แชร์

Memasak dengan Cinta

ผู้เขียน: Risca Amelia
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-27 17:41:00

Suasana pagi di apartemen jauh lebih tenang dibandingkan gejolak emosi semalam. Dastan sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan kemeja hijau muda yang kontras dengan jas gelap yang tersampir di tempat tidur.

Moza mendekat, jemarinya yang terampil mulai menyusun simpul dasi di kerah kemeja Dastan. Sementara Dastan menatap wajah istrinya, ada gurat kekhawatiran yang masih tersisa.

"Apa kau jadi memasak untuk Opa hari ini, Sayang?" tanya Dastan lembut, suaranya sedikit serak. "Aku tidak mau
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kekasih Satu Bulan

    Beberapa menit berlalu, pintu kamar Izora akhirnya berderit pelan.Dengan kepala setengah tertunduk, Izora melangkah keluar. Sementara, Virda menyertainya dari belakang dengan gurat wajah yang jauh lebih tenang. Di ruang makan, Rezon masih duduk dalam posisi yang sama. Pandangannya yang semula tertuju pada ayam panggang, langsung beralih menangkap kehadiran Izora. Buru-buru, Rezon meletakkan sendok dan garpu, seolah seluruh selera makannya bergantung pada apa yang akan keluar dari bibir Izora.Virda pun memecah keheningan dengan suara yang lembut dan penuh pengertian."Rezon, Tante ada keperluan sebentar ke supermarket. Kamu lanjutkan bicara dengan Izora. Selesaikan semuanya baik-baik."Rezon mengangguk sopan, memberikan senyum hormat yang tulus. "Baik, Tante. Terima kasih banyak atas bantuannya."Sepeninggal Virda, ruangan itu mendadak terasa begitu sempit bagi Izora. Ia berdiri beberapa langkah dari meja makan, meremas ujung bajunya dengan gugup. Rezon bangkit perlahan, wajahnya

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Dukungan Ibu Mertua

    Suasana di ruang makan mendadak terasa begitu canggung. Rezon, yang biasanya selalu tampil tenang dan penuh kendali, kini tampak gugup.Pria itu memperbaiki posisi duduknya, mencoba mengatur ritme napasnya yang tidak beraturan di bawah tatapan menyelidik Virda."Tante, sebenarnya kedatangan saya kemari karena ingin menunjukkan keseriusan saya,” ucap Rezon memulai percakapan. “Selama tangan saya terluka dan Izora merawat saya dengan begitu sabar... saya sadar akan satu hal. Saya tidak ingin momen itu berakhir. Saya ingin selalu bersama Izora."Rezon melirik Izora sekilas, lalu beralih kembali pada Virda. "Namun, terjadi kesalahpahaman yang tidak saya inginkan. Wakil Kepala Rumah Sakit menjatuhkan skorsing tanpa sepengetahuan saya. Itu murni kesalahan birokrasi yang dipicu oleh niat buruk orang lain,” jelas Rezon panjang lebar.“Saya sudah membatalkan skorsing itu hari ini, Tante. Dan, saya ingin minta maaf secara pribadi, karena nama baik Izora sempat tercoreng."Virda tertegun, lalu

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Langsung Menikah

    Izora tak berkutik. Ia terpaku di kursinya, lidahnya kelu menghadapi kegilaan cinta Rezon yang begitu nekat. Pria di depannya ini, seorang ahli bedah saraf jenius yang biasanya mengandalkan logika, baru saja melontarkan ancaman yang mirip dialog drama picisan. Namun, sorot mata Rezon mengatakan bahwa ia sangat serius."Anda... Anda mengancam saya, Dokter?" suara Izora bergetar, antara marah dan bingung. Tak disangka, ia telah terjerat dalam sebuah hubungan yang rumit."Sebut itu ancaman, janji, atau keputusasaan," balas Rezon dengan nada rendah."Aku sudah melewati banyak hal, Izora. Di masa lalu, aku pernah melakukan banyak kesalahan yang sangat kusesali. Sebagai dokter, aku tahu betapa singkatnya hidup ini,” pungkas Rezon.“Jadi, untuk apa aku berpura-pura tegar, saat wanita yang kucintai berniat menyerahkanku pada orang lain?Izora memalingkan wajah, matanya memanas. "Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya ingin Anda hidup tenang, tanpa harus membela saya. Dokter Celine adalah pi

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Sendirian Seumur Hidup

    Melihat Rezon yang masih bersandar lemah di sofa, Izora kemudian bertanya. “Anda belum makan?”"Belum. Tidak ada selera," jawab Rezon pendek. Suaranya sengaja dibuat parau, seolah-olah energinya terkuras habis hanya untuk menempuh perjalanan ke rumah ini.Izora mengembuskan napas panjang. Sebuah desahan pasrah yang mengandung sedikit kejengkelan tertahan."Kalau begitu, kita pindah ke ruang makan. Perut Anda tidak boleh kosong.”Izora melangkah mendekat, mengulurkan tangannya untuk membantu Rezon berdiri. Dengan sengaja, Rezon memberikan sedikit beban tubuhnya pada Izora, hingga gadis itu terpaksa menuntunnya ke ruang makan."Tunggu di sini saja," perintah Izora sembari mendudukkan Rezon.Rezon patuh. Ia duduk diam, tetapi matanya mengikuti setiap jengkal pergerakan Izora. Ia menjadi "pemindai" yang tak kenal lelahIzora yang menyadari tatapan itu hanya bisa membuang muka. Mencoba fokus pada kegiatannya di dapur kecil yang menyatu dengan ruang makan.Tanpa menoleh, tangan Izora sibuk

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Drama Cinta

    Langkah kaki Izora terasa berat saat ia menapaki teras rumahnya. Skorsing yang dijatuhkan oleh Wakil Kepala Rumah Sakit terasa bagai hantaman bagi karier yang ia bangun dengan tetesan keringat. Namun, yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa keberadaannya kini hanya menjadi beban bagi orang-orang di sekelilingnya.Tiga puluh menit dihabiskan Izora di bawah kucuran shower, berharap air dingin itu bisa meluruhkan rasa sesak di dadanya.Setelah merasa lebih tenang, Izora mengganti pakaiannya dengan kaos santai dan celana kain. Kemudian, ia melangkah ke depan, memilih membantu sang ibu di kios bunga."Kau pulang cepat hari ini, Zora?" Virda bertanya dengan dahi berkerut heran, saat putrinya memasuki kios.Izora mengambil gunting rumput, jemarinya mulai memotong dahan yang layu."Aku diskorsing, Ma. Pihak rumah sakit menganggap aku sebagai penyebab tangan Dokter Rezon terluka. Setelah ini, aku akan mencari pekerjaan di rumah sakit lain atau klinik kecil."Virda menghentikan kegiatann

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Lari Diam-diam

    Sesampainya di pelataran hotel, Elzen harus bekerja ekstra. Ia merangkul bahu Brielle, membawanya masuk melewati lobi dengan cepat, supaya tidak menarik perhatian petugas keamanan. Di dalam lift menuju lantai empat, Brielle semakin tidak terkontrol. Ia menggantungkan seluruh berat tubuhnya pada Elzen.Tiba di depan pintu kamar 402, Brielle sudah tidak sanggup berdiri sendiri, hingga Elzen harus menahannya dengan satu tangan. Mau tak mau, Elzen harus mencari sendiri kartu akses milik Brielle supaya bisa membuka pintu.Ketika tangan Elzen mulai merogoh ke dalam saku jaket, tanpa sengaja ia menyentuh bagian samping tubuh Brielle. Detik itu juga, jari-jari Elzen merasakan sesuatu yang berbeda di balik kain kaos yang longgar. Sesuatu yang kenyal dan lembut, jelas hanya dimiliki oleh seorang wanita.Elzen langsung terkesiap. Napasnya tertahan sesaat. Sentuhan itu terbilang singkat, tetapi cukup untuk mengonfirmasi segala spekulasi dalam kepalanya."Sstt... diamlah, Brion. Kita sudah samp

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status