Nyaman di Dekapan Berondong Muda

Nyaman di Dekapan Berondong Muda

last updateLast Updated : 2026-09-10
By:  PausUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
24views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sebagai janda yang ditinggal meninggal suaminya, Maura seolah merasa dirinya tidak boleh bahagia. Menjadi tulang punggung keluarga, mengurus keluarga mendiang suaminya, menghadapi cemoohon orang-orang yang terus membicarakannya. Lalu, salah satu penghuni di kos-kosannya berhasil membuat Maura mendambakan sesuatu yang telah lama hilang. Jovan itu lebih muda darinya, tapi sentuhan dan tindakannya tidak disangka lebih memabukkan daripada pria dewasa mana pun yang pernah Maura kenal.

View More

Chapter 1

1 - Dekapan Lengan Asing

“Janda zaman sekarang itu ngeri ya? Mereka kayak nggak sadar diri kalau mereka pernah menikah.”

Di depan gang area suburban itu, sekumpulan ibu-ibu sedang berkumpul, dan salah satunya memulai gosip. Membicarakan orang lain bagi mereka adalah kegiatan rutin yang normal.

“Oh, maksudnya Maura, ya? Yang punya kos-kosan itu.” Satu tetangga lainnya ikut berceletuk.

“Ya, iya siapa lagi?” Suara itu terdengar semakin mengejek. “Sama mendiang suaminya dulu, dia sudah nikah lima tahun, tapi nggak punya anak. Sudah pasti dia perempuan mandul. Anehnya, sekarang setelah jadi janda, dia malah makin sukses dan tetap cantik.”

“Ah, itu sudah biasa.” Ibu-ibu lainnya turut menimpali juga. “Dimana-mana istri yang ditinggal mati suaminya pasti berduka, mana sempat memperhatikan penampilan. Memang dasarnya dia janda yang haus belaian.”

“Terus, dengar-dengar dia juga sengaja meneruskan kos-kosan dari usaha suaminya cuma karena ingin dikelilingi laki-laki muda saja.”

“Jangan-jangan, mantan suaminya juga meninggal karena ulahnya? Makanya dia bisa menguasai aset-aset peninggalannya?”

Maura yang sedang berjalan pulang baru saja melewati mereka. Mendengar bisik-bisik tetangga di kompleks tempat tinggalnya itu, ia menghentikan langkahnya sejenak. Ibu-ibu yang sedang membicarakannya langsung terdiam saat menyadari kehadiran Maura.

Mereka saling senggol satu sama lain. Tapi mereka tidak sedikit pun memperlihatkan rasa bersalah, hanya terlihat canggung karena orang yang mereka bicarakan malah muncul.

Maura hanya tersenyum kepada ibu-ibu itu singkat, sebelum melanjutkan langkahnya. Dia sudah sering mendengar gosip berisi cemoohan itu, sampai-sampai dia tidak merasa terganggu.

Lagipula, jika Maura menanggapinya sekalipun, itu tidak ada gunanya.

“Coba lihat gayanya barusan. Sombong banget, ‘kan?” Celetukan ibu-ibu itu masih terdengar di belakang bahkan setelah Maura mengabaikannya.

Maura adalah seorang janda berusia 36 tahun. Wanita karir yang bekerja sebagai staf ahli senior di sebuah perusahaan ternama.

Setelah suaminya meninggal lima tahun lalu, Maura tetap bekerja di perusahaan, sekaligus memilih mengurus kos-kosan yang sejak awal menikah telah dibangunnya bersama mantan suaminya.

Meski sekarang ia berstatus janda cerai mati, Maura tetap anak pertama di keluarganya, sehingga ia berperan sebagai tulang punggung yang membiayai keluarganya. Ia juga masih berhubungan dengan keluarga mendiang suami dan membantu biaya hidup mereka.

Orang-orang sering menggosipkannya sebagai janda muda yang kerap menggoda penghuni kosnya sendiri. Katanya, ia sengaja mengundang para mahasiswa dan para pegawai muda untuk tinggal di kosnya itu demi mencari perhatian.

Maura hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya.

Para tetangga itu menganggap seolah Maura sengaja menggunakan status jandanya untuk memuaskan dirinya sendiri. Padahal, siapa juga yang mau menjadi seorang janda?

Tiba di bangunan kos, Maura membuka gerbang. Tidak hanya berperan sebagai pemiliknya, Maura juga tinggal di sini, lebih tepatnya di unit yang berada di lantai paling atas.

Pekerjaan yang menumpuk di kantor seharian membuat tubuhnya penuh rasa lelah. Namun, ketika ingin menaiki tangga, salah satu penghuni kos mendekat.

“Bu Maura.” Perempuan muda itu memanggil, ia menghuni kamar di lantai dasar.

Maura memutar tubuhnya. “Iya?”

Perempuan muda itu kemudian menunjuk ke ujung lorong kos-kosan yang gelap. “Lampu di pintu depan mati lagi, Bu. Saya matikan karena kedip-kedip terus, tiap lewat nggak nyaman deh.”

Maura menunjukkan senyumnya. “Ya udah, nanti biar saya panggil tukang, ya.”

Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya dan langsung pamit untuk pergi.

Sementara Maura mengembuskan napas pelan. Tubuhnya remuk ingin meminta istirahat, tapi ia urung melangkahkan kaki naik ke tempat tinggalnya.

Bagaimanapun, ia adalah pemilik kos ini dan bertanggung jawab menyediakan fasilitas yang baik untuk seluruh penghuni yang sudah membayar biaya sewa.

Kos-kosan itu terdiri dari tiga lantai. Di lantai tiga hanya ada unit pribadi milik Maura. Sedangkan lantai pertama dan kedua diisi dengan kamar-kamar dan fasilitas bersama untuk penghuni kos.

Lampu yang disebutkan oleh salah satu penyewa tadi adalah lampu yang sudah seringkali diperbaiki. Biasanya, setiap ada keperluan reparasi seperti itu, Maura akan memanggil layanan servis yang akan mengirimkan tukang untuk membetulkannya.

Namun, setiap kali dirinya memanggil tukang, Maura menyadari bahwa para tukang itu tidak memperbaiki sampai tuntas.

Lampu-lampu hanya kembali mati, pipa air hanya kembali bocor. Seolah mereka sengaja membetulkan sebagian saja, hingga perbaikannya tidak bertahan lama, lalu kembali rusak. Karena itu, Maura sudah beberapa kali keluar biaya untuk bolak-balik membayar tukang.

Tidak mau menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak sepenuhnya dibenarkan, kali ini Maura memutuskan untuk memperbaikinya sendiri.

Maura mengambil lampu yang baru kemudian pergi ke belakang untuk menyeret tangga lipat. Dia menggeret tangga itu seorang diri, menegakkannya di bawah lampu yang mati. Lampu itu yang menempel di langit-langit yang cukup tinggi.

Setelah memastikan posisi tangganya tepat, Maura mulai menaiki tangga satu per satu, berpegangan dengan satu tangan. Ia berhasil melepaskan lampu yang rusak. Tapi belum sempat menggantinya dengan lampu yang baru, Maura kehilangan keseimbangan.

Pijakannya tidak sempurna, tubuhnya oleng, dan Maura tidak berhasil meraih pegangan. Ia jatuh ke bawah begitu saja.

Maura memekik. Ia berpikir tubuhnya akan segera membentur lantai yang begitu dingin dan keras.

Tapi bukannya terjatuh ke lantai, dua lengan kokoh menangkapnya dan mendekapnya erat.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status