بيت / Romansa / Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif / Bab 7 - Tidak Ada Uang, Habislah!

مشاركة

Bab 7 - Tidak Ada Uang, Habislah!

مؤلف: Andriyani
last update تاريخ النشر: 2026-08-11 22:45:21

Arjuna Bimanyu, itulah nama paman Val. Hal yang menjadi ironi besar, karena perangainya sama sekali tidak mirip dengan tokoh-tokoh yang menginspirasi nama itu—Arjuna dan Bima. Dua dari lima Pandawa, tokoh pewayangan Jawa yang terkenal sebagai ksatria terhormat dan bermartabat. Tidak seperti Arjuna yang ada di hadapan Val saat ini. Bengis, kejam, tidak punya hati.

“Sini, berikan semua uang gaji mingguanmu padaku,” kata Arjuna seraya merampas paksa tas Val sampai tubuh gadis itu terdorong ke depan.

“Tidak, Paman! Tunggu—”

Val baru mau menarik kembali tasnya, tetapi tidak sempat. Gerakan Arjuna spontan. Sekarang dia sudah berjalan masuk ke dalam kontrakan, mulai membongkar isi tas Val dengan tidak sabar.

Segala benda yang ada di dalamnya, mulai dari bedak, lipstik, tisu... dikeluarkannya satu per satu lalu dilempar begitu saja ke lantai. Val hanya bisa berdiri kaku seraya memegang kening. Ia mulai panik.

“Kau taruh di mana sih uangnya?”

Arjuna terus mengobrak-abrik isi tas Val. Sampai saat genggamannya menjangkau sebuah dompet sederhana berukuran setelapak tangan, wajahnya seketika berbinar. Tas Val yang sudah kosong langsung dijatuhkan begitu saja.

Val menelan ludah. Pamannya sudah siap mengintip isi dompetnya. Gadis itu pun segera menyusul masuk ke dalam.

Benar saja, ekspresi Arjuna berubah seram begitu menemukan hanya beberapa lembar uang sepuluh dan dua puluh ribuan yang mengisi dompet Val.

“Di mana uangnya?” tanyanya, matanya menatap tajam sang keponakan.

“Eum, itu... aku bisa jelaskan,” jawab Val setengah gemetar.

“Aku bertanya uangnya di mana. Bukan minta penjelasan apa pun darimu!” Suara Arjuna masih pelan, tetapi giginya saling beradu.

Val semakin gugup. Sekali lagi ia berpikir keras, mencari suatu alasan supaya dirinya terbebas dari amukan Arjuna.

Namun, pada akhirnya Val mendengus pelan. Ia sadar bohong pun percuma. Arjuna tidak akan peduli seribu alasan apa pun yang diberikan Val. Karena dia hanya mau uang gaji mingguan Val—yang seharusnya adalah intensif uang makan selama seminggu bekerja—diserahkan padanya detik ini juga.

“Tidak ada uang. Aku dipecat,” ungkap Val terang-terangan.

Selama beberapa saat, Arjuna hanya diam. Pandangannya terpaku pada keponakannya yang sedang menunduk takut seperti habis melakukan kecurangan.

Lalu sesaat berikutnya....

“Pembohong! Kau pasti sengaja menyembunyikannya dariku ‘kan!?”

Tangan kasar Arjuna mendarat di rahang Val. Dia mencengkeramnya kuat-kuat, tidak peduli walau gadis  itu tampak terkejut dan perlahan mulai kesulitan bernapas.

“Aku... tidak berbohong. Aku betulan... sudah dipecat. Dan semua sisa gajiku... tidak dibayar.”

Susah payah Val menjelaskan itu. Dengan kedua tangan mungilnya, ia mencoba menyingkirkan cengkeraman Arjuna dari lehernya. Tetapi sulit sekali. Tenaganya tidak ada apa-apanya dibanding pamannya yang sudah terlatih menyiksa orang.

“Masih mau berbohong, eh!?”

Tangan Arjuna lebih kuat lagi mencengkeram leher Val. Kali ini dia juga mendorong tubuh gadis itu sampai terimpit di dinding.

Val menggeleng. Ia ingin bersikeras lagi membela diri, tetapi suaranya tidak mampu keluar karena sesak. Wajahnya bahkan sudah mulai membiru disertai urat-urat menonjol.

“Sekarang sebaiknya kau katakan di mana kau menyimpan uangnya. Kalau tidak mau mati lemas di tanganku sebelum kau melihat batang hidung kedua orang tuamu yang telah menelantarkanmu itu.” Arjuna kembali mendesak.

Lagi-lagi Val hanya bisa menggeleng-geleng. Kali ini malah tanpa sadar ia memukuli pergelangan sang paman. Ia sudah harus menghirup oksigen sekarang. Val tidak mau mati konyol dalam situasi ini.

Beruntung hal itu berhasil membuat Arjuna melepaskan tangannya. Val pun terbatuk-batuk sambil memegangi leher, sebelum matanya kembali memberanikan diri beradu pandang dengan mata sang paman.

“Aku bersumpah aku tidak berbohong!” Val berseru kali ini. Ketakutannya masih ada. Hanya saja sebagian sudah membangun ketegaran serta kepasrahan.

“Aku membuat masalah besar. Aku menggagalkan transaksi besar seorang pelanggan berpengaruh. Karena itu aku dipecat, bahkan harus membayar kerugian bosku.”

Mendengar penjelasan Val, buku-buku jari Arjuna mengepal. Giginya bergemeretak menahan gejolak amarah yang tinggal menunggu waktu untuk meledak.

“Apa kau bilang... dasar tidak berguna!”

PLAK!

Sebuah tamparan keras menghantam wajah Val. Telinganya sampai berdengung, tubuhnya terhuyung dan pandangannya sempat mengabur.

Namun, Val berusaha tetap menegakkan tubuh. Kalau ia pingsan sekarang, pamannya pasti akan menyiksanya lagi saat ia bangun nanti. Daripada begitu, lebih baik sekalian saja Val menerima seluruh amukannya sampai Arjuna puas. Setidaknya nanti dia tidak akan mengganggu Val lagi untuk waktu agak lama.

“Kenapa selalu saja kau membuat masalah di tempat kerjamu hah?!” Arjuna menunjuk-nunjuk wajah Val. “Padahal kerjamu enak, hanya tinggal mengantarkan bir ke meja tamu, dapat gaji lumayan! Tapi kau selalu saja mencari gara-gara! Jangan kau pikir aku tidak tahu kelakuanmu saat kerja! Ingat, Bobi itu temanku! Dia sering menegurku kalau kerjamu tidak becus!”

Val diam. Lebih tepatnya menunggu. Ya, hanya itu hal terbaik yang bisa dilakukannya saat berhadapan dengan amukan pamannya. Karena berbicara hanya akan membuat tangan kekar itu kembali melayangkan pukulan kepadanya.

“Kau tahu, sebetulnya harusnya kau bertingkah manis, merayu para pelanggan, kau pasti bisa meraup tip besar. Belum lagi kalau kau berhasil membuat orang-orang kaya itu tidur denganmu, kau bisa....”

“Cukup, Paman!”

Val tarik kembali pemikirannya sebelumnya. Tidak semua perkataan pamannya bisa direspons hanya dengan diam. Kalau sudah direndahkan seperti ini, mana bisa ia menahan diri lagi.

“Kau berani menyelaku?!”

Arjuna menggeram lagi, sambil memajukan wajahnya melayangkan tatapan mengancam tepat di hadapan wajah sang keponakan.

Dada Val naik turun. Tanpa takut Val membalas tatapan pamannya.

“Sudah berkali-kali kubilang... Paman boleh memaksaku bekerja di tempat terkutuk itu, tapi jangan menyamakan aku dengan pelacur!”

PLAK!

Sekali lagi telapak tangan Arjuna menghantam pipi Val. Rasa panas bercampur perih langsung menyerangnya. Tapi, rasa sakit batinnya lebih membuatnya menderita. Dalam hati Val berpikir, tidakkah pamannya memiliki sedikit saja belas kasih padanya? Kenapa dia selalu sekejam ini padanya?

“Kurang ajar! Sudah berani kau menantangku!”

Wajah Arjuna sudah bergetar sekarang. Amarahnya telah tiba di puncak. 

**

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 46 - Curhat (Bagian II)

    “Dia mencekiknya,” ungkap Val. Kinar sontak diam lagi. Wajahnya tampak sangat tegang. “Aku sampai takut setengah mati,” lanjut Val. “Tapi yang lebih mengerikan, Nona Selina, meskipun di tengah kesulitan bernapas, masih tidak hentinya semakin menyindir David. Sehingga pria itu semakin gila lagi mencekiknya. Aku dan Bu Asnah sampai berteriak menyuruhnya berhenti, tapi dia tidak mendengarkan. Akhirnya, aku sendiri yang menarik tangannya.” “Ya ampun, Val! Kau berani sekali!” “Berani dari mana? Aku juga takut! Tapi kalau kubiarkan, bagaimana kalau dia benar-benar membunuh wanita itu di depanku?” Val mengembuskan napas panjang. “Aku tidak mau terlibat aksi pembunuhan. Lagi pula, aku sudah muak melihat sikapnya. Aku bilang kepadanya bahwa dia sendiri yang membuat Selina ingin mencelakaiku karena terlalu terang-terangan membelaku.” Kinar menatapnya lekat-lekat. “Dan reaksi Tuan David?” “Dia marah dan mengungkit bahwa dia sudah menyelamatkan nyawaku dua kali. Aku menjawab bahwa aku

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 45 - Curhat

    “Jadi, ada cerita menarik apa saja hari ini? Tuan David berulah apa lagi padamu?” tanya Kinar begitu pintu lift terbuka di lantai tujuh Tower A. Val mendesah berat. “Kali ini sih bukan soal itu lagi. Asal kau tahu saja, telah terjadi drama yang cukup gila di penthouse itu hampir sepanjang hari ini.” Kinar langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Sambil berjalan menyusuri koridor, ia memeriksa nomor unit yang tertera pada daftar pesanan di tangannya. “Wah, kedengarannya menarik. Cepat cerita!” “Menarik dari mana? Aku hampir kehilangan nyawa, tahu!” Langkah Kinar sontak terhenti. “Hah?! Demi apa...? Apa yang telah Tuan David lakukan padamu memangnya?” Val mengangkat sebelah tangan, menyuruhnya tenang. “Bukan, bukan... bukan dia pelakunya. Tapi seorang wanita gila yang datang tiba-tiba tanpa permisi. Dan ternyata, dia adalah tunangan David. Ya, David sudah bertunangan, Kinar.” Anehnya, Kinar berhenti terkejut di sini, malah menggaruk-garuk kepala. “Loh

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 44 - Menikmati Sedikit Waktu Bersantai

    Di bawah langit berbintang, di antara pemandangan deretan pohon bunga kamboja yang berguguran di sepanjang trotoar, langkah Val memijak santai. Tangannya ia masukkan ke dalam saku sweter yang dikenakannya, sementara kepalanya sesekali celingak-celinguk ke kanan dan kiri, menikmati kesyahduan di sekitar yang terasa melankolis. Ditambah dengan lampu taman yang bersinar kuning temaram di sepanjang jalur yang ia lewati, rasanya sungguh damai dan nyaman.Sepulang dari penthouse David, Val memutuskan untuk jalan-jalan santai sebentar di sekitar kompleks apartemen luas ini. Walau hatinya masih gundah gulana tiap kali teringat pada kenyataan bahwa Selina-lah pemilik unit yang ditinggalinya, setidaknya Val ingin sekali-kali benar-benar menikmati fasilitas tempat tinggal barunya. Sebab, ia mulai sadar bahwa ia tidak akan selamanya bisa tinggal di lingkungan para orang berkantong tebal ini.Jika dipikir-pikir, ini juga kali pertama ia keluar gedung. Biasanya ia selalu pulang larut dan sangat lel

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 43 - Tentang David

    “Kau pasti terkejut sekali ya, dengan intrik hubungan Tuan Muda David dan Nona Selina?” tanya Asnah tiba-tiba di tengah keheningan acara makan malam mereka sebelum pulang.Sejak siang tadi, tepatnya sejak Selina pergi, tak lama kemudian David juga ikut pamit pergi. Dia tidak mengajak Val berdebat lagi, tidak marah, tidak juga memprotes Val yang telah menghakiminya setelah apa yang sudah dia lakukan untuk membebaskan gadis itu dari intimidasi Selina. Sehingga sisa hari ini menjadi sangat damai, bahkan Val dan Asnah diperbolehkan pulang cepat karena David bilang kemungkinan dia akan pulang sangat larut.Harusnya Val merasa lega, bukan? Tapi anehnya tidak. Kepergian David yang meninggalkan tatapan dalam dan datar yang aneh teruntuk Val, justru meninggalkan perasaan tidak biasa baginya. Entah kenapa ia merasa… resah. Seperti ada hal yang begitu mengganggu pikirannya dan membuatnya tidak tenang, tetapi ia bingung apa itu. Padahal para sumber masalah, yakni sepasang tunangan problematik itu

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 42 - Ketegangan yang Kian Menjadi

    Botol kecil itu melayang cepat ke arah Val. Namun, refleks yang bekerja dalam dirinya hanya berpaling muka sambil mengangkat kedua lengan untuk menghalau pandangan. Tubuhnya sama sekali tidak menyingkir, meskipun ia tahu itu akan lebih efisien. Mungkin karena serangan itu datang terlalu mendadak, sampai-sampai Val tidak sempat merespons dengan baik. Pada sepersekian detik terakhir, Val sudah pasrah bersiap menerima rasa ngeri serta nyeri akibat hantaman botol wine berat itu ke tubuh atau bahkan kepalanya. Jantungnya berdebar. Sementara tubuhnya kaku, menegang bukan main. Satu detik, dua detik berlalu. Anehnya, rasa sakit itu tak kunjung datang. Tubuhnya masih baik-baik saja. Bahkan tidak terdengar suara botol pecah yang seharusnya sudah terjadi dari tadi. “Kau… kau benar-benar sudah keterlaluan, Selina.” Justru sebuah geraman mengudara di antara ketegangan. Suaranya lebih berat dari biasanya. Pelan dan menusuk, sampai rasanya siapa pun yang mendengarnya bisa merinding ngeri. Ya, it

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 41 - Pelayan Kesayangan

    Val membawa dirinya ke ruang istirahat pelayan. Ia menutup pintu cukup keras, lalu berjalan ke meja. Ia meraih teko berisi air, menuangnya ke gelas sampai meninggalkan jejak tetes berceceran cukup banyak di atas meja, sebelum menenggaknya cepat sampai habis. Ia terengah setelahnya. Dengan kedua tangan bertumpu di meja, matanya mulai terpejam. Napasnya yang menjadi lebih berat setelah berhadapan dengan David tadi, ditarik pelan dan hati-hati. Kemudian, diembuskan perlahan, berharap segala perasaan aneh yang tengah menggerogoti jiwanya juga ikut meluruh. Sayangnya, ternyata tidak semudah itu. Perasaan anehnya masih menempel lekat di dalam dada, membuatnya kesal pada diri sendiri dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya? Val membuka mata, merenung dalam tatapan kosong. Ia memikirkan pelan-pelan setiap hal yang kemungkinan besar menjadi penyebab pikirannya menjadi tidak karuan begini. Apalagi tadi saat berhadapan dengan David, demi apa pun, ia menyesal tiba-tiba be

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status