Aku Hanya Pengasuh, Kenapa Tuan Terus Menggodaku?

Aku Hanya Pengasuh, Kenapa Tuan Terus Menggodaku?

last updateDernière mise à jour : 2026-09-03
Par:  gadismeronaMis à jour à l'instant
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Notes insuffisantes
6Chapitres
4Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Araya Maureen, lulusan S1 Manajemen yang gagal mendapatkan pekerjaan impiannya, akhirnya menerima pekerjaan sebagai pengasuh di kediaman Presdir Kalingga Handaru. Awalnya, Araya hanya ingin mendapatkan penghasilan. Namun, sejak ia hadir, kehidupan Kalingga dan keponakannya bernama Dean, perlahan berubah. Sampai-sampai Araya tidak menyangka bahwa perhatian sang Presdir akan berubah menjadi rasa cinta yang begitu dalam hingga Kalingga tak ingin membiarkannya pergi. “Araya!” “Sabar, Mas Lingga. Ini aku lagi boboin Dean.” "Terus saya kapan diboboin kamu?” Sepertinya, menjadi pengasuh di rumah sang Presdir akan jauh lebih sulit daripada yang Araya bayangkan.

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1 : Tanktop Merah Di Hari Pertama

"Mbak Araya Maureen, ya? Mari masuk. Pak Kalingga sudah menunggu," sapa wanita paruh baya yang merupakan kepala ART di kediaman Handaru sambil membukakan pintu.

"Ah, iya, Bu. Terima kasih," jawab Araya sopan.

"Pak Kalingga sangat disiplin soal waktu. Mbak langsung saja ke lantai dua. Ruangan paling ujung sebelah kanan."

"Baik, Bu.”

Araya segera melangkah ke lantai dua. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya.

Sejujurnya, jika bukan karena keadaan yang mendesak, gadis berusia 23 tahun itu tak akan pernah menginjakkan kaki di kediaman Presdir Handaru Group, salah satu konglomerat ternama di tanah air.

Sebagai lulusan S1 Manajemen, Araya tentu bermimpi bekerja di perusahaan besar. Sayangnya, lamaran demi lamaran berakhir dengan penolakan. Dan hari ini, ia justru datang ke tempat ini untuk melamar pekerjaan sebagai pengasuh anak demi gaji 20 juta perbulan.

Sesampainya di depan pintu lantai dua, Araya mengetuk pelan beberapa kali.

"Masuk," sahut suara bernada berat dari dalam.

Araya membuka pintu. Seorang pria tampan mendongak dari balik meja kerja. Tatapan tajamnya langsung mengunci mata Araya.

Kalingga Handaru. Rahang tegas, alis tebal dan garis wajah yang hampir sempurna. Pria 35 tahun itu memancarkan aura yang begitu mengintimidasi, membuat udara di sekitar Araya mendadak terasa menipis.

"Araya Maureen?"

"Iya benar, Pak," jawab Araya sedikit gugup.

Kalingga membaca berkas lamaran milik Araya, lalu membalik beberapa halaman sebelum tatapannya terangkat.

"Lulusan S1 Manajemen. IPK memuaskan. Tapi melamar jadi pengasuh anak di rumah saya? Kamu tidak salah kirim berkas?"

Araya menggeleng. "Tidak, Pak. Saya memang tidak punya latar belakang di bidang mengasuh anak. Tapi saya butuh pekerjaan, dan saya yakin bisa mengurus anak Bapak."

"Dia keponakan saya. Namanya Dean.” Kalingga meletakkan berkas itu. "Orang tuanya meninggal karena kecelakaan beberapa bulan lalu. Sekarang Dean berusia lima tahun dan saya tidak punya banyak waktu untuk mengurusnya.”

Kalingga berdiri dari kursinya dan melangkah mendekat. Tubuhnya yang tinggi membuat Araya harus mendongak. Ia berhenti tepat di hadapan Araya, sembari menyilangkan tangan di dada.

Tatapan Kalingga meneliti wajah hingga tubuh Araya, membuat jantung gadis itu berdegup kencang.

"Kamu tahu sudah berapa banyak pengasuh yang keluar dari rumah ini dalam satu bulan ini?"

Araya menggeleng. "Tidak, Pak. Memangnya berapa?"

"Lima."

Araya terdiam kaku.

"Ada yang bertahan tiga hari. Ada juga yang hanya bertahan beberapa jam,” lanjut Kalingga datar. “Dean anak yang pintar, tapi cukup sulit dihadapi. Jadi kalau kamu datang hanya karena tergiur gajinya, lebih baik kamu mundur sekarang."

Araya menelan ludah. Tatapan pria di hadapannya begitu tajam hingga membuatnya sulit berpikir jernih. Namun, ia memaksa dirinya untuk tetap tenang.

"Saya tidak akan mundur, Pak.”

Alis Kalingga sedikit terangkat. “Yakin?”

Araya mengangguk, bertepatan dengan suara benturan keras dari ambang pintu.

Prangg!

Seorang bocah laki-laki berwajah menggemaskan dengan pipi sedikit chubby berdiri di sana. Ia memegang sebuah tembakan air berukuran besar. Di dekat kakinya, sebuah vas bunga plastik sudah tergeletak di lantai.

"Om Lingga! Ada penyusup balu ya?!" seru bocah itu cadel.

"Dean, Om kan sudah pernah bilang jangan lari-lari di dalam rumah," tegur Kalingga.

Bocah bernama Dean itu tidak mendengarkan. Mata bulatnya langsung mengunci ke arah Araya. Ia berjalan mendekat dengan dagu terangkat sok gagah, menatap Araya dari atas sampai bawah.

"Kakak siapa? Nanny balu lagi, ya?" tanyanya polos. "Palingan nanti sore Kakak udah nangis minta pulang kayak Mbak yang kemalin.”

Araya yang tadinya tegang menghadapi Kalingga, mendadak berlutut agar tingginya sejajar dengan Dean.

"Halo, Dean.” Araya tersenyum manis. “Nama Kakak, Araya. Dan Kakak nggak bakal nangis minta pulang, kok."

"Masa? Kita lihat aja ya!"

Tanpa aba-aba, Dean mengangkat tembakan mainannya, lalu cairan berwarna kuning menyembur tepat ke arah kemeja putih Araya.

Araya tersentak kaget merasakan sensasi lengket beraroma jeruk yang merembes di dadanya. Begitu ia menunduk, matanya membelalak panik melihat kemejanya mendadak transparan, mencetak jelas warna tank top merahnya.

"Segel kan, Kak? Siang-siang gini memang enaknya minum jus jeluk!" seru Dean jahil. Bocah itu tertawa puas, lalu berlari keluar dari ruangan.

Wajah Araya memerah. Cepat-cepat ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

Kalingga sempat tertegun. Matanya yang tajam tanpa sengaja menangkap sekilas warna merah di balik kemeja basah itu, sebelum gadis itu sempat menutupinya.

Kalingga berdehem pelan, menetralkan kembali raut wajahnya agar tetap tenang. "Bagaimana? Yakin masih mau lanjut?" tanyanya, melirik sekilas ke dada gadis itu.

Araya segera berdiri meski rasa malu masih membakar pipinya, lalu membalas tatapan Kalingga dengan sorot pantang menyerah.

"Masih, Pak. Lagipula, ini baru awalan," ucapnya sambil menyunggingkan senyum terpaksa.

Kalingga menatap wajah Araya cukup lama, menilai ketahanan mental gadis itu sebelum akhirnya menyahut singkat, "Bagus."

"Oh iya, Pak. Maaf... kalau boleh tahu, di mana saya bisa bersihin pakaian saya?"

"Kamar paling ujung di lantai ini."

Araya mengangguk. "Terima kasih, Pak. Saya permisi."

Gadis itu melangkah ke arah pintu dengan tergesa. Namun, saat hendak membukanya, ia merasa seperti sedang diperhatikan. Ia pun menoleh dan mendapati calon bosnya  menatapnya dengan intens.

Araya tersentak kecil, lalu buru-buru keluar dan menutup pintu.

Jantungnya berdetak kencang. Ia bingung kenapa pria itu menatapnya seperti itu? Apa mungkin dirinya sudah membuat kesalahan tanpa disadari?

Perlahan, tatapan Araya pun turun ke kemejanya yang basah. Seketika matanya membelalak. Tanktop-nya terlihat jelas dari balik kemeja tipis itu.

Araya langsung merutuki kebodohannya.

Bagaimana bisa ia seceroboh ini dan berakhir mempermalukan dirinya sendiri di hadapan calon bosnya?

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
6
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status