Se connecterAraya Maureen, lulusan S1 Manajemen yang gagal mendapatkan pekerjaan impiannya, akhirnya menerima pekerjaan sebagai pengasuh di kediaman Presdir Kalingga Handaru. Awalnya, Araya hanya ingin mendapatkan penghasilan. Namun, sejak ia hadir, kehidupan Kalingga dan keponakannya bernama Dean, perlahan berubah. Sampai-sampai Araya tidak menyangka bahwa perhatian sang Presdir akan berubah menjadi rasa cinta yang begitu dalam hingga Kalingga tak ingin membiarkannya pergi. “Araya!” “Sabar, Mas Lingga. Ini aku lagi boboin Dean.” "Terus saya kapan diboboin kamu?” Sepertinya, menjadi pengasuh di rumah sang Presdir akan jauh lebih sulit daripada yang Araya bayangkan.
Voir plus"Mbak Araya Maureen, ya? Mari masuk. Pak Kalingga sudah menunggu," sapa wanita paruh baya yang merupakan kepala ART di kediaman Handaru sambil membukakan pintu.
"Ah, iya, Bu. Terima kasih," jawab Araya sopan. "Pak Kalingga sangat disiplin soal waktu. Mbak langsung saja ke lantai dua. Ruangan paling ujung sebelah kanan." "Baik, Bu.” Araya segera melangkah ke lantai dua. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya. Sejujurnya, jika bukan karena keadaan yang mendesak, gadis berusia 23 tahun itu tak akan pernah menginjakkan kaki di kediaman Presdir Handaru Group, salah satu konglomerat ternama di tanah air. Sebagai lulusan S1 Manajemen, Araya tentu bermimpi bekerja di perusahaan besar. Sayangnya, lamaran demi lamaran berakhir dengan penolakan. Dan hari ini, ia justru datang ke tempat ini untuk melamar pekerjaan sebagai pengasuh anak demi gaji 20 juta perbulan. Sesampainya di depan pintu lantai dua, Araya mengetuk pelan beberapa kali. "Masuk," sahut suara bernada berat dari dalam. Araya membuka pintu. Seorang pria tampan mendongak dari balik meja kerja. Tatapan tajamnya langsung mengunci mata Araya. Kalingga Handaru. Rahang tegas, alis tebal dan garis wajah yang hampir sempurna. Pria 35 tahun itu memancarkan aura yang begitu mengintimidasi, membuat udara di sekitar Araya mendadak terasa menipis. "Araya Maureen?" "Iya benar, Pak," jawab Araya sedikit gugup. Kalingga membaca berkas lamaran milik Araya, lalu membalik beberapa halaman sebelum tatapannya terangkat. "Lulusan S1 Manajemen. IPK memuaskan. Tapi melamar jadi pengasuh anak di rumah saya? Kamu tidak salah kirim berkas?" Araya menggeleng. "Tidak, Pak. Saya memang tidak punya latar belakang di bidang mengasuh anak. Tapi saya butuh pekerjaan, dan saya yakin bisa mengurus anak Bapak." "Dia keponakan saya. Namanya Dean.” Kalingga meletakkan berkas itu. "Orang tuanya meninggal karena kecelakaan beberapa bulan lalu. Sekarang Dean berusia lima tahun dan saya tidak punya banyak waktu untuk mengurusnya.” Kalingga berdiri dari kursinya dan melangkah mendekat. Tubuhnya yang tinggi membuat Araya harus mendongak. Ia berhenti tepat di hadapan Araya, sembari menyilangkan tangan di dada. Tatapan Kalingga meneliti wajah hingga tubuh Araya, membuat jantung gadis itu berdegup kencang. "Kamu tahu sudah berapa banyak pengasuh yang keluar dari rumah ini dalam satu bulan ini?" Araya menggeleng. "Tidak, Pak. Memangnya berapa?" "Lima." Araya terdiam kaku. "Ada yang bertahan tiga hari. Ada juga yang hanya bertahan beberapa jam,” lanjut Kalingga datar. “Dean anak yang pintar, tapi cukup sulit dihadapi. Jadi kalau kamu datang hanya karena tergiur gajinya, lebih baik kamu mundur sekarang." Araya menelan ludah. Tatapan pria di hadapannya begitu tajam hingga membuatnya sulit berpikir jernih. Namun, ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. "Saya tidak akan mundur, Pak.” Alis Kalingga sedikit terangkat. “Yakin?” Araya mengangguk, bertepatan dengan suara benturan keras dari ambang pintu. Prangg! Seorang bocah laki-laki berwajah menggemaskan dengan pipi sedikit chubby berdiri di sana. Ia memegang sebuah tembakan air berukuran besar. Di dekat kakinya, sebuah vas bunga plastik sudah tergeletak di lantai. "Om Lingga! Ada penyusup balu ya?!" seru bocah itu cadel. "Dean, Om kan sudah pernah bilang jangan lari-lari di dalam rumah," tegur Kalingga. Bocah bernama Dean itu tidak mendengarkan. Mata bulatnya langsung mengunci ke arah Araya. Ia berjalan mendekat dengan dagu terangkat sok gagah, menatap Araya dari atas sampai bawah. "Kakak siapa? Nanny balu lagi, ya?" tanyanya polos. "Palingan nanti sore Kakak udah nangis minta pulang kayak Mbak yang kemalin.” Araya yang tadinya tegang menghadapi Kalingga, mendadak berlutut agar tingginya sejajar dengan Dean. "Halo, Dean.” Araya tersenyum manis. “Nama Kakak, Araya. Dan Kakak nggak bakal nangis minta pulang, kok." "Masa? Kita lihat aja ya!" Tanpa aba-aba, Dean mengangkat tembakan mainannya, lalu cairan berwarna kuning menyembur tepat ke arah kemeja putih Araya. Araya tersentak kaget merasakan sensasi lengket beraroma jeruk yang merembes di dadanya. Begitu ia menunduk, matanya membelalak panik melihat kemejanya mendadak transparan, mencetak jelas warna tank top merahnya. "Segel kan, Kak? Siang-siang gini memang enaknya minum jus jeluk!" seru Dean jahil. Bocah itu tertawa puas, lalu berlari keluar dari ruangan. Wajah Araya memerah. Cepat-cepat ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Kalingga sempat tertegun. Matanya yang tajam tanpa sengaja menangkap sekilas warna merah di balik kemeja basah itu, sebelum gadis itu sempat menutupinya. Kalingga berdehem pelan, menetralkan kembali raut wajahnya agar tetap tenang. "Bagaimana? Yakin masih mau lanjut?" tanyanya, melirik sekilas ke dada gadis itu. Araya segera berdiri meski rasa malu masih membakar pipinya, lalu membalas tatapan Kalingga dengan sorot pantang menyerah. "Masih, Pak. Lagipula, ini baru awalan," ucapnya sambil menyunggingkan senyum terpaksa. Kalingga menatap wajah Araya cukup lama, menilai ketahanan mental gadis itu sebelum akhirnya menyahut singkat, "Bagus." "Oh iya, Pak. Maaf... kalau boleh tahu, di mana saya bisa bersihin pakaian saya?" "Kamar paling ujung di lantai ini." Araya mengangguk. "Terima kasih, Pak. Saya permisi." Gadis itu melangkah ke arah pintu dengan tergesa. Namun, saat hendak membukanya, ia merasa seperti sedang diperhatikan. Ia pun menoleh dan mendapati calon bosnya menatapnya dengan intens. Araya tersentak kecil, lalu buru-buru keluar dan menutup pintu. Jantungnya berdetak kencang. Ia bingung kenapa pria itu menatapnya seperti itu? Apa mungkin dirinya sudah membuat kesalahan tanpa disadari? Perlahan, tatapan Araya pun turun ke kemejanya yang basah. Seketika matanya membelalak. Tanktop-nya terlihat jelas dari balik kemeja tipis itu. Araya langsung merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa ia seceroboh ini dan berakhir mempermalukan dirinya sendiri di hadapan calon bosnya?Tubuh Araya menegang sempurna, napasnya terkunci.“Bagaimana? Kamu setuju?” tanya Kalingga, menyeringai samar.Araya meremas jemarinya sendiri. "Tapi melayani dalam kontrak ini... harusnya hanya untuk Dean, Pak. Saya tidak bisa melampaui batas."Kalingga terkekeh rendah. "Batasan? Kamu yang datang memohon uang saya, Araya. Di dunia bisnis, tidak ada yang gratis. Kamu mau lima puluh juta itu atau tidak?""Tapi tidak dengan cara seperti ini, Pak. Saya punya harga diri," bantah Araya, meski suaranya mulai goyah.Kalingga mengunci tatapan Araya. "Harga dirimu bisa membantu ibumu seperti yang kamu inginkan. Pikirkan lagi."Araya bungkam. Mengingat tangis sang ibu di telepon, ego gadis itu seketika runtuh. Dengan berat hati, ia terpaksa mengangguk pasrah.Kalingga tersenyum puas. "Bagus. Dan tugas pertamamu berlaku mulai malam ini," ucap Kalingga yang langsung membuat mata Araya terbelalak."Tolong buatkan saya kopi hitam tanpa gula. Bawa ke sini," perintah Kalingga kemudian.Tak butuh wakt
Araya bisa melihat jelas kalau wajah Kalingga ikut menegang. Rasa hangat dan lembut dari bibir pria itu langsung menyengat seluruh kesadaran Araya.Astaga! Ini ciuman pertamanya, dan malah berakhir di bibir majikannya.Araya buru-buru memundurkan kepalanya. Ia mendorong dada bidang Kalingga sekuat tenaga, lalu berdiri dari sofa hingga novel di atas pangkuannya terjatuh ke lantai.“M-maaf, Pak! Saya benar-benar tidak sengaja! Sumpah, saya tidak bermaksud lancang!” cerocos Araya bergetar hebat.Sementara itu, Kalingga perlahan menegakkan tubuhnya. Pria itu sempat terpaku sesaat, lalu mengecap bibirnya sendiri menikmati sisa rasa manis yang tertinggal pasca serangan mendadak sang pengasuh.Bukannya marah, sepasang mata tajam Kalingga justru semakin menggelap.“Tidak sengaja?” ujarnya rendah nan serak. “Dalam sehari ini kamu terus-menerus menguji kendali diri saya, Araya. Kamu yakin ini murni kecelakaan, atau ini bagian dari rencanamu untuk memikat saya?”Pertanyaan itu sukses membuat nap
Waktu seolah berhenti berputar di ruang makan megah itu. Araya menoleh cepat, terpaku ketika menyadari jarak wajahnya hanya tersisa beberapa senti. Kedua tangannya mencengkeram erat tangan Kalingga di pinggangnya. Di bawahnya, ia bisa merasakan betapa kerasnya paha pria itu yang menopang penuh tubuhnya.Kalingga tidak langsung melepaskannya. Sebaliknya, satu tangannya yang melingkari pinggang Araya justru semakin mengerat, mengunci pergerakan gadis itu agar tidak bisa bergeser seinci pun. Sebelah tangannya yang bebas perlahan bergerak naik, menyelipkan beberapa helai rambut Araya ke sela telinga.Sentuhan jemari Kalingga yang hangat dan sedikit kasar di permukaan kulit lehernya mengirimkan sengatan listrik ke sekujur tubuh Araya. Bulu kuduknya meremang."P-Pak Kalingga..." bisik Araya lirih. "Maaf, saya... saya mau berdiri.""Diam dulu, Araya," potong Kalingga dengan nada rendah dan serak.Mata pria itu menggelap, menatap lurus ke dalam netra Araya yang dipenuhi kepanikan, sebelum p
Menjadi pengasuh pribadi dengan gaji dua puluh juta rupiah berarti Araya dengan senang hati merelakan kehidupan kosan-nya yang sempit dan mulai menetap di kediaman mewah Kalingga Handaru. Pagi ini, Araya bangun lebih awal. Ia ingin memberikan impresi pertama yang sempurna di hari pertamanya bekerja. Begitu kakinya melangkah turun ke lantai satu dengan niat menuju dapur untuk memastikan menu sarapan Dean, langkah Araya mendadak terkunci di koridor. Dari arah berlawanan, Kalingga berjalan mendekat. Pria itu rupanya baru saja menyelesaikan rutinitas olahraga paginya. Kaus oblong hitam yang dikenakannya tampak agak basah oleh keringat, menempel ketat pada tubuhnya dan mencetak jelas lekuk dada bidang serta perut berototnya. Langkah kaki Kalingga melambat, lalu berhenti tepat di depan Araya. Entah kenapa Araya mendadak gugup mendapati tatapan Kalingga yang selalu berhasil membuat jantungnya berpacu liar. "Selamat pagi, Pak," sapa Araya berusaha tenang, sembari menundukkan kepalanya.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.