LOGIN"Aku akan menjadi penerus keluarga ini." celetuk Celestine dengan binar keyakinan.
Keheningan di ruang kerja Grand Duke terasa begitu mencekik hingga detak jarum jam dinding terdengar seperti hantaman palu. Pria paruh baya itu masih bergeming, menatap lurus ke dalam manik ungu putrinya yang biasanya penuh dengan air mata manja, namun kini justru memancarkan ketenangan yang asing. "Satu bulan." suara berat Grand Duke akhirnya memecah kesunyian, ia meletakkan pena bulunya dengan gerakan yang menandakan otoritas mutlak. "Gunakan waktu itu untuk meyakinkanku bahwa kau sungguh-sungguh, Celestine. Jika kau gagal, aku tidak akan mendengar keluhanmu lagi saat kau berdiri di altar." Celestine hanya membungkuk dalam, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang penuh rahasia. "Terima kasih, Ayah. Aku tidak akan labil dan mengecewakanmu." Sejak hari itu, kehidupan mewah yang biasanya diisi dengan denting gelas sampanye dan tawa di butik-butik kelas atas berubah drastis. Celestine seolah lenyap dari pergaulan sosial ibukota. Ia tidak lagi memesan gaun berbahan sutra dan perhiasan impor dari benua yang jauh atau berdebat tentang tren topi terbaru. Sebaliknya, ia mengunci diri di sayap barat mansion—tempat perpustakaan raksasa Montclair berada. Di bawah remang cahaya lampu minyak, Celestine duduk bersila di antara tumpukan buku tua yang baunya seperti kertas lapuk dan sejarah. Tangannya yang pucat membalik lembaran peta wilayah Barat dengan cekatan. Celestine, dengan sisa-sisa pola pikir mahasiswi semester akhir yang terbiasa membedah teori rumit, mulai memetakan kekuatan keluarganya sendiri. Wilayah Montclair—Aethelgard—yang terletak di barat kerajaan bukan sekadar tanah yang subur. Itu adalah jantung pertahanan kekaisaran. Sebagai lumbung tanaman sihir dan pangkalan militer terbesar, Montclair adalah pilar yang menopang ekonomi Alderwyn. Celestine mencatat setiap detail, jalur perdagangan gandum, titik-titik pertahanan kavaleri, hingga rahasia pengolahan tanaman obat yang hanya dimiliki keluarga mereka. Namun, di tengah semua pengetahuan itu, ada satu tembok besar yang belum bisa ia tembus, sihir. Dalam novel, setiap keturunan utama Montclair seharusnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan elemen tumbuhan. Malam itu, Celestine berdiri di depan cermin besar kamarnya, menyibak gaun tidurnya hingga memperlihatkan punggungnya yang mulus. Di sana, tepat di atas belikat, terdapat tanda lahir berwarna ungu berbentuk sulur yang melingkar indah. "Tanda ini ada, aku memilikinya." bisiknya, jemarinya meraba tekstur kulit yang terasa sedikit lebih hangat di area tersebut. Ia mencoba memejamkan mata, memanggil energi atau apa pun yang sering digambarkan dalam novel fantasi untuk menghidupkan bunga layu di vas meja riasnya. Satu menit. Lima menit. Tidak terjadi apa-apa. Bunga itu tetap kering dan mati. Celestine menghela napas panjang, ada rasa frustrasi yang merayap. Meski ia memiliki jiwa baru dan pengetahuan masa depan, tubuh ini seolah menolak untuk bekerja sama dengan sihirnya. Ia tahu ia mewarisi kekuatan itu, tapi untuk saat ini, akar sihir di dalam dirinya masih tertidur lelap, terkunci entah oleh apa. Minggu ketiga berlalu, dan aura di kediaman Montclair mulai berubah. Para pelayan kini berjalan dengan punggung lebih tegak dan bicara lebih pelan saat melewati perpustakaan. Mereka bukan lagi takut pada amarah manja sang Nona Muda, melainkan segan pada wibawa baru yang terpancar dari setiap gerak-geriknya. Grand Duke Montclair sering kali berdiri di balik pilar koridor, memperhatikan putrinya dari kejauhan. Ia melihat Celestine yang kini lebih sering memegang buku taktik perang militer daripada perhiasan dan cermin. Ia melihat putrinya yang biasanya merengek ingin belanja barang mewah, kini justru menolak semua undangan pesta teh demi mempelajari laporan keuangan wilayah Barat. Ragu yang semula menyelimuti hati sang ayah perlahan luntur, digantikan oleh rasa bangga yang tumbuh secara tidak sadar. Perubahan drastis ini adalah sesuatu yang mustahil jika hanya sekadar akting untuk mencari perhatian. Sore itu, saat matahari mulai tergelincir, Grand Duke memasuki perpustakaan. Ia mendapati Celestine sedang tertidur di atas tumpukan dokumen, dengan sebuah buku tentang Geopolitik Barat sebagai bantalnya. "Kau benar-benar bertekad, Nak." gumam sang Duke pelan, tangannya yang kasar nyaris menyentuh rambut perak putrinya sebelum ia mengurungkan niat tersebut. Tiba-tiba, mata ungu itu terbuka. Celestine langsung tegak, tidak ada raut bingung khas orang bangun tidur. Ia langsung waspada. "Ayah? Ada apa?" tanyanya, suaranya jernih. Grand Duke terdiam sejenak, menatap tumpukan catatan taktik yang dibuat putrinya. Catatan itu sangat mendetail, bahkan menyarankan perampingan jalur distribusi logistik militer yang belum pernah terpikirkan oleh para jenderalnya. "Satu bulan mungkin hampir berakhir." ujar sang Duke sambil berbalik membelakangi putrinya, menyembunyikan binar setuju di matanya. "Tapi kurasa aku tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk melihat bahwa kau memang tidak cocok berada di samping pangeran yang hanya tahu cara memegang pedang." Celestine menahan napas, hatinya berdegup kencang. Ini adalah momen krusial yang ia tunggu-tunggu. "Besok." sang Duke melanjutkan dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah."bersiaplah dengan gaun terbaikmu. Aku telah menjadwalkan pertemuan khusus dengan Raja Alderwyn." Celestine berdiri tegak, matanya berkilat penuh kemenangan. "Untuk membatalkan pertunanganku?" Grand Duke berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit dengan tatapan yang tajam sekaligus menantang. "Kita akan pergi ke istana. Kita akan lihat apakah sang Raja lebih menghargai kesepakatan politik lama atau potensi emas yang kau tawarkan di atas meja."Hutan belakang kediaman Montclair bukanlah sekadar taman bunga yang tertata rapi. Semakin jauh kaki melangkah ke barat, pepohonan tumbuh semakin rapat, dengan dahan-dahan tua yang saling membelit menciptakan kanopi gelap yang jarang tertembus cahaya matahari. Di sinilah letak jantung kekuatan keluarga Montclair, tempat yang dulu sangat dihindari oleh Celestine asli karena dianggap kotor dan tidak elegan.Celine, yang kini menempati tubuh itu, berjalan dengan napas yang sedikit tersengal. Ia telah mengganti gaun merahnya dengan setelan ksatria—celana kulit hitam ketat dan kemeja linen putih yang ditutupi rompi pelindung. Pakaian ini terasa jauh lebih benar bagi jiwanya daripada tumpukan kain sutra yang menyesakkan.Milly berjalan beberapa langkah di belakangnya, membawa tas kecil berisi air dan handuk. Pelayan itu terus menatap punggung Lady-nya dengan dahi berkerut. "Lady, kita sudah berjalan terlalu jauh. Area ini biasanya hanya dimasuki oleh para ksatria penjaga perbatasan." bisi
"Sial, aura pangeran itu benar-benar menyesakkan." batin Celestine sesaat setelah keluar dari ruang tamu.Celine menutup pintu ruang tamu dengan perlahan, memastikan bunyi klik pengaitnya tidak terdengar oleh telinga tajam Alaric. Namun, begitu kayu ek itu tertutup rapat, lututnya mendadak lemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, membiarkan dinginnya kayu menembus gaun merahnya.Ia menarik napas panjang, mencoba teknik pernapasan box breathing yang sering ia ajarkan pada kliennya dulu di dunia nyata. Tarik empat detik, tahan empat detik, hembuskan empat detik."Tenanglah, Celestine. Ayo tenangkan dirimu." bisiknya pada diri sendiri.Tangannya gemetar hebat. Sebagai mahasiswa psikologi semester akhir, Celine tahu persis apa yang sedang terjadi. Ini bukan sekadar rasa takut, ini adalah reaksi psikosomatik. Tubuh Celestine de Montclair telah dikondisikan selama bertahun-tahun untuk bereaksi secara ekstrem terhadap kehadiran Alaric Alderwyn. Detak jantung yang berpacu kencang ini a
"Sialan! Aku kesal sekali." gerutu Alaric yang sedang duduk di sofa mewah ruang tamu keluarga Montclair. Aroma kayu cendana dan amis darah seolah masih melekat di jubah hitam Alaric Alderwyn, meski ia telah membasuh diri setibanya di ibu kota. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa menggema di lorong kediaman musim panas keluarga Montclair. Para pelayan tertunduk lesu, tubuh mereka gemetar merasakan aura dingin yang memancar dari sang Pangeran Ke-2. Bagi Alaric, kembali ke peradaban setelah tujuh tahun di perbatasan Utara yang membeku adalah sebuah transisi yang mengganggu. Baginya, dunia hanya terdiri dari dua hal, kawan yang bisa memegang pedang, atau lawan yang harus ditebas. Namun, ada satu variabel yang selalu ia benci karena sifatnya yang berisik dan emosional—Celestine de Montclair. Dalam benak Alaric, pertemuan ini seharusnya berjalan seperti biasa. Celestine akan berlari ke arahnya, mata ungu amethyst miliknya akan banjir air mata, dan ia akan meracau tentang betapa
"Apa maksud dari semua ini, Yang Mulia?!" Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam ruang audiensi pribadi raja, menghantam dinding-dinding marmer yang dingin. Napasnya memburu, debu pertempuran di Utara seolah masih menyesakkan dadanya, namun api amarah di matanya jauh lebih membara daripada sebelumnya. Di tangannya, surat pembatalan pertunangan itu gemetar karena cengkeraman yang terlalu kuat. Raja Alderwyn tetap tenang di kursinya, jemarinya yang mulai keriput mengusap janggutnya dengan lambat. "Kau baru saja kembali, Alaric. Duduklah. Berduka adalah hakmu, tapi ketenangan adalah kewajibanmu sebagai pangeran." "Ketenangan?" Alaric tertawa getir, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pedang. "Ibu saya baru saja dimakamkan, dan di hari yang sama, keluarga Montclair mencabut dukungan mereka seperti membuang barang rongsokan. Anda membiarkan mereka menghina keluarga kerajaan, Anda membiarkan mereka menghina saya!" Raja menghela napas panjang, menatap putranya dengan tata
"Berani-beraninya dia... Di saat tanah makam ibuku bahkan belum mengering!" Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam paviliun Selir Pertama yang sunyi. Tangannya meremas sebuah surat resmi berperakat lilin perak hingga kertas mahal itu hancur dalam genggamannya. Matanya yang tajam menatap nanar ke arah jendela, di mana langit ibukota Alderwyn tampak mendung, seolah turut mengejek kehancuran harga dirinya. Ibukota Alderwyn tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini, hiruk-pikuknya terasa berbeda. Di kedai-kedai kopi hingga aula pesta para bangsawan, hanya ada satu topik yang dibisikkan dengan nada tajam, Pangeran Alaric telah dicampakkan oleh tunangannya sendiri tepat setelah kematian ibunya. Berita pembatalan pertunangan oleh keluarga Montclair menyebar secepat wabah hanya beberapa jam setelah upacara pemakaman Selir Grace berakhir. Bagi publik, ini adalah skandal yang menjijikkan. Keluarga Montclair, yang selama ini dikenal sebagai pilar finansial dan militer kekai
Ia menatap tangannya yang pucat, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penonton di dunia ini. "Plotnya berubah... atau sejak awal, buku itu tidak benar?" Lantai marmer kediaman Montclair yang biasanya terasa megah, kini seolah berubah menjadi lorong dingin yang tak berujung di mata Celestine. Ia melangkah terburu-buru, mengabaikan sapaan hormat para pelayan yang membungkuk di sepanjang koridor. Gaun hitam pemakamannya yang berat dan berbahan beludru tebal terasa mencekik lehernya, seolah ribuan pasang mata dari masa depan yang pernah ia baca kini sedang menertawakan kebodohannya di balik bayang-bayang pilar. Begitu sampai di depan pintu perpustakaan utama di sayap barat, ia membanting pintu dan menguncinya dari dalam dengan tangan gemetar. Suara kunci yang berputar terdengar nyaring di ruangan sunyi itu, memberikan sedikit rasa aman yang semu. Celestine menyandarkan punggungnya di daun pintu, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton. "Ini tidak mungkin... ini terasa







