LOGINA Ruo menutup pintu kamarnya. Tempat tinggalnya kini sudah lebih baik di paviliun utara daripada saat pertama kali ia datang, juga kamarnya tidak terlalu jauh dari kediaman Shen Yuan. Api di tungku masih menyala walau kecil, tapi entah mengapa malam itu dinginnya terasa lebih menusuk dari biasanya.
A Ruo bersandar pada daun pintu, ia menekan dadanya sendiri.
“Ini aneh, biasanya aku tahan dengan dingin, tapi kenapa rasanya sakit,” gumamnya sambil mengembuskan angin dingin dari mulutnya. Asap tebal terlihat, seolah-olah A Ruo akan membeku.
Debar di dadanya mulai melambat. Seolah jantungnya menemukan irama baru yang belum dikenalnya. Wajah Shen Yuan melintas begitu saja di benaknya. Tatapan abu-abu itu. Cara suaranya memanggilnya A Ruo tanpa sadar.
“Tidak boleh. Aku tidak mungkin selamanya tinggal di sini. Aku masih punya pekerjaan dan kehidupan di Beijing,” katanya sambil mengusap dua telapak tangan.
Langkah A Ruo mendadak goyah. Udara di sekitarnya membeku. Dingin tidak berasal dari luar istana tapi dari dalam tubuh gadis berpipi tembem itu sendiri.
“Aku ... kenapa?” Lian Ruo meraba lengannya. Kulitnya pucat dan napasnya berembun. “Sakit sekali, aku tak bisa bernapas, tolong.”
A Ruo tak kuasa. Ia jatuh ke lantai, punggungnya membentur lantai kayu. Namun, kesadarannya masih menetap. Matanya terbuka, menatap langit-langit yang perlahan menggelap.
“Dokter, suster, tolong, aku seka—rat,” ucapnya sambil menekan dada.
Sebuah cahaya menyilaukan datang ke hadapan A Ruo. Detik berikutnya, waktu seolah berhenti.
Api tungku membeku begitu saja. Salju di luar jendela terhenti sebelum jatuh ke tanah, ruangan terasa hampa dari udara, tapi A Ruo masih bisa merasakan dadanya berdebar.
Seorang pria berambut perak muncul dari pusaran cahaya. Jubahnya mengalir seperti jam pasir yang terlihat berserakan tapi menjadi satu. Tatapannya terlihat tenang di balik kekacauan yang dialami oleh A Ruo.
“Xu Wen, atau sekarang Lian Ruo,” ucapnya setelah menjejakkan kaki di lantai.
Lian Ruo mendecak. “Aku berhalusinasi lagi, atau aku bermimpi. Kalau iya, aku ingin cepat bangun.”
“Aku bukan halusinasi. Aku Dewa Waktu, penjaga keseimbangan garis takdir,” jawabnya santai.
“Dusta.” Lian Ruo menghela napas. “Jadi aku mati dua kali, hidup lagi, merasakan kekonyolan gadis muda umur belasan tahun, lalu dikunjungi dewa. Paket lengkap, beli dua gratis satu.”
Dewa Waktu tersenyum. “Tentang itu, kau yang memintanya sendiri.”
“Aku?” Lian Ruo mengernyit. “Kapan? Kau jangan berbohong!”
“Kau datang ke kuilku. Di masa depan, dalam keputusasaan karena tak bertemu dengan cinta sejatimu, wuahahaha.” Dewa Waktu tertawa dan benda-benda di kamar A Ruo terangkat.
Lian Ruo terdiam dan memainkan dua telunjuknya. “Aku tak ingat tentang doa itu.”
“Dan kau berkata, 'Ya Dewa, tolong, masak aku setua ini tidak ada yang suka? Aku memang tidak secantik Dilraba Dilmurat, tapi wajahku juga tidak jelek-jelek amat. Tolong tunjukkan kalau kau nyata, kirimkan cinta sejati untukku!'”
Lian Ruo menutup wajahnya. “Astaga. Aku lebay sekali ternyata.”
“Kau memohon untuk merasakan cinta, padahal kau tahu sendiri cinta itu rumit. Dari sekian banyak hal, kenapa harus cinta yang kau minta?”
“Jadi kau kirim aku ke sini?” Lian Ruo meliriknya. “Ke tubuh gadis yang telah mati, ke istana es, ke pangeran yang bisa membekukan napas dalam sedetik?”
“Karena ketidakseimbangan kekuatan mereka bisa merusak garis waktu dan berimbas di masa depan. Salju dan panas akan semakin menggila jika kau tak bisa menyelesaikan misimu.”
“Misi apa?” A Ruo mendengkus. “Jatuh cinta dan tidur dengan pangeran es itu?”
“Isi kepalamu memang tidur saja dengan pria. Sudah benar aku mengirimmu ke tubuh Lian Ruo, Xu Wen.”
“Bukan begitu maksudku.” A Ruo menggaruk kepalanya.
“Bukankah kau sudah merasakan dada pangeran itu? Sangat dingin dan butuh kehangatan.”
“Jadi aku memang harus tidur dengan dia?”
“Bukan begitu, Gadis Lebay. Sembuhkan dia dengan kemampuanmu sebagai dokter di masa depan.”
“Tapi di sini tidak ada medis modern.”
“Belajar. IQ-mu yang tinggi bisa membantu kau menguasai ilmu dalam waktu dekat. Kau jangan hanya memandang dada pangeran itu yang mirip Dylan Wang, keras dan kotak-kotak.” Dewa Waktu menggosok hidungnya. Ia membuka jubah agungnya sekaligus memamerkan bentuk tubuhnya yang sangat sempurna, sampai A Ruo terperangah dibuatnya.
“Bolehkah aku menyentuhnya?”
“Tidak boleh.” Dewa Waktu langsung memakai jubahnya kembali.
“Dasar pelit!” celetuk A Ruo.
“Aku tidak punya banyak waktu. Aku hanya menyampaikan pesan, selesaikan misimu dan gunakan otakmu yang cerdas itu. Rasakan ledakan cinta sejati hingga kau hampir gila.”
Dewa Waktu akan segera pergi tapi A Ruo menahan jubahnya. “Tunggu dulu, setelah misi selesai, aku boleh pulang ke masa depan?”
“Tentu saja.”
“Lalu bagaimana dengan tubuh gadis ini? Dia sudah mati, bukan?”
“Itu bukan urusanku.” Dewa Waktu menghilang dan waktu yang tadinya berhenti berjalan kembali seperti semula tanpa merusak kejadian sama sekali. Salju kembali jatuh, air kembali mengalir, dan api kembali menyala.
***
Dapur Istana Utara malam itu lebih hangat dari biasanya. Bukan karena tungku yang menyala lebih besar, melainkan karena suara ramai para pelayan dan beberapa prajurit yang mendapat jatah makan malam lebih awal. A Ruo duduk di antara mereka, dengan mangkuk kayu kecil di tangannya.
Ia menyesap sup daging perlahan sambil alisnya menyatu. “Hmmm.”
“Kenapa, A Ruo?” tanya salah satu pelayan laki-laki. “Tidak enak?”
A Ruo menoleh. “Bukan tidak enak. Rasanya terlalu biasa saja.”
Semua menatapnya bingung. Makanan di masa lalu memang demikian, berbeda dengan masa depan yang sudah banyak inovasinya. Nyonya Ming yang berdiri di dekat tungku pun tertawa.
“Sup daging untuk musim dingin memang harus sederhana. Terlalu banyak bumbu bisa menyakiti perut.”
A Ruo mengangguk penuh hormat. “Benar, Nyonya. Tapi jika diizinkan, bolehkah aku menambahkan sedikit bahan tambahan?”
“Bahan apa?”
“Sedikit kebahagiaan,” jawab A Ruo santai.
Beberapa prajurit tertawa. Sejak kapan makan bisa membuat mereka bahagia? Hidup bersama pangeran kedua isinya hanya dingin dan es saja, semuanya terasa membeku.
“Apa itu bumbu baru?” celetuk salah satu dari mereka.
“Bukan,” kata A Ruo sambil bangkit. “Ini resep seorang dokter yang harus tetap menjaga kesehatan dan kebahagiaan.”
Para pelayan dan prajurit terlihat bingung. A Ruo mengambil beberapa bahan dari tempat penyimpanan: bawang kering, jahe, sedikit kulit jeruk kering, dan garam kasar. Tangannya bergerak cekatan, menumis bawang dan jahe sebentar sebelum memasukkannya ke panci sup.
“A Ruo, itu jahe!” Nyonya Ming terkejut. “Bisa membuat rasa terlalu pedas dan pahit.”
“Tidak kalau tahu waktunya,” jawab A Ruo. “Dan kulit jeruk ini membantu menghangatkan tubuh. Cocok untuk kalian yang sering berjaga malam.”
Seorang prajurit mengangkat alis. “Pelayan medis tahu soal masakan?”
A Ruo tersenyum. “Kalau perut sehat dan hati bahagia, kalian akan lebih cekatan dalam bekerja.”
Ia mengaduk pelan. Aroma sup berubah perlahan, masuk ke dalam sanubari para pelayan, lebih dalam dan hangat. Uapnya mengepul, membawa wangi yang membuat semua orang menelan ludah.
“Bau apa itu?” tanya pelayan lain.
“Bau rumahku,” jawab A Ruo sembari mengingat rumah sederhananya di pinggir kota.
Nyonya Ming mendekat, mencicipi sesendok kecil. Matanya melebar. “Ini ... gurih sekali. Kau luar biasa.”
“Coba makan, kalau tidak enak aku yang habiskan,” kata A Ruo.
Sup dibagikan ulang. Suara sendok beradu dengan mangkuk terdengar bersahut-sahutan.
“Enak!”
“Hangatnya sampai ke dada.”
“Ini sup terbaik yang pernah aku makan di istana!”
A Ruo tertawa. “Pelan-pelan. Kalian seperti belum makan sebulan.”
“Karena biasanya memang begitulah,” sahut seorang prajurit sambil tersenyum lebar.
Di balik bayangan pilar es, Shen Yuan berdiri. Ia melihat bagaimana A Ruo berbicara, tertawa, dan membuat semua orang merasa diperhatikan, tanpa perintah yang sadis dan tanpa ancaman.
“A Ruo, kau membuat dapur ini terasa lebih hidup.” Nyonya Ming menepuk bahu gadis berpipi tembem itu dengan lembut.
A Ruo menggaruk pipinya. “Aku hanya menambahkan apa yang kurang.”
Shen Yuan menurunkan pandangannya. Dada yang biasanya membeku terasa ringan. Bibirnya bergerak pelan, membentuk sesuatu yang jarang sekali muncul: senyuman di musim dingin. Dari seorang lelaki yang melihat kehangatan untuk pertama kalinya.
Ia berbalik tanpa suara, jejak langkahnya memudar di lantai es. Namun, aroma sup hangat itu dan tawa A Ruo mengikutinya jauh ke dalam Istana Utara.
Bersambung ...
"Lihatlah, Pangeran Pertama, pada akhirnya kau hanyalah abu yang hilang tertiup angin."Suara A Yue bergema di dalam kegelapan. Dalam mimpi, Yanzuo melihat tubuhnya sendiri sedang dibakar api neraka. Kulitnya melepuh, dagingnya menghitam, dan ia berteriak dalam kesunyian tanpa suara.Sementara itu, di kejauhan yang tak terjangkau oleh tangannya, ia melihat Shen Yuan berdiri tegak tanpa topeng. Adiknya tersenyum bahagia, menggenggam tangan A Ruo di bawah hujan kelopak bunga. Mereka tertawa, saling menatap penuh cinta, dan sama sekali tidak menoleh pada Yanzuo yang sedang meregang nyawa karena siksaan."Kau ditakdirkan mati sendirian, Pangeran Api. Kau hanya penonton bagi kebahagiaan mereka.""Diaaaam!" Yanzuo tersentak bangun, napasnya memburu dan keringat mengalir deras di pelipisnya.Matanya yang berwarna merah terbuka lebar. Ia memindai sekitar tempatnya beristirahat. Semuanya sedang terlelap termasuk A Ruo dan Shen Yuan. Hawa panas menguar dari tubuhnya, membuat salju di sekitar te
“Kau tahu, Yuan’er, giok pelindung pemberian Ibunda retak begitu saja. Sejak itu firasatku tidak baik. Rasanya seperti ada kabut hitam yang menyelimuti Istana Utama.”“Ibu?” gumam Shen Yuan sambil meletakkan mangkuk.“Ulang tahun Ibunda tidak lama lagi. Meski aku kejam tapi aku masih peduli dengan. Ada sesuatu yang tidak beres di sana, dan aku tidak bisa tenang kalau tidak melihatnya sendiri. Kita harus pulang, Yuan’er. Ibunda membutuhkan kita.”Wajah Shen Yuan yang tadi memerah karena obat kembali pucat. Ia menatap jari-jarinya panjang seperti hantu.“Aku tidak bisa. Da Ge tentu sudah tahu kejadian yang dulu pernah aku lewati. Hanya sedikit emosi dan kepanikan, aku bisa membekukan semua orang. Aku harus tetap bersembunyi di utara.”Yanzuo kesal, ia ingin memaksa adiknya, tapi menahan diri. Sebab paksaan tak akan mengubah ketakutan Shen Yuan.Pangeran Api itu melirik tajam ke arah A Ruo, memberi isyarat dari mata ke mata agar A Ruo mau membujuknya.A Ruo segera menangkap maksud itu.
A Ruo sibuk di dekat perapian. Rebusan campuran herbal yang kuat dari jahe yang pedas, pahit ginseng, dan aroma segar yang unik dari Bunga Hati Salju memberi cita rasa yang kuat.A Ruo memasukkan kelopak bunga kristal yang tadi dipetik Shen Yuan ke dalam air yang mendidih. Ajaibnya, kelopak yang seharusnya beku itu tidak layu terkena panas, melainkan meleleh perlahan, mengubah warna air rebusan menjadi biru bening yang berkilauan indah.“Waaah, seumur hidup baru kali ini aku melihat ramuan herbal yang sangat indah dan biru transparan. Aku jadi ingin meminumnya sendiri.” A Ruo mengipas-ngipas uap yang beterbangan di udara dan ia hirup dalam-dalam. Aroma yang terasa sangat segar dan hangat di dada serta melegakan tenggorokan.“Mungkin saat aku kembali ke masa depan, aku bisa kerja sambilan sebagai dokter dan herbalis, hitung-hitung membuka kembali apotek herbal milik kakekku.” Gadis berpipi tembem itu mengecilkan bara api dengan cara mengurainya ke tanah.Ia menuang herbal dan pas sekal
“Eh sebentar, Kalau Kakakmu bisa mencairkanmu seperti tadi, kenapa kau masih butuh obat atau ... tumbal?" tanya Lian Ruo penasaran.Shen Yuan tersenyum getir sambil memegang dadanya yang masih terasa nyeri. "Apa kau pikir rasanya enak? Ketika apinya menyentuh tubuhku seperti memasukkan besi panas ke dalam lambung.""Apiku hanya menghancurkan es di permukaan kulitnya saja, Lian Ruo. Aku tidak bisa menyentuh hawa dingin yang menggerogoti sumsum tulangnya. Jika aku melakukannya setiap hari, dalam sebulan tubuhnya akan hancur menjadi abu karena tidak kuat menahan benturan energi kami yang bertolak belakang. Itu bukan penyembuhan tetapi penyiksaan yang memperlambat kematian."Lian Ruo mengangguk saja mendengar penjelasan dari dua pangeran itu. Perlahan A Ruo mulai mengerti bahwa hubungan di antara kedua lelaki yang baginya aneh, yaitu antara benci dan saling merindukan serta melindungi.“Kalian lama-lama kelihatan lucu,” celetuk A Ruo. Ia duduk dan meletakkan bunga hati salju yang masih bi
Belum sempat Bai Ju dan Han Qing menghentikan kereta, sesuatu terlihat terbang di langit dan jatuh dengan bunyi yang sangat kuat.Kereta berhenti seketika karena guncangan dan atap kereta yang kokoh bahkan remuk, kayu-kayu penyangganya meledak menjadi serpihan tajam yang berhamburan ke segala arah.Lian Ruo menjerit, tubuhnya terpental keluar bersama reruntuhan kereta, dan berguling di atas salju yang dingin.Dengan napas tersengal dan jantung yang nyaris copot, Lian Ruo memegang pohon pinus dan berusaha mempertahankan diri agar tetap sadar. Ia melihat apa yang sebenarnya terjadi.Kereta yang kini tinggal puing-puing saja kedatangan tamu tidak diundang. Sesosok lelaki jangkung berbalut jubah merah darah berdiri di depannya. Rambutnya hitam legam, diikat tinggi dengan hiasan naga emas. Udara di sekitar kereta yang tadinya dingin langsung berubah jadi lebih hangat.“Dia, yang pernah datang ke istana, Shen Yuan menyebutkan Kakak,” ucap A Ruo.Mata Shen Yanzuo yang tajam menatap lurus ke
Lian Ruo berlari meninggalkan pasar yang semakin malam semakin semarak. Gadis dengan pipi tembem itu terus melaju sambil tersenyum lebar. Matanya terus mencari di mana keberadaan kereta Shen Yuan.Ketika ia melihat badai salju kecil berputar-putar di tempat yang sama ia tahu sang pangeran sedang menutupi dirinya. Lian Ruo menepis hawa dingin yang menggigit kulit, lalu melompat naik ke dalam kereta."Pangeran, aku kembali," ucapnya sambil membanting pintu kereta hingga tertutup kembali.Shen Yuan membuka mata dan menurunkan kekuatannya hingga badai di sekitar kereta menghilang perlahan.Lian Ruo tersenyum lebar sambil menyodorkan bungkusan kertas minyak yang sedari tadi ia dekap erat di balik jubahnya agar tetap hangat."Pangeran, bakpao daging cincang spesial! Masih panas sekali, lihat tanganku sampai memerah dibuatnya," katanya tanpa ragu.Ia membuka bungkusan itu. Aroma gurih daging berbumbu dan adonan tepung hangat seketika menyebar, dan mengusir hawa dingin di dalam kereta. Namun,







