrran sadar jika ia memang sudah berlebihan.Sudah lebih dari satu minggu ia hanya bisa memperhatikan Andrea dari kejauhan. Di kantin, depan gedung fakultas FIKOM, perpustakaan atau sesekali dari tribun lapangan basket ketika Andrea sedang melakukan wawancara.Padahal sebenarnya, Kyrran sangat merindukan gadis itu dan ingin berada di dekatnya.Kyrran bingun harus berbuat apa. Namun setiap kali mengingat wajah Andrea yang basah oleh air mata malam itu, langkahnya selalu terhenti.Saat akhir pekan tiba. Kyrran memilih meninggalkan kampus, bertolak ke kota Grandchester.Malam itu, Kyrran menghadiri makan malam bersama keluarga besar mamanya—Keluarga Alveroz.Ada Opa Riovandra, Oma Tamara, Mama Drassha, Papa Adriel, Tante Cherryl dan suaminya, Om Elias, Jasper, Lysander adik b
Terakhir Diperbarui: 2026-09-18
Chapter: Campus Era 23"Ah… Kyrran… stop…" lirih Andrea.Sayangnya, Kyrran semakin menyesap leher Andrea, mengabsen sepanjang kulit lembut gadis itu.Andrea memejamkan matanya, seolah menyerah dengan perlakuan Kyrran."Mhmm…"Kyrran kemudian memutar badan Andrea agar menghadap ke arah cowok itu. Saat Andrea ingin melayangkan protes, Kyrran lebih dulu membungkam bibir dengan ciuman.Satu tangan Kyrran menahan pinggang Andrea dan tangannya yang lain mengusap punggung Andrea dengan gerakan pelan dan penuh damba."Arghh… Andrea… you make me crazy," geram Kyrran rendah di sela hisapannya.Andrea yang sudah terbuai oleh mantan kekasihnya itu malah membalas ciuman Kyrran. Kedua lengan Andrea sendiri sudah melingkar di tengkuk cowok itu. Satu tangannya sesekali meremas rambut belakang Kyrran."Emphh… Ahh… Kyrran…" lirih Andrea di sela pagutan mereka yang kuat dan saling menuntut."Mmhhmm…""Argh…"Namun, saat kesadaran Andrea kembali. Gadis itu mendorong dada bidang Kyrran. Napasnya terengah-engah, lalu segera berl
Terakhir Diperbarui: 2026-09-16
Chapter: Campus Era 22Andrea memicing tajam ke arah cowok itu. "Aku cinta sama tunangan aku," tegas Andrea. "Ciuman doang bukan apa-apa, kami sering ciuman bahkan kami sudah pernah—"Ucapan Andrea terpotong lantaran Kyrran membungkam bibirnya dengan ciuman mendadak.Andrea spontan membelalak karena cowok itu berani menciumnya di depan umum.Bagaimana jika ada yang mengenali mereka?Bagaimana kalau ada yang memotret?Bagaimana kalau foto itu tersebar dan menjadi viral?Dan kalau sampai berita itu tiba di tangan kakeknya—Bisa jantungan Kakek Dedrick!Andrea segera menarik wajahnya menjauh dan mendorong bahu Kyrran."Kamu memang gila, ya?!""Gimana kalau ada yang lihat?!" ketus Andrea.Andrea lalu buru-buru memasang maskernya dengan benar, lalu menarik lengan Kyrran pergi. Ia menyeret cowok itu menuju sisi taman hiburan yang lebih sepi, jauh dari kerumunan pengunjung.Begitu sampai di balik deretan pagar tanaman, Andrea langsung berbalik."Pakai masker kamu!" titah Andrea dingin.Alih-alih mengenakan masker
Terakhir Diperbarui: 2026-09-15
Chapter: Campus Era 21Andrea akhirnya masuk ke dalam mobil Kyrran yang terparkir di luar gerbang timur kampus. Area itu jauh lebih sepi dibanding pintu utama. Awalnya Kyrran bersikeras menjemputnya di depan asrama, tetapi Andrea menolak. Ia tidak mau menjadi bahan gosip kampus. Apalagi sekarang Kyrran sedang menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa. Bahkan saat menunggu tadi, Kyrran sempat berdiri di luar mobil. Andrea yang melihatnya dari kejauhan langsung menelepon. "Kyrran, masuk ke mobil kamu, jangan menunggu di luar," ketus Andrea. "Kenapa, Andrea? Aku mau bukain pintu buat kamu," kata Kyrran. "Kalau ada yang lihat gimana?" protes Andrea. "Ya biarkan saja." "Masuk ke mobil, Kyrran." Dan pada akhirnya cowok itu menurut. Sekarang mereka duduk berdampingan di dalam mobil. Andrea baru saja hendak memasang sabuk pengaman, namun Kyrran bergerak lebih dulu, mencondongkan badannya ke arah Andrea. Cowok itu kemudian meraih sabuk di samping kursi lalu memasangkannya untuk Andrea. Klik. Sabuk itu te
Terakhir Diperbarui: 2026-09-14
Chapter: Bab 218. Arabella Sherryline RavindraEllena pikir hidupnya sudah berakhir ketika dilempar ke laut, tenggelam membawa semua rasa kehilangan dan dendamnya. Namun, dia sadar kalau jantungnya masih berdetak. Suara ombak yang menghantam sesuatu di luar sana terdengar samar di telinganya. Kelopak mata Ellena bergerak, berat, seolah ditarik kembali dari tempat yang sangat dalam. Cahaya redup menembus pandangannya yang masih kabur.Ketika matanya terbuka sempurna, langit-langit kayu asing menyambutnya. Napas gadis itu tersengal pelan.Ellena berkedip beberapa kali, mencoba fokus. Bau obat-obatan samar tercium di udara, bercampur dengan aroma asin laut.Dalam satu sentakan, Ellena langsung duduk. Kepalanya berdenyut dan napasnya memburu. Ia menoleh cepat ke sekeliling.Ruangan itu luas tapi sunyi. Dinding-dindingnya dipenuhi rak tinggi berisi buku-buku tua, beberapa botol kaca, alat-alat medis sederhana, dan cairan-cairan kimia yang tersusun rapi di atas meja pan
Terakhir Diperbarui: 2026-03-31
Chapter: Bab 217. Keputusan ReonSudah beberapa hari berlalu, Reon masih tidak bisa menerima kenyataan kalau Ellena sudah pergi untuk selamanya. Lelaki itu berdiri di tengah ruang tamu, tatapannya kosong menyapu setiap sudut, mengulang semua kenangan bersama Ellena juga neneknya. Dia mulai melangkah pelan tanpa arah, lalu berhenti di depan sebuah lukisan istrinya yang tergantung di dinding. Wajah yang dulu melengkapi hidupnya… kini hanya diam dalam rangkaian warna.Tangan Reon terangkat menyentuh bingkai itu untuk beberapa lama. Lalu perlahan dia menariknya turun dan memeluknya, seolah itu satu-satunya cara untuk memastikan bahwa Ellena masih ada di sampingnya… di pelukannya. Namun, sayang kenyataan terlalu cepat menghantam. Napas Reon mulai tidak teratur dan akhirnya dia runtuh. Tangisnya kembali pecah, lebih dalam dan hancur. "Elle…"Dia kemudian berjalan tertatih ke kamar, lalu jatuh di atas ranjang. Lukisan Ellena masih ia peluk erat.
Terakhir Diperbarui: 2026-03-30
Chapter: Bab 216. Tangisan PecahReon tidak berhenti mencari keberadaan Ellena. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain.Ponsel di tangannya tidak pernah jauh. Setiap dering membuat Reon langsung menjawab. Setiap pesan dibuka dalam hitungan detik.Mengira itu Ellena. Namun ternyata bukan. Sampai satu panggilan datang dari nomor tidak dikenal. Apakah ini jebakan lagi? Reon mengangkat telepon itu. "Ya?"Beberapa detik Reon hanya mendengarkan. Lalu, wajah lelaki itu semakin pucat. Retinanya terasa panas. "Apa…?" suara Reon pelan, malah hampir tidak keluar. "Tidak mungkin…" Tangannya mulai gemetar. Dia berdiri diam di samping mobilnya, dunia seolah berhenti berputar.Reon mendapatkan kabar bahwa istrinya, Ellena Satya telah tiada. Beberapa jam kemudian, Reon sudah berada di lokasi bersama Vino asistennya. Di ruang kantor otoritas pelabuhan.Seorang pet
Terakhir Diperbarui: 2026-03-29
Chapter: Bab 215. Amarah ReonLangit sore tampak pucat di atas sana. Angin berhembus pelan, menggoyangkan rumput-rumput liar di sekitar makam yang masih terlihat baru. Tanahnya belum sepenuhnya padat, bunga-bunga di atasnya masih segar.Reon berdiri di depan makam dengan napas berat. Matanya terpaku pada nama yang terukir di nisan."Nek… maaf…" lirih Reon, "aku selalu terlambat," ujarnya parau, tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya.Reon menunduk sedikit, kelopak matanya mulai panas. Selain kehilangan, dia juga tidak bisa membayangkan betapa rapuhnya Ellena. Dia tahu istrinya itu sangat menyayangi neneknya, dia rela melakukan apapun. Kini, nenek istrinya telah tiada dan Reon tidak ada di samping Ellena saat berduka. "Maaf, Nek… ma—af…" suaranya pecah. Namun, sekarang, di mana dia bisa menemukan Ellena? Istrinya… tidak bisa dihubungi, tidak menjawab telepon ataupun membalas pesan, seolah menghilang begitu saja dari dunia.
Terakhir Diperbarui: 2026-03-28
Chapter: Bab 214. Ellena Tidak SelingkuhDalam ruangan kerja, Reon berdiri di dekat jendela, memandang kosong ke arah langit malam kota. Rahangnya mengeras, masih terus memikirkan pengkhianatan Ellena. Dia mengusap cincin yang melingkar di jarinya. Dia selalu melakukan itu akhir-akhir ini. Bahkan pekerjaan yang seharusnya dia lakukan semua dibackup oleh asistennya. Tok… Tok… Ketika halus di pintu memecah hening. "Masuk," ujar Reon tanpa menoleh. Vino melangkah masuk dengan langkah hati-hati. Di tangannya, sebuah amplop."Pak, ada yang mengirimkan ini," kata Vino, meletakkan amplop tersebut di meja. Reon menoleh sedikit. Terakhir kali dia menerima amplop seperti itu membuat dadanya kacau. "Dari siapa?" sahutnya. "Tanpa nama, Pak. Saya ambil dari resepsionis barusan."Lelaki itu berjalan mendekat, mengambil amplop tersebut tanpa banyak kata lagi. Dia membukanya malas. Namun saat isi di dalamnya terl
Terakhir Diperbarui: 2026-03-27
Chapter: Bab 213. Tragedi di Kapal PesiarKetika kesempatan terbuka lebar, Ellena akhirnya masuk ke dalam suite Sharron. Berbeda jauh dari kabin biasa, ruangan di dalam suite ini luas dan elegan—lantai kayu mengilap, sofa empuk, lampu hangat, dan jendela besar yang menghadap langsung ke laut malam.Ketika pintu tertutup, matanya langsung menyapu ruangan untuk mencari tempat persembunyian. Ellena bergerak ke arah ruang dalam—kamar tidur utama dengan tirai setengah tertutup, lampu redup dan ranjang besar berada di tengah ruangan.Ellena melihat lemari besar di sudut. Tanpa ragu, dia membukanya perlahan dan masuk ke dalam, menyisakan celah kecil untuk mengintip keluar.Waktu terasa berjalan lambat dan di luar sana ombak terdengar keras, hingga akhirnya pintu terbuka. Ellena menahan napas. Dari celah lemari, ia melihat Sharron masuk ke kamar. Gaun elegan yang wanita itu kenakan dilepas perlahan, digantikan pakaian tidur.Setelah itu dia duduk di depan meja rias untuk mengh
Terakhir Diperbarui: 2026-03-26