Home / Romansa / Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa / Ketegangan di Ruang Sidang

Share

Ketegangan di Ruang Sidang

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2026-03-14 17:25:48

Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa berat.

Moza duduk di barisan terdepan kursi pengunjung, tepat di belakang pagar pembatas kayu yang memisahkan area publik dengan area hukum. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu, saat melihat tiga kursi hakim yang masih kosong.

Tak lama kemudian, pintu samping terbuka. Sesuai dengan prosedur persidangan pidana, pihak yang dipanggil pertama adalah Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat Hukum.

Elbara melangkah masuk dengan tenang dan penu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tragedi Sore Hari

    Gedung Eagle Sport Hall sore itu terasa begitu hidup. Di tengah lapangan indoor yang luas, belasan anak laki-laki dengan kostum futsal tampak berlarian. Mereka seperti anak ayam yang baru saja lepas dari induknya. Di antara riuh rendah suara sepatu karet yang berdecit dan tawa polos anak-anak, sosok Kayden tampak paling menonjol.Kayden mengenakan jersey biru dengan nomor punggung favoritnya.Meskipun ini adalah hari pertama latihan, ia tidak menunjukkan tanda-tanda canggung. Sebaliknya, Kayden tampak sangat fokus saat mengikuti instruksi Coach Rendy, sang pelatih futsal."Oke, Anak-anak! Sekarang kita latihan dribbling pendek. Ikuti garis kuning ini dan jangan sampai bolanya lepas dari kaki!" seru Coach Rendy seraya meniup peluitnya pendek.Kayden mulai menggiring bola. Gerakannya sangat akurat untuk anak seusianya. Jika anak-anak lain cenderung menendang bola terlalu jauh, lalu mengejarnya dengan napas terengah-engah, Kayden justru menjaga bola tetap menempel di dekat kakinya. Ia

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Ketegangan di Ruang Sidang

    Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa berat.Moza duduk di barisan terdepan kursi pengunjung, tepat di belakang pagar pembatas kayu yang memisahkan area publik dengan area hukum. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu, saat melihat tiga kursi hakim yang masih kosong.Tak lama kemudian, pintu samping terbuka. Sesuai dengan prosedur persidangan pidana, pihak yang dipanggil pertama adalah Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat Hukum. Elbara melangkah masuk dengan tenang dan penuh wibawa, duduk di sisi kanan meja pengacara. Ekspresi wajahnya menunjukkan profesionalisme yang dingin."Hadirin dimohon berdiri, Majelis Hakim memasuki ruang sidang," seru panitera.Semua orang berdiri serentak. Tiga hakim dengan jubah merah-hitam mereka melangkah naik ke kursi pimpinan. Setelah hakim mengetuk palu tiga kali sebagai tanda sidang resmi dibuka, hakim ketua memerintahkan petugas untuk menghadirkan Terdakwa, Arseno.Suasana mendadak tegang. Pintu belakang ruang sidang terbuka, da

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Ayah Biologis

    Waktu seakan merayap lambat bagi Moza sejak keberangkatan Dastan ke luar negri. Apartemen yang biasanya terasa hangat dengan kehadiran suaminya, kini terasa sedikit sunyi meski anak-anak tetap ceria. Siang ini, Moza sudah bersiap dengan gaun formal yang nyaman bagi ibu hamil. Ia berniat menepati janjinya untuk datang ke persidangan Arseno, sebagai bentuk dukungan bagi Reva.Di meja makan, Kayden sedang menghabiskan makan siangnya dengan lahap. Bocah lelaki itu mengenakan kostum futsal berwarna biru untuk latihan perdananya di Eagle Sport Hall.Moza menghampiri putranya lantas menyeka bibir Kayden yang belepotan. "Kay, Mama akan pergi untuk menemani Tante Reva. Nanti kalau sudah selesai latihan futsal, tunggu dulu di dalam gedung bersama Wulan. Pak Nata akan menjemputmu, setelah menjemput Abigail dari les piano."Kayden mengangguk mantap dengan pipi yang masih penuh makanan. "Iya, Mama.”Melihat putranya yang sangat antusias, Moza ikut bahagia. Ia mengecup kening Kayden lama, sebelum

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tak Ingin Kau Pergi

    Keluar dari kafe, mobil Dastan segera meluncur ke jalan raya untuk mengantar Moza pulang.Kendaraan beroda empat itu akhirnya berhenti di lobi utama apartemen. Dastan mengecup kening Moza dengan lembut sebelum istrinya turun."Istirahatlah, Sayang. Jangan terlalu banyak bergerak sebelum anak-anak pulang," pesan Dastan sebelum berlalu.Tiba di unit apartemen, Moza berganti pakaian dengan gaun rumahan yang nyaman. Ia langsung melangkah ke dapur, di mana Bi Isna sedang memotong sayuran."Bi, mari saya bantu. Saya ingin membuatkan pasta saus krim kesukaan Kayden," ujar Moza dengan semangat.Selama hampir satu jam, dapur itu dipenuhi aroma harum mentega dan bawang putih. Moza menata meja makan dengan sangat cantik. Piring-piring keramik bermotif lucu, gelas berisi jus apel, serta kudapan berupa puding stroberi sudah tersaji rapi. Tak lama kemudian, suara denting bel apartemen terdengar, tanda bahwa pasukan kecilnya telah kembali."Mama!" seru Kayden dan Abigail bersamaan. Mereka langsung

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tanpa Perlindungan

    Selepas kesepakatan verbal tercapai, Dastan dan Moza diantar oleh staf marketing sampai ke depan pintu mobil mereka.Begitu duduk di kursi kemudi, Dastan melirik jam di pergelangan tangannya. "Baru jam sebelas. Belum waktunya makan siang, tapi kau dan bayi kita butuh asupan,” ucap Dastan. “Aku tahu tempat yang menjual roti nogat gandum dengan taburan kacang melimpah. Ayo, kita mampir sebentar.”Moza mengangguk setuju. Membayangkan tekstur roti hangat dengan krim moka dan kacang renyah tiba-tiba membangkitkan selera makannya. Mereka pun berhenti di sebuah kedai kopi artisan yang tenang. Dastan memesan dua potong roti nogat dan dua gelas teh chamomile.Namun, saat pesanan baru saja tersaji di atas meja, ponsel Dastan bergetar-getar. Nama Zeron muncul di layar. Wajah Dastan yang tadinya santai mendadak berubah serius. Alisnya bertaut rapat. "Kapan kejadiannya? ... Baiklah, pesankan tiket pesawat untuk besok pagi."Usai terlibat percakapan serius, Dastan menutup telepon sembari menghe

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Mewujudkan Impianmu

    Sepanjang perjalanan, Moza berkali-kali melirik suaminya yang tampak begitu santai mengemudi. Ia masih penasaran ke mana tujuan mereka kali ini."Sayang, kau tidak mau memberi bocoran sedikit saja?" tanya Moza, rasa penasarannya sudah di ujung tanduk. "Kenapa sejak dulu kau suka bermain teka-teki? Membuatku harus menebak-nebak terus."Dastan melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. "Justru itulah kelebihanku yang membuatmu tertarik, bukan? Kau suka pria yang sedikit misterius.”Moza mendecih, meski ia tak bisa menutupi binar geli di matanya. "Tidak juga. Justru, aku lebih suka pria yang terbuka. Jadi, aku tidak perlu pusing menebak jalan pikiranmu yang terkadang sulit ditembus.”Mendengar itu, Dastan terkekeh rendah. "Kalau soal itu, gampang sekali. Aku bisa terbuka di depanmu kapan saja kau minta. Bahkan secara harfiah jika kau mau," godanya dengan nada suara yang sengaja direndahkan.Wajah Moza seketika merona. Ia memberikan cubitan ringan d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status