Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku

Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku

By:  Chloe LaurentUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
92Chapters
1.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat Rosie Radina masih berusia 19 tahun, dia mengalami patah hati setelah menghabiskan malam terlarang bersama Aiden Praksana, seorang anggota Angkatan Laut sekaligus sahabat terbaik kakaknya. Setelah menganggap hubungan mereka sebagai sebuah kesalahan dan menjauhkannya dengan dingin, Aiden menghancurkan semua yang selama ini Rosie yakini tentang mereka. Dua minggu kemudian, Rosie mengetahui bahwa dirinya hamil. Pada saat yang sama, dia juga mengetahui bahwa Aiden ternyata sudah bertunangan sejak awal. Dengan membawa hati yang hancur, dia menghilang tanpa jejak. Tujuh tahun kemudian, Aiden akhirnya menemukan Rosie yang sedang berjuang membesarkan anak seorang diri. Dia tidak pernah menikahi tunangannya dan telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari Rosie. Kini, setelah mengetahui bahwa Lucy adalah putrinya, Aiden bertekad menyatukan kembali keluarganya. Namun, Rosie menolak kembali pada pria yang telah menghancurkan hidupnya. Di tengah pertarungan sengit memperebutkan hak asuh anak dan perasaan lama yang kembali menyala, mereka dipaksa menghadapi kenyataan bahwa Aiden dulu menjauhinya demi melindunginya dari sisi gelap dalam dirinya, sementara Rosie memilih melarikan diri alih-alih berjuang mempertahankan hubungan mereka. Mampukah dua jiwa yang telah hancur membangun sesuatu yang indah dari puing-puing masa lalu mereka?

View More

Chapter 1

Bab 1

Sudut Pandang Rosie:

Aku berusia 19 tahun ketika melihat Aiden keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk, air mengalir di dadanya sementara dia menggumamkan namaku seolah itu adalah kutukan.

Aku sebenarnya tidak berniat berada di sana. Aku hanya naik ke lantai atas untuk mengambil buku sketsaku dari kamar ketika mendengar suara air berhenti mengalir. Pintu kamar mandi terbuka sedikit, uap hangat melayang ke lorong seperti sebuah undangan yang seharusnya kuabaikan.

Namun, aku tidak mengabaikannya.

Aku berdiri terpaku di lorong, jantungku berdebar begitu keras hingga rasanya akan menerobos tulang rusukku.

Saat itu, hari sudah menjelang sore. Ayahku dan kakakku, Jeffery, sedang berada di pangkalan untuk mengikuti latihan. Seharusnya tidak ada siapa pun di rumah itu selain aku. Namun, dua jam sebelumnya, Jeffery menelepon dan mengatakan bahwa Aiden akan datang. Dia menjelaskan bahwa sahabatnya itu akhirnya mendapat cuti setelah delapan bulan bertugas dan membutuhkan tempat menginap sebelum pulang menemui keluarganya.

Sejak saat itu, aku benar-benar gelisah.

Tinggi tubuh Aiden sekitar 190 sentimeter. Tubuhnya berotot, kulitnya eksotis. Dia adalah sahabat terbaik kakakku sejak mereka bergabung dengan Angkatan Laut enam tahun lalu. Usianya delapan tahun lebih tua dariku. Dialah satu-satunya pria yang sangat kuinginkan hingga rasanya menyakitkan secara fisik, tetapi tidak pernah bisa kuraih.

Saat pertama kali kami bertemu, usiaku baru 13 tahun, sementara dia 21 tahun. Dia masuk ke rumah kami dengan seragam militernya. Penampilannya penuh percaya diri dengan garis wajah yang tegas. Melihat pemandangan yang begitu gagah di depanku, aku sampai tersandung kakiku sendiri. Jeffery tertawa, sementara Aiden bahkan tidak menyadarinya.

Dia tidak pernah menyadari keberadaanku.

Baginya, aku hanyalah adik perempuan Jeffery yang menyebalkan, anak kecil yang selalu mengganggu waktu berkumpul para pria, gadis yang seolah tidak ada, kecuali saat menyembunyikan remot televisi atau menghabiskan potongan pizza terakhir.

Selama enam tahun, aku tidak terlihat di matanya. Sampai tiga bulan yang lalu.

Aku pergi mengunjungi Jeffery di pangkalan sambil membawa brownies yang sudah lama dia rengekkan agar kubuat. Aiden juga ada di sana. Aku mengenakan gaun musim panas. Saat itu memang musim panas, jadi aku tidak memikirkannya. Namun ketika aku membungkuk untuk mengambil kunciku, aku memergoki Aiden sedang menatap kedua kakiku, meski hanya sesaat.

Rahangnya mengeras. Tatapannya berubah menjadi lebih gelap. Lalu, dia segera memalingkan wajah begitu cepat hingga aku sempat mengira hanya berhalusinasi.

Namun, aku tahu aku tidak salah.

Ada sesuatu yang berubah hari itu. Aku bisa merasakannya. Sekarang dia berada di rumahku, menggunakan kamar mandiku, sementara aku bahkan tidak bisa bernapas dengan normal.

Melalui celah pintu, aku melihatnya menyisir rambut hitamnya yang basah dengan jemari. Kalung identitas militernya menggantung di dada telanjangnya. Kulitnya yang kecokelatan dipenuhi bekas luka yang selama ini selalu ingin kusentuh dengan ujung jariku. Otot-otot di balik kulitnya bergerak, memancarkan kesan berbahaya sekaligus terkendali.

Lalu aku mendengarnya bagaikan sebuah bisikan, "Rosie."

Namaku. Dia menyebut namaku.

Aku benar-benar berhenti bernapas.

Tangannya meluncur turun melewati perutnya dan menghilang di balik tepi handuk. Seharusnya aku memalingkan wajah. Seharusnya aku berlari. Namun, kakiku menolak bergerak. Seluruh tubuhku terasa terkunci di tempat dan membara.

Tubuhnya menegang di balik handuk, lalu dia mendongakkan kepala. Dia mengerang pelan dan serak, "Sial, Rosie."

Lututku hampir lemas. Gelombang panas menjalari seluruh tubuhku. Belum pernah seumur hidup aku merasakan hal seperti ini. Aku pernah mencium dua orang pria sebelumnya dan tidak merasakan apa pun. Namun, mendengar Aiden menyebut namaku dengan cara seperti itu membuatku merasa seolah seluruh tubuhku terbakar.

Dia melepaskan handuknya.

Aku melihat semuanya. Setiap bagian tubuhnya.

Tubuhnya tampak besar, keras, dan sempurna. Tangannya menggenggam begitu erat hingga aku mengerang pelan tanpa sadar.

Lalu, tiba-tiba dia menoleh ke arah pintu.

Pandangan kami bertemu.

Waktu seolah berhenti.

Aku melihat dengan jelas detik ketika dia menyadari aku berada di sana. Detik ketika keterkejutannya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Hasrat. Keinginan. Sesuatu yang membuat perutku bergejolak dan setiap saraf di tubuhku menegang.

Selama tiga detik, tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.

Lalu, ekspresinya berubah. Hasrat itu menghilang, digantikan oleh amarah.

"Keluar!" bentaknya.

Aku tersandung mundur hingga bahuku menghantam dinding. Jantungku berdegup tak karuan.

"Sekarang, Rosie!"

Aku langsung berlari menyusuri lorong menuju kamarku, lalu membanting pintu di belakangku. Seluruh tubuhku gemetar. Wajahku terasa panas. Aku mengapit kedua pahaku begitu erat hingga terasa nyeri.

Aku menjatuhkan diri ke atas tempat tidur dan menutupi wajahku dengan kedua tangan.

Apa yang baru saja kulakukan? Apa yang baru saja kulihat?

Dia sedang memikirkanku. Dia menyebut namaku seolah itu adalah satu-satunya kata yang berarti. Aiden menginginkanku.

Pikiran itu membuat kepalaku berputar.

Namun, dia juga baru saja membentakku agar pergi. Dia menatapku seolah aku telah melakukan sesuatu yang tak termaafkan, seolah aku telah melewati batas yang tak mungkin bisa ditarik kembali.

Mungkin memang begitu.

Entah berapa lama aku berbaring di sana, berusaha menenangkan jantungku yang berpacu. Aku berusaha menghapus bayangan yang telah terukir di ingatanku dan mengabaikan rasa sesak yang tak kunjung hilang.

Namun, semuanya sia-sia.

Sekitar pukul enam sore, aku mendengar pintu depan terbuka. Ayah dan kakakku sudah pulang. Suara mereka terdengar dari lantai bawah, disusul suara berat Aiden. Aku tetap berada di kamar. Aku tidak sanggup menghadapi mereka.

Terutama Aiden.

Pukul tujuh, Ayah memanggilku turun untuk makan malam.

Aku mengenakan celana olahraga dan hoodie oversize, mengikat rambutku asal-asalan, lalu berusaha membuat diriku terlihat semenarik mungkin. Setelah itu, aku menuruni tangga dengan langkah pelan, seolah sedang berjalan menuju tempat eksekusi.

Mereka semua sudah berada di ruang makan. Ayah sedang mengambil bir dari kulkas, Jeffery tertawa melihat sesuatu di ponselnya, sementara Aiden berdiri bersandar di kursinya dengan kedua tangan terlipat dan mengawasi pintu masuk.

Dia tampak seperti sedang berjaga.

Begitu aku masuk, tatapannya langsung mengunci mataku.

Aku langsung mematung.

Rahangnya mengeras, sorot matanya gelap dan sulit ditebak. Dia terlihat seolah ingin membunuhku atau melahapku hidup-hidup, dan aku tidak tahu mana yang lebih membuatku takut.

"Itu dia," kata Ayah sambil tersenyum. "Rosie, kamu masih ingat Aiden, 'kan?"

Aku mengangguk, tidak memercayai suaraku sendiri.

"Tentu saja dia masih mengingatku," kata Aiden dengan suara rendah yang terdengar berbahaya. "Benar begitu, Rosie?"

Jeffery mengernyit sambil bergantian memandang kami berdua. "Kamu baik-baik saja, Aiden? Wajahmu kelihatan marah."

"Aku baik-baik saja," jawab Aiden tanpa mengalihkan pandangannya dariku. "Cuma capek."

Pembohong.

Aku mengambil sepiring makanan, lalu duduk sejauh mungkin darinya. Namun, aku bisa merasakan tatapannya sepanjang makan malam. Setiap kali aku mengangkat kepala, dia sedang menatapku. Setiap kali aku meraih sesuatu, pandangannya mengikuti gerakan tanganku.

Rasanya seperti siksaan.

Setelah makan malam, aku membantu Ayah mencuci piring sementara Jeffery dan Aiden pergi ke ruang keluarga. Akhirnya aku merasa aman. Kukira aku bisa kembali ke kamar dan menghindarinya sepanjang malam.

Namun, ketika aku berbalik dan hendak keluar dari dapur, dia sudah berdiri di ambang pintu.

Menghalangi jalan keluarku.

"Kita perlu bicara," katanya pelan.

Jantungku seolah berhenti berdetak.

"Sekarang."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
92 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status