Home / Romansa / Panggil Aku Daddy / PELAJARAN TERLARANG (IV)

Share

PELAJARAN TERLARANG (IV)

Author: Luneth
last update publish date: 2026-07-13 20:54:36

MAYA

Percakapan pribadi kami mulai terjadi semakin sering setiap kali ibu harus bepergian untuk pekerjaannya. Hari-hari itu rumah terasa lebih besar dan lebih sepi, seolah hanya aku dan Daniel yang berbagi dunia rahasia spesial bersama. Aku akan menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan cepat dan menunggu dengan perasaan aneh di perut, berharap dia akan memintaku datang ke ruang kerjanya. Dia mengajariku pelajaran-pelajaran kecil tentang bertanggung jawab, sabar, dan belajar menghargai diri sendiri lebih lagi. Dia memberiku tugas-tugas kecil seperti membersihkan kamarku dengan rapi atau merencanakan apa yang ingin kulakukan sepanjang minggu. Saat aku menyelesaikannya, dia akan memeriksa semuanya dengan teliti dan memberitahu apakah aku melakukannya dengan baik. Hatiku terasa hangat dan bahagia setiap kali dia memperhatikan kerja kerasku. Perasaan bertengkar yang dulu hampir hilang, dan sekarang aku menantikan malam-malam tenang itu seperti bagian terbaik dalam mingguku. Ketegangan di udara tumbuh perlahan setiap kali kami sendirian, membuat kulitku merinding dengan cara baru yang aneh. Aku bertanya-tanya apakah dia juga merasakannya atau hanya ada di kepalaku saja. Setiap momen bersamanya membuatku merasa terlindungi dan istimewa, tapi itu juga menakutkan karena aku tahu ini bukan seperti waktu keluarga yang biasa.

Aku menyukai cara Daniel menguasai seluruh ruangan tanpa pernah meninggikan suaranya sedikit pun. Dia akan duduk di belakang meja besarnya, tampak begitu kuat dan yakin dengan segalanya. Kehadirannya yang teguh membuatku merasa aman seperti yang tak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Seolah tak ada yang buruk bisa terjadi saat dia di dekatku. Aku mulai sering mendapati diriku memperhatikannya sepanjang waktu saat dia berbicara atau bergerak. Aku memperhatikan tangan-tangannya yang kuat saat mengambil kertas atau menulis catatan dengan penanya. Matanya tertuju padaku dengan begitu teliti hingga pipiku terasa panas dan jantungku berdegup lebih cepat. Ketegangan itu membangun di dalam diriku setiap sore karena aku tak pernah tahu persis apa yang akan kami bicarakan atau seberapa dekat perasaan kami. Emosiku bercampur aduk antara kebahagiaan, kegugupan, dan tarikan hangat yang tak bisa kujelaskan. Aku berusaha bersikap biasa saat duduk di depannya, tapi di dalam aku merasa seperti badai sedang tumbuh. Momen-momen ini membuat rumah terasa berbeda, seolah ada sesuatu yang penting di antara kami. Di lubuk hati, aku tahu aku tak seharusnya memikirkan dia sebanyak ini, tapi perasaan itu terus semakin kuat tak peduli seberapa keras aku berusaha menepisnya.

Suatu sore saat ibu pergi selama beberapa hari, aku bekerja sangat keras pada tugas sulit yang diberikan Daniel. Tugas itu adalah menuliskan semua tujuanku untuk sekolah dan bagaimana aku akan mencapainya selangkah demi selangkah. Tanganku sedikit gemetar saat menulis karena aku sangat ingin membuatnya bangga padaku. Rumah sangat sepi, hanya jam dinding yang berdetak pelan. Aku merasa bersemangat dan gugup sekaligus saat berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerjanya dengan kertas-kertas di tangan yang kugenggam erat. Pikiranku berpacu dengan pertanyaan tentang apa yang akan dia katakan saat melihat hasil kerjaku. Apakah dia akan tersenyum padaku? Apakah matanya akan terlihat hangat seperti kadang-kadang? Emosi di dadaku terasa besar dan berat, seolah bisa meledak kapan saja. Aku menarik napas dalam sebelum mengetuk pintu, merasakan ketegangan semakin kuat dengan setiap langkah. Saat dia memanggilku masuk, cahaya hangat dari lampunya membuat ruangan terasa nyaman dan dekat, seolah kami berada di dunia kecil kami sendiri. Aku menyerahkan kertas-kertas itu dan berdiri dengan tangan terlipat, menunggu reaksinya. Jantungku berdegup keras di telinga saat aku memperhatikannya membaca.

Daniel membaca setiap halaman dengan lambat dan teliti, dan aku menunggu sambil menahan napas sepanjang waktu. Kesunyian di ruangan terentang, membuat ketegangan terasa semakin pekat dan berat. Aku bergeser dari satu kaki ke kaki lain, merasa cemas tapi juga penuh harap. Akhirnya dia mendongak kepadaku dengan ekspresi lembut yang membuat lututku terasa lemas. Udara di antara kami seolah penuh muatan sesuatu yang tak bisa kuberikan nama, dan itu membuat seluruh tubuhku merinding. Aku menunggu kata-katanya, merasakan gelombang emosi berbeda seperti kebanggaan pada diri sendiri bercampur kekhawatiran tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Kehadirannya memenuhi seluruh ruang kerja, dan aku merasa tertarik kepadanya dengan cara baru yang membingungkan. Momen itu terasa penting, seolah segala sesuatu di antara kami perlahan berubah tanpa kami ucapkan keras-keras. Pipiku memanas dan aku harus menunduk sebentar untuk menyembunyikan betapa berartinya perhatiannya bagiku.

"Kau melakukan pekerjaan yang sangat bagus, Maya," katanya dengan suara dalam hangat yang selalu membuatku merasa istimewa. "Aku benar-benar bangga dengan kemajuan yang kau buat. Kau sedang menjadi wanita muda yang mengesankan dengan masa depan cerah di depanmu."

Kata-katanya membungkus hatiku seperti pelukan hangat besar, dan aku merasakan air mata bahagia muncul di mataku. Aku tersenyum lebar dan berterima kasih pelan, merasakan gelombang kegembiraan yang membuatku berdiri lebih tegak. Lalu dia bangkit dari kursinya dan berjalan mengitari meja hingga berdiri tepat di depanku. Dia meletakkan salah satu tangannya yang kuat dengan lembut di bahuku, dan sentuhan itu mengirimkan percikan ke seluruh tubuhku. Tangannya bertahan lebih lama dari yang seharusnya, dan jantungku mulai berdegup begitu cepat hingga kukira bisa meloncat keluar dari dada. Kehangatan dari jari-jarinya membuat kulitku terasa hidup dan merinding. Aku mendongak ke matanya, dan cara dia membalas tatapanku terasa lebih dalam dari sebelumnya. Udara di ruangan berderak dengan perasaan tersembunyi, dan kami berdua tak mengatakan apa-apa tentang itu, tapi aku tahu kami sama-sama merasakannya. Pikiranku dipenuhi pemikiran membingungkan tentang betapa enaknya dia dekat dan bagaimana aku tak seharusnya menginginkannya sebanyak itu. Ketegangan momen itu membuat waktu terasa lambat, seolah dunia berhenti hanya untuk kami.

Aku tak mundur dari tangannya meski suara kecil di kepalaku bilang seharusnya begitu. Emosi di dalam diriku begitu kuat hingga membuatku merasa pusing, bahagia, dan takut sekaligus. Aku mengaguminya lebih dari yang bisa kukatakan, dan cara teguhnya membimbingku membuatku merasa benar-benar diperhatikan. Kami tetap seperti itu, berbicara pelan tentang tujuanku dan bagaimana aku bisa terus menjadi lebih baik setiap hari. Suaranya tetap tenang dan baik, tapi aku mendengar kehangatan baru di dalamnya yang membuat perutku berbalik kecil. Aku jujur kepadanya betapa pelajaran-pelajarannya berarti bagiku dan bagaimana itu membantuku merasa lebih kuat di dalam. Percakapan mengalir mudah di antara kami, tapi di balik setiap kata, ketegangan terus tumbuh seperti rahasia yang kami berdua bawa. Aku bertanya-tanya apakah dia merasakan hubungan aneh yang sama yang menarik kami semakin dekat, atau hanya aku yang membayangkannya. Wajahku tetap hangat sepanjang waktu, dan aku terus tersenyum meski pikiranku berpacu dengan ide-ide terlarang.

Saat malam semakin larut, kami terus berbicara tentang berbagai hal yang penting bagiku. Daniel mendengarkan dengan penuh perhatian seperti biasa dan memberi saran yang membuatku merasa benar-benar dimengerti. Aku berbagi kekhawatiranku tentang berteman di sekolah dan apa yang kuinginkan untuk masa depanku, dan dia menenangkanku dengan cara kuat dan tenangnya. Momen-momen pribadi saat ibu pergi telah menjadi bagian paling cerah dalam hariku. Aku menyukai kedekatan dengannya dan belajar dari kebijaksanaannya. Tapi di dalam hati, aku tahu aku sedang melintasi garis tak kasat mata yang seharusnya tak dilintasi keluarga. Tarikan terlarang kepadanya semakin besar dengan setiap percakapan dan setiap kata lembut darinya. Tangan di bahuku malam itu tetap tinggal dalam pikiranku lama setelah dia akhirnya menariknya. Aku meninggalkan ruang kerjanya dengan hati penuh emosi rumit yang tak bisa kuurutkan. Kebahagiaan dari pujiannya bercampur dengan kegugupan tentang perasaan hangat baru ini. Rumah kini terasa berbeda, seolah menyimpan rahasia manis hanya di antara kami berdua. Aku pergi ke kamarku malam itu dan berbaring di tempat tidur, memikirkan dia untuk waktu yang lama. Ketegangan di antara kami sedang dibangun perlahan hari demi hari, dan aku tak bisa mengabaikannya lagi tak peduli seberapa keras aku berusaha. Perasaanku terhadap Daniel telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan lebih hangat daripada sebelumnya. Aku tahu itu berisiko dan mungkin salah, tapi sebagian diriku tak ingin momen-momen ini berhenti. Waktu-waktu spesial ini sedang menarik kami semakin dekat, dan aku merasa takut sekaligus bersemangat tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya dalam hubungan kami yang terus berkembang. Pelajaran yang dia ajarkan tak hanya mengubah kebiasaanku, tapi juga hatiku, dan aku bertanya-tanya berapa lama lagi aku bisa berpura-pura segalanya masih normal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (IV)

    JennaAku tak bisa berhenti memikirkan Ethan. Setelah semua yang kami lakukan saat badai, tubuhku terus mengingat sentuhannya. Pagi yang sepi itu, saat Ayah dan ibu tiriku sudah berangkat kerja, aku menyelinap ke kamar Ethan. Jantungku berdegup begitu kencang sampai terasa di telinga. Aku bilang pada diri sendiri bahwa aku hanya mencari buku yang dia janjikan untuk dipinjamkan, tapi sebenarnya aku penasaran. Di raknya aku menemukan kotak kayu berisi buku-buku catatan. Aku membuka salah satunya dan mataku melebar. Itu jurnal pribadinya. Halaman demi halaman penuh dengan fantasi tentang aku. Fantasi yang sangat kotor. Dia menulis tentang mengikatku, menjilat seluruh tubuhku, dan mendorong kontolnya dalam-dalam ke dalam tubuhku. Wajahku terbakar panas dan aku merasa basah di antara kakiku hanya dengan membacanya.Aku mengambil buku catatan itu dan langsung pergi ke loteng. Ethan sudah di sana, sedang menyetel gitarnya. Saat aku masuk, dia tersenyum pada awalnya, tapi kemudian melihat apa

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (III)

    JennaMalam itu langit berubah hitam dan marah. Badai petir yang ganas datang, mengguncang jendela-jendela begitu keras sampai kukira mereka bisa pecah. Hujan menghantam atap seperti ingin masuk ke dalam. Listrik mati secara tiba-tiba, meninggalkan seluruh rumah gelap gulita kecuali kilatan petir terang yang sesaat menerangi segalanya sebelum menenggelamkan kami kembali ke kegelapan. Ayah menelepon dari mobil dan bilang dia serta ibu tiriku tak bisa pulang karena jalanan banjir. Mereka menginap di hotel sampai pagi. Berita itu membuat perutku berbalik-balik karena campuran ketakutan dan kegembiraan rahasia. Ethan dan aku benar-benar sendirian.Kami sedang di loteng saat badai semakin parah. Sekarang kami duduk bersama di sofa tua di bawah satu selimut tebal. Itu satu-satunya benda hangat yang bisa kami temukan. Selimut itu melilit kami seperti kepompong yang nyaman, tapi jantungku berdegup kencang karena alasan lain. Ethan duduk tepat di belakangku, dadanya menempel di punggungku. Tub

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (II)

    JennaSiang harinya berikutnya, aku hampir tak bisa diam. Sepanjang hari kami harus bersikap biasa di depan Ayah dan ibu tiriku yang baru. Kami tersenyum saat makan siang dan mengobrol ringan tentang sekolah serta kuliah, tapi setiap kali Ethan menatapku dari seberang meja, wajahku langsung terasa panas. Aku terus teringat kejadian kemarin di loteng — bagaimana rasanya bibirnya, bagaimana tubuhnya menempel pada tubuhku. Aku mencuri pandang padanya saat tak ada yang melihat, dan dia melakukan hal yang sama. Jantungku tak mau melambat. Rasanya seperti kami menyimpan rahasia besar yang bisa meledak kapan saja jika kami tidak hati-hati.Begitu orang tua kami akhirnya pergi untuk urusan di luar, Ethan menangkap pandanganku. “Loteng?” bisiknya. Aku mengangguk cepat, perutku berbalik-balik karena excited. Kami menunggu beberapa menit agar tak terlihat mencurigakan, lalu naik tangga satu per satu. Loteng sekarang terasa seperti dunia rahasia milik kami berdua. Udara hangat dan berdebu, penuh

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (I)

    JennaAku melangkah masuk ke rumah lama kami setelah berbulan-bulan berada di sekolah asrama, menyeret koper-koper berat di belakangku. Tempat ini terasa berbeda sekarang. Ayah sudah menikah saat aku pergi, dan ada seorang wanita baru di dapur yang tersenyum padaku seolah kami sudah menjadi keluarga. Tapi kejutan terbesar adalah dia — Ethan, kakak tiriku yang baru. Dia mahasiswa tahun kedua, dua tahun lebih tua dariku, dan tampak seperti tipe pendiam yang suka menyendiri. Aku berusaha bersikap biasa selama makan malam, tapi pikiranku terus melayang, membayangkan seperti apa rasanya tinggal bersama orang asing di rumahku sendiri.Setelah sedikit membongkar barang, aku mendengar sesuatu dari lantai atas. Musik gitar yang lembut mengalun turun dari loteng, seperti lagu lama yang memanggil namaku. Jantungku berdegup kencang. Aku sangat menyukai musik klasik lebih dari apa pun — suara piringan hitam yang berderit, nyanyian yang penuh jiwa, cara lagu-lagu itu membuatku merasa tidak sendiria

  • Panggil Aku Daddy   SANG TAMU PERNIKAHAN (VI)

    LilaMalam terakhir di resor terasa berat di hatiku. Besok kami harus pulang. Kembali ke kehidupan nyata di mana Marcus hanyalah paman tiriku dan aku keponakan mudanya. Tak ada lagi sentuhan rahasia. Tak ada lagi menyelinap. Aku pergi ke vilanya setelah gelap dengan air mata sudah menggenang di mataku. Angin tropis masuk melalui pintu terbuka dan membuat tirai bergerak lembut. Marcus menungguku. Wajahnya tampak sedih tapi penuh kerinduan.“Lila,” katanya dengan suara serak sambil menarikku masuk. “Ini malam terakhir kita. Aku tidak tahu bagaimana aku akan melepaskanmu besok.”Aku memeluknya erat, menempelkan tubuhku ke dada bidangnya. “Aku tidak mau pulang. Aku ingin tinggal di sini bersamamu selamanya. Please, Marcus. Bercintalah denganku satu kali lagi. Buat ini berkesan.”Dia menciumku dalam dan lambat pada awalnya. Tangan kasarnya bergerak ke seluruh tubuhku seolah ingin mengingat setiap bagian dariku. Aku juga menyentuh otot-ototnya, menelusuri garis di dada dan lengannya. “Kau t

  • Panggil Aku Daddy   SANG TAMU PERNIKAHAN (V)

    LilaHari-hari berlalu di resor, dan segalanya mulai terasa berbeda. Marcus mulai bersikap agak aneh. Aku bisa melihat rasa bersalah di matanya setiap kali kami bertemu di depan keluarga. Malam harinya, dia memintaku menemuinya di teras sepi jauh dari semua orang. Matahari sedang terbenam dan langit tampak indah dengan warna oranye dan merah muda. Hatiku terasa berat karena aku tahu ada yang salah.“Lila, kita harus menghentikan ini,” katanya dengan suara rendah dan sedih. Wajahnya yang tegas terlihat sangat serius. “Aku empat puluh lima tahun dan kau baru dua puluh tiga. Aku paman tirimu. Saudara ayahmu. Ini sangat salah. Kita tidak bisa terus menyelinap seperti ini. Bagaimana kalau ada yang tahu? Itu akan menghancurkan keluarga.”Dadaku terasa sakit. Air mata menggenang di mataku tapi aku menahannya. “Tapi aku tidak mau berhenti, Marcus. Aku membutuhkanmu. Hari-hari bersamamu adalah yang terbaik dalam hidupku. Masalah usia tidak penting bagiku. Dan soal keluarga… aku tahu ini rumit,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status