Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 244. Di Luar Kendali.

Share

244. Di Luar Kendali.

Author: Amaleo
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-29 20:41:51

Melihat uluran tangan tegap dan gestur membungkuk formal bak bangsawan dari pria di depannya, bukannya meleleh terharu, Zea justru menutup mulut, menahan kekehan yang hampir meledak.

Pipinya memerah padam, tetapi senyum lebarnya tetap mengembang geli melihat betapa lembut sekaligus canggungnya Marco yang mendadak bersikap seformal itu.

Pria itu benar-benar terlihat sangat maskulin dan memesona dalam balutan kemeja kasual hitamnya, tetapi di mata Zea, perlakuannya malam ini terasa terlalu manis
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   Curhatan Author

    hai kakak² pembaca, plislah yg baca novel ini, gausah pake banyak akun, boleh banget kok gaes buka pake iklan kalau kalian nggak mau topup. tapi jgn sampai buat banyak akun dan buka pake koin bonusan semuaa. Maafin Author ya gaes, soalnya author ga bakal dapat gaji kalau kalian nuyul akun😭😭😭 kalau author ga dapat gaji, babnya juga jadi sendat² gaes, soalnya yg nulis kaga semangat wkwk 🗿 yuk lahh, dukung author dengan vote gems, dan di tunggu sawerannya kalo kalian ada rejeki lebih shay👀 thank youu atas perhatiannya ya🙏🏼

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   254. Kebenaran Terungkap.

    Setelah melontarkan ancaman tajam itu, Zavian membuka pintu mobilnya, membantingnya keras, lalu melangkah lebar meninggalkannya seorang diri di dalam mobil. Pria itu masuk ke dalam rumah melewati pintu depan, bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Donna yang sedang berdiri menyambut di ruang tamu.​Zea yang masih duduk terpaku di kursi penumpang akhirnya tak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan pecah begitu saja, mencuat keluar memenuhi kabin mobil yang sunyi.​Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya bergetar hebat menahan rasa sakit dan sesak yang teramat dalam.​Beberapa menit berlalu dalam isak tangisnya, pintu kursi penumpang sebelah tiba-tiba terbuka dari luar.​Donna, yang sedari tadi menunggu di teras rumah dan menyadari ketegangan luar biasa saat Zavian melewatinya tanpa sepatah kata pun, segera berlari kecil menghampiri begitu melihat mobil putranya terdiam lama.​Melihat putri bungsunya menangis histeris di dalam m

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   253. Pertengkaran Kakak-Adik.

    ​Mendengar titah mutlak yang meluncur begitu saja dari bibir kakaknya, Zea tidak lagi mampu menahan diri. Kesabarannya yang selama ini dipertahankan seketika terkoyak habis. ​Perasaan muak dan sesak bergemuruh di dalam dadanya menghadapi sikap kakaknya yang bukan lagi sekadar kelewat batas, tetapi sudah terang-terangan mencampuri ranah pribadi dalam hubungan asmaranya. ​Zea menoleh dengan mata membelalak tajam, menatap lurus wajah samping kakaknya di balik kemudi. ​"Jaga jarak? Nggak lagi ketemu atau kencan sama Marco?" suara Zea bergetar hebat, sarat akan kemarahan yang tertahan. "Kakak sadar nggak sih sama apa yang baru saja Kakak ucapkan?!" ​Zavian tidak bergeming. Ia tetap fokus menatap jalanan di hadapannya dengan rahang mengeras. "Aku sadar sepenuhnya, Zea. Keputusan ini mutlak demi kebaikan kamu." ​"Kebaikan siapa?!" potong Zea meninggikan suara, emosinya benar-benar meluap ke permukaan. "Marco sudah meluruskan semuanya di konferensi pers besar kemarin! Dia bahkan mempert

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   252. Jaga Jarak dari Marco!

    Vincent terdiam menatap Zavian dengan raut yang amat tenang dan penuh empati. ​"Kalau boleh jujur dari sudut pandang saya sebagai orang luar ..." buka Vincent halus, suaranya mengalun hangat tanpa cela. "Secara profesional, Marco itu pilar utama tim kita. Saya terkesan dengan kedisiplinan latihannya dan mental bertandingnya yang sangat kuat. Tentu, tidak ada yang bisa membantah hal itu." ​Zavian diam, mendengarkan dengan rahang kaku. ​"Tapi ..." Vincent memberi jeda terukur, memiringkan kepalanya sedikit. "Saya juga paham kenapa Coach bersikap sangat keras dan sensitif tiap kali ini menyangkut Zea.” Dahi Zavian berkerut tipis. "Maksudmu?" ​"Sejak almarhum Ayah saya masih ada dan mendidik Coach dulu, saya tahu betul betapa besarnya perjuangan Coach," lanjut Vincent, menyuntikkan narasi emosional dengan sangat presisi. “Coach adalah satu-satunya pelindung Tante Donna dan Zea sejak keluarga kalian harus melewati perpisahan pahit di masa lalu.” “Dan saya tahu, Coach sampa

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   251. Bagaimana Menurutmu tentang Marco?

    Zea menatap mata hitam Marco yang menatapnya penuh selidik. Ia membalas genggaman jemari tegap kekasihnya, berusaha menyalurkan ketenangan agar pria di hadapannya itu tidak terlalu tegang."Nggak kok, Marco," jawab Zea halus, menyunggingkan senyum menenangkan. "Vincent cuma tanya soal kejadian tadi pagi di koridor."Alis Marco bertaut tipis. Suaranya mengalun rendah dan dalam saat ia bertanya kembali. "Soal Coach yang hampir pukul aku?""Iya," Zea mengangguk pelan.Ia mulai menceritakan secara detail bagaimana pembicaraan mereka di meja makan tadi berlangsung. Zea menjelaskan bahwa Vincent merasa sangat terkejut melihat reaksi emosional Zavian yang meledak-ledak. Dari sudut pandang Vincent, perubahan sikap kepala pelatih yang mendadak hilang kendali terasa sangat tidak wajar, hingga membuatnya berasumsi bahwa Marco telah melakukan sesuatu yang membuat Zavian merasa terusik atau memendam ketidaksukaan yang mendalam."Aku langsung tegaskan ke dia kalau kamu nggak pernah buat masalah sa

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   250. Zea Mulai Tegas.

    ​"Bau vanila?" ulang Zea pelan sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sealami mungkin, berusaha menutupi desiran cemas di dadanya. Ia memutar tubuhnya sedikit, merapikan tali tas jinjing di tangannya agar posisi pouch pendingin di dalamnya tertutup sempurna dari jangkauan pandangan Vincent. ​"Oh ... ini aroma sabun cair mandi yang kupakai tadi pagi, Vin," terang Zea santai dengan nada bicara yang amat tenang. "Mungkin aromanya masih menempel sedikit." ​Vincent mengerjap pelan di balik kacamatanya. "Ah ... begitu. Pantas saja aromanya wangi dan manis sekali.” Ia mengangguk-angguk paham, terkekeh renyah untuk mencairkan suasana. “Maaf ya kalau tebakanku tadi bikin kamu bingung." ​"Nggak apa-apa kok," sahut Zea cepat, menghembuskan napas lega yang tersembunyi. "Yuk, kita ke ruang makan.” Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor sepi menuju ruang makan utama. Suasana ruang makan saat jam istirahat siang terasa relatif lengang, hanya ada beberapa staf administrasi yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status