Home / Fantasi / Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku / 001 - Transmigrasi Jadi Antagonis

Share

Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku
Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku
Author: Chryztal

001 - Transmigrasi Jadi Antagonis

Author: Chryztal
last update Last Updated: 2026-01-20 12:01:27

"Tidak!! Akh!!"

Celestine tersentak bangun dengan napas memburu, tangannya secara refleks mencengkram dadaknya yang berdenyut nyeri. Rasa sakit yang luar biasa itu seolah masih tertinggal, sisa-sisa dari kelelahan hebat saat ia memaksakan diri bergadang lima malam berturut-turut demi menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.

Namun, saat Ia mulai menghirup udara di sekitarnya, rasa sakit itu menguap begitu saja, digantikan oleh aroma lilin aromaterapi dan wangi cendana yang menenangkan.

Pandangannya yang semula kabur kini mulai fokus pada dominasi warna merah jambu dan gading yang menghiasi setiap sudut ruangan. Celestine tertegun. Di depannya, kelambu sutra yang halus menjuntai dari empat Pilar ranjang king size yang terbuat dari mahoni berukir emas murni.

Ia menunduk, mendapati dirinya memaka gaun piyama putih bertahan sutra halus dan tangannya yang pucat, bukan kusam. Rambutnya yang berwarna perak berkilau jatuh menutupi bahunya. Sontak, ia melihat ke arah Cermin di dekatnya.

Sosok di dalam Cermin itu sangat cantik bagai Dewi kecantikan, kulitnya seputih pualam dan sepasang mata amethyst yang berkilau bagai perhiasan. Celestine termenung. Tiba-tiba kepalanya berdengung, informasi masuk seperti air bah.

Semalam setelah menghadiri pesta kedewasaan Lady Chalet-Putri Marquess Hart, Celestine dengan segala gaya angkuhnya bertengkar dengan Lady Freya di taman belakang mansion. Pertengkaran yang berakhir memalukan dirinya sendiri dengan tercebur ke dalam kolam dalam yang hampir merengut nyawanya.

Pertengkaran yang meributkan nama pangeran ke tiga kerajaan Ethelwilde, Alaric Alderwyn. Lady Freya terus menerus memanasi Celestine, menyebut Alaric sebagai Putra Mahkota yang dilengserkan, karena itulah Alaric dikirim ke medan perang untuk dihilangkan nyawanya.

Celestine dengan segala cinta dan obsesinya pada Alaric, tentu saja merasa terbakar mendengar semua pembicaraan buruk Lady Freya yang disengaja. Akhirnya ia menghampiri Lady Freya dan menjambak rambutnya dengan ganas.

"Dasar gila." Celestine terkekeh getir, menertawakan dirinya yang bodoh

Pangeran Alaric adalah tunangannya, tunangan yang dirinya paksakan dengan menggantikan kakaknya-Aureliane de Montclair-yang sejak awal dijodohkan dengan tujuan politik. Celestine bersikukuh ingin menggantikan kakaknya, dengan alasan ia mencintai Alaric.

Aureliane sendiri menolak perjodohan itu dan memilih menikahi kekasihnya-Pangeran Edmund-dari kerajaan Caelmont. Grand Duke Montclair tidak punya pilihan lain selain membiarkan Putri-putrinya mengejar cinta mereka.

Namun, nasib malang terus mendatangi Celestine. Kedatangan Seraphina-Gadis Suci dari Kuil-menggagalkan rencana hidupnya yang manis. Pangeran Alaric memilih cintanya bersama Seraphina dan terus mengabaikan Celestine yang merupakan tunanganya.

Semua pengabaian Alaric membuat Celestine kecewa dan diliputi perasaan marah dan iri hari pada Seraphina yang begitu diperhatikan. Celestine terus berusaha mencelakai Seraphina, sampai pada puncaknya ia dituduh meracuni Seraphina dan berakhir mati dipenggal Alaric.

"Malang sekali nasibku." Celestine menghela napas dalam setelah mengingat bagaimana dirinya-Sang Antagonis-mati karena kebodohannya sendiri.

Celestine atau lebih tepatnya jiwa Celine pada tubuh Celestine, bahkan belum selesai membaca novel yang berjudul "The Fallen Crown".

"Celestine de Montclair..." Celestine menyentuh permukaan Cermin yang dingin, menyadari dirinya bukan lagi mahasiswa semester akhir yang mati kelelahan. Ironisnya, ia bahkan belum sempat menyelesaikan bab terakhir novel tersebut.

Celestine tidak boleh diam saja. Jika ia mengikuti alur novel, maka ia akan berakhir mati. Mengingat kejadian semalam, tiga tahun dari sekarang kepalanya akan terpisah dari tubuhnya jika ia tetap menjadi tunangan Alaric.. Dengan gerakan cepat ia menyambar jubah sutra yang tersampir di kursi dan melangkah keluar kamar.

"Nona! Anda harus beristirahat!" Seru seorang pelayan muda yang nyaris ia tabrak di koridor, namun celestine terus melaju.

Celestine menelusuri lorong-lorong megah yang dihiasi lukisan masterpiece hingga sampai di depan pintu ganda besar bertahan kayu jati hitam. Tanpa mengetuk, Celestine mendorong pintu ruang kerja itu hingga menimbulkan dentuman keras.

Brakkk!!

"Ayah, kita perlu bicara." Ujar Celine dengan nada tegas, mengabaikan tata krama bangsawan yang biasanya sangat ia junjung tinggi.

Di balik meja kerja besar yang dipenuhi dokumen, seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang sama dan tatapan setajam elang mendongak ke arah ya. Grand Duke Montclair mengerutkan kening, meletakkan pena bulunya dengan gerakan perlahan yang mengintimisdasi.

"Celestine? Di mana sopan santunmu?" Grand Duke bertanya, suaranya rendah dan berat. Ia bersedekap, menatap putri bungsunya dengan pandangan menilai.

Celestine melangkah maju, mengatur napasnya yang masih belum teratur. Tangannya mengantam meja kerja sang Grand Duke hingga suara dentuman kembali terdengar, kali ini lebih pelan. "Batalkan pertunangan itu, Ayah. Sekarang juga kumohon!"

Grand Duke Montclair terdiam sejenak, matanya menyipit seolah mencoba mencari tahu apakah kepala putrinya baik-baik saja sehabis tenggelam semalam atau sedang kerasukan penunggu kolam. "Batalkan? Kau sudah merengek untuk posisi ini sejak usia empat belas tahun, Celestine. Apa kau sedang mempermainkan kekuatan keluarga kita?"

"Ayah, ayolah... Aku sedang tidak bermain-main, ini sungguhan." Matanya yang ungu berkilat menantang mata emas ayahnya. "Pangeran itu tidak mencintaiku, dan aku tidak ingin membuang waktuku untuk pria yang tidak menginginkanku."

Grand Duke perlahan berdiri, auranya yang menekan memenuhi ruangan. Namun, Celestine tidak mundur selangkah pun.

"Berikan aku waktu satu bulan." tantang Celestine dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku akan membuktikan bahwa isi kepalaku jauh lebih berharga daripada status tunangan pangeran buangan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   104 - Lady Seraphina Yang Naif dan Polos

    Pagi di Kuil Agung pusat ibu kota biasanya diwarnai dengan aroma dupa cendana dan nyanyian para burung peliharaan kuil yang menenangkan. Namun bagi Lady Seraphina pagi ini terasa jauh lebih berseri. Di bawah pilar-pilar marmer putih yang menjulang, ia berdiri dengan anggun sembari menatap sebuah rangkaian bunga besar yang baru saja dikirimkan oleh kurir istana.Bukan sembarang bunga. Rangkaian itu terdiri dari bunga Lilac langka dan mawar putih tanpa duri—simbol penghormatan yang sangat tinggi, atau dalam bahasa rahasia istana, sebuah bentuk perhatian khusus dari sang pemberi."Untukku? Benar-benar dari Pangeran Alaric?" suara Seraphina terdengar sedikit bergetar, jemarinya yang lentik menyentuh kelopak bunga yang masih berembun."Benar, Milady. Pesan dari paviliun utara mengatakan ini sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan Anda menemani Yang Mulia berdansa semalam." jawab sang pelayan kuil sembari membungkuk hormat sebelum undur diri.Seraphina menarik napas panjang, menghirup aroma

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   103 - Zephyran, Pangeran Yang Peka

    Lampu kristal di kamar pribadi Alaric telah diredupkan, menyisakan pendaran remang dari perapian yang mulai mengecil. Sang Pangeran melepaskan kancing-kancing atas seragamnya dengan kasar, melemparkan jas kebanggaannya ke lantai tanpa peduli pada lencana emas yang berdenting keras menabrak marmer. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa beludru berwarna zamrud, bersandar dengan satu tangan menutupi matanya yang lelah dan panas. Wajahnya masam, garis rahangnya masih mengeras seperti batu karang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tangan Elian yang melingkar di pinggang Celestine kembali muncul, memicu denyut kemarahan di pelipisnya.Klek.Pintu kamar terbuka pelan. Langkah kaki kecil yang ringan mendekat, memecah kesunyian yang mencekik itu."Kakak Alaric? Kau terlihat... Sedang tidak dalam suasana hati yang bagus?" suara Pangeran Kecil Zephyran terdengar ceria, sangat kontras dengan atmosfer suram di ruangan tersebut.Alaric tidak mengubah posisinya. "Pergilah, Zephyr. Aku sedang tidak

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   102 - Belati Kata di Atas Lantai Dansa

    Ketegangan di tengah aula Grand Ballroom kini telah mencapai titik didih. Musik waltz yang seharusnya melambangkan keanggunan dan romansa berubah menjadi latar suara yang ironis bagi konfrontasi tiga insan yang menjadi pusat perhatian hampir seluruh bangsawan kerajaan. Bisikan-bisikan halus mulai merambat di sudut-ruang, namun tak ada yang berani mendekat saat aura tidak menyenangkan Alaric mulai menyelimuti area dansa tersebut.Alaric menarik napas panjang, sebuah gerakan yang disengaja untuk menekan emosinya yang hampir meledak. Ia melepaskan sarung tangan putihnya yang kini ternoda merah oleh anggur dan serpihan kaca, menjatuhkannya ke lantai tanpa rasa hormat. Wajahnya yang semula tampak dikuasai amarah, kini berubah menjadi topeng ketenangan yang dingin—sebuah ketenangan yang jauh lebih mengerikan bagi mereka yang mengenal sang Pangeran Mahkota terdahulu ini."Sibuk? Ah, Archduke Elian tampaknya memiliki interpretasi yang sangat menarik mengenai etiket istana kami." ujar Alaric d

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   101 - Archduke Dari Kerajaan Selatan

    "Apakah mawar yang indah ini sedang merunduk karena embun malam?"Sebuah suara bariton yang asing, namun memiliki nada yang sangat halus dan menenangkan, menyapa pendengaran Celestine. Celestine yang sedang menikmati angin malam tersentak. Ia menoleh, jantungnya masih berdegup kencang karena amarah yang tersisa, dan menemukan seorang pria berdiri di ambang bayang-bayang balkon.Pria itu tidak mengenakan seragam militer kaku atau zirah berat seperti pria-pria di lingkaran Alaric. Ia mengenakan jubah beludru biru muda dengan bordiran benang perak yang menandakan statusnya sebagai bangsawan tinggi dari Kerajaan Selatan. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang simetris, dengan rambut pirang madu yang tertata rapi."Archduke... Elian?" bisik Celestine ragu.Seketika, potongan ingatan dari pemilik tubuh asli Celestine berputar di kepalanya seperti kaset lama yang berdebu. Pria ini adalah Elian de Valencian, kandidat tunangan masa kecilnya sebelum Celestine jatuh cinta pada Pangeran Alaric. Eli

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   100 - Pangeran Alaric & Lady Seraphina

    Istana Utama Grand Ballroom malam itu berubah menjadi samudra cahaya. Ribuan lilin kristal menggantung di langit-langit yang dilukis dengan mitologi dewa-dewi, memantulkan pendaran emas pada lantai marmer yang dipoles hingga menyerupai cermin. Musik harpa dan biola mengalun rendah, memenuhi ruangan dengan irama yang anggun namun sarat dengan ketegangan politik yang tersembunyi di balik tawa para bangsawan.Celestine Montclair melangkah masuk melalui pintu ganda besar, dan seketika, kebisingan di sekitarnya seolah meredup. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang berkilau, dengan sulaman perak berbentuk duri mawar yang merambat dari pinggang hingga ke bahunya. Rambut peraknya disanggul tinggi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah pucatnya yang tampak sangat tenang—sebuah topeng sempurna yang ia bangun selama dua hari terakhir di kediaman Montclair.Di sampingnya, Caelum berjalan dengan zirah perak lengkap, tangannya selalu berada di dekat hulu pedang, memancarkan aura

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   099 - Suasana Galau Yang Dramatis

    Kamar utama di paviliun utara istana terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun perapian besar telah dinyalakan hingga jilatan apinya menari setinggi dada. Alaric duduk di kursi kebesarannya yang berlapis kulit hitam, namun tubuhnya tidak bersandar. Ia membungkuk dengan siku bertumpu pada lutut, jemarinya yang panjang bertautan erat di depan wajah. Netra sapphire miliknya menatap kosong ke arah lidah api, memantulkan kemurkaan yang kini mulai mendingin menjadi keputusasaan yang sunyi.Penolakan Celestine di taman Montclair tadi malam masih terngiang jelas, setiap kata-katanya terasa seperti sayatan belati yang lebih menyakitkan daripada racun Vane kemarin. “Tindakanku kemarin adalah kesalahan.” Kata-kata itu berputar di kepalanya, menghancurkan sisa-sisa ego sang Pangeran."Kakak Alaric? Kenapa wajahmu terlihat seperti itu?" Suara kecil yang lembut itu memecah kesunyian. Alaric tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang masuk. Zephyran Alderwyn, Pangeran Kedelapan yang berusia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status