เข้าสู่ระบบPagi mulai beranjak terang ketika Val tiba di depan kontrakan kecil yang ditempatinya bersama sang paman. Wajahnya kusut. Rambut yang semalaman diikat rapi kini sudah berantakan. Seragam pelayan Black Key Club masih melekat di tubuhnya. Namun, penuh lipatan serta noda samar akibat keributan yang terjadi beberapa jam lalu.
Sialnya, penampilannya justru menjadi tontonan menarik bagi para tetangga. Ibu-ibu yang tadinya sedang sibuk mengurusi urusan rumah tangga—menyapu halaman, menjemur pakaian, atau menyuapi anaknya sarapan—tiba-tiba saling berkerumun. Kemudian mulai berbisik-bisik tanpa berusaha mengecilkan suara. “Lihat, dia baru pulang jam segini. Padahal biasanya sebelum fajar juga sudah mengeram di kamar.” “Iya, tidak biasanya ya. Mana penampilannya berantakan begitu. Seperti habis....” Kelihatannya ibu yang satu itu sengaja menggantung kalimat, menggantinya degan tatapan menuduh sekaligus jijik pada Val. “Habis apa tuh? Hm?” Ibu lain yang mengerti arah singgungan itu, turut senang memanas-manasi suasana. “Ah, masa kau tidak mengerti. Ya habis... begitu. Kerja sampingan, kau mengerti kan maksudku?” Ibu-ibu itu saling mencibir ke arah Val. Beberapa malah sampai bergidik seolah Val merupakan sesosok monster cacing menggelikan. “Katanya dia kerja di kelab malam hanya jadi pelayan ya? Tapi aneh, kok pulangnya sampai seterik ini?” “Halah... pelayan apanya. Melayani laki-laki, baru aku percaya.” Tangan Val mengepal. Selama ini, cibiran seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Tetangga sekitar memang tahu ia bekerja di kelab malam sebagai pelayan. Sejak saat itu, berbagai cap buruk menempel padanya. Perempuan murahan. Perempuan kotor. Penggoda. Perusak moral. Val tidak peduli sebetulnya. Toh omongan mereka tidak pernah membayar uang kontrakan ataupun mengisi perutnya. Apalagi pagi ini ia merasa tidak punya energi untuk meladeni. Setelah semalam ia dikerjai beberapa pelanggan mesum, dimarahi bos karena membuat keributan, dicaci maki, dipecat, bahkan kehilangan seluruh gajinya. Satu lagi, kepalanya juga masih pening memikirkan bagaimana cara menghadapi pamannya nanti. Kalau bukan karena tubuhnya sudah terlalu lelah, mungkin ia benar-benar akan menghampiri ibu-ibu itu satu per satu, lalu menyuapi mulut kotor mereka dengan kotoran kambing supaya kotor sekalian. Namun, Val memilih untuk melapangkan dada dulu hari ini. Besok-besok baru ia akan balas. Val pun mengembuskan napas panjang, lalu melangkah menuju pintu rumah. Val terdiam sebentar memandangi penampakan depan kontrakannya. Lampu teras masih menyala. Gorden juga belum dibuka. Berarti pamannya masih tidur. Val mendesah lega, sedikit. Setidaknya ia punya waktu untuk memikirkan alasan masuk akal untuk diberikan pada pamannya begitu lelaki itu menodongnya. Tapi, apa? Val ragu, rasanya semua alasan akan berakhir sama saja. Tidak ada uang, maka tubuhnya harus siap lebam-lebam. Gadis itu menarik napas lagi. Kali ini ia pasrah. Ia akan bersiap saja untuk dipukuli. Tok, tok! Tangan Val akhirnya berhasil terangkat mengetuk pintu setalah agak lama terasa berat. Ia menunggu, tetapi belum ada sahutan. Ia pun mengetuk lagi. “Paman, aku pulang.” Jantung Val berdegup. Karena samar-samar telinganya mendengar grasah-grusuh dari dalam. Pamannya sudah bangun dan sedang bersiap untuk membukakan pintu untuknya. Ceklek. Pintu terbuka sedikit, lalu muncul kepala paman Val yang seketika membuat gadis itu keringat dingin. Tangannya tanpa sadar menggenggam tali tas selempangnya erat sekali. Wajah lelaki paruh baya di hadapannya masih berantakan. Mata bengkak, rambut gondrongnya tidak tertata, dan napasnya masih berbau busuk khas sisa alkohol murahan yang dibawa tidur. Baru begitu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat Val hampir tidak sanggup meneguk Saliva saking terlalu tegang. Selama beberapa detik, wajah sangar itu masih sibuk mengumpulkan kesadaran. Sampai ketika matanya akhirnya berhasil menyadari keberadaan Val.... Dia tersenyum. Senyum yang selalu membuat Val merinding sebadan-badan. “Akhirnya kau datang juga.” Suara paraunya seakan menguliti sisa keberanian Val. Karena gadis itu tahu, sedetik lagi pamannya akan.... “Sini, berikan semua uang gaji mingguanmu padaku.” **“Dia mencekiknya,” ungkap Val. Kinar sontak diam lagi. Wajahnya tampak sangat tegang. “Aku sampai takut setengah mati,” lanjut Val. “Tapi yang lebih mengerikan, Nona Selina, meskipun di tengah kesulitan bernapas, masih tidak hentinya semakin menyindir David. Sehingga pria itu semakin gila lagi mencekiknya. Aku dan Bu Asnah sampai berteriak menyuruhnya berhenti, tapi dia tidak mendengarkan. Akhirnya, aku sendiri yang menarik tangannya.” “Ya ampun, Val! Kau berani sekali!” “Berani dari mana? Aku juga takut! Tapi kalau kubiarkan, bagaimana kalau dia benar-benar membunuh wanita itu di depanku?” Val mengembuskan napas panjang. “Aku tidak mau terlibat aksi pembunuhan. Lagi pula, aku sudah muak melihat sikapnya. Aku bilang kepadanya bahwa dia sendiri yang membuat Selina ingin mencelakaiku karena terlalu terang-terangan membelaku.” Kinar menatapnya lekat-lekat. “Dan reaksi Tuan David?” “Dia marah dan mengungkit bahwa dia sudah menyelamatkan nyawaku dua kali. Aku menjawab bahwa aku
“Jadi, ada cerita menarik apa saja hari ini? Tuan David berulah apa lagi padamu?” tanya Kinar begitu pintu lift terbuka di lantai tujuh Tower A. Val mendesah berat. “Kali ini sih bukan soal itu lagi. Asal kau tahu saja, telah terjadi drama yang cukup gila di penthouse itu hampir sepanjang hari ini.” Kinar langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Sambil berjalan menyusuri koridor, ia memeriksa nomor unit yang tertera pada daftar pesanan di tangannya. “Wah, kedengarannya menarik. Cepat cerita!” “Menarik dari mana? Aku hampir kehilangan nyawa, tahu!” Langkah Kinar sontak terhenti. “Hah?! Demi apa...? Apa yang telah Tuan David lakukan padamu memangnya?” Val mengangkat sebelah tangan, menyuruhnya tenang. “Bukan, bukan... bukan dia pelakunya. Tapi seorang wanita gila yang datang tiba-tiba tanpa permisi. Dan ternyata, dia adalah tunangan David. Ya, David sudah bertunangan, Kinar.” Anehnya, Kinar berhenti terkejut di sini, malah menggaruk-garuk kepala. “Loh
Di bawah langit berbintang, di antara pemandangan deretan pohon bunga kamboja yang berguguran di sepanjang trotoar, langkah Val memijak santai. Tangannya ia masukkan ke dalam saku sweter yang dikenakannya, sementara kepalanya sesekali celingak-celinguk ke kanan dan kiri, menikmati kesyahduan di sekitar yang terasa melankolis. Ditambah dengan lampu taman yang bersinar kuning temaram di sepanjang jalur yang ia lewati, rasanya sungguh damai dan nyaman.Sepulang dari penthouse David, Val memutuskan untuk jalan-jalan santai sebentar di sekitar kompleks apartemen luas ini. Walau hatinya masih gundah gulana tiap kali teringat pada kenyataan bahwa Selina-lah pemilik unit yang ditinggalinya, setidaknya Val ingin sekali-kali benar-benar menikmati fasilitas tempat tinggal barunya. Sebab, ia mulai sadar bahwa ia tidak akan selamanya bisa tinggal di lingkungan para orang berkantong tebal ini.Jika dipikir-pikir, ini juga kali pertama ia keluar gedung. Biasanya ia selalu pulang larut dan sangat lel
“Kau pasti terkejut sekali ya, dengan intrik hubungan Tuan Muda David dan Nona Selina?” tanya Asnah tiba-tiba di tengah keheningan acara makan malam mereka sebelum pulang.Sejak siang tadi, tepatnya sejak Selina pergi, tak lama kemudian David juga ikut pamit pergi. Dia tidak mengajak Val berdebat lagi, tidak marah, tidak juga memprotes Val yang telah menghakiminya setelah apa yang sudah dia lakukan untuk membebaskan gadis itu dari intimidasi Selina. Sehingga sisa hari ini menjadi sangat damai, bahkan Val dan Asnah diperbolehkan pulang cepat karena David bilang kemungkinan dia akan pulang sangat larut.Harusnya Val merasa lega, bukan? Tapi anehnya tidak. Kepergian David yang meninggalkan tatapan dalam dan datar yang aneh teruntuk Val, justru meninggalkan perasaan tidak biasa baginya. Entah kenapa ia merasa… resah. Seperti ada hal yang begitu mengganggu pikirannya dan membuatnya tidak tenang, tetapi ia bingung apa itu. Padahal para sumber masalah, yakni sepasang tunangan problematik itu
Botol kecil itu melayang cepat ke arah Val. Namun, refleks yang bekerja dalam dirinya hanya berpaling muka sambil mengangkat kedua lengan untuk menghalau pandangan. Tubuhnya sama sekali tidak menyingkir, meskipun ia tahu itu akan lebih efisien. Mungkin karena serangan itu datang terlalu mendadak, sampai-sampai Val tidak sempat merespons dengan baik. Pada sepersekian detik terakhir, Val sudah pasrah bersiap menerima rasa ngeri serta nyeri akibat hantaman botol wine berat itu ke tubuh atau bahkan kepalanya. Jantungnya berdebar. Sementara tubuhnya kaku, menegang bukan main. Satu detik, dua detik berlalu. Anehnya, rasa sakit itu tak kunjung datang. Tubuhnya masih baik-baik saja. Bahkan tidak terdengar suara botol pecah yang seharusnya sudah terjadi dari tadi. “Kau… kau benar-benar sudah keterlaluan, Selina.” Justru sebuah geraman mengudara di antara ketegangan. Suaranya lebih berat dari biasanya. Pelan dan menusuk, sampai rasanya siapa pun yang mendengarnya bisa merinding ngeri. Ya, it
Val membawa dirinya ke ruang istirahat pelayan. Ia menutup pintu cukup keras, lalu berjalan ke meja. Ia meraih teko berisi air, menuangnya ke gelas sampai meninggalkan jejak tetes berceceran cukup banyak di atas meja, sebelum menenggaknya cepat sampai habis. Ia terengah setelahnya. Dengan kedua tangan bertumpu di meja, matanya mulai terpejam. Napasnya yang menjadi lebih berat setelah berhadapan dengan David tadi, ditarik pelan dan hati-hati. Kemudian, diembuskan perlahan, berharap segala perasaan aneh yang tengah menggerogoti jiwanya juga ikut meluruh. Sayangnya, ternyata tidak semudah itu. Perasaan anehnya masih menempel lekat di dalam dada, membuatnya kesal pada diri sendiri dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya? Val membuka mata, merenung dalam tatapan kosong. Ia memikirkan pelan-pelan setiap hal yang kemungkinan besar menjadi penyebab pikirannya menjadi tidak karuan begini. Apalagi tadi saat berhadapan dengan David, demi apa pun, ia menyesal tiba-tiba be







