Share

Rintangan Tak Terduga

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2025-11-21 20:00:49

Meski Moza menyapa dengan lembut, Dastan tidak menoleh sekali pun. Pria itu tetap menghadap ke cermin, berkonsentrasi untuk merapikan celana panjangnya lalu menyisir rambutnya yang masih lembap.

Diam-diam, Moza merasa kesal. Dastan Limantara memang mudah berubah sikap, arah pikirannya sangat sulit untuk ditebak.

Semalam, ia begitu hangat dan penuh gairah, tetapi pagi ini kembali menjadi sosok yang dingin dan acuh tak acuh.

Mungkinkah ini semua adalah ujian? Sebuah cara bagi Dastan untuk mengukur sejauh mana inisiatifnya dalam melayani.

Tak mau tinggal diam, Moza berjalan mendekat. Matanya cepat memindai seisi kamar.

Pandangannya lantas tertuju pada kemeja dan jas cokelat yang masih tersampir di sandaran sofa. Tampaknya Dastan memang belum sempat mengenakannya.

Tanpa ragu, Moza segera mengambil kemeja itu dan berdiri di depan Dastan yang masih bertelanjang dada.

"Biar saya bantu memakai kemeja, Tuan Muda," ucap Moza.

Dastan tidak menyahut, tetapi matanya menyipit seperti menunggu tind
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Puji Lestari
kageo pengganggu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   The Limantara Brothers

    Ditanya seperti itu oleh putranya sendiri, Moza bingung harus bagaimana. Apalagi, saat ia melihat Abigail juga menatapnya dengan binar mata yang sama besarnya. Menolak permintaan ini bukan hanya mengecewakan Kayden, tetapi juga akan melukai hati kecil Abigail yang merindukan kebersamaan keluarga.Tak ingin merusak keceriaan dua buah hatinya, Moza akhirnya tersenyum tipis."Mama mandi dulu ya, Sayang. Setelah itu, kita putuskan akan jalan-jalan ke mana, baru Mama menelepon Papa."Kayden dan Abigail langsung bersorak gembira. "Yeyyyy!!!" Mereka melompat kegirangan di atas ranjang hingga seprai yang sudah rapi kembali berantakan."Aku mau beli cupcake rasa stroberi, es krim cokelat yang besar, terus kita ke Fantasy World!" seru Abigail dengan wajah berseri-seri. Jarinya sibuk menghitung rencana yang sudah tersusun di kepalanya.Moza mengangguk sambil tertawa kecil. "Tunggu Mama sebentar ya, kalian bisa bermain dulu di sini."Tanpa menunda lagi, Moza masuk ke kamar mandi. Di bawah kucur

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pilihan Ada di Tanganmu

    Kaki Moza mendadak terasa lemas di pelukan Dastan. Kehangatan pria itu, kata-katanya yang tulus, semuanya seperti ombak yang mengguncang tembok pertahanan Moza. Namun, naluri untuk melindungi hatinya dari luka bangkit lebih cepat. Sebelum dirinya luluh oleh pesona Dastan, Moza buru-buru berbicara dengan nada gugup.“A-aku ingin mengatakan sesuatu, tentang Abigail,” ucap Moza sedikit terbata.“Dia meminta pulang ke mansion. Mungkin… kau bisa mengajaknya besok. Kalau aku akan tetap di sini.” Dastan tidak langsung menjawab. Tangannya masih terasa hangat di pinggang Moza. “Aku tidak setuju bila kita harus tinggal terpisah,” ujarnya tegas. “Aku akan segera mencari waktu yang tepat untuk meminta restu dari Opa Markus. Setelah….” Dastan berhenti sejenak, memastikan Moza mendengar ucapannya. “Setelah kau bersedia memaafkan aku.” Dalam kesunyian, Dastan menatap langsung ke dalam mata Moza, seolah sedang mencari secercah pengampunan di sana.Mendadak, Moza menjadi sangat gugup di bawah tat

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Membutuhkanmu Setiap Hari

    Mobil berhenti dengan mulus di area parkir privat apartemen. Tanpa membuang waktu, Dastan keluar sambil menggendong Kayden yang masih terlelap dalam tidur. Moza berjalan mengiringi di sampingnya dalam diam. Keheningan lobi dan denting lift yang membawa mereka naik, terasa begitu kontras dengan kegaduhan yang terjadi di rumah Tuan Hadinata.Begitu pintu apartemen terbuka, Dastan langsung menuju kamar Kayden. Ia membaringkan tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati, menyelimutinya, dan memastikan putranya nyaman. Moza hanya mengintip dari ambang pintu, sebelum ia melangkah menuju kamar Abigail. Di sana, ia melihat gadis kecil itu sudah tertidur lelap di atas ranjang, ditemani oleh Nuri.Setelah memastikan Abigail aman, Moza mengembuskan napas lega. Ia bergegas kembali ke kamar Kayden, tetapi Dastan sudah tidak ada di sana. Pasti pria itu telah berpindah ke kamar utama.Moza pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menemui Dastan. Entah mengapa ia merasa kotor. Bekas sentuhan R

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tingallah Bersamaku Malam Ini

    Selepas kepergian Tuan Sentosa dan Radit, suasana ruang makan itu menjadi sunyi senyap.Moza kembali menarik lengan Dastan dengan lembut. Matanya menyiratkan permohonan agar mereka segera pergi dari rumah yang menyesakkan ini. Ia tidak ingin ada perdebatan lebih jauh.Namun, Dastan tidak bergeming. Alih-alih berbalik arah, ia justru melangkah maju dan menghampiri Tuan Hadinata yang masih berdiri di ujung meja. Moza menahan napas, khawatir Dastan akan meluapkan amarahnya."Tuan Hadinata, saya meminta maaf karena tidak mengundang Anda pada pernikahan kami," tutur Dastan.Moza mengerjap berkali-kali, seolah ingin memastikan panca inderanya masih berfungsi normal. Dastan meminta maaf?Sebelum melanjutkan, pria itu sedikit membungkukkan badan—gerakan kecil yang berarti besar bagi seseorang seperti Dastan. "Sekarang, saya ingin meminta restu dari Anda. Apa Anda bersedia menerima saya sebagai suami Moza?"Lagi-lagi Moza dibuat tercengang oleh perilaku Dastan yang sangat berbeda. Mungkin j

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Saya adalah Suami Moza

    Sesuai dengan arah jari telunjuk Kayden, Dastan mengalihkan pandangan kepada Radit yang duduk mematung di kursi roda. Untuk sesaat, suasana menjadi sangat mencekam.Nyali Radit seketika menciut, melihat postur Dastan yang tinggi besar dan berotot. Terlebih, mata pria itu bagaikan sinar laser yang mampu melubangi dasar jiwanya. Dengan gerakan kikuk, Radit kemudian menggeser kursi rodanya mendekat kepada sang ayah untuk mencari perlindungan."Papa... siapa dia?" bisiknya ketakutan.Dastan tidak menanggapi sama sekali, seakan Radit tidak layak untuk diperhatikan. Sambil tetap menggendong Kayden, ia berjalan menuju ke kursi di sebelah Moza. "Sebentar, Kay. Papa ingin bicara dengan Opa,” bisik Dastan lembut, kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan sebelumnya.Lidah Moza terasa kelu, seperti terbungkus kapas tebal. Napasnya pendek-pendek, tertahan di kerongkongan. Sungguh, kehadiran Dastan saat ini bagaikan mimpi. Tadi siang dia masih berpikir pria itu sedang di luar negeri bersama

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Itu Papa

    Kata-kata Radit seperti petir di siang bolong. Didorong oleh insting perlindungan diri yang tajam, Moza mendorong dada Radit dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Alhasil, kursi roda pria itu mundur beberapa sentimeter. Moza berdiri dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, tetapi matanya menyalakan api kemarahan.Ia segera berdiri dan menarik Kayden ke belakang tubuhnya, menjauhkan sang putra dari jangkauan tangan Radit yang tidak stabil.Tuan Sentosa bergegas mendekat untuk menenangkan putranya. Ia meraih pegangan kursi roda Radit dan menariknya menjauh dari Moza. "Radit, kendalikan dirimu. Jangan membuat Moza salah paham," ujarnya cemas sekaligus malu. Ekspresi Radit pun kembali datar, seperti tombol yang dimatikan paksa. Dia memandang ke arah lain, seolah kejadian tadi tidak pernah ada.Tuan Sentosa kemudian berpaling kepada Moza. "Maafkan Radit, Moza. Dia hanya terlalu bersemangat melihatmu lagi setelah bertahun-tahun."Namun, Moza tidak mendengarkan. Matanya justru te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status