LOGINSebagai janda yang ditinggal meninggal suaminya, Maura seolah merasa dirinya tidak boleh bahagia. Menjadi tulang punggung keluarga, mengurus keluarga mendiang suaminya, menghadapi cemoohon orang-orang yang terus membicarakannya. Lalu, salah satu penghuni di kos-kosannya berhasil membuat Maura mendambakan sesuatu yang telah lama hilang. Jovan itu lebih muda darinya, tapi sentuhan dan tindakannya tidak disangka lebih memabukkan daripada pria dewasa mana pun yang pernah Maura kenal.
View More“Janda zaman sekarang itu ngeri ya? Mereka kayak nggak sadar diri kalau mereka pernah menikah.”
Di depan gang area suburban itu, sekumpulan ibu-ibu sedang berkumpul, dan salah satunya memulai gosip. Membicarakan orang lain bagi mereka adalah kegiatan rutin yang normal. “Oh, maksudnya Maura, ya? Yang punya kos-kosan itu.” Satu tetangga lainnya ikut berceletuk. “Ya, iya siapa lagi?” Suara itu terdengar semakin mengejek. “Sama mendiang suaminya dulu, dia sudah nikah lima tahun, tapi nggak punya anak. Sudah pasti dia perempuan mandul. Anehnya, sekarang setelah jadi janda, dia malah makin sukses dan tetap cantik.” “Ah, itu sudah biasa.” Ibu-ibu lainnya turut menimpali juga. “Dimana-mana istri yang ditinggal mati suaminya pasti berduka, mana sempat memperhatikan penampilan. Memang dasarnya dia janda yang haus belaian.” “Terus, dengar-dengar dia juga sengaja meneruskan kos-kosan dari usaha suaminya cuma karena ingin dikelilingi laki-laki muda saja.” “Jangan-jangan, mantan suaminya juga meninggal karena ulahnya? Makanya dia bisa menguasai aset-aset peninggalannya?” Maura yang sedang berjalan pulang baru saja melewati mereka. Mendengar bisik-bisik tetangga di kompleks tempat tinggalnya itu, ia menghentikan langkahnya sejenak. Ibu-ibu yang sedang membicarakannya langsung terdiam saat menyadari kehadiran Maura. Mereka saling senggol satu sama lain. Tapi mereka tidak sedikit pun memperlihatkan rasa bersalah, hanya terlihat canggung karena orang yang mereka bicarakan malah muncul. Maura hanya tersenyum kepada ibu-ibu itu singkat, sebelum melanjutkan langkahnya. Dia sudah sering mendengar gosip berisi cemoohan itu, sampai-sampai dia tidak merasa terganggu. Lagipula, jika Maura menanggapinya sekalipun, itu tidak ada gunanya. “Coba lihat gayanya barusan. Sombong banget, ‘kan?” Celetukan ibu-ibu itu masih terdengar di belakang bahkan setelah Maura mengabaikannya. Maura adalah seorang janda berusia 36 tahun. Wanita karir yang bekerja sebagai staf ahli senior di sebuah perusahaan ternama. Setelah suaminya meninggal lima tahun lalu, Maura tetap bekerja di perusahaan, sekaligus memilih mengurus kos-kosan yang sejak awal menikah telah dibangunnya bersama mantan suaminya. Meski sekarang ia berstatus janda cerai mati, Maura tetap anak pertama di keluarganya, sehingga ia berperan sebagai tulang punggung yang membiayai keluarganya. Ia juga masih berhubungan dengan keluarga mendiang suami dan membantu biaya hidup mereka. Orang-orang sering menggosipkannya sebagai janda muda yang kerap menggoda penghuni kosnya sendiri. Katanya, ia sengaja mengundang para mahasiswa dan para pegawai muda untuk tinggal di kosnya itu demi mencari perhatian. Maura hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Para tetangga itu menganggap seolah Maura sengaja menggunakan status jandanya untuk memuaskan dirinya sendiri. Padahal, siapa juga yang mau menjadi seorang janda? Tiba di bangunan kos, Maura membuka gerbang. Tidak hanya berperan sebagai pemiliknya, Maura juga tinggal di sini, lebih tepatnya di unit yang berada di lantai paling atas. Pekerjaan yang menumpuk di kantor seharian membuat tubuhnya penuh rasa lelah. Namun, ketika ingin menaiki tangga, salah satu penghuni kos mendekat. “Bu Maura.” Perempuan muda itu memanggil, ia menghuni kamar di lantai dasar. Maura memutar tubuhnya. “Iya?” Perempuan muda itu kemudian menunjuk ke ujung lorong kos-kosan yang gelap. “Lampu di pintu depan mati lagi, Bu. Saya matikan karena kedip-kedip terus, tiap lewat nggak nyaman deh.” Maura menunjukkan senyumnya. “Ya udah, nanti biar saya panggil tukang, ya.” Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya dan langsung pamit untuk pergi. Sementara Maura mengembuskan napas pelan. Tubuhnya remuk ingin meminta istirahat, tapi ia urung melangkahkan kaki naik ke tempat tinggalnya. Bagaimanapun, ia adalah pemilik kos ini dan bertanggung jawab menyediakan fasilitas yang baik untuk seluruh penghuni yang sudah membayar biaya sewa. Kos-kosan itu terdiri dari tiga lantai. Di lantai tiga hanya ada unit pribadi milik Maura. Sedangkan lantai pertama dan kedua diisi dengan kamar-kamar dan fasilitas bersama untuk penghuni kos. Lampu yang disebutkan oleh salah satu penyewa tadi adalah lampu yang sudah seringkali diperbaiki. Biasanya, setiap ada keperluan reparasi seperti itu, Maura akan memanggil layanan servis yang akan mengirimkan tukang untuk membetulkannya. Namun, setiap kali dirinya memanggil tukang, Maura menyadari bahwa para tukang itu tidak memperbaiki sampai tuntas. Lampu-lampu hanya kembali mati, pipa air hanya kembali bocor. Seolah mereka sengaja membetulkan sebagian saja, hingga perbaikannya tidak bertahan lama, lalu kembali rusak. Karena itu, Maura sudah beberapa kali keluar biaya untuk bolak-balik membayar tukang. Tidak mau menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak sepenuhnya dibenarkan, kali ini Maura memutuskan untuk memperbaikinya sendiri. Maura mengambil lampu yang baru kemudian pergi ke belakang untuk menyeret tangga lipat. Dia menggeret tangga itu seorang diri, menegakkannya di bawah lampu yang mati. Lampu itu yang menempel di langit-langit yang cukup tinggi. Setelah memastikan posisi tangganya tepat, Maura mulai menaiki tangga satu per satu, berpegangan dengan satu tangan. Ia berhasil melepaskan lampu yang rusak. Tapi belum sempat menggantinya dengan lampu yang baru, Maura kehilangan keseimbangan. Pijakannya tidak sempurna, tubuhnya oleng, dan Maura tidak berhasil meraih pegangan. Ia jatuh ke bawah begitu saja. Maura memekik. Ia berpikir tubuhnya akan segera membentur lantai yang begitu dingin dan keras. Tapi bukannya terjatuh ke lantai, dua lengan kokoh menangkapnya dan mendekapnya erat.Sore harinya, Maura pulang tepat waktu. Di grup chat warga, dia mendapatkan laporan pemadaman listrik pukul 11 malam. Kos Maura juga merupakan daerah yang terkena pemadaman. Setelah mengetahui hal itu, Maura melanjutkan pesan tersebut ke grup kosnya.Di rumah, Maura masih melanjutkan laporan anggaran kantor. Sebenarnya, dia bisa melanjutkan itu besok, tapi Maura merasa punya waktu sejenak, lebih baik digunakan untuk menyelesaikan yang belum selesai.Pukul sembilan malam, Maura mendapatkan pesan dari Jovan.[Bu, kira-kira ada kamar kosong lain yang bisa saya pakai malam ini nggak? Atap kamar saya bocor dan kebocorannya cukup parah.]Maura langsung membalas pesan itu.[Biar saya cek ke sana sekarang juga.]Maura akhirnya pergi ke kamar Jovan. Saat dirinya baru ingin mengetuk pintu kamar Jovan, dia mendengar suara grasak-grusuk yang sangat berisik dari dalam.Di balik pintu itu, Jovan sedang merapikan barang-barang di area kamarnya dengan terburu-buru.Saat pintu akhirnya terbuka, Maura
Begitu pria mabuk itu terlempar ke belakang, Jovan langsung memijakkan kakinya ke satu tangan pria itu, menarik kerahnya, dan langsung melayangkan tinjunya tanpa ampun ke wajahnya.Suara pukulan demi pukulan yang dilayangkan Jovan menggema di ruangan hingga ke lorong kos. Wajah pria itu babak belur. Jeritannya lama-lama menghilang saat jatuh tak sadarkan diri. Sedangkan buku jari Jovan ternoda oleh darahnya.Maura yang sempat syok dan hanya bisa terduduk karena ketakutan akhirnya sadar dan langsung berdiri.“Jovan, sudah!” Maura menarik tubuh Jovan menjauh dari si pria mabuk. “Jangan seperti ini!”Sekujur badan pemuda itu tegang, napasnya terengah-engah tak beraturan. Tatapannya gelap dan tajam, masih menusuk ke arah pria mabuk yang sudah tak sadarkan diri.Baru kali ini Maura melihat sisi Jovan yang begitu mengerikan. Dia masih mengangkat kepalan tangannya untuk melayangkan tinjunya lagi.“Cukup, Jovan!” seru Maura, kedua lengannya memeluk Jovan dari belakang.Tindakannya sukses memb
Setelah memasuki rumah Ibu mertuanya, Maura langsung pergi ke dapur untuk membawa buah-buahan. Dia mencuci buah-buahan itu, memotong dan mengupas setengahnya dan menyimpan sebagiannya lagi di kulkas agar tetap segar.Maura juga langsung dengan cekatan membantu ibu mertuanya yang sepertinya baru selesai membuat makan malam.“Barusan kamu diantar sama siapa?” Aryani, ibu mertua Maura bertanya.Maura menjawab, “Itu bawahanku di kantor. Kami kebetulan searah, jadi dia menawarkan tumpangan.”“Bawahanmu?”“Iya, dia anak magang yang baru bergabung dengan kantor.”“Ibu pikir siapa. Habisnya, mobilnya mewah sekali. Untunglah kalau cuma anak magang. Orang-orang bisa langsung salah paham kalau melihatnya.”Maura menghentikan gerakannya sejenak. Lalu menatap ibu mertuanya. “Maksud Ibu?”“Nggak ada maksud apa-apa. Ibu cuma bilang, perempuan yang berstatus seperti kamu akan selalu diperhatikan orang. Diantar mobil semewah itu, gimana kalau ada yang mengira kamu sedang menggoda seorang pejabat di p
Jovan terdiam mendengar ucapan Maura.Meski sedikit merasa tidak enak saat melihat ekspresi Jovan keras kepala seolah sirna, Maura berbalik cepat dan melangkah lebar dengan perasaan gelisah.Jovan tetap tidak ingin ketinggalan dan segera berlari keluar untuk menyusul Maura.“Apa maksud ucapan Ibu?” Jovan bertanya dan kembali berusaha menyejajarkan langkah cepat Maura di sepanjang lobi.“Maksud saya, sebaiknya kita bersikap profesional saja, Jovan. Saya nggak mau orang-orang berpikiran yang aneh tentang kamu.”Bukannya Maura tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih, tapi semua orang memang sudah memberi cap jelek kepadanya. Kalau ada seorang pria muda yang tampan dan berpenampilan menarik seperti Jovan tiba-tiba ikut campur dengan urusannya, Maura merasa bahwa Jovan juga akan terkena imbasnya nanti.“Kamu masih muda, belum tahu bagaimana lingkungan kerja sebenarnya. Kamu nggak bisa selalu memprotes hanya karena orang membicarakanmu. Jadi sebaiknya lain kali jangan ikut campur urus












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.