MasukLangit perlahan dikuasai oleh warga oranye dan ungu, lampu-lampu gedung mulai menyala, pembahasan antara Ellena dan Areksa juga sudah mendekati ujung. Meeting mereka sebenarnya berjalan cukup lancar. Namun suasananya tidak pernah benar-benar santai. Karena beberapa meter dari sana… ada sepasang mata yang sesekali memperhatikan. Siapa lagi kalau bukan Reon. Kalau saja suami Ellena tidak ada di restoran itu, Areksa sudah pasti menawarkan diri mengantar Ellena pulang. Setidaknya itu rencananya sejak awal.Tapi kehadiran Reon mengacaukan segalanya.Ketika pembicaraan mereka akhirnya selesai, Areksa mengangkat tangan hendak meminta bill. Seorang pelayan pun mendekat dengan senyum sopan."Maaf, Pak. Tagihan meja ini sudah dibayarkan," ucap pelayan itu. Areksa mengernyit. "Sudah dibayar?"Pelayan itu menoleh sekilas ke arah meja Reon. "Bapak di meja sana yang membayarnya, Pak."Tatapan Areksa langsung mengikuti arah
Mengajak suaminya ke meeting yang berkaitan dengan pekerjaan mungkin terdengar tidak profesional. Tapi, Ellena punya alasan tersendiri. Saat masih kuliah desain, Areksa kerap kali merencanakan sesuatu yang bisa membuat Ellena dan laki-laki itu berduaan. Hanya saja, Ellena juga punya cara untuk menghindar. Saat dihubungi Areksa untuk meeting di luar dengan iming-iming membahas konsep kolaborasi bersama tim dari Star Games, Ellena sudah punya firasat kalau hanya Areksa yang akan datang. Dan, dugaan Ellena benar. Di meja sebuah restoran, terlihat Areksa yang duduk sendirian sambil berkutat dengan hapenya. Ketika melihat Ellena, dia melambaikan tangan sambil tersenyum tipis. Ellena mendekat dengan senyum kaku sambil tetap menjaga ekspresi profesionalnya. Dia kemudian duduk di seberang Areksa. "Akhirnya kamu datang, Ellena," kata Areksa. "Iya, Pak Areksa," balas Ellena. "Oh iya, yang lain belum datang ya, Pak?" tanyany
Bugh! Pukulan keras Reon mendarat di wajah seorang laki-laki bernama Erlangga. Kemeja putihnya yang selalu rapi kini kusut di bagian lengan. Mansetnya tergulung sampai siku. Salah satu buku jari Reon memerah setelah beberapa pukulan terakhir. Erlangga kini tergeletak setengah bersandar pada tumpukan kardus dalam gudang yang sunyi. Lampu neon redup yang menggantung di langit-langit tinggi memantul di wajahnya yang sudah babak belur—bibir pecah dan sudut matanya menghitam. Napas laki-laki itu terengah-engah.Tak jauh dari mereka, Vino berdiri di sudut ruangan dengan punggung lurus dan wajah tetap datar seperti patung. Dia tidak berusaha menghentikan apa pun.Sementara itu, Reon mencengkeram kerah Erlangga di lantai dan menariknya sedikit lebih tegak."Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Reon dengan suaranya yang tajam. Erlangga terbatuk. Darah tipis menetes dari sudut bibirnya. "Maksud Ba—pak apa? Sa—ya gak ngerti kenapa Bapak tiba
Cahaya fajar mulai menyelinap lewat celah tirai, menyapa lembut lantai kamar. Udara terasa lebih tenang setelah malam panjang yang membara oleh gairah. Di atas ranjang yang seprainya sedikit kusut, Ellena dan Reon masih terdiam, napas mereka perlahan kembali teratur.Ellena berbaring menyamping dalam selimut, rambutnya terurai di atas bantal. Wajahnya terlihat lelah, tapi sudah tidak tegang. Ada sisa kemerahan di sudut matanya, namun ekspresinya jauh lebih lembut.Reon bangkit dari kasur, lalu mengenakan celananya. Tanpa banyak kata, dia merapikan apa yang perlu dirapikan. Setelah memastikan semuanya beres, lelaki itu berjalan ke meja kecil dan menuangkan segelas air.Reon kembali ke sisi ranjang dan menyerahkan gelas itu pada Ellena"Minum dulu, sayang," ujarnya pelan sembari mengulas senyum tipis. "Kamu pasti haus."Ellena menerima gelas tersebut, jari-jarinya sempat bersentuhan dengan tangan suaminya. "Makasih, sayang." Dia m
Reon menarik pinggang istrinya seraya menundukkan kepala untuk melihat lebih dekat wajah cantik Ellena. "Jadi kamu cemburu?"Ellena memalingkan wajah sedikit, bibirnya merapat.Reon semakin mendekatkan wajahnya. Tangan laki-laki juga tidak diam saja, melainkan bergerak lembut meniti pinggang ramping Ellena. "Kejadian itu ada baiknya juga, akhirnya aku bisa lihat kamu cemburu secara terang-terangan."Ellena memukul dada bidang Reon. "Please, Elle, lain kali jangan abaikan chat atau telepon aku, aku khawatir, sayang," ujar Reon. "Iya, sayang.""Pokoknya kalau ada sesuatu kita harus langsung ngomong, jangan kayak kemarin sampai kita salah paham dan bertengkar kayak tadi."Ellena mengangguk. Mata mereka kemudian bertemu dengan dalam, napas mereka pun bercampur. Dan jantung mereka bersahutan. Lantas bibir mereka sama-sama mendekat hingga akhirnya menyatu dalam ritme yang lambat tapi penuh perasaan.
Ellena masih membelakangi Reon. Air matanya jatuh tanpa suara. Dia cepat-cepat mengangkat tangan, mengusap pipinya sebelum tetes berikutnya menyusul. Bibirnya terkatup rapat, giginya menekan pelan agar tak ada isak yang lolos.Di belakangnya, Reon melihat bahu Ellena bergetar tipis. Dia hendak meraih lengan Ellena untuk kedua kalinya, tapi istrinya itu menghindar lagi. Tanpa berpikir panjang, Reon maju dan memeluk Ellena dari belakang, kedua lengannya mengunci di sekitar tubuh istrinya."Lepas!" suara Ellena pecah, dia memberontak, mendorong lengan Reon, berusaha melepaskan diri. Reon tidak menyerah, dia mempertahankan tubuh Ellena dalam pelukannya. "Aku gak bakalan lepas, sayang." Suaranya rendah, serak, menempel dekat di telinga Ellena. Sementara itu, Ellena terus berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Reon sangat kuat. Tangisan yang tadi ditahan akhirnya pecah. Isak kecil keluar tak terkendali. Tubuhnya melemah perlahan di dalam pel







