Share

Pecundang Tangguh Menuntut Balas
Pecundang Tangguh Menuntut Balas
Author: Papi Badar

Kebakaran

“Hey, Ton! Sini! Ikut aku ke belakang!”

Toni yang tengah mengepel lantai menoleh ke arah sumber suara. Ia mengangguk, menyandarkan gagang pel pada dinding yang paling dekat, untuk kemudian mengikuti instruksi dengan berjalan ke belakang gedung lapas.

Sebagai napi yang tak memiliki kuasa apapun di hadapan petugas, Toni Haryadi hanya bisa mengikuti perintah Kevin Tan—sipir yang baru dua bulan bertugas di rumah tahanan yang sudah dua tahun terakhir ini dia tinggali.

“Gue lebih nyaman ngobrol di sini,” ucap Kevin setelah mereka berdua berada di belakang bangunan lapas.

“Ok... ada apa?” tanya Toni dingin.

“Gue denger Lu transaksi kemarin?” Kevin malah balik bertanya.

“Apa buktinya?” timpal Toni dingin.

“Heh! Lu mau membusuk di sini! Sial!” bentak Kevin sambil mencengkeram kerah baju tahanan Toni. Dia kesal mendapati respon Toni yang seolah tak peduli dirinya sedang dalam masalah.

Berusaha tenang, dia melepaskan genggamannya hingga Toni hampir jatuh dibuatnya.

“Ton! Lu harus bersyukur dulu pengadilan nggak ngasih Lu vonis mati!”

“Harusnya justru aku tak di sini!”

“Halah... sudah, nyatanya Lu sekarang di sini! Curhat nggak ada guna sekarang!”

Toni hanya bisa memalingkan muka kesal. Dia marah dengan segala situasi yang menimpanya, meski di sisi lain dia pun tak punya kuasa untuk menolaknya.

“Pokoknya, jangan kasar kayak gitulah mainnya! Berlaga alim dikit kenapa, sih! Biar Lu bisa dapat potongan masa tahanan.”

“Di sini semua juga jualan, Koh! Lu bisa cek yang lain. Kenapa harus fokus ngurusin Gua, sih? Apa ada yang lapor sama, Lu?”

“Menurut, Lu?

“Siapa orangnya, Koh? Biar kuhancurkan batang hidungnya?” ujar Toni geram sambil mengepalkan tangan kanannya.

Kevin hanya melongo dibuatnya. “Sudahlah! Santai, Bro!” timpalnya.

Meskipun di depannya Toni selalu bersikap tenang dan penurut, Kevin tahu, dia siap berhadapan dengan siapapun. Mantan bos muda di perusahaan jasa keamanan ini adalah seorang yang mahir bela diri. Dari karate, silat, sampai kick boxer, pernah dipelajarinya. Hanya saja, jeruji yang kini mengurungnya perlahan membuat semangatnya pada bela diri hilang dan tak lagi rajin melatih fisiknya. Badannya yang mulai berlemak kini hanya difokuskan untuk berjualan narkoba di area lapas demi memastikan kehidupan ibu dan adiknya masih bisa terus berjalan di luar sana.

“Hey, denger! Lu masih muda. Masih layak punya kesempatan lebih! Nggak mau apa Lu leluasa ngurus adik, Lu?” Kevin kembali mencoba memperbaiki mud temannya.

“Ya, Gua jualan juga buat dia dan ibu!”

“Nah kalau gitu, Lu jangan nantangin buat kepergok dan dapet bonus tambahan kurungan, dong! Paham kan Lu, Ton?”

“Ok... Gua lebih hati-hati, Koh Kevin!” ucap Toni ogah berdebat.

Berbeda dengan penghuni-penghuni lain, hubungan dua orang beda latar belakang ini memang terlihat mencolok. Keduanya lebih sering terlihat berbincang. Terlebih, dengan ciri fisik yang sama, tentu saja mereka menjadi semakin kentara di antara kerumunan orang di komplek tahanan ini. Keduanya memiliki mata sipit meski warna kulit Toni agak gelap dari umumnya kaum bermata sipit.

“Pokoknya, Gua nggk mau denger lagi hal-hal aneh soal, Lu! Berkas Lu lagi dikirim ke Departemen Kehakiman untuk pertimbangan pengurangan hukuman.”

“Ok, Koh Kevin! Boleh saya balik ke dalam?”

“Ngapain?”

“Bentar lagi jam makan, pel lantai ruang makan harus segera aku bereskan.”

“Halah, bukan aula bank ini! Kotor dikit nggak apa, kali? Enakan di sini dulu, Ton! Lebih deket sama aroma kebebasan.”

“Hah? Ada-ada saja Lu, Koh?”

“Lah iya, kan? Tinggal lewati dinding itu kita sudah bisa menghirup segarnya udara bebas,” cetus Toni sambil menunjuk ke dinding belakang.

“Halah.... gimana manjatnya? Tinggi gitu? Lagian, baru coba naik aja kita pasti sudah dihujani pelor teman-temanmu di atas, Koh!”

“Hahaha... emang segitu kokohnya tembok ini sampai nggak bisa roboh cukup dengan hentakan?”

“Hentakan apa? Hentakan meriam?”

“Hentakan kaki seorang yang merindukan kebebasan!” ucap Kevin serius.

“Haha... puitis banget Lu, Koh! Udah ah, Gue ke dalam dulu!”

Belum juga Toni melangkahkan kakinya, tiba-tiba... “Duaaar!”

“Sial, apa-apaan ini!” umpat Kevin kaget.

Asap hitam terlihat mengepul dari dalam dan mulai keluar melalui lubang-lubang ventilasi gedung, tak lama api pun mulai terlihat muncul dan membesar. Tak dapat ditebak apa yang sedang terjadi di dalam gedung dari tempat sekarang Toni dan Kevin berdiri. Mereka hanya mematung bingung.

“Tolong! Tolong! Kebakaran!” teriak beberapa orang yang mulai berlarian mencari tempat yang aman.

Kobaran api sebenarnya belum begitu besar. Api masih terkonsentrasi di ruang dapur dan tempat makan para narapidana. Tapi mereka bingung karena munculnya api telah membuat sistem keamanan otomatis menutup akses-akses keluar. Hal itu sebagai antisipasi kaburnya para tahanan untuk kemudian diatur akses aman mana yang dapat dibuka dengan dua protokol utama keamanan. Keselamatan dan tidak kaburnya para tahanan. Para narapidana dan sebagian sipir pun terjebak di dalam.

“Lu harus buka salah satu gerbang, Koh!” ucap Toni panik.

“Iya, Gue akan ke pusat kontrol keamanan. Lu jangan kemana-mana apalagi mencoba menerobos menyelamatkan teman-temanmu di dalam. Jikapun bahaya, lebih baik cari jalan keluar dari sini. Belakang gedung!”

“Baik, Koh!” Dalam kondisi kalut, Toni hanya mengiyakan ucapan Kevin meski dia pun bingung apa maksudnya dengan cari jalan keluar. “Kabur?”

Kevin segera berlari menuju ruangan pusat kontrol keamanan gedung di pojok kanan depan area lapas.

Toni yang ditinggal sendiri hanya bisa berdiri tanpa tahu apa yang bisa dia perbuat. Meski dia sangat beruntung karena sudah dulu ada di luar gedung, dirinya tak tega membiarkan banyak temannya yang kini masih terjebak di dalam.

“Sial! Kenapa lama amat Si Kevin bukain pintunya?”

Bagaimanapun, sebelum Kevin membuka akses keluar, dia harus memastikan tak ada narapida yang kabur akibat pembukaan akses tersebut. Kordinasi pengamanan harus dilakukan dengan matang. Prioritas penyelamatan korban, belum dapat dia gunakan. Kendati terlihat caos, belum ada info dari teman-temannya di dalam soal adanya korban jatuh. Dia masih harus menunggu kesiapan tim pengamanan.

Tak bisa tinggal diam, Toni mulai menepikan diri di sisi gedung, dia mencoba menelusuri sisi belakang gedung barangkali ada jalan untuk mengeluarkan teman-temannya yang terjebak di dalam. “Jimmy! Roy! Hari! Kalian dimana?” teriaknya berkali-kali.

Sia-sia, tak terdengar jawaban dari dalam lapas. Yang ada, “Duaaar!!!”

Entah benda apa yang terlempar dari menara pemantau, yang pasti sebuah lubang di benteng belakang muncul akibat ledakan itu. Sekiranya Toni masih berdiri mematung di tempat tadi dia dan Kevin berbincang, niscaya tubuhnya tercincang akibat ledakan itu.

“Sial! Benda apa itu?” umpat Toni kaget bukan main. Dirinya berusaha mengatur nafas menenangkan diri atas peristiwa yang hampir mencelakainya. Namun, ada kenyataan lain yang akhirnya menuntut Toni untuk sepenuhnya sadar dan segera mengambil keputusan.

Kedua matanya kini terfokus pada lubang besar di benteng belakang. Pikiran untuk melarikan diri pun terlintas di otaknya, “Ah, inikah saatnya?”

Toni sepenuhnya tahu konsekuensi apa yang harus didapat oleh seorang buronan jika kembali tertangkap. Hal yang jauh, jauh, lebih buruk dari hukuman sebelumnya. Namun, tidakkah menurutnya ini kesempatan terbaik untuknya mencari fakta dari kasus pembunuhan Jerry Wijaya yang telah dituduhkan kepadanya? Juga soal misteri kematian ayahnya. Dia harus mengusutnya hingga jelas!

“Maaf Kevin, aku harus pergi!” gumannya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status