Beranda / Romansa / Pelan-Pelan, Pak Dosen! / Bab 197. Bukankah itu yang kamu inginkan

Share

Bab 197. Bukankah itu yang kamu inginkan

Penulis: Anggun_sari
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-26 10:10:53

“Biarkan aku menemanimu.”

Zoe terkesiap, tangannya mengambil ponsel yang ia simpan di saku celananya. Panggilan masuk dari Xavier membuatnya menjauh beberapa langkah dari Anthony.

“Iya,” sahut Zoe dari seberang telepon.

“Aku ingin ke kontrakan, tapi aku membatalkannya. Sebentar lagi aku akan ke rumah sakit,” kata Zoe menjelaskan.

Zoe melirik Anthony yang masih berdiri di tempatnya. Matanya mendadak membulat saat Xavier mengetahui bahwa A
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bqb 209. Aku akan menikah

    “Kamu yakin tidak ingin aku antarkan?” Xavier masih betah berbaring di atas kasur. Semalam mereka melakukan olahraga malam hingga pagi hampir menjelang. “Tidak. Aku ingin berbicara berdua dengan adikku. Tidak apa-apa kan?” balas Zoe. ia sedang menyisir rambutnya. Pagi ini rencananya dia akan pergi berkunjung ke Arabella dan mengatakan pada adiknya bahwa dia akan segera menikah dengan Xavier.“Jadi kamu akan meninggalkanku seharian hari ini?” keluh Xavier.Zoe tersenyum. Ia berjalan mendekat dan duduk di ujung kasur. “Bagaimana kalau kamu pergi keluar dengan Reyhan?”“Dia sedang sibuk,” jawab Xavier.Zoe kembali tersenyum manis. Ia mengusap lengan Xavier dan mengecup singkat bibir pria itu. “Kalau begitu aku akan pulang cepat nanti,” kata Zoe berjanji.Xavier mengangguk. Ia mengacak gemas pucuk kepala Zoe. “Pergilah, hati-hati di jalan. Aku menunggumu di rumah.”“Oh ya, apa hari ini aku juga boleh mengajak jalan-jalan Arabella?” tanya Zoe ketika hendak pergi.Xavier menganggukkan kep

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 207. Kabar mengejutkan

    Zoe mengernyitkan keningnya saat menuruni anak tangga. Bunyi suara panci berdenting di dapur membuatnya penasaran. Seingatnya, Xavier mengatakan jika dia memberikan jatah libur untuk LIliana.“Anthony…?” Anthony tersenyum lebar. Tangan kanannya masih memegang spatula saat membalas sapaan Zoe. “Good morning.”“Apa kakakku masih tidur, cepat bangunkan dia dan kita sarapan bersama,” ucap Anthony. Ia memindahkan masakan terakhirnya ke dalam piring sebelum menatanya di meja makan.“Kamu…bisa memasak?” tanya Zoe hampir tak percaya. Ia rasa semua keluarga Xavier bisa melakukan pekerjaan dapur.“Tentu saja. Apa kamu tidak bisa memasak?” sahut Anthony. “Meski tinggal bersama mamaku, aku masih sering memasak,” imbuhnya.Xavier tersenyum miring saat mendengar ucapan Anthony. Ia berdiri di sisi Zoe, memeluk posesif pinggang wanita itu. “Kenapa tidak membangunkanku?” protes Xavier.Zoe tersenyum manis. Ia menghadap Xavier sepenuhnya. “Kamu kelihatan lelah, jadi aku membiarkanmu tidur lebih lama l

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 206. Gagal bercinta

    “Membuat anak. Kapan kita bisa melakukannya?”“Me–membuat anak?” gagap Zoe. “Iya, aku ingin segera menimang anak Angel. Aku ingin melihatmu hamil. Kata orang bentuk tubuh ibu hamil sangat seksi,” ucap Xavier.Zoe tertawa kaku. Ia tak bisa berkata apa-apa. Entah kemasukan apa Xavier hingga dalam waktu singkat pria itu seolah berubah seratus delapan puluh derajat.“Kenapa, apa kamu tidak ingin memiliki anak dariku?” tanya Xavier.“Tidak bukan begitu. Aku hanya merasa ini terlalu cepat. Lagipula kita belum menikah Eros. memiliki anak sebelum kita resmi menikah akan terlihat buruk,” jawab Zoe.Xavier membalikkan badan Zoe. Ia menatap kedua manik mata Zoe dalam dan tak berkedip. “Tapi aku sama sekali tidak peduli ucapan orang. Yang menjalani rumah tangga ini adalah kita, bukan mereka.”Zoe menggigit bibirnya. Ia akan selalu kalah jika berdebat dengan Xavier. Pria itu selalu memiliki cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.“Jangan menggodaku Angel,”kata Xavier, tangannya membingkai

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 205. Ayo kita membuat anak

    “Biar aku bantu,” kata Zoe.Sore ini selepas pulang mengajar, Xavier sengaja memasak untuk Zoe. Liliana, ia bebas tugaskan.“Duduk saja, hari ini biar aku yang memasak untukmu,” jawab Xavier. Xavier membawa Zoe kembali duduk di tempatnya.Zoe hanya tersenyum. Ia menopang dagu, melihat Xavier yang tengah sibuk memasak untuk makan malam mereka. “Sudah menemukan solusi untuk persiapan pernikahan kita?” tanya Xavier di sela-sela kegiatan memasaknya.“Ah itu….” Zoe menghentikan kalimatnya, telepon masuk dari ayahnya membuat Zoe menghela napas panjang dan berat.“Berikan aku uang!”Zoe memutar bola matanya. Baru diangkat, ia sudah mendapat kalimat sambutan yang paling dibencinya. Raut wajahnya yang berubah masam agaknya menarik perhatian Xavier. Ia menggelengkan kepala saat Xavier bertanya siapa yang menghubunginya. “Aku tidak punya uang!” balas Zoe. nadanya tak kalah tingginya dengan Baskoro.Baskoro mendengus kesal. “Tidak punya?! Bukankah Ayah sudah mengatakan bahwa Ayah membutuhkan u

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 204. Bimbang

    “Angel, maukah kamu menikah denganku?” Zoe terdiam. Ia tak mampu berkata apa-apa, otaknya masih mencoba mencerna apa yang terjadi padanya saat ini. Matanya menatap lurus Xavier yang tengah bersimpuh di depannya. Cincin dengan permata yang terlihat mengkilat dipadukan dengan apa yang dilakukan Xavier membuat air matanya ingin terjun bebas. Ia masih mengingat beberapa menit yang lalu Xavier mengatakan tidak ingin atau belum ingin menikahinya, tapi sekarang…pria itu justru melamarnya.“Eros, ini….”“Iya Angel, aku sedang melamarmu. Jadi maukah kamu menikah denganku?” tanya Xavier kembali.Zoe menganggukkan kepalanya. Air mata yang tadi ditahannya kini terjun bebas membasahi pipi mulusnya.“Hay, kenapa menangis. Bukankah ini sesuatu yang membahagiakan?” kata Xavier mengusap air mata yang membasahi pipi Zoe.Zoe menganggukkan kepalanya. Ia masih mencoba untuk menerima kenyataan ini. Baginya ini seperti mimpi. Dilamar dan dinikahi Xavier, sama sekali tidak ada dipikirannya. Pria itu tidak

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 203. Maukah kamu menikah denganku?

    “Tuan Xavier menunggu anda di atas, Nona.”Zoe menganggukkan kepalanya, ia naik ke atas sesuai instruksi pelayan restoran. Di atas suasananya terlihat lebih intim. Lamu termamam dan alunan musik merdu menyambut kedatangannya.Zoe tersenyum manis kala Xavier berdiri dari duduknya dan berjalan menghampirinya. Malam ini pria itu terlihat seperti biasanya tampan dan mempesona.“Kamu berdandan?” tanya Xavier lembut.Zoe menganggukkan kepalanya. “Hanya untuk berjaga-jaga. Aku pikir kamu akan mengajakku ke suatu pertemuan,” jawab Zoe.Xavier mengulum senyumnya. Ia menggandeng tangan Zoe, mengajak wanita itu untuk duduk di kursi yang sudah dipesannya.“Kamu membooking tempat ini?” tanya Zoe penasaran. Sejak ia masuk hingga sekarang tidak ada satu pun orang yang datang ke tempat ini.“Hem,” jawab Xavier.“Ck…apa uangmu sebanyak itu hingga kamu menghambur-hamurkannya,” komentar Zoe. “jika uangmu memang sebanyak itu maka berikan saja padaku. Aku akan menggunakannya dengan baik,” komentar Zoe.Xa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status