ログイン"Aku butuh seorang istri." Kaluna Vance seharusnya menolak. Sebagai seorang ibu tunggal dan CEO Eve Corp, hidupnya sudah cukup rumit tanpa kehadiran Sean Aldrich Wiratama, pewaris tunggal Wiratama Group yang menawarkan pernikahan layaknya sebuah kontrak bisnis. Namun ketika ayahnya mengancam akan mengambil alih perusahaan yang telah ia bangun dengan susah payah, Kaluna menyadari satu hal: Bahkan dirinya tidak bisa melawan seluruh keluarga Vance seorang diri. Sean membutuhkan seorang istri. Kaluna membutuhkan seseorang yang cukup kuat untuk berdiri di sisinya. Sebuah kesepakatan pun dibuat. Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya pernikahan yang saling menguntungkan. Tapi bagaimana jika pria yang seharusnya hanya menjadi suami di atas kertas perlahan menjadi satu-satunya tempat yang membuatnya merasa aman?
もっと見るJika seseorang bertanya siapa wanita paling berpengaruh di Indonesia saat ini, nama Kaluna Evelyn Vance hampir selalu masuk dalam daftar teratas. Di usia tiga puluh lima tahun, ia berhasil melakukan sesuatu yang bahkan dianggap mustahil oleh banyak orang. Membangun Eve Group dari nol. Hanya dalam lima tahun.
Lima tahun lalu, saat perceraian itu mengancurkan hidupnya, sebagian besar orang mengira Kaluna Evelyn akan tenggelam bersama skandal yang menyeret namanya. Namun, mereka salah. Alih-alih menghilang, Kaluna justru membangun Eve Group dari nol tanpa campur tangan Ayahnya. Perusahaan yang awalnya dianggap sebagai proyek ambisius seorang janda muda kini menjelma menjadi salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia. Dalam lima tahun, Eve Group berhasil memperluas bisnisnya ke berbagai sektor strategis dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dan pagi itu, seperti biasa, kaluna sedang memimpin rapat direksi. "Proyeksi kuartal ketiga?" Seorang direktur segera berdiri. "Naik sebelas persen dari target awal, Bu." "Kurang." Satu kata namun terdengar datar dan tegas. Membuat seluruh ruangan langsung hening. Kaluna menutup map di depannya., tatapan coklatnya menyapu seluruh peserta rapat. "Saya tidak membangun perusahaan ini untuk puas dengan angka yang bahkan tidak sempurna." Tidak ada yang berani menyela, karena semua orang tahu satu hal. Kaluna mungkin terlihat elegan dengan blazer putih dan rambut cokelat gelap yang tertata rapi, namun di ruang rapat, ia jauh lebih berbahaya daripada sebagian besar CEO pria yang menjadi kompetitornya. Ketukan pelan terdengar dari pintu. Tok. Tok. Tok. Kaluna mengangkat kepalanya, "Masuk." Pintu terbuka, dan seorang wanita muda melangkah masuk sambil membawa tablet kerjanya. Emily, asisten oribadi sekaligus sekretaris yang sudah bekerja bersamanya selama hampir lima tahun ini. "Miss Vance, " Emily mendekat, "Maaf menganggu." Kaluna mengangguk kecil, "Ada apa?" Emily terlihat ragu selama beberapa detik, hal yang jarang terjadi dan itu langsung membuat Kaluna curiga. "Ada apa Emily?" "Tuan Ethan ingin bertemu." Ruangan mendadak sunyi. Beberapa direksi refleks menundukkan kepala, kaluna sendiri hanya menghela napas pelan. "Katakan padanya, aku akan datang malam nanti." "Tapii..." Emily kemudian menyerahkan tabletnya, "beliau meminta Anda datang sekarang." "Katakan pada Ethan, aku sedang ada pertemuan dengan direksi." Emily terlihat mulai kesal, memberitahu Kaluna tentang ayahnya sama aja dengan menguji kesabarannya. Dia kemudian sedikit menunduk dan berbisik tepat di telinga Kaluna. "Saya bahkan sudah mengatakan anda sangaaat sangaaat sangaat sibuk miss, tapi sayangnya Tuan Ethan mengancam akan..." Kaluna langsung membanting tabletnya sendiri, "Sekian untuk hari ini." Dan tidak ada yang berani memprotesnya. Beberapa menit kemudian, mobil hitam miliknya sudah melaju meninggalkan kantor pusat Eve Group menuju kawasan elite Menteng. Kaluna duduk diam di kursi belakang, sementara Emily berada di sampingnya. "Kira-kira soal apa?" Tanya Emily hati-hati. Kaluna tersenyum tipis, "Saya bahkan tidak perlu menebaknya." Emily langsung mengerti. Ini akan tentang keluarga, selalu permasalahan keluarga. Sudah lima tahun sejak perceraian Kaluna. Lima tahun sejak ia membangun Eve group. Lima tahun pula keluargana tidak pernah berhenti berusaha mengatur hidupnya. Mobil akhirnya memasuki gerbang utama kediaman keluarga Vance. Bangunan megah bergaya neoklasik itu berdiri angkuh di atas lahan luas, lebih menyerupai istana dibanding rumah tinggal biasa. Kaluna turun tanpa banyak bicara, diikuti Emily. "Saya tunggu disini, Miss." Kaluna mengangguk, lalu melangkah masuk. Begitu pintu besar itu terbuka, ia langsung menemukan seluruh anggota keluarganya. yang sudah berkumpul di ruang kerja Ethan Vance. Paman-pamannya. Beberapa pemegang saham keluarga. Dan tentu saja, Xander. Kakak laki-lakinya.Tidak ada yang mengundangnya untuk minum teh sore. Kaluna langsung tahu itu. Ethan Vance duduk di balik meja besar dari kayu mahoni. Tatapannya tenang, terlalu tenang. "Papa memanggilku?" Ethan mengangguk. "Duduk." Kaluna tidak suka nada itu, nada yang sama yang biasa digunakan ayahnya ketika hendak membuat keputusan penting atas hidup orang lain. Tetapi ia tetap duduk. Hening sesaat memenuhi ruangan. Lalu Ethan membuka sebuah map hitam di depannya. "Usiamu tiga puluh lima tahun." Kaluna mengangkat alis. "Aku tahu." "Kau memiliki seorang anak." "Aku juga tahu." Beberapa orang di ruangan itu mulai terlihat tidak nyaman. Karena mereka tahu ke mana arah pembicaraan ini.Dan Kaluna juga tahu. Sayangnya. Ia sudah terlalu sering mendengar topik yang sama. "Papa." Kaluna menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau ini tentang perjodohan lagi, kita bisa menghemat waktu masing-masing." Namun Ethan tidak tersenyum. Tidak juga marah, yang justru membuat Kaluna merasa tidak nyaman. Pria itu menutup map di depannya. Lalu berkata tenang, "Kali ini berbeda." Untuk pertama kalinya, Kaluna benar-benar memperhatikan. Tatapan Ethan bertemu dengan tatapannya. Dan kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan membeku. "Kamu harus menikah." Kaluna menatap ayahnya selama beberapa detik, lalu tertawa kecil. sebuah tawa yang terdengar lebih seperti lelucon dan ketidakpercayaan. namun tidak ada yang tertawa selain dirinya, dan saat itulah Kaluna menyadari sesuatu, Ayahnya memang serius. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. "Oh." Ia menyandarkan tubuh ke kursi. "Kita kembali ke topik ini lagi." "Ini keputusan." suara Ethan tetap tenang. Kaluna mendecakkan lidahnya, "Keputusan siapa? pikir baik-baik sebelum menjawab, Papa!" Beberapa paman yang duduk di sisi ruangan langsung saling berpandangan. Mereka sangat mengenal Kaluna, dan mereka tahu nada bicara itu berarti perang sudah dimulai. Namun, Ethan sendiri tidak terlihat terganggu. "Keputusan keluarga." Kaluna tertawa hambar, "Aku bahkan tidak punya keluarga selain Aldrich, jadi keluarga yang mana yang papa maksud? langsung saja kali ini untuk proyek siapa?" "Kaluna. jaga bicaramu!!!" "Papa sudah pernah mencoba menjodohkanku,lebih dari sekali." "Kau menolak semuanya." "Tentu saja." Tatapan Kaluna menajam, "Aku tidak butuh suami." "Setiap orang butuh seseorang." "Aku tidak." Hening. Kaluna melanjutkan, "Aku punya Aldrich, aku punya perusahaan, Aku punya hidupku dan aku baik-baik saja." "Tidak, kau harus punya seseorang yang mendampingimu saat ini." "Untuk apoa? aku mampu melakukannya sendiri." "Tidak ada yang meragukan kemampuanmu." jawab Ethan. Kaluna memejamkan mata sesaat, percakapan ini mulai melelahkan baginya. "Sekali lagi, " ia membuka mata. " Aku tidak berniat menikah." "Kau terlalu keras kepala, Kaluna." Kaluna menoleh. Salah satu pamannya menyandarkan tubuh ke kursi. "Kau pikir karena berhasil membangun Eve Group, kau bisa mengabaikan semua nasihat keluarga?" Kaluna tersenyum tipis. "Bukan." "Lalu?" "Aku mengabaikan nasihat keluarga karena sebagian besar nasihat itu buruk." Beberapa orang langsung menahan napas. "Kaluna!" bentak pria itu. Namun Kaluna tidak berhenti. "Kalian tidak pernah peduli apa yang aku inginkan. Kalian hanya peduli siapa yang bisa menguntungkan keluarga ini berikutnya." "Kaluna." Paman lainnya ikut bicara. "Kau tidak mungkin sendiri selamanya." Kaluna langsung tertawa, lucu sekali. Mereka berbcara seolah dirinya gadis dua puluh tahun yang baru lulus kuliah. Padahal ia sudah pernah menikah. Sudah pernah jatuh cinta. Dan sudah pernah kehilangan. "Yang kalian khawatirkan sebenarnya apa?" Tidak ada yang menjawab. Kaluna mengangguk pelan. "Tepat sekali." Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Bukan soal aku." "Bukan soal kebahagiaanku, bukan soal Aldrich." Suaranya mulai mengeras. "Ini soal keluarga Vance." Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada yang membantah. Karena Kaluna benar. Ethan akhirnya membuka suara. "Keluarga ini selalu menjadi tanggung jawab kita." "Aku sudah menjalankan tanggung jawabku." Kaluna langsung membalas. "Aku membangun Eve Group." "Aku menjaga nama keluarga." "Aku membesarkan putraku." "Apa lagi yang kurang?" Ethan terdiam beberapa detik. Lalu pria itu berkata pelan. "Kau membutuhkan seseorang yang bisa berdiri di sampingmu." Kaluna menggeleng. "Tidak." "Kau hanya belum menemukannya." "Aku tidak mencarinya." Dan kali ini... Jawaban Kaluna terdengar jauh lebih jujur. Karena memang itulah kenyataannya. Ia tidak pernah mencari. Tidak pernah membuka pintu. Tidak pernah memberi kesempatan. Baginya... Aldrich sudah cukup. Pekerjaannya sudah cukup. Hidupnya sudah cukup. Atau setidaknya itulah yang selalu ia yakini. Ethan menatap putrinya lama. Sebelum akhirnya menutup map di depannya. "Semua keluar." Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Para paman langsung saling berpandangan. Xander mengangkat kepala. "Papa?" "Aku ingin bicara dengan putriku." Suara Ethan terdengar datar. "Berdua." Hening. Tidak ada yang berani membantah. Satu per satu mereka berdiri dan Xander menjadi orang terakhir yang meninggalkan ruangan. Sebelum keluar, pria itu sempat menatap Kaluna. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun urung. Pintu perlahan tertutup. Klik. Kini hanya tersisa Ethan dan Kaluna. Dua orang paling keras kepala dalam keluarga Vance. Kaluna menyilangkan kedua tangan di dada. "Baik." Tatapannya bertemu dengan ayahnya. "Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"Pagi itu cahaya matahari masih lembut menyelinap lewat jendela kaca besar. Kaluna berjalan pelan keluar kamar, matanya masih sedikit kabur karena baru bangun tidur. Di ruang tengah, Aldrich duduk tenang di atas karpet empuk, sedang serius membaca buku tebal berisi gambar-gambar planet, sementara Naya berdiri di belakangnya dengan sisir di tangan, merapikan rambut anak itu. Di sudut dapur, koki pribadi sudah sibuk menyiapkan aroma sarapan yang menggugah selera.Kaluna berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu Naya."Biar aku saja," katanya lembut."Baik, Nyonya," jawab Naya sopan sambil menyodorkan sisir, lalu berjalan menuju dapur membantu koki.Kaluna mengangguk, lalu mencium puncak kepala Aldrich dengan penuh kasih sayang.Aldrich langsung menoleh cerah, matanya berbinar senang."Selamat pagi Mami ku yang cantikkk!""Selamat pagi, sayang," balas Kaluna sambil tersenyum lebar. "Wangi sekali anak Mami hari ini.""Iyaaa dong! Anak Mami harus selalu wangi," jawab Aldrich bangga.Kaluna
Nathan menyetir dengan tenang, ponselnya tersambung otomatis ke sistem suara mobil. Tiba-tiba suara Celine terdengar jelas memenuhi kabin, karena Nathan lupa tidak mematikan fitur sambungan otomatis dan tidak menggunakan earphone. "Nanti aku hubungi lagi begitu sampai di apartemen ya, sayang," ucap Nathan pelan. "Hmm... aku juga baru mau pulang dari sini," jawab Celine dari seberang. "Hati-hati di jalan ya pulangnya," pesan Nathan lembut. "Kamu juga ganteng. I love you, Nath." "Iya sayang, I love you so much." Sambungan terputus. Sejak tadi Kaluna hanya bersandar lemas di jok samping, matanya terpejam rapat, padahal setiap kata percakapan itu terdengar sangat jelas di telinganya. Kaluna tertawa kecil, suaranya datar tanpa membuka mata. Nathan tersenyum tipis, lalu tangannya terulur mengacak rambut Kaluna dengan lembut—hanya dialah satu-satunya orang yang berani dan bisa melakukannya tanpa ditolak. "Sudah selesai?" tanya Kaluna pelan. "Hmm," jawab Nathan. Kaluna tertawa lagi.
Di sudut paling tenang bar eksklusif di lantai tertinggi gedung pusat kota, cahaya lampu gantung berwarna keemasan jatuh lembut di atas meja kayu gelap. Aroma kopi arabika yang baru diseduh bercampur dengan wangi kayu cendana ruangan, menciptakan suasana hening namun terasa berat. Xander duduk santai di salah satu sofa kulit, berhadapan dengan Sean dan Arron.Sean menyandarkan punggungnya, cangkir kopi di tangannya diputar pelan tanpa diseruput sedikit pun. Wajahnya datar, tapi matanya menahan ketidaksukaan yang jelas."Aku tidak suka menjalin kerja sama dengan sesuatu yang bahkan informasinya tidak jelas," ucapnya pelan namun tegas. "Nathan?" tanya Xander seolah baru mendengar nama itu."Mungkin saja," timpal Arron sambil menyandarkan dagu di atas tangan."Kalian mengenalnya.""Benarkah?? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya," Arron menoleh cepat ke arah Sean. "Kau mengenalnya?""Kurasa tidak," jawab Sean singkat, matanya menatap lurus ke luar jendela menatap kerlap-kerlip lamp
Sore itu, sinar matahari mulai berwarna keemasan menyelimuti jalanan. Di dalam mobil sedan limusin paling mewah milik keluarga Vance—berkulit cokelat lembut, pencahayaan hangat, dan kedap suara sempurna—Kaluna duduk bersandar lepas di kursi belakang yang luas. Ia sama sekali tak sadar bahwa ia sudah tertidur pulas selama satu jam penuh, padahal cairan infusnya sudah habis sejak lama di rumah sakit. Perlahan Kaluna membuka mata, menatap ke luar jendela yang melaju pelan. "Kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya pelan. "Nyonya butuh istirahat," jawab Emily tenang dari kursi depan. "Lagipula saya sudah menyusun ulang semua jadwal Nyonya sejak Nyonya masuk UGD tadi." "Kata siapa?" potong Kaluna cepat. "Kata Dokter Nathan," jelas Emily santai. "Semalam Nyonya mabuk, lalu Nyonya..." Kaluna langsung berdeham keras, sengaja memotong pembicaraan itu. "Tidak perlu diingatkan terus!" Emily tertawa kecil, lalu menoleh ke belakang sambil menyipitkan mata menatap bosnya. "Sesuatu terjadi di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー