Share

Kesal

Alan yang saat itu sedang terduduk di balik meja kerjanya sembari memeriksa laporan kesehatan para pasiennya tiba-tiba terlonjak kaget begitu Arzhel menyerobot masuk dengan kasar sembari berteriak.

"Waaahh!.. Gadis aneh itu benar-benar kurangajar!" geram Arzhel tak mempedulikan empuhnya ruangan nyaris saja terkena serangan jantung akibat tingkahnya.

"Maaf permisi, Tuan?" ucap Alan setelah berhasil menetralisir rasa kagetnya sementara Arzhel hanya menoleh sekilas untuk menatap kearahnya "Maaf Tuan, ini ruangan kerjaku dan harap kau keluar jika kau datang hanya untuk membuat onar disini." lanjut Alan

Bukanya keluar Arzhel justru dengan tanpa rasa berdosanya langsung menarik kursi yang ada di hadapan Alan lalu mendudukan tubuhnya disana tanpa mengindahkan perintah sang pemilik ruangan yang memintanya untuk keluar ruangan dengan sopan.

Alan dengan fokus mengamati wajah Arzhel, wajah lelaki tampan bernama lengkap Arzhel De Leon itu terlihat memerah dengan guratan kemarahan, mengetahui temanya itu sedang kesal Alan langsung tertawa terbahak-bahak pasalnya wajah Arzhel yang memerah serta lubang hidungnya yang kembang kempis terlihat lucu di mata Dokter berusia dua puluh delapan tahun itu.

Mendengar tawa Alan yang renyah Arzhel langsung melancarkan tatapan tajamnya yang sukses mumbuat Alan langsung terdiam.

"Apa rasa kesalku sekarang ini adalah lelucon bagimu?" ucap Arzhel dingin namun hal itu justru semakin mancing galak tawa milik Alan tapi kali ini Alan mampu mengontrol tawanya.

Alan menarik nafas dalam lalu dihembuskannya secara berlahan "Sebenarnya apa yang membuatmu begitu kesal?" tanya lelaki berkaca mata itu.

Arzhel terdiam sejenak berusaha menenangkan diri sebelum kemudian Arzhel mulai menceritakan kejadian saat dia bertemu Aera di koridor.

"Aku tadi bertemu gadis gila yang sangat menyebalkan di koridor." jawab Arzhel yang terlihat mulai tenang.

"Dia yang menyebalkan atau kau yang membuat situasi menjadi menyebalkan?" tanya Alan spontan membuat Arzhel langsung menyerengitkan alisnya.

"Maksudmu aku yang memulai perkelahian dengan gadis itu?" Alan dengan cepat menganggu "Yah!.. Kau pikir aku ini lelaki pengecut yang mengajak seorang gadis berkelahi." 

"Bisa jadikan," sambar Alan cepat membuat bibir Arzhel langsung terkatup saat ia kembali mengingat alasan gadis itu bertingkah kasar padanya.

Mata Arzhel membelalak sempurna begitu dia mengingat bahwa gadis itu awalnya berniat membantunya tapi dia justru membentak gadis itu dan bicara kasar padanya, rupanya kegundahan dan kegelisahanya setelah mengetahui hasil lab pemeriksaan kesehatannya membuatnya tak menyadari bahwa ia telah berkata kasar dengan seorang gadis.

Alan tersenyum saat menyadari raut wajah Arzhel yang telihat menyesal "Dugaanku benar bukan, kau yang lebih dulu memulai perkelahian dengan gadis itu." ucap Alan semakin membuat Arzhel menunduk dalam penyesalannya.

"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" tanya Arzhel

"Minta maaf padanya." 

"Mana aku tahu dimana dia sekarang," sahut Arzhel.

"Tunggu dulu, gadis itu mengenakan seragam perawat tadi." gumam Arzhel kemudian beranjak pergi "Aku pergi dulu tak usah menungguku pulang nanti," lanjutnya kearah Alan begitu tiba di ambang pintu.

Alan hanya dapat menggeleng pelan melihat tingkah sahabatnya itu "Dia belum berubah, kebiasaanya masih sama seperti dulu." ucap Alan pelan sebelum kembali melanjutkan aktifitasnya memeriksa laporan para pasiennya.

Arzhel berkeliling rumah sakit mencari Aera namun nihil, sudah hampir satu jam dia mengitari area rumah sakit namun sosok gadis berambut coklat gelap itu tak kunjung juga dia temukan.

"Ahhh!.." Arzhel mengerang lelah "Dimana dia sebenarnya?" gumamnya

***

Buuukk!... Aera yang kala itu sedang memotong sayuran langsung menghempaskan pisau yang ada di tanganya ke atas meja dengan kasar "Dasar lelaki sinting!" umpatnya merasa jengkel kala kembali mengingat kejadian tadi di koridor rumah sakit.

Aera menarik nafas dalam kemudian dihembuskanya berlahan, dia berusaha untuk tenang dan melupakan kejadian menyebalkan di koridor rumah sakit tadi dan berlahan Aerapun mulai melanjutkan aktifitasnya memotong sayuran.

Aera menyerengit saat melihat jam di dinding dapur kediamanya menunjukan pukul 9 malam "Tumben Dhexsel telat sekali malam ini?" pikirnya seraya dengan terburu menyelesaikan pekerjaan masak memasaknya.

Aera berjalan menghampiri ruang tamu kemudian meraih ponsel pintarnya yang ada di atas meja dengan teliti dia mencari nomor kontak suaminya lalu meletak ponsel berwarna coklat itu kearah telinganya setelah menelponnya. Tak butuh waktu lama suara Dhexsel yang berat dengan barito tenang menyapa indra pendengaran milik Aera.

"Iya sayang?" ucap Dhexsel dari seberang.

"Kau masih di kantor?" tanya Aera.

"Hhhm!.. Aku masih di kantor, tiba-tiba ada kerjaan mendadak." sahut Dhexsel masih dengan nada lembutnya.

"Kau ingkar janji lagi hari ini, kemarin malam kau janji akan pulang cepat nyatanya kau masih terlambat," keluh Aera dengan wajah sendunya sebelum kemudian wanita itu terlonjak kaget dan hampir memekik begitu sebuah lengan kekar tiba-tiba melingkar di pingganya dari belakang.

"Dhexsel!" seru Aera lega saat menoleh melihat sosok orang yang tiba-tiba memeluknya itu ternyata adalah suaminya.

Dhexsel tersenyum yang langsung memamerkan lesung pipit yang ada di kedua pipinya ketika melihat wajah sang istri.

"Maaf telah membuatmu terkejut," ucap Dhexsel seraya memandang gemas wajah Aera lalu memeluk istrinya itu erat menenggelamkan wajahnya di balik leher jenjang milik Aera.

Aera tersenyum mendapati tingkah sang suami dengan lembut ia membelai punggu milik Dhexsel "Apa pekerjaan di kantor begitu banyak hingga membuatmu lelah seperti ini?" tanya Aera namun tak dijawab oleh Dhexsel yang telah merasa nyaman bergelayutan memeluk tubuh mungil sang istri.

"Mau sampai kapan kau akan memelukku seperti ini?" 

"Tunggu sebentar, lima menit lagi," sahut Dhexsel dengan suara parau.

"Pergilah mandi selsai itu kita makan, aku sudah memasak makanan kesukaanmu." bujuk Aera agar sang suami melepas pelukannya.

Dhexsel tersenyum ia memajukan wajahnya kearah telinga sang istri kemudian berbisik pelan "Mau mandi bersama?" ucapnya yang sepontan membuat wajah Aera langsung memerah layaknya udang rebus, merasa grogi akan tingkah sang suami dengan cepat Aera melepas pelukan Dhexsel sementara Dhexsel hanya dapat tertawa renyah melihat reaksi sang istri yang masih merasa malu meski mereka sudah menikah tiga tahun lamanya.

"Berhentilah menggodaku, Dhexsel," ucap Aera seraya memegangi pipinya yang mulai terasa memanas "Cepatlah mandi setelah itu kita makan." lanjutnya

"Baiklah, tapi sebelum itu_" Dhexsel menggantung kalimatnya sebagai gantinya ia mengetuk pipi kanannya dengan ujung jarinya "Beri aku hadia disini sebagai sewa karena aku pergi mandi." lanjutnya membuat Aera menyerengit.

"Kenapa harus minta hadia segala?" protes Aera.

Mendengar protes yang dilayangkan sang istri membuat Dhexsel menatap Aera tajam lalu memegang erat pergelangan tangan wanita berambut coklat gelap itu seraya berkata "jika kau tidak memberikan ku hadia maka aku akan menyeret mu ke kamar mandi lalu kita akan mandi bersama." ancam Dhexsel seraya membuat ekspresi wajah seseram mungkin layaknya parah penjahat.

Aerapun mengalah dengan cepat ia melayangkan sebuah kecupan singkat di pipi kanan milik Dhexsel membuat lelaki itu langsung kembali memeluknya dan mencium wajah Aera bertubi-tubi

"Hentikan Dhexsel geli!" ucap Aera yang merasa geli kala bibir Dhexsel mendarat di sekitar area pangkal lehernya "Dan cepatlah mandi, kau sudah mendapat hadiamu bukan." lanjutnya membuat Dhexsel langsung menghentikan aktifitasnya.

"Oh iya!" ucap Aera membuat Dhexsel yang kala itu sedang berjalan menuju kamar mereka langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah sang istri.

"Dua hari lagi adalah hari jadi pernikahan kita dan tadi Mama menelpon, Mama ingin kita mengadakan pestanya di rumah Mama seperti tahun-tahun sebelumnya." jelas Aera yang langsung dibalas dengan anggukan kelapa tanda setuju dari Dhexsel.

Bersambung

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status