LOGINAroma teh Earl Grey yang mahal mengepul di antara keheningan yang mencekam di paviliun kaca istana. Raja Alderwyn duduk dengan punggung tegak, menatap cangkir porselennya seolah benda itu adalah teka-teki yang sulit dipecahkan.
Di hadapannya, Celestine duduk dengan keanggunan yang belum pernah terlihat sebelumnya, sementara sang Grand Duke Montclair bersedekap dengan aura yang siap meledak kapan saja. "Membatalkan pertunangan?" Raja Alderwyn akhirnya bersuara, tawanya terdengar hambar dan tidak percaya. "Setelah bertahun-tahun kau merengek demi posisi ini, Lady Celestine? Dan sekarang kau, Grand Duke, mendukung kegilaan ini?" Grand Duke Montclair tidak berkedip. "Ini bukan kegilaan, Yang Mulia. Ini adalah masa depan Montclair. Putriku telah memilih jalannya untuk menjadi penerus tunggal wilayah Barat." Raja meletakkan cangkirnya dengan dentingan tajam. "Alaric adalah pahlawan perang kita. Meskipun ia bukan Putra Mahkota, ia adalah simbol kekuatan Alderwyn. Membatalkan pertunangan ini secara sepihak akan mencoreng martabat keluarga kerajaan!" "Martabat tidak akan menjaga perbatasan Anda tetap aman, Yang Mulia." potong Grand Duke dengan nada dingin yang membuat para pelayan di kejauhan menunduk gemetar. Ia mencondongkan tubuh ke depan, matanya yang sekuning emas berkilat tajam. "Jika pertunangan ini tidak dibatalkan segera mungkin, saya akan menarik seluruh pasukan kavaleri Montclair dari baris depan di setiap perbatasan kekaisaran dalam waktu empat puluh delapan jam. Saya juga tidak akan ragu untuk menyatakan wilayah Barat sebagai wilayah otonom yang berdiri sendiri." Tanpa Raut wajah Raja Alderwyn tidak gentar. Ia tahu itu bukan sekadar gertakan sambal. Keluarga Montclair adalah kontributor terbesar kedua bagi negara—Pilar utama kerjaan— dukungan finansial dan militer mereka, ekonomi kerajaan mungkin jatuh dan pertahanan di perbatasan akan runtuh seperti kartu remi. Celestine mengamati reaksi Raja dengan tenang. Ia tahu Alaric—tunangannya yang dingin itu—masih berada di medan perang dan baru akan kembali sebulan lagi. Ini adalah waktu terbaik untuk memutuskan tali sebelum pria itu pulang dan membawa Seraphina ke dalam konflik mereka. "Yang Mulia," Celestine membuka suara, menarik perhatian sang Raja. "Saya tidak meminta kebebasan ini secara cuma-cuma. Sebagai gantinya, saya menawarkan kontrak pasokan tanaman sihir medis langsung untuk militer tanpa melalui pihak ketiga. Anda mendapatkan pasukan yang lebih kuat, dan saya mendapatkan hak saya sebagai pemimpin Montclair." Raja Alderwyn terdiam cukup lama, menimbang antara harga diri kerajaan dan stabilitas nasional yang sedang dipertaruhkan. Ia menatap Celestine, mencari celah dari gadis yang dulunya hanya tahu cara menghabiskan uang dan mengejar cinta itu. "Baiklah." ujar Raja akhirnya, suaranya terdengar lelah namun tetap penuh perhitungan. "Aku akan menerima pembatalan pertunangan ini. Tapi, aku punya satu syarat mutlak." Celestine menahan napas, tangannya yang tersembunyi di bawah meja meremas kain gaunnya kuat-kuat. "Aku akan memantau perkembanganmu." lanjut Raja dengan senyum tipis yang licik. "Jika kau gagal memenuhi kriteria sebagai penerus Grand Duke dan terbukti tidak kompeten memimpin atau bahkan gagal membangkitkan sihir warisanmu maka surat pembatalan ini akan kuanggap tidak ada. Kau akan langsung dinikahkan dengan Alaric begitu kriteria itu gagal kau penuhi." Celestine melirik ayahnya sejenak, lalu kembali menatap Raja dengan binar kemenangan di mata ungunya. "Diterima." jawab Celestine tegas. "Saya akan membuktikan bahwa saya jauh lebih berguna sebagai pemimpin Barat daripada sekadar pasangan pangeran." Setelah mencapai kesepakatan, Celestine dan Grand Duke melangkah keluar dari rumah kaca istana. Namun, ketenangan itu terusik saat mereka melewati lorong galeri yang dipenuhi potret leluhur keluarga Alderwyn. Di sana, Celestine berhenti sejenak di depan sebuah lukisan besar. Lukisan itu menampilkan Alaric Alderwyn dalam balutan zirah perang, memegang pedang dengan tatapan yang seolah menembus kanvas. Dingin dan tak tersentuh. "Kau tahu dia akan kembali dalam waktu dekat, bukan?" suara Grand Duke memecah keheningan lorong. Beliau berdiri di samping putrinya, memperhatikan lukisan sang Pangeran. "Alaric bukan pria yang suka rencananya diusik. Meskipun dia tidak mencintaimu, egonya sebagai pangeran perang mungkin akan terluka saat tahu kaulah yang mencampakkannya lebih dulu." Celestine mengalihkan pandangan dari lukisan itu, menatap lurus ke arah lorong yang menuju pintu keluar istana. "Biarkan saja egonya terluka, Ayah. Setidaknya dia bisa kembali dari medan perang tanpa beban tunangan yang mengganggu." "Jangan meremehkannya, Celestine. Raja memberimu syarat karena dia tahu betapa sulitnya membangkitkan sihir tanaman Montclair bagi seseorang yang belum pernah menunjukkan bakat sama sekali." Grand Duke memperingatkan, matanya menyipit. Celestine menyentuh belikatnya secara tidak sadar, merasakan denyut hangat dari tanda lahir sulur di balik kain gaunnya yang mahal. Ia teringat plot novel di mana Alaric akan pulang membawa Seraphina sebagai pahlawan juga. Jika saat itu tiba dan Celestine belum berhasil membuktikan dirinya, maka syarat Raja akan menjadi jerat leher yang baru baginya. "Aku tidak punya waktu untuk takut pada Alaric." gumam Celestine sambil melanjutkan langkahnya dengan mantap. "Satu bulan sebelum dia pulang adalah waktu yang cukup bagiku untuk menanam akar di tanah Montclair."Hutan belakang kediaman Montclair bukanlah sekadar taman bunga yang tertata rapi. Semakin jauh kaki melangkah ke barat, pepohonan tumbuh semakin rapat, dengan dahan-dahan tua yang saling membelit menciptakan kanopi gelap yang jarang tertembus cahaya matahari. Di sinilah letak jantung kekuatan keluarga Montclair, tempat yang dulu sangat dihindari oleh Celestine asli karena dianggap kotor dan tidak elegan.Celine, yang kini menempati tubuh itu, berjalan dengan napas yang sedikit tersengal. Ia telah mengganti gaun merahnya dengan setelan ksatria—celana kulit hitam ketat dan kemeja linen putih yang ditutupi rompi pelindung. Pakaian ini terasa jauh lebih benar bagi jiwanya daripada tumpukan kain sutra yang menyesakkan.Milly berjalan beberapa langkah di belakangnya, membawa tas kecil berisi air dan handuk. Pelayan itu terus menatap punggung Lady-nya dengan dahi berkerut. "Lady, kita sudah berjalan terlalu jauh. Area ini biasanya hanya dimasuki oleh para ksatria penjaga perbatasan." bisi
"Sial, aura pangeran itu benar-benar menyesakkan." batin Celestine sesaat setelah keluar dari ruang tamu.Celine menutup pintu ruang tamu dengan perlahan, memastikan bunyi klik pengaitnya tidak terdengar oleh telinga tajam Alaric. Namun, begitu kayu ek itu tertutup rapat, lututnya mendadak lemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, membiarkan dinginnya kayu menembus gaun merahnya.Ia menarik napas panjang, mencoba teknik pernapasan box breathing yang sering ia ajarkan pada kliennya dulu di dunia nyata. Tarik empat detik, tahan empat detik, hembuskan empat detik."Tenanglah, Celestine. Ayo tenangkan dirimu." bisiknya pada diri sendiri.Tangannya gemetar hebat. Sebagai mahasiswa psikologi semester akhir, Celine tahu persis apa yang sedang terjadi. Ini bukan sekadar rasa takut, ini adalah reaksi psikosomatik. Tubuh Celestine de Montclair telah dikondisikan selama bertahun-tahun untuk bereaksi secara ekstrem terhadap kehadiran Alaric Alderwyn. Detak jantung yang berpacu kencang ini a
"Sialan! Aku kesal sekali." gerutu Alaric yang sedang duduk di sofa mewah ruang tamu keluarga Montclair. Aroma kayu cendana dan amis darah seolah masih melekat di jubah hitam Alaric Alderwyn, meski ia telah membasuh diri setibanya di ibu kota. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa menggema di lorong kediaman musim panas keluarga Montclair. Para pelayan tertunduk lesu, tubuh mereka gemetar merasakan aura dingin yang memancar dari sang Pangeran Ke-2. Bagi Alaric, kembali ke peradaban setelah tujuh tahun di perbatasan Utara yang membeku adalah sebuah transisi yang mengganggu. Baginya, dunia hanya terdiri dari dua hal, kawan yang bisa memegang pedang, atau lawan yang harus ditebas. Namun, ada satu variabel yang selalu ia benci karena sifatnya yang berisik dan emosional—Celestine de Montclair. Dalam benak Alaric, pertemuan ini seharusnya berjalan seperti biasa. Celestine akan berlari ke arahnya, mata ungu amethyst miliknya akan banjir air mata, dan ia akan meracau tentang betapa
"Apa maksud dari semua ini, Yang Mulia?!" Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam ruang audiensi pribadi raja, menghantam dinding-dinding marmer yang dingin. Napasnya memburu, debu pertempuran di Utara seolah masih menyesakkan dadanya, namun api amarah di matanya jauh lebih membara daripada sebelumnya. Di tangannya, surat pembatalan pertunangan itu gemetar karena cengkeraman yang terlalu kuat. Raja Alderwyn tetap tenang di kursinya, jemarinya yang mulai keriput mengusap janggutnya dengan lambat. "Kau baru saja kembali, Alaric. Duduklah. Berduka adalah hakmu, tapi ketenangan adalah kewajibanmu sebagai pangeran." "Ketenangan?" Alaric tertawa getir, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pedang. "Ibu saya baru saja dimakamkan, dan di hari yang sama, keluarga Montclair mencabut dukungan mereka seperti membuang barang rongsokan. Anda membiarkan mereka menghina keluarga kerajaan, Anda membiarkan mereka menghina saya!" Raja menghela napas panjang, menatap putranya dengan tata
"Berani-beraninya dia... Di saat tanah makam ibuku bahkan belum mengering!" Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam paviliun Selir Pertama yang sunyi. Tangannya meremas sebuah surat resmi berperakat lilin perak hingga kertas mahal itu hancur dalam genggamannya. Matanya yang tajam menatap nanar ke arah jendela, di mana langit ibukota Alderwyn tampak mendung, seolah turut mengejek kehancuran harga dirinya. Ibukota Alderwyn tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini, hiruk-pikuknya terasa berbeda. Di kedai-kedai kopi hingga aula pesta para bangsawan, hanya ada satu topik yang dibisikkan dengan nada tajam, Pangeran Alaric telah dicampakkan oleh tunangannya sendiri tepat setelah kematian ibunya. Berita pembatalan pertunangan oleh keluarga Montclair menyebar secepat wabah hanya beberapa jam setelah upacara pemakaman Selir Grace berakhir. Bagi publik, ini adalah skandal yang menjijikkan. Keluarga Montclair, yang selama ini dikenal sebagai pilar finansial dan militer kekai
Ia menatap tangannya yang pucat, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penonton di dunia ini. "Plotnya berubah... atau sejak awal, buku itu tidak benar?" Lantai marmer kediaman Montclair yang biasanya terasa megah, kini seolah berubah menjadi lorong dingin yang tak berujung di mata Celestine. Ia melangkah terburu-buru, mengabaikan sapaan hormat para pelayan yang membungkuk di sepanjang koridor. Gaun hitam pemakamannya yang berat dan berbahan beludru tebal terasa mencekik lehernya, seolah ribuan pasang mata dari masa depan yang pernah ia baca kini sedang menertawakan kebodohannya di balik bayang-bayang pilar. Begitu sampai di depan pintu perpustakaan utama di sayap barat, ia membanting pintu dan menguncinya dari dalam dengan tangan gemetar. Suara kunci yang berputar terdengar nyaring di ruangan sunyi itu, memberikan sedikit rasa aman yang semu. Celestine menyandarkan punggungnya di daun pintu, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton. "Ini tidak mungkin... ini terasa







