Masuk“Nnghh … Marco…” desah Zea pelan. Jari-jarinya mencengkeram rambut pria itu, menarik pelan seolah tidak mau melepaskan. “Pelan-pelan … ahhh…” Marco sudah berbaring miring di atas ranjang kamar hotel, dengan tangan kanannya menahan tubuh Zea yang bersandar di dekapannya. Jari-jari kekarnya menopang pinggang wanita itu agar tetap nyaman. Tanpa gaun anggun dan mahkota emas yang sebelumnya bertengger di kepalanya, Zea kini hanya mengenakan celana dalam tipis. Bra-nya sudah terlepas dan ditarik turun, menyisakan payudaranya yang penuh serta berat terbebas sepenuhnya, tengah menerima hisapan menenangkan dari pria di pelukannya. Sementara Marco sendiri tak mengenakan atasan, hanya memakai celana bahan yang masih terpasang longgar di pinggangnya. Bibir pria itu sedang menempel di puting kiri Zea, lalu menghisap pelan tapi dalam. Lidahnya berputar, menekan, dan menarik cairan yang sejak tadi menumpuk. Setiap hisapan membuat dada Zea naik-turun. ASI mengalir hangat ke mulutnya, dan ia
Zea berkedip pelan, berusaha mengenyahkan kegelisahan kecil yang sempat menari-nari di pikirannya. “Oh … bukan siapa-siapa kok, Marco,” jawab Zea polos, berusaha mengurai ketegangan di antara mereka. “Tadi aku cuma nggak sengaja menabrak bapak-bapak yang mau lewat. Orangnya agak canggung, tapi ramah kok.”Marco memperhatikan raut polos kekasihnya sejenak. Karena tak melihat adanya tanda-tanda ancaman atau kepanikan dari sikap Zea, pria itu hanya mengangguk santai. Ia menganggap insiden kecil itu murni ketidaksengajaan di tempat umum.Dengan gerakan lembut namun posesif, tangan Marco menyusup mengelilingi pinggang Zea dan menarik tubuh wanita itu mendekat ke sisinya. “Ya sudah. Ayo, kita masuk. Semua orang lagi nunggu kamu.”Namun bukannya mereda, bibir Zea justru mendadak mengerucut sebal. Mengingat kembali kejadian memalukan di ruang tunggu privat tadi, rona merah kembali menjalar di kedua pipinya.Lantas, Zea melayangkan beberapa pukulan kecil ke dada bidang Marco menggunakan kepal
Dunia di sekitar Zea seolah mendadak berhenti berputar. Matanya membelalak lebar, sementara napasnya tersendat begitu nama ibu kandungnya meluncur dari bibir pria paruh baya di hadapannya. Dada Zea berdesir hebat diliputi rasa tak percaya yang amat pekat. Bagaimana bisa pria asing ini mengetahui nama ibunya? “B-Bapak bilang …” Zea menyela terbata-bata, jemarinya makin erat meremas buket bunga di pelukannya. “S-saya mirip mantan istri Bapak? Namanya juga sama …?” Melihat reaksi terguncang Zea, pria paruh baya itu buru-buru mengibaskan tangan pelan. Raut wajahnya dipasang sedemikian rupa hingga memancarkan kesan serba salah dan penuh penyesalan. “Ah … maafkan saya,” sahutnya lembut dengan helaan napas pendek. “Saya malah membuatmu bingung sendiri. Maksud saya, mungkin namanya saja serupa, tapi orangnya tentu berbeda.” Pria paruh baya itu mendekat sedikit, lalu mendaratkan telapak tangannya di bahu Zea, menepuknya dengan sentuhan yang amat halus. Sorot matanya yang menatap luru
Keheningan seketika menyelimuti seluruh ruang tunggu privat. Gelak tawa Rafi dan Kenji langsung terhenti begitu pintu ganda di belakang mereka terbuka. Zavian berdiri mematung di ambang pintu. Matanya menyipit saat melihat Zea dan Marco yang buru-buru melepaskan ciuman mereka. Pandangannya kemudian beralih kepada Rafi, Kenji, dan Dimas secara bergantian. “Kalian ini sedang apa, sih?” tegurnya dengan suara rendah dan tegas. “Bisa-bisanya kalian bikin keributan di sini!” Di sampingnya, Michael Yozefa memegang pangkal hidungnya, memijatnya perlahan seraya menghembuskan napas panjang. “Ya ampun, Marco …” gumam Michael pelan di balik napasnya. Namun dibalik napas beratnya, sudut bibir Michael terangkat membentuk senyuman tipis. Ia merasa lega melihat putra tunggalnya akhirnya bisa mengekspresikan perasaannya secara terbuka. Zea yang menyadari keberadaan kakak dan calon mertuanya seketika panik setengah mati. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong dada Marco. “M-Marco! Lepas!” bisik Z
Zea mengerjapkan matanya beberapa kali. Wajahnya seketika merona merah padam menatap lurus pada Marco di hadapannya. Perasaan kaget, haru, dan hangat menjalar begitu kuat di dalam dadanya, hingga pelupuk matanya kembali berkaca-kaca menahan rasa bahagia yang tak membendung. Mahkota emas perayaan kini bertengger indah di atas kepalanya, sementara kedua lengannya memeluk erat buket bunga besar pemberian Marco. Sudut bibir Marco terangkat tipis. Sorot mata hitamnya memancarkan binar lembut dan penuh cinta yang amat mendalam. Selama beberapa detik, Zea seolah terhipnotis. Keheningan yang menyelimuti ruangan membuat dunia di sekitarnya mengabur, seakan-akan tempat itu hanya milik mereka berdua. “Aku mencintaimu, Zea,” bisik Marco dengan suara bariton rendah yang sedikit serak, membuat Zea sepenuhnya terpaku pada sosok di hadapannya. Zea menunduk malu sembari menyunggingkan senyum manisnya. Setetes air mata haru lolos membasahi pipinya yang merona indah. “Aku juga mencintaimu, Mar
“KEJUTAN!” seru Dimas, Rafi, dan Kenji serempak dari tengah ruang tunggu privat.Marco membeku kaku di ambang pintu ganda yang baru saja ia buka. Sorot mata hitamnya menatap penuh ketidakpercayaan pada tiga rekan satu timnya di klub renang yang berdiri menyambutnya di dalam ruangan.Pria itu sama sekali tak menyangka mereka akan datang ke tempat ini, mengingat ia sendiri belum sempat mengabari mereka secara langsung mengenai keputusannya mengundurkan diri dari dunia olahraga.Firasat naluriah Marco seketika bekerja. Pria berjas hitam itu perlahan memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah Zea yang berdiri di sudut ruangan. Alisnya terangkat tipis.“Kamu yang undang anak-anak ke sini?” tanya Marco rendah.Zea yang matanya sudah berkaca-kaca mengangguk cepat. “Awalnya aku cuma chat Dimas buat kasih tahu konferensi pers kamu, Marco. Tapi Dimas malah langsung ngajak Rafi dan Kenji ke sini.”Dimas berjalan menghampiri Marco. Senyum tipis terukir di wajahnya saat ia menyodorkan sebuket bun







