Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 215. Selena Disergap Polisi.

Share

215. Selena Disergap Polisi.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-09-21 15:38:31
Melihat reaksi Marco yang begitu dingin dan tak tersentuh, Zea akhirnya menurut, sekaligus mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.

“Ya sudah ...” gumamnya pelan. “Aku sarapan, kamu juga ya, setelah pakaian.”

Ia paham betul kapan harus menahan diri. Tidak semua hal harus ditanyakan saat itu juga, apalagi jika itu hanya akan menambah beban pikiran Marco.

Tanpa bersuara lagi, Zea berjalan menuju meja makan. Di atas meja kayu jati itu, sarapan hangat sudah tertata rapi. Adrian telah menyi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   360. Ancaman dari Masa Lalu.

    Mendengar ajakan yang meluncur tanpa rasa malu dari bibir pria itu, dunia di sekitar Donna seolah berhenti berputar. Dada Donna bergolak oleh amarah dan rasa tidak percaya yang amat pekat. Bagaimana bisa, dengan begitu tidak tahu malunya Zais mengajak membangun keluarga lagi setelah dua puluh tahun?Selama itu pula Donna harus berjuang sendirian membesarkan Zavian yang kala itu masih kecil, bahkan Zea yang saat itu masih balita!“Kamu sudah gila, Zais!” desis Donna. Suaranya bergetar menahan amarah. “Kamu benar-benar sudah tidak punya urat malu! Setelah semua penderitaan yang kamu timbulkan kepada saya dan anak-anak, kamu masih bisa mengajak saya membangun keluarga lagi?”Zais mendengus pelan. Ia memasang raut wajah serba salah yang dibuat-buat, menyiratkan kelelahan dan rasa penyesalan yang terlihat begitu palsu di mata Donna.“Donna, dengarkan aku dulu …” sela Zais dengan nada memelas. “Aku sudah bercerai dari istri keduaku—”“Penyebab perceraianmu itu bukan urusanku!” potong Donna

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   359. Zais Mengajak Balikan dengan Donna?

    Zea mengerjap cepat, berusaha mengusir bayangan aneh yang sempat melintas di pikirannya. Apa-apaan yang baru saja ia pikirkan? Mana mungkin pria paruh baya yang tak sengaja ditabraknya di lobi tadi memiliki hubungan darah dengan dirinya dan kakaknya?Ia buru-buru menyunggingkan senyum manis untuk mencairkan suasana yang sempat hening.“N-nggak apa-apa kok, Kak,” sahut Zea cepat sambil mengibaskan jemarinya di udara. “Aku cuma kagum aja. Kalau dilihat-lihat dari dekat, Kakak memang kelihatan tampan banget kalau lagi tersenyum kayak tadi.”Zavian seketika membeku. Sendok di tangannya bahkan tertahan di udara. Pria yang biasanya galak dan berwibawa di tepi kolam renang itu mendadak salah tingkah. Tanpa sadar, rona merah tipis merayap di kedua pipinya.Melihat momen langka tersebut, Rafi yang duduk di sampingnya langsung nyeletuk tanpa rasa takut.“Wah! Zea gombalin kakaknya sendiri!” serunya heboh dengan mata membelalak jenaka. “Baru kali ini saya lihat Coach Zavian sampai salah tingkah

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   358. Zavian Mirip Pria Misterius.

    Zea berdiri di depan cermin rias kamar hotel, merapikan baju blouse floral warna pastel kesukaannya yang dipadukan dengan celana jeans yang pas di tubuhnya. Gaya semi formal namun santai itu membuatnya terlihat segar setelah beristirahat dan mandi. Pandangannya perlahan bergulir pada cermin, menatap Marco yang sedang berdiri tak jauh di belakangnya. Pria itu tampak amat tampan dalam balutan kemeja kasual yang membungkus tubuh kekarnya. Zea melirik ragu ke arah bahu kanan Marco dengan tatapan termenung. Entah mengapa, ia merasa belakangan ini dirinya jauh lebih manja, pasrah, dan intens setiap kali berada di dekat Marco. Dengan pipi yang perlahan memerah padam, Zea berbalik dan menyuarakan kekhawatirannya. “M-Marco … bahumu nggak kenapa-kenapa, kan? Soalnya tadi kita sempat … itu …” bisiknya terbata-bata sambil menunduk malu. Marco yang sedang mengenakan arloji mahal di pergelangan tangan kirinya spontan menoleh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menggoda, sementara sorot

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   357. Mesra-Mesraan. XXX

    “Nnghh … Marco…” desah Zea pelan. Jari-jarinya mencengkeram rambut pria itu, menarik pelan seolah tidak mau melepaskan. “Pelan-pelan … ahhh…” Marco sudah berbaring miring di atas ranjang kamar hotel, dengan tangan kanannya menahan tubuh Zea yang bersandar di dekapannya. Jari-jari kekarnya menopang pinggang wanita itu agar tetap nyaman. Tanpa gaun anggun dan mahkota emas yang sebelumnya bertengger di kepalanya, Zea kini hanya mengenakan celana dalam tipis. Bra-nya sudah terlepas dan ditarik turun, menyisakan payudaranya yang penuh serta berat terbebas sepenuhnya, tengah menerima hisapan menenangkan dari pria di pelukannya. Sementara Marco sendiri tak mengenakan atasan, hanya memakai celana bahan yang masih terpasang longgar di pinggangnya. Bibir pria itu sedang menempel di puting kiri Zea, lalu menghisap pelan tapi dalam. Lidahnya berputar, menekan, dan menarik cairan yang sejak tadi menumpuk. Setiap hisapan membuat dada Zea naik-turun. ASI mengalir hangat ke mulutnya, dan ia

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   356. Zais, Sang Oportunis.

    Zea berkedip pelan, berusaha mengenyahkan kegelisahan kecil yang sempat menari-nari di pikirannya. “Oh … bukan siapa-siapa kok, Marco,” jawab Zea polos, berusaha mengurai ketegangan di antara mereka. “Tadi aku cuma nggak sengaja menabrak bapak-bapak yang mau lewat. Orangnya agak canggung, tapi ramah kok.”Marco memperhatikan raut polos kekasihnya sejenak. Karena tak melihat adanya tanda-tanda ancaman atau kepanikan dari sikap Zea, pria itu hanya mengangguk santai. Ia menganggap insiden kecil itu murni ketidaksengajaan di tempat umum.Dengan gerakan lembut namun posesif, tangan Marco menyusup mengelilingi pinggang Zea dan menarik tubuh wanita itu mendekat ke sisinya. “Ya sudah. Ayo, kita masuk. Semua orang lagi nunggu kamu.”Namun bukannya mereda, bibir Zea justru mendadak mengerucut sebal. Mengingat kembali kejadian memalukan di ruang tunggu privat tadi, rona merah kembali menjalar di kedua pipinya.Lantas, Zea melayangkan beberapa pukulan kecil ke dada bidang Marco menggunakan kepal

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   355. Misteri Sebuah Nama.

    Dunia di sekitar Zea seolah mendadak berhenti berputar. Matanya membelalak lebar, sementara napasnya tersendat begitu nama ibu kandungnya meluncur dari bibir pria paruh baya di hadapannya. Dada Zea berdesir hebat diliputi rasa tak percaya yang amat pekat. Bagaimana bisa pria asing ini mengetahui nama ibunya? “B-Bapak bilang …” Zea menyela terbata-bata, jemarinya makin erat meremas buket bunga di pelukannya. “S-saya mirip mantan istri Bapak? Namanya juga sama …?” Melihat reaksi terguncang Zea, pria paruh baya itu buru-buru mengibaskan tangan pelan. Raut wajahnya dipasang sedemikian rupa hingga memancarkan kesan serba salah dan penuh penyesalan. “Ah … maafkan saya,” sahutnya lembut dengan helaan napas pendek. “Saya malah membuatmu bingung sendiri. Maksud saya, mungkin namanya saja serupa, tapi orangnya tentu berbeda.” Pria paruh baya itu mendekat sedikit, lalu mendaratkan telapak tangannya di bahu Zea, menepuknya dengan sentuhan yang amat halus. Sorot matanya yang menatap luru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status