Share

7. Dewa Waktu

Penulis: Rosa Rasyidin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 16:04:23

A Ruo menutup pintu kamarnya. Tempat tinggalnya kini sudah lebih baik di paviliun utara daripada saat pertama kali ia datang, juga kamarnya tidak terlalu jauh dari kediaman Shen Yuan. Api di tungku masih menyala walau kecil, tapi entah mengapa malam itu dinginnya terasa lebih menusuk dari biasanya.

A Ruo bersandar pada daun pintu, ia menekan dadanya sendiri.

“Ini aneh, biasanya aku tahan dengan dingin, tapi kenapa rasanya sakit,” gumamnya sambil mengembuskan angin dingin dari mulutnya. Asap tebal terlihat, seolah-olah A Ruo akan membeku.

Debar di dadanya mulai melambat. Seolah jantungnya menemukan irama baru yang belum dikenalnya. Wajah Shen Yuan melintas begitu saja di benaknya. Tatapan abu-abu itu. Cara suaranya memanggilnya A Ruo tanpa sadar.

“Tidak boleh. Aku tidak mungkin selamanya tinggal di sini. Aku masih punya pekerjaan dan kehidupan di Beijing,” katanya sambil mengusap dua telapak tangan.

Langkah A Ruo mendadak goyah. Udara di sekitarnya membeku. Dingin tidak berasal dari luar istana tapi dari dalam tubuh gadis berpipi tembem itu sendiri.

“Aku ... kenapa?” Lian Ruo meraba lengannya. Kulitnya pucat dan napasnya berembun. “Sakit sekali, aku tak bisa bernapas, tolong.”

A Ruo tak kuasa. Ia jatuh ke lantai, punggungnya membentur lantai kayu. Namun, kesadarannya masih menetap. Matanya terbuka, menatap langit-langit yang perlahan menggelap.

“Dokter, suster, tolong, aku seka—rat,” ucapnya sambil menekan dada.

Sebuah cahaya menyilaukan datang ke hadapan A Ruo. Detik berikutnya, waktu seolah berhenti.

Api tungku membeku begitu saja. Salju di luar jendela terhenti sebelum jatuh ke tanah, ruangan terasa hampa dari udara, tapi A Ruo masih bisa merasakan dadanya berdebar.

Seorang pria berambut perak muncul dari pusaran cahaya. Jubahnya mengalir seperti jam pasir yang terlihat berserakan tapi menjadi satu. Tatapannya terlihat tenang di balik kekacauan yang dialami oleh A Ruo.

“Xu Wen, atau sekarang Lian Ruo,” ucapnya setelah menjejakkan kaki di lantai.

Lian Ruo mendecak. “Aku berhalusinasi lagi, atau aku bermimpi. Kalau iya, aku ingin cepat bangun.”

“Aku bukan halusinasi. Aku Dewa Waktu, penjaga keseimbangan garis takdir,” jawabnya santai.

“Dusta.” Lian Ruo menghela napas. “Jadi aku mati dua kali, hidup lagi, merasakan kekonyolan gadis muda umur belasan tahun, lalu dikunjungi dewa. Paket lengkap, beli dua gratis satu.”

Dewa Waktu tersenyum. “Tentang itu, kau yang memintanya sendiri.”

“Aku?” Lian Ruo mengernyit. “Kapan? Kau jangan berbohong!”

“Kau datang ke kuilku. Di masa depan, dalam keputusasaan karena tak bertemu dengan cinta sejatimu, wuahahaha.” Dewa Waktu tertawa dan benda-benda di kamar A Ruo terangkat.

Lian Ruo terdiam dan memainkan dua telunjuknya. “Aku tak ingat tentang doa itu.”

“Dan kau berkata, 'Ya Dewa, tolong, masak aku setua ini tidak ada yang suka? Aku memang tidak secantik Dilraba Dilmurat, tapi wajahku juga tidak jelek-jelek amat. Tolong tunjukkan kalau kau nyata, kirimkan cinta sejati untukku!'”

Lian Ruo menutup wajahnya. “Astaga. Aku lebay sekali ternyata.”

“Kau memohon untuk merasakan cinta, padahal kau tahu sendiri cinta itu rumit. Dari sekian banyak hal, kenapa harus cinta yang kau minta?”

“Jadi kau kirim aku ke sini?” Lian Ruo meliriknya. “Ke tubuh gadis yang telah mati, ke istana es, ke pangeran yang bisa membekukan napas dalam sedetik?”

“Karena ketidakseimbangan kekuatan mereka bisa merusak garis waktu dan berimbas di masa depan. Salju dan panas akan semakin menggila jika kau tak bisa menyelesaikan misimu.”

“Misi apa?” A Ruo mendengkus. “Jatuh cinta dan tidur dengan pangeran es itu?”

“Isi kepalamu memang tidur saja dengan pria. Sudah benar aku mengirimmu ke tubuh Lian Ruo, Xu Wen.”

“Bukan begitu maksudku.” A Ruo menggaruk kepalanya.

“Bukankah kau sudah merasakan dada pangeran itu? Sangat dingin dan butuh kehangatan.”

“Jadi aku memang harus tidur dengan dia?”

“Bukan begitu, Gadis Lebay. Sembuhkan dia dengan kemampuanmu sebagai dokter di masa depan.”

“Tapi di sini tidak ada medis modern.”

“Belajar. IQ-mu yang tinggi bisa membantu kau menguasai ilmu dalam waktu dekat. Kau jangan hanya memandang dada pangeran itu yang mirip Dylan Wang, keras dan kotak-kotak.” Dewa Waktu menggosok hidungnya. Ia membuka jubah agungnya sekaligus memamerkan bentuk tubuhnya yang sangat sempurna, sampai A Ruo terperangah dibuatnya.

“Bolehkah aku menyentuhnya?”

“Tidak boleh.” Dewa Waktu langsung memakai jubahnya kembali.

“Dasar pelit!” celetuk A Ruo.

“Aku tidak punya banyak waktu. Aku hanya menyampaikan pesan, selesaikan misimu dan gunakan otakmu yang cerdas itu. Rasakan ledakan cinta sejati hingga kau hampir gila.”

Dewa Waktu akan segera pergi tapi A Ruo menahan jubahnya. “Tunggu dulu, setelah misi selesai, aku boleh pulang ke masa depan?”

“Tentu saja.”

“Lalu bagaimana dengan tubuh gadis ini? Dia sudah mati, bukan?”

“Itu bukan urusanku.” Dewa Waktu menghilang dan waktu yang tadinya berhenti berjalan kembali seperti semula tanpa merusak kejadian sama sekali. Salju kembali jatuh, air kembali mengalir, dan api kembali menyala.

***

Dapur Istana Utara malam itu lebih hangat dari biasanya. Bukan karena tungku yang menyala lebih besar, melainkan karena suara ramai para pelayan dan beberapa prajurit yang mendapat jatah makan malam lebih awal. A Ruo duduk di antara mereka, dengan mangkuk kayu kecil di tangannya.

Ia menyesap sup daging perlahan sambil alisnya menyatu. “Hmmm.”

“Kenapa, A Ruo?” tanya salah satu pelayan laki-laki. “Tidak enak?”

A Ruo menoleh. “Bukan tidak enak. Rasanya terlalu biasa saja.”

Semua menatapnya bingung. Makanan di masa lalu memang demikian, berbeda dengan masa depan yang sudah banyak inovasinya. Nyonya Ming yang berdiri di dekat tungku pun tertawa.

“Sup daging untuk musim dingin memang harus sederhana. Terlalu banyak bumbu bisa menyakiti perut.”

A Ruo mengangguk penuh hormat. “Benar, Nyonya. Tapi jika diizinkan, bolehkah aku menambahkan sedikit bahan tambahan?”

“Bahan apa?”

“Sedikit kebahagiaan,” jawab A Ruo santai.

Beberapa prajurit tertawa. Sejak kapan makan bisa membuat mereka bahagia? Hidup bersama pangeran kedua isinya hanya dingin dan es saja, semuanya terasa membeku.

“Apa itu bumbu baru?” celetuk salah satu dari mereka.

“Bukan,” kata A Ruo sambil bangkit. “Ini resep seorang dokter yang harus tetap menjaga kesehatan dan kebahagiaan.”

Para pelayan dan prajurit terlihat bingung. A Ruo mengambil beberapa bahan dari tempat penyimpanan: bawang kering, jahe, sedikit kulit jeruk kering, dan garam kasar. Tangannya bergerak cekatan, menumis bawang dan jahe sebentar sebelum memasukkannya ke panci sup.

“A Ruo, itu jahe!” Nyonya Ming terkejut. “Bisa membuat rasa terlalu pedas dan pahit.”

“Tidak kalau tahu waktunya,” jawab A Ruo. “Dan kulit jeruk ini membantu menghangatkan tubuh. Cocok untuk kalian yang sering berjaga malam.”

Seorang prajurit mengangkat alis. “Pelayan medis tahu soal masakan?”

A Ruo tersenyum. “Kalau perut sehat dan hati bahagia, kalian akan lebih cekatan dalam bekerja.”

Ia mengaduk pelan. Aroma sup berubah perlahan, masuk ke dalam sanubari para pelayan, lebih dalam dan hangat. Uapnya mengepul, membawa wangi yang membuat semua orang menelan ludah.

“Bau apa itu?” tanya pelayan lain.

“Bau rumahku,” jawab A Ruo sembari mengingat rumah sederhananya di pinggir kota.

Nyonya Ming mendekat, mencicipi sesendok kecil. Matanya melebar. “Ini ... gurih sekali. Kau luar biasa.”

“Coba makan, kalau tidak enak aku yang habiskan,” kata A Ruo.

Sup dibagikan ulang. Suara sendok beradu dengan mangkuk terdengar bersahut-sahutan.

“Enak!”

“Hangatnya sampai ke dada.”

“Ini sup terbaik yang pernah aku makan di istana!”

A Ruo tertawa. “Pelan-pelan. Kalian seperti belum makan sebulan.”

“Karena biasanya memang begitulah,” sahut seorang prajurit sambil tersenyum lebar.

Di balik bayangan pilar es, Shen Yuan berdiri. Ia melihat bagaimana A Ruo berbicara, tertawa, dan membuat semua orang merasa diperhatikan, tanpa perintah yang sadis dan tanpa ancaman.

“A Ruo, kau membuat dapur ini terasa lebih hidup.” Nyonya Ming menepuk bahu gadis berpipi tembem itu dengan lembut.

A Ruo menggaruk pipinya. “Aku hanya menambahkan apa yang kurang.”

Shen Yuan menurunkan pandangannya. Dada yang biasanya membeku terasa ringan. Bibirnya bergerak pelan, membentuk sesuatu yang jarang sekali muncul: senyuman di musim dingin. Dari seorang lelaki yang melihat kehangatan untuk pertama kalinya.

Ia berbalik tanpa suara, jejak langkahnya memudar di lantai es. Namun, aroma sup hangat itu dan tawa A Ruo mengikutinya jauh ke dalam Istana Utara.

Bersambung ...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   124. Kebangkitan

    "Malam ini? Badai di luar sedang ganas, dan kau baru saja melihat kakakmu menjadi Putra Mahkota. Kenapa terburu-buru sekali kembali ke tanah buangan yang beku dan dingin itu?"Shen Yuan menoleh ke arah A Ruo, lalu meraih tangan gadis berpipi tembem itu dan menggenggamnya dengan erat. Tindakan itu membuat mata Ye Lin melirik mereka. Ada rasa iri dan haru di hati Ye Lin melihat A Ruo akhirnya menemukan tempat berlindung."Aku sudah terlalu lama berada di sini. Udara ibu kota membuat isi kepalaku tidak tenang," jawab Shen Yuan jujur. "Lagi pula, aku membawa A Ruo bersamaku. Saat di Utara nanti, aku akan menikahinya dan menjadikannya istriku satu-satunya."Yanzuo tertegun. Ia menatap A Ruo dari atas ke bawah, lalu tertawa dengan kerasnya."Seorang pelayan medis? Yuan'er, selera pangeran es sepertimu sungguh tak bisa ditebak!" ucap Yanzuo apa adanya. Namun, ia tidak bermaksud demikian. Hanya ingin memastikan pilihan adiknya agar tidak salah langkah."Ta

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   123. Sah

    Pintu Aula Berkat Dari Surga terbuka, Ye Lin masuk didampingi beberapa dayang. Mereka semua bungkam soal tragedi di luar tembok istana.Jenderal perempuan itu melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya. Wajah Ye Lin tetap sedingin es. Tidak ada air mata yang tersisa, hanya penyesalan yang membekukan jiwa.Melihat pengantin wanitanya tiba, Yanzuo melangkah maju. Mata merah Pangeran Api itu terlihat bahagia. Bagi Yanzuo, Ye Lin adalah kemenangan utam karena membawa benih di dalam rahimnya.Yanzuo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Ye Lin. Dengan senyum keangkuhannya, Pangeran Pertama itu mengulurkan tangan yang memancarkan hawa panas.Ye Lin terdiam sejenak. Matanya menatap uluran tangan itu seperti menatap bara api neraka. Namun, menyadari di mana ia berada sekarang, Ye Lin menyambut uluran tangan tersebut.Saat kulit mereka bersentuhan, hawa es dan api saling meredam. Yanzuo menggenggam tangan Ye Lin dengan sangat erat, lalu me

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   122. Perang Tanpa Suara

    Di waktu yang sama, hawa panas memenuhi paviliun pribadi Pangeran Pertama. Udara di dalam ruangan itu berapi-api seperti di jurang neraka.Yanzuo berdiri tegak di depan cermin, ia sedang mendandani dirinya sendiri. Tidak ada satu pun pelayan atau kasim yang berani masuk untuk membantunya berpakaian.Mereka semua terlalu takut menjadi abu, jika tak sengaja menyentuh kulit sang pangeran yang panas membara.Yanzuo mengikat sabuk giok di pinggangnya. Jubah pengantin merah darah dari Sutra Teratai Salju itu menempel pas di tubuhnya yang gagah. Ia menatap pantulan dirinya yang tersenyum penuh keangkuhan.“Hari yang dinanti tiba. Gelar putra makhkota dan Ye Lin menjadi permaisuriku,” ucapnya penuh percaya diri. Di luar paviliun, puluhan Pasukan Phoenix berjaga, tubuh mereka berkeringat menahan hawa panas yang menembus pintu, meski salju sedang turun.Pintu terbuka lebar. Yanzuo melangkah keluar, dengan sepatu baru yang pas di kakinya. Naga emas yang disulam di jubahnya seolah hidup dengan

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   121. Tandu Pengantin

    Hari penobatan dan pernikahan agung itu akhirnya tiba. Langit ibu kota Dinasti Hanlu tampak kelabu. Bahkan matahari pun enggan menjadi saksi dari perayaan yang dibangun di atas penderitaan.Di kamar Ye Lin, keheningan begitu terasa. Belasan pelayan istana sibuk mengelilinginya, mendandani jenderal perempuan yang sedang kehilangan separuh jiwanya.Jubah pengantin merah darah yang ditenun dari Sutra Teratai Salju membalut tubuhnya yang semakin kurus. Hawa dingin dari salju di luar sana, hawa dingin dari tubuhnya serta dari jubah pengantin membuat hatinya semakin dingin dengan nasibnya.Secercah penyesalan muncul untuk pertama kalinya, karena ia sendiri yang dengan penuh kesadaran mendatangi Yanzuo. Harusnya ia tak pernah penasaran dengan sensasi panas serta dingin ketika saling menyatu.Seorang dayang memberikan gincu warna merah menyala di bibir tipisnya. Warna yang terlihat sangat berlawanan dengan kulitnya yang seputih salju.Setelahnya mahkota emas bertahtakan burung phoenix yang sa

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   120. Sumpah Berdarah

    Badai salju di luar kediaman Keluarga Ye semakin mengganas. Rasa malu dan aib keluarga itu seperti telah terkubur oleh salju. Bahkan Jenderal Besar Ye menolak dirinya diperiksa oleh tabib karena sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun.Akibatnya Jenderal Besar Ye terbaring lemah setiap saat. Napasnya terdengar berat, dan dadanya masih sesekali terasa nyeri sisa dari serangan jantung tempo hari.“Siapa di sana?” tanya Jenderal Besar Ye ketika lilin di kamarnya mendadak bergoyang, dan rasanya ada sekelebat bayangan yang melintas di kamarnya.“Jika tujuanmu baik, keluar, aku sedang tidak punya tenaga untuk bertarung,” ucap lelaki tua itu dengan suara beratnya.Saat menoleh ke kanan, Jenderal Besar Ye membelalakkan matanya."Jenderal Zhao?" ucap Jenderal Besar Ye setengah tak percaya. Yang ia tahu dari dulu mereka berbeda pandangan karena klan partai kiri dan kanan yang alirannya tak sama."Beraninya kau menyusup ke kamarku di tengah malam seperti seorang pengecut. Apa maumu?"Jendera

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   119. Jubah Pengantin

    Wajah Wei Lan Yi seketika memerah. Kelembutan seorang wanita telah mati di dalam raganya. Semua karena cinta butanya bukan pada kaisar melainkan pada takhta di depan matanya."Aku tidak peduli pada kutukan itu. Aku tidak peduli jika mereka menjadi siluman sekalipun!" jerit Wei Lan Yi sambil tertawa. Ia sangat putus asa. "Berikan benih itu padaku. Biarkan anak-anakku menjadi pembawa kehancuran, asalkan mahkota tetap berada di lingkaran keluargaku!"Kilat merah dan biru menyambar dari langit secara bersamaan, menghantam tubuh Wei Lan Yi hingga ia terpental dan pingsan di atas salju. Ia bangun ketika badai salju berhenti turun dan ia tertatih berjalan menuju kereta, di mana Momo yang masih muda setia sekali menunggunya.“Momo, aku lelah sekali,” ujarnya kala itu.“Yang Mulia, ayo kita istirahat di penginapan.” Momo memapah tubuh permaisuri yang lemah setelah tidak makan selama berhari-hari.Di dalam penginapan Wei Lan Yi sepert

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status