Share

003 - Membatalkan Pertunangan

Author: Chryztal
last update Last Updated: 2026-01-20 12:03:05

​Aroma teh Earl Grey yang mahal mengepul di antara keheningan yang mencekam di paviliun kaca istana. Raja Alderwyn duduk dengan punggung tegak, menatap cangkir porselennya seolah benda itu adalah teka-teki yang sulit dipecahkan.

Di hadapannya, Celestine duduk dengan keanggunan yang belum pernah terlihat sebelumnya, sementara sang Grand Duke Montclair bersedekap dengan aura yang siap meledak kapan saja.

​"Membatalkan pertunangan?" Raja Alderwyn akhirnya bersuara, tawanya terdengar hambar dan tidak percaya. "Setelah bertahun-tahun kau merengek demi posisi ini, Lady Celestine? Dan sekarang kau, Grand Duke, mendukung kegilaan ini?"

​Grand Duke Montclair tidak berkedip. "Ini bukan kegilaan, Yang Mulia. Ini adalah masa depan Montclair. Putriku telah memilih jalannya untuk menjadi penerus tunggal wilayah Barat."

​Raja meletakkan cangkirnya dengan dentingan tajam. "Alaric adalah pahlawan perang kita. Meskipun ia bukan Putra Mahkota, ia adalah simbol kekuatan Alderwyn. Membatalkan pertunangan ini secara sepihak akan mencoreng martabat keluarga kerajaan!"

​"Martabat tidak akan menjaga perbatasan Anda tetap aman, Yang Mulia." potong Grand Duke dengan nada dingin yang membuat para pelayan di kejauhan menunduk gemetar.

​Ia mencondongkan tubuh ke depan, matanya yang sekuning emas berkilat tajam. "Jika pertunangan ini tidak dibatalkan segera mungkin, saya akan menarik seluruh pasukan kavaleri Montclair dari baris depan di setiap perbatasan kekaisaran dalam waktu empat puluh delapan jam. Saya juga tidak akan ragu untuk menyatakan wilayah Barat sebagai wilayah otonom yang berdiri sendiri."

​Raut wajah Raja Alderwyn tidak gentar. Ia tahu itu bukan sekadar gertakan sambal. Keluarga Montclair adalah kontributor terbesar kedua bagi negara—Pilar utama kerjaan— dukungan finansial dan militer mereka, ekonomi kerajaan mungkin jatuh dan pertahanan di perbatasan akan runtuh seperti kartu remi.

​Celestine mengamati reaksi Raja dengan tenang. Ia tahu Alaric—tunangannya yang dingin itu—masih berada di medan perang dan baru akan kembali sebulan lagi. Ini adalah waktu terbaik untuk memutuskan tali sebelum pria itu pulang dan membawa Seraphina ke dalam konflik mereka.

​"Yang Mulia," Celestine membuka suara, menarik perhatian sang Raja. "Saya tidak meminta kebebasan ini secara cuma-cuma. Sebagai gantinya, saya menawarkan kontrak pasokan tanaman sihir medis langsung untuk militer tanpa melalui pihak ketiga. Anda mendapatkan pasukan yang lebih kuat, dan saya mendapatkan hak saya sebagai pemimpin Montclair."

Raja Alderwyn terdiam cukup lama, menimbang antara harga diri kerajaan dan stabilitas nasional yang sedang dipertaruhkan. Ia menatap Celestine, mencari celah dari gadis yang dulunya hanya tahu cara menghabiskan uang dan mengejar cinta itu.

​"Baiklah." ujar Raja akhirnya, suaranya terdengar lelah namun tetap penuh perhitungan. "Aku akan menerima pembatalan pertunangan ini. Tapi, aku punya satu syarat mutlak."

​Celestine menahan napas, tangannya yang tersembunyi di bawah meja meremas kain gaunnya kuat-kuat.

​"Aku akan memantau perkembanganmu." lanjut Raja dengan senyum tipis yang licik. "Jika kau gagal memenuhi kriteria sebagai penerus Grand Duke dan terbukti tidak kompeten memimpin atau bahkan gagal membangkitkan sihir warisanmu maka surat pembatalan ini akan kuanggap tidak ada. Kau akan langsung dinikahkan dengan Alaric begitu kriteria itu gagal kau penuhi."

​Celestine melirik ayahnya sejenak, lalu kembali menatap Raja dengan binar kemenangan di mata ungunya.

​"Diterima." jawab Celestine tegas. "Saya akan membuktikan bahwa saya jauh lebih berguna sebagai pemimpin Barat daripada sekadar pasangan pangeran."

​​Setelah mencapai kesepakatan, Celestine dan Grand Duke melangkah keluar dari rumah kaca istana. Namun, ketenangan itu terusik saat mereka melewati lorong galeri yang dipenuhi potret leluhur keluarga Alderwyn. Di sana, Celestine berhenti sejenak di depan sebuah lukisan besar.

​Lukisan itu menampilkan Alaric Alderwyn dalam balutan zirah perang, memegang pedang dengan tatapan yang seolah menembus kanvas. Dingin dan tak tersentuh.

​"Kau tahu dia akan kembali dalam waktu dekat, bukan?" suara Grand Duke memecah keheningan lorong. Beliau berdiri di samping putrinya, memperhatikan lukisan sang Pangeran. "Alaric bukan pria yang suka rencananya diusik. Meskipun dia tidak mencintaimu, egonya sebagai pangeran perang mungkin akan terluka saat tahu kaulah yang mencampakkannya lebih dulu."

​Celestine mengalihkan pandangan dari lukisan itu, menatap lurus ke arah lorong yang menuju pintu keluar istana. "Biarkan saja egonya terluka, Ayah. Setidaknya dia bisa kembali dari medan perang tanpa beban tunangan yang mengganggu."

​"Jangan meremehkannya, Celestine. Raja memberimu syarat karena dia tahu betapa sulitnya membangkitkan sihir tanaman Montclair bagi seseorang yang belum pernah menunjukkan bakat sama sekali." Grand Duke memperingatkan, matanya menyipit.

​Celestine menyentuh belikatnya secara tidak sadar, merasakan denyut hangat dari tanda lahir sulur di balik kain gaunnya yang mahal. Ia teringat plot novel di mana Alaric akan pulang membawa Seraphina sebagai pahlawan juga. Jika saat itu tiba dan Celestine belum berhasil membuktikan dirinya, maka syarat Raja akan menjadi jerat leher yang baru baginya.

​"Aku tidak punya waktu untuk takut pada Alaric." gumam Celestine sambil melanjutkan langkahnya dengan mantap. "Satu bulan sebelum dia pulang adalah waktu yang cukup bagiku untuk menanam akar di tanah Montclair."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   104 - Lady Seraphina Yang Naif dan Polos

    Pagi di Kuil Agung pusat ibu kota biasanya diwarnai dengan aroma dupa cendana dan nyanyian para burung peliharaan kuil yang menenangkan. Namun bagi Lady Seraphina pagi ini terasa jauh lebih berseri. Di bawah pilar-pilar marmer putih yang menjulang, ia berdiri dengan anggun sembari menatap sebuah rangkaian bunga besar yang baru saja dikirimkan oleh kurir istana.Bukan sembarang bunga. Rangkaian itu terdiri dari bunga Lilac langka dan mawar putih tanpa duri—simbol penghormatan yang sangat tinggi, atau dalam bahasa rahasia istana, sebuah bentuk perhatian khusus dari sang pemberi."Untukku? Benar-benar dari Pangeran Alaric?" suara Seraphina terdengar sedikit bergetar, jemarinya yang lentik menyentuh kelopak bunga yang masih berembun."Benar, Milady. Pesan dari paviliun utara mengatakan ini sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan Anda menemani Yang Mulia berdansa semalam." jawab sang pelayan kuil sembari membungkuk hormat sebelum undur diri.Seraphina menarik napas panjang, menghirup aroma

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   103 - Zephyran, Pangeran Yang Peka

    Lampu kristal di kamar pribadi Alaric telah diredupkan, menyisakan pendaran remang dari perapian yang mulai mengecil. Sang Pangeran melepaskan kancing-kancing atas seragamnya dengan kasar, melemparkan jas kebanggaannya ke lantai tanpa peduli pada lencana emas yang berdenting keras menabrak marmer. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa beludru berwarna zamrud, bersandar dengan satu tangan menutupi matanya yang lelah dan panas. Wajahnya masam, garis rahangnya masih mengeras seperti batu karang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tangan Elian yang melingkar di pinggang Celestine kembali muncul, memicu denyut kemarahan di pelipisnya.Klek.Pintu kamar terbuka pelan. Langkah kaki kecil yang ringan mendekat, memecah kesunyian yang mencekik itu."Kakak Alaric? Kau terlihat... Sedang tidak dalam suasana hati yang bagus?" suara Pangeran Kecil Zephyran terdengar ceria, sangat kontras dengan atmosfer suram di ruangan tersebut.Alaric tidak mengubah posisinya. "Pergilah, Zephyr. Aku sedang tidak

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   102 - Belati Kata di Atas Lantai Dansa

    Ketegangan di tengah aula Grand Ballroom kini telah mencapai titik didih. Musik waltz yang seharusnya melambangkan keanggunan dan romansa berubah menjadi latar suara yang ironis bagi konfrontasi tiga insan yang menjadi pusat perhatian hampir seluruh bangsawan kerajaan. Bisikan-bisikan halus mulai merambat di sudut-ruang, namun tak ada yang berani mendekat saat aura tidak menyenangkan Alaric mulai menyelimuti area dansa tersebut.Alaric menarik napas panjang, sebuah gerakan yang disengaja untuk menekan emosinya yang hampir meledak. Ia melepaskan sarung tangan putihnya yang kini ternoda merah oleh anggur dan serpihan kaca, menjatuhkannya ke lantai tanpa rasa hormat. Wajahnya yang semula tampak dikuasai amarah, kini berubah menjadi topeng ketenangan yang dingin—sebuah ketenangan yang jauh lebih mengerikan bagi mereka yang mengenal sang Pangeran Mahkota terdahulu ini."Sibuk? Ah, Archduke Elian tampaknya memiliki interpretasi yang sangat menarik mengenai etiket istana kami." ujar Alaric d

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   101 - Archduke Dari Kerajaan Selatan

    "Apakah mawar yang indah ini sedang merunduk karena embun malam?"Sebuah suara bariton yang asing, namun memiliki nada yang sangat halus dan menenangkan, menyapa pendengaran Celestine. Celestine yang sedang menikmati angin malam tersentak. Ia menoleh, jantungnya masih berdegup kencang karena amarah yang tersisa, dan menemukan seorang pria berdiri di ambang bayang-bayang balkon.Pria itu tidak mengenakan seragam militer kaku atau zirah berat seperti pria-pria di lingkaran Alaric. Ia mengenakan jubah beludru biru muda dengan bordiran benang perak yang menandakan statusnya sebagai bangsawan tinggi dari Kerajaan Selatan. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang simetris, dengan rambut pirang madu yang tertata rapi."Archduke... Elian?" bisik Celestine ragu.Seketika, potongan ingatan dari pemilik tubuh asli Celestine berputar di kepalanya seperti kaset lama yang berdebu. Pria ini adalah Elian de Valencian, kandidat tunangan masa kecilnya sebelum Celestine jatuh cinta pada Pangeran Alaric. Eli

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   100 - Pangeran Alaric & Lady Seraphina

    Istana Utama Grand Ballroom malam itu berubah menjadi samudra cahaya. Ribuan lilin kristal menggantung di langit-langit yang dilukis dengan mitologi dewa-dewi, memantulkan pendaran emas pada lantai marmer yang dipoles hingga menyerupai cermin. Musik harpa dan biola mengalun rendah, memenuhi ruangan dengan irama yang anggun namun sarat dengan ketegangan politik yang tersembunyi di balik tawa para bangsawan.Celestine Montclair melangkah masuk melalui pintu ganda besar, dan seketika, kebisingan di sekitarnya seolah meredup. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang berkilau, dengan sulaman perak berbentuk duri mawar yang merambat dari pinggang hingga ke bahunya. Rambut peraknya disanggul tinggi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah pucatnya yang tampak sangat tenang—sebuah topeng sempurna yang ia bangun selama dua hari terakhir di kediaman Montclair.Di sampingnya, Caelum berjalan dengan zirah perak lengkap, tangannya selalu berada di dekat hulu pedang, memancarkan aura

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   099 - Suasana Galau Yang Dramatis

    Kamar utama di paviliun utara istana terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun perapian besar telah dinyalakan hingga jilatan apinya menari setinggi dada. Alaric duduk di kursi kebesarannya yang berlapis kulit hitam, namun tubuhnya tidak bersandar. Ia membungkuk dengan siku bertumpu pada lutut, jemarinya yang panjang bertautan erat di depan wajah. Netra sapphire miliknya menatap kosong ke arah lidah api, memantulkan kemurkaan yang kini mulai mendingin menjadi keputusasaan yang sunyi.Penolakan Celestine di taman Montclair tadi malam masih terngiang jelas, setiap kata-katanya terasa seperti sayatan belati yang lebih menyakitkan daripada racun Vane kemarin. “Tindakanku kemarin adalah kesalahan.” Kata-kata itu berputar di kepalanya, menghancurkan sisa-sisa ego sang Pangeran."Kakak Alaric? Kenapa wajahmu terlihat seperti itu?" Suara kecil yang lembut itu memecah kesunyian. Alaric tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang masuk. Zephyran Alderwyn, Pangeran Kedelapan yang berusia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status