Share

014 - Gema yang Terusik

Penulis: Chryztal
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-25 22:23:53
"Ck! Huhhh.." Alaric mendengus frustasi.

Alaric memutar-mutar segel cincin di jari telunjuknya, sebuah kebiasaan yang muncul hanya saat ia sedang menyusun strategi perang yang rumit. Namun kali ini, medannya bukan lagi hamparan salju yang luas, melainkan ruang tamu kediaman Montclair yang wangi akan aroma teh.

Ia merasa seperti seorang predator yang baru saja menyadari bahwa mangsa yang biasanya menyerahkan diri secara sukarela, tiba-tiba menumbuhkan taring dan menghilang ke dalam semak berduri.

Ada rasa frustrasi yang halus, merayap di balik ketenangannya. Ia benci kenyataan bahwa ia menghabiskan lebih dari satu jam hanya untuk memikirkan diksi dalam sebuah surat undangan.

​Alaric adalah matahari bagi Celestine, ia adalah poros tempat gadis itu berputar, memuja setiap bayangan yang ditinggalkan Alaric. Kini, saat matahari itu kembali, ia menemukan bahwa dunianya telah kehilangan gravitasi.

Celestine tidak lagi menunggunya di depan gerbang dengan mata berkaca-kaca. Sebalikn
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   016 - Benang Kusut

    "Tahan napasmu, Lady. Rasa sakit hanyalah sinyal, bukan perintah untuk berhenti."Suara Caelum memecah kesunyian hutan yang masih berselimut kabut tebal. Pagi ini, latihan terasa berkali-kali lipat lebih berat. Celestine berdiri dengan kaki gemetar, kedua tangannya menggenggam pedang kayu yang kini terasa seberat bongkahan logam. Keringat dingin bercampur embun membasahi wajahnya, namun matanya tetap terkunci pada bahu Caelum, mencoba membaca setiap denyut otot ksatria itu sebelum serangan berikutnya tiba.Wuss!Caelum menyerang lebih agresif. Celestine mencoba menghalau dengan manuver yang ia pelajari kemarin, namun gerakannya sedikit terlambat. Pedang kayu Caelum menghantam pergelangan tangannya, membuat pegangannya terlepas. Tanpa membiarkan Celestine bernapas, Caelum memberikan sapuan kaki yang membuat Celestine terpelanting.Celestine mendarat dengan keras di atas tanah yang dipenuhi ranting tajam. Sebuah luka sayatan cukup panjang merobek kemeja linen di lengan atasnya, mengelu

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   015 - Kekesalan Celestine

    "Katakan pada pengawal itu untuk membawa kembali kertas ini ke pemiliknya sebelum aku kehilangan kesabaran dan menjadikannya sasaran latihan panahku."Suara Celestine memotong keheningan hutan dengan tajam, membuat Milly yang baru saja tiba di tanah lapang utara tersentak hingga hampir menjatuhkan nampan peraknya. Celestine bahkan tidak menoleh, ia masih sibuk mengelap keringat di lehernya dengan handuk kasar, sementara napasnya masih memburu akibat sesi latihan tanding dengan Caelum. Di hadapannya, Milly berdiri gemetar sembari menyodorkan sepucuk surat dengan segel lilin merah gelap bermotif singa—lambang keluarga kerajaan, lebih tepatnya yang mengirim surat adalah Pangeran Alaric Alderwyn."My Lady, pengawal istana bersikeras agar Anda membacanya secara langsung begitu menerima surat ini. Beliau berkata ini adalah perintah langsung dari Yang Mulia Pangeran." lapor Milly dengan suara bergetar, matanya melirik cemas ke arah gerbang hutan di mana seorang prajurit berbaju zirah perak

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   014 - Gema yang Terusik

    "Ck! Huhhh.." Alaric mendengus frustasi. Alaric memutar-mutar segel cincin di jari telunjuknya, sebuah kebiasaan yang muncul hanya saat ia sedang menyusun strategi perang yang rumit. Namun kali ini, medannya bukan lagi hamparan salju yang luas, melainkan ruang tamu kediaman Montclair yang wangi akan aroma teh. Ia merasa seperti seorang predator yang baru saja menyadari bahwa mangsa yang biasanya menyerahkan diri secara sukarela, tiba-tiba menumbuhkan taring dan menghilang ke dalam semak berduri. Ada rasa frustrasi yang halus, merayap di balik ketenangannya. Ia benci kenyataan bahwa ia menghabiskan lebih dari satu jam hanya untuk memikirkan diksi dalam sebuah surat undangan. ​Alaric adalah matahari bagi Celestine, ia adalah poros tempat gadis itu berputar, memuja setiap bayangan yang ditinggalkan Alaric. Kini, saat matahari itu kembali, ia menemukan bahwa dunianya telah kehilangan gravitasi. Celestine tidak lagi menunggunya di depan gerbang dengan mata berkaca-kaca. Sebalikn

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   013 - Ambisi Celestine

    Tukk! Tukk! Wuss!Suara dentingan pedang kayu yang beradu memecah keheningan fajar di hutan utara Montclair. Udara pagi yang berkabut terasa menusuk, namun keringat tampak membasahi kening Celestine, mengalir melewati pelipisnya hingga jatuh ke tanah yang lembap. Tubuhnya yang terbiasa dengan kemewahan kini dipaksa untuk melampaui batasnya. Setiap otot di lengannya menjerit karena kelelahan, namun setiap kali ia goyah, tatapan dingin Caelum memaksanya untuk kembali tegak.Latihan pedang ini bukan lagi sekadar sandiwara. Caelum tidak memberikan ruang bagi Celestine untuk bernapas. Ia menyerang dengan sudut-sudut yang sulit, memaksa Celestine untuk menggunakan insting observasinya—kemampuan psikologisnya untuk membaca gerak tubuh lawan sebelum serangan itu benar-benar dilancarkan. Celestine belajar bahwa bertarung bukan hanya soal kekuatan fisik, melainkan tentang membaca ritme dan memecahkan konsentrasi lawan. Sepertinya ia harus melakukan latihan fisik setiap hari mulai sekarang.Se

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   012 - Cael Bersumpah

    ​"Sekarang kau sudah melihat rahasiaku, Caelum Devereux. Pilihlah sekarang... kau ingin menjadi ksatria yang menjaga rahasia ini, atau kau ingin menjadi orang pertama yang aku hancurkan dengan kekuatan ini?" Napas Celestine terasa seperti serpihan es yang menyayat paru-parunya. Ia bersandar berat pada lengan Caelum, membiarkan ksatria itu menopang tubuhnya agar tidak ambruk ke tanah yang lembap. Meski tubuhnya menggigil hebat, mata ungu amethyst miliknya tetap terkunci pada Caelum, menunggu jawaban atas ancaman dan tawaran yang baru saja ia lontarkan. Caelum terdiam, matanya masih terpaku pada cahaya hijau dan ungu redup yang memudar di punggung Celestine. Sebagai putra kedua yang terbuang, ia telah melihat banyak hal di medan perang, namun melihat manifestasi fisik dari sihir kuno yang melegenda adalah sesuatu yang berbeda. Ia mendengus, suaranya rendah, ada nada hormat yang tidak sengaja menyelinap masuk. "Hahhh, Anda mempertaruhkan nyawa Anda untuk menunjukkan ini pada saya, L

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   011 - Caelum Devereux

    "Saya pikir Anda salah arah. Butik perhiasan ada di pusat kota, bukan di hutan terkutuk ini, Lady Montclair. Hutan ini tidak ramah pada wanita yang manja."Suara berat dan serak itu menyambut Celestine bahkan sebelum ia sempat menginjakkan kaki di tanah lapang utara. Pria yang bersandar pada pohon oak tua itu tidak bergerak, tangannya bersedekap dengan pedang besar yang tersampir di punggungnya. Angin di pinggiran hutan utara wilayah Montclair terasa jauh lebih tajam. Di sini, pepohonan tidak lagi rimbun dengan bunga, melainkan dipenuhi batang-batang hitam yang menjulang tinggi, seolah-olah menjadi saksi bisu bagi para ksatria yang sedang dalam pelatihan.Caelum Devereux menatapnya dengan pandangan yang meremehkan, seolah-olah Celestine hanyalah gangguan kecil di tengah jadwal latihannya yang serius. Jubah kulitnya yang kusam dan pedang besar yang tersampir di punggungnya memberikan kesan bahwa dia bukan sekadar ksatria bangsawan, melainkan seorang penyintas.Celestine berhenti tepat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status