登入“Nggak lihat, tuh.”Jawaban Liam membuat Dani mengembuskan napas panjang.“Hufft...”Sudah seharian berlalu sejak kemenangan mereka.Namun, batang hidung Anya belum juga terlihat.Dani sudah bertanya kepada anak-anak basket.Ia juga sudah menanyakan keberadaan Anya kepada beberapa anak cheers.Tidak ada satu pun yang tahu ke mana gadis berkacamata itu pergi.Semakin dipikirkan, kepala Dani semakin terasa pusing.Apalagi ketika ia mencoba menghubungi nomor Anya.Tidak aktif.Dani kembali menatap layar ponselnya.Ia menekan tombol panggil sekali lagi.Tut... tut...Lalu suara operator kembali terdengar.Nomor yang dituju tidak dapat dihubungi.“Sial.”Ia mengusap wajahnya kasar.“Lo ke mana, sih, Anya?”Dani menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi.Ia tidak mengerti kenapa dirinya bisa secemas ini.Biasanya ia tidak pernah terlalu peduli jika seseorang tidak muncul selama sehari.Tapi kali ini berbeda.Beberapa hari terakhir, hubungannya dengan gadis kacamatanya itu memang semakin
“Uhukk... uhukk... uhukk...”Anya membuka matanya perlahan.Kelopak matanya terasa berat, seolah ada beban yang menahannya untuk kembali terpejam. Pandangannya pun masih buram. Ia berkedip beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya.Gelap.Sempit.Dan pengap.Anya mengernyitkan hidung.Bau debu langsung menyeruak ke dalam indra penciumannya. Di sekelilingnya terdapat berbagai barang yang tampaknya sudah tidak terpakai. Beberapa kardus menumpuk di sudut ruangan, sementara barang-barang lama berserakan begitu saja di lantai.Anya menelan ludah.“Ini...”Matanya menyapu seluruh ruangan.“Gudang?”Namun, pertanyaan berikutnya langsung muncul di kepalanya.Bagaimana aku bisa sampai di sini?Anya berusaha mengingat apa yang terakhir terjadi.Clara.Chelsea.Tres.Tali.Tamparan.Rambutnya yang dijambak sampai beberapa helai tercabut.Kemudian rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.Setelah itu...Gelap.Anya memejamkan mata sebentar.“Pasti pas aku pingsan, mere
Anya memberontak sekuat tenaga.Tubuhnya meronta, berusaha melepaskan diri dari cekalan Chelsea dan Clara. Namun, tenaga kedua gadis itu jauh lebih kuat darinya.“Hmm!”Anya berusaha berteriak.Tolong.Seseorang tolong dia.Namun, suaranya hampir tidak lagi terdengar. Tenggorokannya sudah terasa perih akibat terlalu sering berteriak dan memohon sebelumnya, tetapi tidak pernah ada yang datang.Tidak ada yang mendengar.Tidak ada yang peduli.Sebuah sapu tangan kemudian disumpalkan ke mulutnya.Anya menggeleng keras.Air matanya langsung mengalir semakin deras ketika Clara tiba-tiba mencengkeram rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang dengan kasar.“Ahh!”Rasa sakit yang menusuk kulit kepalanya membuat tubuh Anya menegang.Beberapa helai rambutnya bahkan ikut tercabut.Clara sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan.“Ini karena lo sudah berani ngedeketin cowok gue.” Suaranya penuh amarah. Tangannya masih mencengkeram rambut Anya begitu kuat. “Nggak tahu malu banget lo!”Anya meng
“Tring... tring...”Helaan napas Anya terdengar panjang.Baru saja selesai membersihkan diri. Rambutnya bahkan masih sedikit basah, sementara tubuhnya sudah benar-benar tidak memiliki tenaga lagi.Yang ia inginkan sekarang hanya satu.Kasur.Ia ingin melemparkan tubuhnya ke atas kasur, menarik selimut, lalu tidur tanpa memikirkan apa pun.Namun, baru saja hendak merebahkan diri, suara dering ponselnya lebih dulu menggema di dalam kamar.“Ya ampun...”Anya meraih ponselnya dengan malas.“Halo...”“Iya, Kak. Ini sudah di hotel,” jawab Anya setelah mendengar suara kakaknya di seberang.Dari cara kakaknya bertanya, Anya sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.Dan benar saja.“Adek, kan sudah selesai, nih, kerjaannya. Mau nggak nginep di apartemen Kakak? Biar besok Kakak ajak jalan-jalan sebelum Kakak balik.”Anya memejamkan mata.Sudah kuduga.Tawaran itu memang terdengar menyenangkan kalau didengar oleh orang lain. Jalan-jalan bersama kakak, menginap di apartemen, lalu menghabis
Anya menghela napas pelan, meraih tas selempangnya, berniat segera pulang dan membanting tubuhnya ke atas kasur. Tapi sayang, selalu saja ada gangguan yang datang."Hai, cantik, udah mau pulang banget nih?" tanya Dani, muncul tiba-tiba di sampingnya."Emm, iya. Mau cepet-cepet balik hotel biar bisa istirahat," jawab Anya, suaranya terdengar lelah. Hari ini energinya benar-benar terkuras habis-habisan."Ooh gitu. Nggak mau ikut party bareng tim?" tanya Dani lagi. Ia memang bisa melihat jelas kelelahan di wajah Anya, tapi karena ini malam puncak dan pesta perayaannya hanya berlangsung satu kali ini, ia berpikir Anya sebaiknya tetap ikut."Aku... enggak deh," jawab Anya, menggeleng pelan. Rasa lelah sudah terlalu menguasai tubuhnya untuk sekadar berpikir soal pesta."Mau aku anter?" tawar Dani, memperhatikan wajah Anya yang benar-benar tampak habis tenaga.Senyum tulus terbit di bibir Anya mendengar tawaran itu. Hatinya menghangat oleh kepedulian sederhana Dani. Baru kali ini, selain kak
Anya duduk di salah satu bangku di pinggir lapangan. Sejak tadi ia mondar-mandir, sibuk membawakan minum untuk tim basket maupun tim cheers. Baru sekarang ia mendapat kesempatan untuk duduk dan beristirahat.Belum lama duduk, ponselnya bergetar.Satu pesan masuk.Anya meraih ponselnya dan membuka layar. Begitu melihat nama pengirimnya, ia langsung menghela napas.Kakaknya.Ternyata ada cukup banyak pesan yang belum terbaca. Sejak pagi, Anya memang sudah disibukkan dengan pertandingan final. Ia bahkan hampir tidak sempat mengecek ponselnya.Matanya kemudian berhenti pada pesan terakhir.Dek, sebentar lagi kamu free, kan? Ketemu Kakak, yuk. Sekalian kita jalan-jalan.Anya mengembuskan napas panjang.“Aku kan sudah bilang sama Kakak, nggak usah datang ke pertandingan final hari ini,” gumamnya pelan.Memang sejak semalam kakaknya sudah berkali-kali mengirim pesan bahwa ia akan datang untuk menyaksikan pertandingan final hari ini. Bahkan, kakaknya sempat menawarkan beberapa makanan khas Je







