Ksatria Yatim Dan Gadis Tanpa Aura

Ksatria Yatim Dan Gadis Tanpa Aura

last updateHuling Na-update : 2025-10-28
By:  Yasu HayashiOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 Mga Ratings. 2 Rebyu
76Mga Kabanata
822views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Peringatan! Novel ini berisi adegan dewasa seperti adegan sexual, percintaan, kekerasan, darah, pastikan usia anda sesuai rating buku ini. Wanita tersebut memperkenalkan diri, matanya menyala bagaikan serigala menjaga wilayah kekuasaanya. Dengan presisi dia menendang Arthur, membuatnya terpental beberapa meter. "Pukulan Mawar Membelah Bumi!" Elixia segera melompat, menari dengan indah di udara, melesatkan pukulan sambil menukik tajam. Cepat, membuat Arthur tidak sempat menghindar, memaksanya menyilangkan kedua tangan untuk menahan serangan tersebut. "Bayang Menyelinap!" Leona menarik tangan Arthur, namun efek pukulan Elixia yang menciptakan tiupan angin kencang membuat mereka terguling cukup jauh. "Kau... Sejak kapan ada di situ?" pekik Elixia, tidak menyadari kehadiran Leona sebelumnya. Dia berjalan mendekat, hendak menghabisi kedua orang di hadapannya. Arthur segera bangkit, "kau... Lampiaskan saja semuanya padaku!" serunya, berdiri menutupi Leona dan bersiap melindunginya. "Baik... Kau yang memintanya!" Elixia tersenyum meremehkan, mendekat dengan cepat ke arah Arthur. "Tarian Mawar Berduri!" Elixia melesatkan sejumlah pukulan kombinasi, pukulan tersebut tampak tidak mengenai tubuh Arthur. Namun, tiba-tiba dirinya tersungkur, memuntahkan darah segar yang membasahi lantai atap sekolah. "Kuakui nyalimu, anak baru!" seru Elixia, senyumnya menusuk bagaikan duri mawar. Dia kemudian menurunkan sedikit kepalanya, sejajar dengan wajah Arthur yang kini terduduk dengan lutut bertumpu di lantai. Elixia mendekatkan bibirnya ke dekat bibir Arthur, "Ciuman Pencabut Sukma!" ia berbisik. Arthur terkesiap, jantungnya berdegup liar, ciuman yang dijanjikan sang nenek datang dengan cepat dari seorang wanita cantik sekaligus mematikan. Namun, bukannya kenikmatan, Arthur merasa kesulitan bernafas seperti paru-parunya tertusuk duri mawar.

view more

Kabanata 1

Tidak Merasakan Sakit

Arthur, seorang siswa baru saja menginjakan kaki di sekolah barunya, SMA Skywhip. Matanya berbinar memancarkan harapan, tubuhnya ramping, rambutnya hitam dengan belahan tak beraturan.

"Kau akan menemukan banyak wanita cantik, lalu merasakan ciuman yang akan mengubah hidupmu."

Terngiang pesan dari sang nenek sebelum dirinya berencana menetap di asrama sekolah, terasa main-main namun Arthur mempercayainya.

Baru saja menginjakan kaki di aula, Arthur sudah disambut tangga berkilau seperti emas. Firasatnya mengatakan sekolah tersebut menyimpan banyak wanita cantik seindah tangga di hadapannya.

Namun, di kejauhan tampak lorong gelap dengan plang bertuliskan "ruang loker", dia pun melangkah menuju lorong yang hanya disinari lampu temaram tersebut.

Arthur menelusuri tembok penuh coretan, terlihat grafiti mencolok bertuliskan "Flawless", menegaskan bahwa itu bukan sembarang nama.

Tiba di ruang loker untuk menyimpan peralatannya, Arthur merasakan sebuah sentuhan lembut di telinganya.

Dia memutar badannya, namun tidak mendapati siapapun, bahkan tidak ada aura kehadiran siapapun.

Tiba-tiba, "Di kananmu, anak baru!" Terdengar suara bisikan seorang wanita, lembut namun terkesan misterius.

Arthur berbalik ke kanan, mendapati seorang wanita berambut abu-abu berdiri anggun, senyumnya manis namun terasa menyimpan banyak rahasia.

"Aku Leona, mampu menghilangkan aura keberadaanku... Apa kekuatanmu?" Tanya gadis tersebut seraya memperkenalkan diri.

"Aku Arthur, kemampuanku tidak bisa merasakan sakit... Mohon bimbingannya," jawab Arthur, menundukan kepala menegaskan rasa hormat sebagai murid baru.

"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Tanya Leona. Mata Arthur seketika menyipit, dahinya yang berkernyit menegasakan kebingungan terhadap pertanyaan Leona.

"Tentu belajar, tapi mencari wanita cantik tampaknya juga menyenangkan,"jawab Arthur, menutupi rasa heran dengan candaan.

"Dasar pemula... Kau tidak tau kebanyakan siswa di sini belajar sendiri melalui faslitas yang disediakan?" Sindir Leona.

"Apa?" Arthur terperangah. "Pantas nenek tidak mengajakku saat pendaftaran, dia menjebakku," gumam Arthur, menggaruk kepalanya, menyadari keusilan sang nenek.

"Kau ikuti saja aku... Kita akan bercerita sambil melihat pemandangan," Seru Leona, bergegas pergi meninggalkan ruang loker.

Arthur mengikutinya, rasa penasaran seolah tali tak kasat mata yang menyeretnya mengikuti Leona.

Tak jauh dari pintu ruang loker, tampak tangga khusus menuju suatu tempat, Arthur mengikuti Leona melewati satu persatu anak tangga hingga tiba di atap sekolah.

Matahari pagi menyambutnya, tiupan angin pagi itu terasa kencang hingga membuat rambut indah Leona beterbangan.

Baru saja beberapa langkah, Arthur dikejutkan dengan kehadiran wanita lain di samping pintu masuk atap sekolah, rambutnya yang berwarna merah, berkibar pelan bagai mawar ditipu angin, indah.

Namun, auranya terasa dingin bagaikan hati tanpa cinta, wanita tersebut sedang bertapa, matanya terpejam dihiasi bulu mata lentik.

"Sebaiknya kita pergi dari tempat ini," ucap Leona mendadak, menambah kesan bahwa ada yang aneh dengan tempat tersebut.

"Lucu, mengajakku ke sini lalu sekejap mengajak pergi," sindir Arthur, glabellanya mengkerut bagai daun kering.

"Saat menghilangkan aura, aku semakin peka dengan aura di sekitarku... Di luar sana ada yang mengintai kita, lalu gadis itu," ucap Leona, terputus, matanya seketika menoleh ke arah wanita berambut merah.

"Ayo, kita jangan berurusan dengannya!" Seru Leona, segera menarik tangan Arthur.

Namun, baru saja hendak melangkah keluar, wanita berambut merah tersebut bangkit dan menghadang.

"Keluar masuk tanpa permisi adalah penghinaan... Aku Elixia, tidak akan memaafkanmu."

Wanita tersebut memperkenalkan diri, matanya menyala bagaikan serigala menjaga wilayah kekuasaanya. Dengan presisi dia menendang Arthur, Membuatnya terpental beberapa meter.

"Pukulan Mawar Membelah Bumi!" Elixia segera melompat, menari dengan indah di udara, melesatkan pukulan sambil menukik tajam.

Cepat, membuat Arthur tidak sempat menghindar, memaksanya menyilangkan kedua tangan untuk menahan serangan tersebut.

"Bayang Menyelinap!" Leona menarik tangan Arthur, namun efek pukulan Elixia yang menciptakan tiupan angin kencang membuat mereka terguling cukup jauh.

"Kau... Sejak kapan ada di situ?" Pekik Elixia, tidak menyadari kehadiran Leona sebelumnya. Dia berjalan mendekat, hendak menghabisi kedua orang di hadapannya.

Arthur segera bangkit, "Kau... Lampiaskan saja semuanya padaku!" Serunya, berdiri menutupi Leona dan bersiap melindunginya.

"Baik... Kau yang memintanya!" Elixia tersenyum meremehkan, mendekat dengan cepat ke arah Arthur.

"Tarian Mawar Berduri!" Elixia melesatkan sejumlah pukulan kombinasi, pukulan tersebut tampak tidak mengenai tubuh Arthur.

Namun, tiba-tiba dirinya tersungkur, memuntahkan darah segar yang membasahi lantai atap sekolah.

"Kuakui nyalimu, anak baru!" Seru Elixia, senyumnya menusuk bagaikan duri mawar.

Dia kemudian menurunkan sedikit kepalanya, sejajar dengan wajah Arthur yang kini terduduk dengan lutut bertumpu di lantai.

Elixia mendekatkan bibirnya ke dekat bibir Arthur, "Ciuman Pencabut Sukma!" Ia berbisik.

Arthur terkesiap, jantungnya berdegup liar, ciuman yang dijanjikan sang nenek datang dengan cepat dari seorang wanita cantik sekaligus mematikan.

Namun, bukannya kenikmatan, Arthur merasa kesulitan bernafas seperti paru-parunya tertusuk duri mawar.

"Jadi ciuman itu adalah jurus mematikan," gumam Arthur, pandangannya kabur, bibirnya bergetar.

"Anggap saja itu ciuman perkenalan dariku... Lebih lama kau akan mati!" Seru Elixia, mengibaskan rambut merahnya, menghilang dengan cepat diiringi tiupan angin.

Leona melonjak mendekati Arthur, "Kau baik-baik saja?" Tanyanya, memastikan kondisi Arthur dengan cemas. "Buka bajumu..." Seru Leona.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Arthur, membuka seragam dengan ragu.

"Kau jangan berfikir aneh... Cepat duduk bersila!" Jawab Leona.

Arthur segera duduk bersila dengan bertelanjang dada, demikian pula Leona di belakangnya.

Leona mengulurkan kedua tangannya menyentuh punggung Arthur dengan lembut. "Aku akan mengalirkan hawa murniku untuk menyembukanmu," ucapnya.

"Kau juga tau tentang hawa murni? Aku kira hanya aku dan nenek yang tau," Arthur terkejut.

"Tentu saja... Energi kehidupan yang memberi kemampuan unik, bisa digunakan untuk penyembuhan... Itu diajarkan di sekolah ini," Jawab Leona.

Aliran hawa murni mengalir dari tubuhnya menuju telapak tangan dan meresap ke tubuh Arthur melewati punggungnya.

Menciptakan sensasi hangat di seluruh tubuh, menyembuhkan organ dalamnya, Arthur merasa nyaman, matanya terpejam menikmati aliran hawa murni Leona.

Setelah pulih, Arthur membuka matanya, tampak Leona jongkok di hadapannya seraya tersenyum.

"Kenapa kau baik padaku sejak kita pertama bertemu?" Tanya Arthur.

"Auramu, begitu tenang dan lembut," jawab Leona, tersenyum seraya menutup mata, seolah merasakan aura tersebut.

"Lalu siapa gadis tadi?" Tanya Arthur. Leona mengabaikannya, berjalan menuju pagar pembatas atap sekolah. Arthur mengikutinya.

Leona menatap ke arah gedung-gedung usang di hadapannya, berulang kali meghembuskan nafas seolah bersiap menceritakan suatu rahasia besar.

"Elixia Ross..." Sebuah nama dari Leona memecah keheningan.

"Member utama geng Flawless, jangan cari masalah dengannya!" Lanjut Leona, memperingati Arthur.

Arthur teringat coretan grafiti di lorong, menegaskan firasatnya bahwa nama tersebut bukan sembarang nama.

"Flawless?" Tanya Arthur lagi, kali ini tatapannya menunjukan rasa penasaran yang begitu mendalam.

"Geng terkuat di sekolah ini... Bahkan, di seluruh perbatasan kota Greenhaven," jelas Leona, wajahnya masih menyimpan misteri.

"Flawless, gadis ciuman kematian, lalu gadis di hadapanku... Nenek, tempat apa ini?" Gumam Arthur, menghembuskan nafas yang tertahan sedari tadi.

Baru hari pertama, Arthur sudah dikejutkan dengan hal-hal aneh di sekolah barunya. Dengan wajah pasrah seraya menepuk jidat, dia menatap Leona di hadapannya.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Pejantan Tangguh
Pejantan Tangguh
Menunggu komentar caci maki. ?! Tapi saya belum baca... aku tengok dulu yaa. ...
2025-10-01 16:01:03
0
1
Yasu Hayashi
Yasu Hayashi
DITUNGGU KRITIK, SARAN, CACI MAKINYA :)
2025-09-21 18:36:21
0
0
76 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status