Mag-log in"Gak mungkin, semua ini gak mungkin. Aku gak mungkin mandul!" Bella yang keluar dari ruangan dokter bersama Haris, menangis histeris dengan tangan menggenggam erat surat hasil pemeriksaan. Selama ini, wanita itu selalu menghina Haris dan mengatakan jika suaminya mandul. Namun, hasil pemeriksaan dokter justru menamparnya. Ternyata bukan Haris yang mandul, tetapi kesehatan dan kesuburannya yang bermasalah. "Aku gak mungkin mandul...." Bella menyandarkan punggungnya di tembok koridor rumah sakit. Ia syok, tak mau menerima kenyataan yang ada di depan mata. Sedangkan Haris yang berdiri di hadapan Bella, terlihat begitu puas dan lega. Ia merasa senang melihat keadaan istrinya saat ini. Selama ini, wanita itu selalu berbicara kasar dan bersikap seenaknya. Dan kini, ia mendapatkan karma dari Tuhan. "Hasil pemeriksaan ini pasti salah, aku gak mungkin mandul, Mas. Gak mungkin!" kata Bella. Berbicara pada Haris yang tersenyum tipis di hadapannya. "Salah?" tanya Haris. "Hitung, berapa ka
"Kamu jangan lupa, Rey! Ryuga bertahan di rumah ini karena Adam kehilangan ingatan masa lalunya. Dan, semua itu terjadi atas campur tangan Papa! Jadi, jangan menuntut apapun lagi, karena sampai kapan pun Ryuga gak akan pernah mendapatkan status yang sah!" Tubuh Liona menegang. Ia yang tak sengaja menguping pembicaraan serius antara Tuan Jayden dan Tuan Reynald itu pun terkejut. Bahkan, wajahnya yang putih kini berubah menjadi pucat. Perkataan yang di dengarnya, membuatnya syok. Ia tak menyangka jika Ryuga bukanlah anak angkat keluarga Prasetya. "Ja-ja-jadi, Bang Ryuga beneran adiknya Pak Kai, bukan adik angkat," gumam Liona sembari melangkah mundur dari posisinya berada.Prang! Tak sengaja, wanita yang tengah hamil muda itu menyenggol sebuah guci yang berada di atas meja di dekat pintu. Hingga membuat guci itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping."Siapa?" Mendengar suara teriakan Tuan Reynald, Liona menutup rapat mulutnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, bahkan r
Seharian, Kaisar yang kesal pada Liona yang terkesan membela Ryuga, sama sekali tak menegur istrinya itu. Bahkan, sikapnya begitu dingin dan datar. "Sayang...." Liona yang duduk di atas tempat tidur, menyapa Kaisar yang baru saja memasuki kamar. Namun, Kaisar yang disapa hanya diam saja. Bahkan tak melirik apalagi menatap pada Liona yang sedang berusaha meluluhkannya. "Sayang, maaf," ucap Liona dengan pelan. Saking pelannya, suaranya lebih layak disebut sebagai gumaman. Melihat perubahan sikap Kaisar yang dingin dan datar, bahkan tak mau berbicara dengannya, Liona merasa sedih. Untuk pertama kalinya, ia melihat sifat keras hati sang suami. "Sayang, maaf... kalau gak mau maafin, aku pulang aja ke rumah Papa!"Tak mendapatkan respon dari Kaisar sejak tadi, Liona turun dari atas tempat tidur dan berteriak pada suaminya yang sedang membuka kemejanya di depan cermin. Diteriaki oleh istrinya, Kaisar menoleh, matanya melotot tajam pada Liona yang berdiri dengan kedua tangan meremas pi
"Nanti kalau Kaisar marah, gak usah di dengerin. Dia emang galak dan mudah emosi." Ryuga yang menggendong Liona di punggungnya, berbicara dengan nada bicaranya yang terdengar pelan dan santai. Ia meminta Liona untuk tidak mengambil hati jika nanti dimarahi oleh Kaisar. Bukan tanpa alasan Ryuga berbicara seperti itu. Ia yakin sekali jika setelah ini Kaisar pasti akan memarahinya dan Liona yang pergi dari rumah tanpa izin lebih dulu. "Kayaknya Bang Ryu sering dimarahin ya sama Pak Kai, jadi udah kebal," kata Liona. Menimpali perkataan Ryuga tak kalah santai. "Hmm... sebenernya bukan kebal, Na. Tapi lebih ke sadar dan tahu diri," kata Ryuga dengan bibir tersenyum kecil. Mendengar perkataan Ryuga yang bernada sedih, Liona diam. Ia yang berpegangan pada pundak adik dari suaminya itu pun tidak berbicara apapun lagi. Beberapa saat kemudian, langkah Ryuga yang menggendong Liona, tiba di depan pintu gerbang kediaman keluarga Prasetya. "Udah sampe, kamu bo—" "Bagus, bagus... baru kutin
"Liona!" Kaisar yang kembali dari rumah sakit, melangkah memasuki kamar dan mencari keberadaan istrinya. "Sayang!" panggil Kaisar lagi. Tiba di kamar, Kaisar mengerutkan keningnya, membuat kedua alisnya yang tebal bertautan. Di dalam kamar itu, ia tak mendapati keberadaan Liona. Yang ada di atas ranjang, hanya ponsel dan laptop istrinya saja."Kemana perginya bocah itu?" gumam Kaisar. Ia mengedarkan pandangannya sembari melangkah menuju kamar mandi, namun tetap tak menemukan keberadaan istrinya. "Baby Liona!" Tak mendapati keberadaan istrinya, Kaisar pun keluar dari kamar itu. Ia menuruni undakan tangga dan mencari keberadaan Liona. "Lihat istriku?" Tiba di lantai dasar, Kaisar menanyakan keberadaan istrinya pada salah satu pelayan. Ditanya, pelayan itu menggelengkan kepalanya. Tak tahu, di mana istri majikannya berada. "Tidak tahu, Tuan. Dari tadi saya di halaman belakang, bersihin tanaman!" jawab pelayan itu dengan kepala tertunduk. Mendengar jawaban pelayan itu, Kaisar m
Seminggu kemudian.... Kediaman keluarga Prasetya, di sanalah kini Liona berada. Setelah menikah beberapa hari yang lalu, ia langsung diboyong pulang ke kediaman utama keluarga Prasetya oleh Kaisar. Sengaja Kaisar lakukan semua itu. Ia ingin menjauhkan istrinya yang sedang mengandung dari Bella yang sepertinya mengalami gangguan jiwa. Pria itu tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istri dan anaknya. "Sayang, hari ini aku mau menemani kakek cek up ke rumah sakit. Kamu mau ikut?" Kaisar yang merapikan kemejanya di depan cermin, berbicara pada Liona yang duduk di atas ranjang dengan laptop menyala di hadapannya. Ditanya, Liona yang sedang menonton drama China favoritnya itu merespon dengan gelengan kepala. "Yakin gak mau ikut?" tanya Kaisar memastikan. Kepala Liona mengangguk. "Hmm... di rumah sakit bau obat, perutnya mual," katanya. Mendengar perkataan istrinya, Kaisar angguk-angguk kepala. Akhir-akhir ini, hidung Liona memang semakin sensitif dengan aroma dan bau
Tuk, tuk, tuk! Suara ketukan pintu terdengar membuat Kaisar yang makan malam di dapur apartemennya itu, mau tak mau beranjak dan melihat siapa yang datang malam-malam. Dengan langkah santai, pria itu meninggalkan ruang makan dan pergi menuju pintu. Tuk, tuk, tuk! Ketukan pintu kembali terdengar
Di kontrakan Ceci, di sanalah kini Liona berada. Seperti perkataan Kaisar semalam jika ia tidak boleh tinggal di apartemen, jadi ia yang pergi dari rumah, tinggal untuk sementara waktu di kontrakan sahabatnya. Tekadnya sudah bulat, tak akan pulang jika tantenya masih berada di rumahnya. Namun, di
"Pak Kai!" Melihat Kaisar keluar dari kelas tempatnya mengajar dengan begitu tergesa-gesa, Liona memanggilnya dan hendak mengejar langkahnya. Namun, Kaisar yang sedang terburu-buru, tak mendengarkan panggilan Liona. Bahkan, pria itu semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan dosen berada. Lio
"Habis digigit vampire mana tuh? Leher sampe merah-merah kayak gitu!" Kaisar yang baru saja duduk di kursi samping Aryo, seketika menyentuh lehernya. Sedangkan kedua matanya melotot.Dengan cepat ia menyambar ponsel Aryo dan melihat lehernya melalui kamera depan ponsel temannya itu. "Ah, astaga,







