FAZER LOGIN“Aku hanya akan tidur dengan orang yang bisa membayarku dengan harga tinggi. ” Zoe menaruh tawaran gila. Nominal fantastis dengan hadiah berupa satu malam bersama dirinya. Tawaran yang terlihat tidak mungkin itu, menjadi kenyataan. Viewer setianya memberikan donasi. Sejak malam itu, hidup Zoe tak pernah sama lagi. Ia harus menghadapi kenyataan pahit: rahasianya terbongkar oleh orang yang paling tidak boleh tahu–Xavier, dosen di kampusnya. Kini Zoe terjebak di persimpangan: antara ketakutan karena rahasianya di genggam Xavier, atau menyerah pada hasrat terlarang yang mulai membakar setiap kali mereka bersama
Ver maisSuara gedoran pintu yang terdengar begitu nyaring, membuat Zoe berlari ke arah pintu. Zoe mendengus kesal. Matanya menyipit, jengah melihat keadaan yang sama. Baskoro–ayahnya datang dalam keadaan mabuk!
“Berikan Ayah, uang!” Zoe tersenyum miring. Uang? Apakah ayahnya kira dia ini bank yang bisa dimintai uang setiap saat. Untuk kebutuhan sehari-hari saja dia harus berhemat, tapi ayahnya justru datang dengan keadaan memuakkan–mabuk dan kalah judi. “Aku tidak punya uang. Kemarin aku harus membayar hutang ayah! Seorang rentenir datang menagih hutang kemari!” jawab Zoe, muak. “Akhh….” Zoe meringis kesakitan. Ayahnya tanpa rasa kasihan menarik rambutnya kuat-kuat. “Itu sudah menjadi tugasmu! Kamu adalah anakku, jadi tidak salah kalau aku mengandalkanmu!” balas Baskoro. Tangan Zoe terkepal. Matanya memerah menahan rasa kesal bercampur benci. Ucapan macam apa itu. Bagaimana bisa seorang orang tua bisa mengatakan kata-kata menyakitkan dan tidak berperasaan seperti itu. “Cepat berikan Ayah uang! Teman-teman Ayah sudah menunggu Ayah!” sentak Baskoro. Ia melepaskan jambakannya pada rambut Zoe dengan keras, membuat gadis itu terhuyung dan hampir jatuh menyentuh ubin. “Jangan menatap Ayah seperti itu!” desis Baskoro saat melihat kilatan kebencian dari mata putrinya. “Kamu tidak pantas memberikan tatapan kebencian pada orang yang sudah membesarkanmu!” imbuh Baskoro. Zoe hanya tersenyum miring. Membesarkan? Membesarkan yang bagaimana yang dimaksud oleh ayahnya. Sejak sang ibu pergi meninggalkan mereka entah kemana karena muak dengan kehidupan mengerikan ini, hidupnya bagai di neraka. Setiap malam untuknya adalah sebuah ketakutan. Ayahnya tak jarang mengajak para temannya untuk datang ke rumah mereka. Bermain kartu dan bersenang-senang, hingga satu malam mencekam, membuat Zoe memutuskan untuk pergi dari rumah dan tinggal sendiri. Teman ayahnya hampir melakukan tindakan tak senonoh saat itu. “Cepat! Mana uangnya?!” Tangan Baskoro menengadah, menunggu uang yang dimintanya. “Tidak ada!” jawab Zoe bersikukuh. Uang di dompetnya hanya tinggal lima ratus ribu, dan uang itu akan ia gunakan untuk membayar buku yang dibelinya beberapa hari yang lalu serta membayar tagihan listrik rumah tempat tinggal ayahnya. Keputusannya untuk tinggal sendiri adalah ingin mendapatkan ketenangan meski hanya sedikit. Namun, nyatanya itu tak pernah ia dapatkan. Selain membiayai kuliahnya sendiri, ia juga harus memenuhi kebutuhan ayah dan juga adiknya, termasuk membayar hutang ayah dan biaya sekolah sang adik. Ayahnya juga kerap kali mendatanginya ketika mabuk dan membutuhkan uang. Ia sudah pernah pindah tempat dan tidak menghubungi keluarganya. Bermaksud melepaskan kontak, tapi ayahnya selalu bisa menemukannya dimanapun ia berada. “Minggir!” sentak Baskoro. Seolah tak mau mendengar ucapan Zoe, Baskoro masuk begitu saja ke dalam kontrakan putrinya. Dengan tubuh terhuyung, ia masuk ke dalam kamar sang putri. Kamar dengan lampu kerlap kerlip bernuansa pastel membuat kesan hangat di sana. Sebuah seringai menghiasi wajahnya ketika ia menemukan dompet berwarna krem di atas meja. Dengan tanpa izin, ia membuka dompet itu. Senyum di bibirnya terbit saat mendapati lima lembar uang warna merah ada di dalamnya. Malam ini ia akan pesta besar. Zoe–putrinya selalu bisa ia andalkan. “Tidak, jangan ambil itu!” mohon Zoe. Matanya memohon agar sang ayah tidak mengambil uang terakhir yang dia miliki. Baskoro tersenyum miring. Pria dengan perut buncit itu berjalan mendekati Zoe setelah tadi mengambil uang sang putri dan menyimpannya ke dalam saku celananya. “Tidak punya uang?” Baskoro menarik kembali rambut Zoe. Kali ini lebih kuat dan menyakitkan, membuat mata Zoe berkaca-kaca menahan tangis. “Mau berbohong?” sentak Baskoro. Baskoro melepas kasar tarikannya, membuat tubuh Zoe terhuyung ke belakang membentur siku tembok, menyisakan rasa nyeri di bahunya. Tak puas hanya menyakiti Zoe dengan cara menjambak rambut sang putri, tangan gempal Baskoro melayang di udara dan mendarat keras di pipi mulus Zoe. Panas dan menyakitkan. Tamparan itu menyisakan bekas yang bisa dilihat oleh siapapun. Membalas? Tidak! Zoe hanya bisa diam dengan segala rasa tak terima yang hanya mampu dia simpan rapat-rapat di dalam hatinya. Dia tidak akan pernah bisa melawan ayahnya. Tidak sekarang, tidak juga nanti. “Jangan pernah berbohong kepadaku, atau kamu akan tahu akibatnya!” Ancam Baskoro sambil menepuk pelan pipi Zoe, kemudian bergegas pergi. Tubuh Zoe merosot. Ia menangis menghilangkan rasa sesak di dadanya. Ia benar-benar lelah dan inilah salah satu yang bisa dilakukannya untuk meringankan setiap rasa menyakiti di hatinya. Setelah puas, ia berjalan ke arah meja riasnya. Surat tagihan listrik yang sudah jatuh tempo serta tagihan lainnya berjejer di atas meja riasnya, menambah sesak di dada. Tak ingin terlalu larut dalam kesedihannya, ia mulai mengambil concealer untuk menutupi bercak tangan di pipinya. Ia harus kembali melakukan aktivitasnya setiap malam untuk mengumpulkan pundi-pundi uang demi kebutuhan yang tak pernah ada habisnya. Ada satu donatur setia yang bisa menopang kehidupannya sehari-hari. Koin-koin yang diberikannya setiap malam, selalu menjadi penolong bagi kehidupannya yang menyedihkan. “Selamat malam semuanya… apa kalian sudah merindukanku?” *** “Haist… gawat, aku bisa mati hari ini!” gerutu Zoe yang baru bangun sekitar pukul 6 pagi, sementara kuliahnya akan dimulai dua jam lagi. Tugas dari dosen killer yang harusnya ia kumpulkan tengah malam kemarin, bahkan tidak disentuhnya sama sekali. Tanpa mandi, ia segera mengganti pakaiannya dan melesat pergi menuju kampus. Setelah tidak mengerjakan tugas, ia tidak boleh terlambat masuk. Hidupnya benar-benar di ujung tanduk jika ia sampai terlambat di jam pelajaran Xavier Admajaya—si dosen killer yang terkenal tidak kenal ampun jika ada mahasiswanya yang tidak patuh. “Zoe….” Zoe menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya seketika menegang saat mendengar suara dari orang yang ingin sekali dihindarinya. Xavier Admajaya—pria itu berdiri di belakangnya saat ini. “Tidak mengumpulkan tugas lagi?!” seru Xavier. Zoe meremas jari-jarinya. Mata tajam Xavier yang saat ini tengah menatapnya, membuat bulu kuduknya meremang. “Ma—maaf Pak, sa—saya—” Matanya menatap tajam Zoe, seolah tengah melakukan penilaian pada mahasiwinya itu. “Apa yang kamu lakukan tadi malam hingga melewatkan jadwal pengumpulan tugas?” “Saya tertidur, Pak!” Zoe memejamkan mata, tidak berani menatap wajah Xavier. Sikap Xavier yang mengintimidasi membuat nyalinya menciut. “Tertidur?” ulang Xavier dengan smirk evilnya. “Bersiaplah tidak lulus di mata kuliah saya!” Zoe hanya bisa menghela pasrah selepas kepergian Xavier. Zoe yang hendak melangkah pergi, menghentikan langkahnya saat mendapati sapu tangan Xavier terjatuh secara tidak sengaja dari saku celananya. “Pak, sapu tangan… Anda….” Zoe mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat sapu tangan milik Xavier. Hanya untuk sebuah sapu tangan, pria itu memakai barang dari desainer ternama. “Dia benar-benar kaya,” gumam Zoe.“Aku mencintai Pak Xavier, Zoe! Aku ingin menjadi miliknya.”Zoe menelan ludahnya susah payah, tubuhnya terhuyung seolah tak memiliki tulang. Apa.yang dikatakan oleh Sofia tentu membuatnya sangat terkejut. Dia tahu kalau Sofia sangat menyukai pria-pria tampan, tapi dia tidak pernah menyangka jika hatinya benar-benar dicurahkan kepada Xavier.“Aku mencintai Pak Xavier!” ulang Sofia. Kali ini kata-katanya penuh penekanan seolah menjelaskan bahwa dia tidak main-main dengan perasaannya.“Tapi aku tidak menyukaimu!”Balasan dari Xavier membuat Zoe membalikkan badannya. Matanya menatap Xavier yang terlihat tenang dan dingin, entah sejak kapan pria itu berdiri di belakangnya. Xavier maju beberapa langkah menyamakan posisinya dengan Zoe. Matanya menatap tajam Sofia yang terlihat gelisah. “Orang sepertimu, aku sama sekali tidak tertarik!” imbuh Xavier pedas.Sofia mengepalkan tangannya, kesal mendengar ucapan Xavier. Dia jauh lebih baik dari Zoe, tapi nyatanya dia tak pernah menang jika bers
“Aku…? Apa kamu… mencurigaiku?”Zoe mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya spontan menggeleng menjawab pertanyaan dari Sofia.“Aku adalah sahabatmu, tidak mungkin aku mengkhianatimu, Zoe,” kata Sofia meyakinkan Zoe.“Aku tahu itu Sofia. Aku sama sekali tidak memiliki pemikiran itu,” balas Zoe.Sofia menghela napas penuh kelegaan. Ia menggenggam tangan Zoe. wajahnya yang tadi terlihat tegang berangsur normal.“Terima kasih telah mempercayaiku,” ucap Sofia.Zoe tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Bibirnya membentuk garis lengkung, sementara tangannya mengusap punggung Sofia.“Kenapa kamu begitu gelisah. Tanpa kamu katakan, aku tidak akan pernah memiliki pemikiran seperti itu,” balas Zoe.“Kamu adalah sahabatku. Kita sudah kenal sejak lama. Aku percaya kamu tidak akan mungkin mengkhianatiku,” tambah Zoe.Sofia tersenyum tipis. Ia memeluk tubuh Zoe sambil menepuk-nepukkan tangannya di punggung wanita itu.“Terimakasih karena telah mempercayaiku,” kata Sofia.Sofia me
“Siapa dia?”Tubuh Xavier menegang, namun itu hanya terlihat beberapa detik saja. Setelahnya wajahnya kembali datar, seolah tak terganggu.Tadi di kampus, dia didatangi salah satu muridnya yang sedang menanyakan tentang tugas tambahan yang dia berikan. Dia sama sekali tidak menyangka jika hal itu akan menjadi masalah.“Tidak bisa menjawab?” ucap Zoe. Air matanya sudah hampir keluar. Selama ini dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, cemburu dan takut kehilangan. Hanya karena sebuah foto, hatinya berdenyut sakit.“Kalau kamu bosan dengan ku, harusnya kamu mengatakannya, bukan malah selingkuh. Aku akan pergi diam-diam dan melupakanmu. Aku….”Ucapan Zoe tertahan, bibir Xavier menyambar bibir Zoe, memberikan sedikit pelajaran untuk wanita yang dicintainya itu. Mendengar kata-kata Zoe, membuatnya ingin tertawa. Wanita cantik dengan mata memerah itu mengatakan akan meninggalkannya seolah-olah dia bisa melakukannya. “Masih mau meninggalkanku?” Alis Xavier naik sebelah, matanya mena
Sebuah pesan masuk membuat Xavier menggeram kesal. Matanya menatap tajam sebuah foto yang baru dikirimkan oleh seseorang kepadanya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan kiriman foto seperti ini: Zoe bersama pria lain.“Sialan!” umpat Xavier.Xavier segera menutup laptopnya. Langkahnya yang lebar membawa pria itu meninggalkan ruangannya. Wajahnya yang mengeras menandakan pria bertubuh tinggi besar itu sedang marah. Demi apapun juga Xavier tidak suka melihat Zoe dekat dengan adik tirinya atau Adam. dua laki-laki itu bagaikan musuh bebuyutan yang ingin ia singkirkan.Mobil hitam miliknya yang terparkir rapi di halaman kampus, ia tumpangi dengan kecepatan di atas rata-rata, tujuannya saat ini adalah rumahnya.***Zoe meletakkan belanjaannya di atas meja makan. Napasnya tampak putus-putus karena membawa beban berat. Tangannya yang bergerak membongkar barang belanjaannya seketika urung karena mendengar bunyi pesan masuk ke dalam ponselnya.Kening Zoe mengkerut, sebuah foto dimana Xavier












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Classificações
avaliaçõesMais