Share

6. Peramal Agung

Author: Rosa Rasyidin
last update Huling Na-update: 2025-12-24 21:40:08

Paviliun Utara mendadak terasa jauh lebih panas sejak Pangeran Api Yanzhuo melangkah masuk. Udara yang biasanya dingin dan kaku di bawah kekuasaan Shen Yuan kini berbeda. Seolah dua musim saling menantang di ruang yang sama dan saling tarik menarik antara satu dan yang lainnya.

“Menarik,” ujar Yanzhuo sambil melirik Lian Ruo dari ujung kepala hingga kaki. Senyumnya tipis, diiringi dengan matanya yang menyala. “Jadi perempuan ini yang tidak bisa mati walau kau sentuh?”

Shen Yuan berdiri satu langkah di depan Lian Ruo. Tanpa sadar lantai es di bawah kakinya merambat lebih tebal.

“Dia bukan urusanmu, sebaiknya pulang,” kata Yuan dingin.

Yanzhuo tertawa. “Tentu saja urusanku. Aku hanya ingin memeriksanya. Jika ia benar-benar kebal terhadap kutukan, aku juga berhak memilikinya.”

“Kau tidak berhak menyentuh apa pun di Istana Utara.”

Api kecil menyala di telapak tangan Yanzhuo. “Kau lupa, adikku, darah kerajaan yang murni juga mengalir di nadiku.”

Suhu ruangan mendadak naik. Dinding es mulai mencair di satu sisi. Sementara sisi lain membeku lebih keras. Para pelayan mundur ketakutan.

“Berhenti! Untuk apa kalian memperebutkanku?” Suara Lian Ruo terdengar sangat percaya diri. Dua pangeran menoleh bersamaan.

“Aku di sini dan bukan milik siapa-siapa, aku juga tidak mau terluka,” lanjutnya sambil menghela napas. “Kalau mau berkelahi, tunggu aku pindah tempat dulu. Aku belum siap jadi abu atau patung es. Duuh, ternyata di masa lalu Elsa Frozen bentuknya laki-laki, gawat, aku harus pergi ke mana?”

Yanzhuo tertegun sepersekian detik sebelum terkekeh. “Berani juga kau ternyata.”

“Bukan berani,” jawab Lian Ruo. “Aku hanya realistis. Kalian berdua ini kalau kekuatannya digabungkan, bisa bikin kiamat lebih cepat.”

Shen Yuan meliriknya dengan tajam. “Jangan bicara sembarangan.”

“Justru karena kalian sama-sama kuat, kalian harus lebih banyak berpikir.” Lian Ruo tak mau kalah.

Yanzhuo melangkah mendekat. Panas dari tubuhnya mengalir deras. Lian Ruo merasakan kulit lengannya perih, seolah disentuh bara api. Ia meringis.

“Kau memang berbeda. Seharusnya kau sudah jatuh karena kekurangan air,” gumam Yanzhuo sambil mengulurkan tangan.

“Maksudmu dehidrasi? Satu hypotermia, satu dehidrasi, aiyaaah, hidup macam apa ini!” Lian Ruo mengipas lehernya dengan dua tangan.

“Jangan sentuh dia!” Suara Shen Yuan menggelegar. Es menjalar dari pergelangan tangannya, siap membekukan apa pun yang mendekat.

Yanzhuo tersenyum miring. “Cemburu?”

“Pergi!”

Sebelum keduanya benar-benar saling menyerang, Lian Ruo tiba-tiba melangkah ke tengah. Tangannya menekan dada Shen Yuan, sedangkan tangan satunya menahan lengan Yanzhuo.

“Astaga!” kata Lian Ruo sambil menyeringai, meski telapak tangannya mulai memerah. “Ini pertama kalinya aku berdiri di antara es dan api. Sensasinya ... huaaah aku ingin pulang ke rumahku.”

Shen Yuan menurukan tangannya. “Kau terluka?”

“Sedikit,” jawab Lian Ruo santai. “Tenang, Pangeran. Aku ini dokter.”

Yanzhuo menatap bekas merah di kulit Lian Ruo, alisnya sedikit berkerut. “Kau tidak pingsan?”

“Belum. Tapi kalau dilanjutkan, mungkin aku akan out dari dunia ini.”

Keheningan tercipta, dua kakak adik beda kekuatan itu tak terlalu paham apa arti kata yang diucapkan oleh Lian Ruo. Kemudian api di tangan Yanzhuo perlahan padam. Es di sekitar Shen Yuan berhenti merambat.

“Menarik sekali. Baiklah. Aku tidak akan memeriksanya hari ini.” Ia menatap Shen Yuan lama. “Tapi ingat, adikku. Perempuan ini bukan hanya milikmu.”

Setelah Yanzhuo pergi, aula kembali dingin. Shen Yuan menoleh ke Lian Ruo. Tatapannya gelap, penuh emosi yang sulit ditebak.

“Kau bodoh!” umpatnya pelan tapi penuh emosi.

Lian Ruo mengangkat bahu. “Mungkin. Tapi setidaknya kalian tidak jadi berperang. Coba pikirkan kalau kalian para pangeran berkelahi dengan kekuatan yang begitu besar, siapa yang akan jadi korban? Ya kami-kami ini yang tidak punya kekuatan.” Lian Ruo menepuk dada Shen Yuan. Pangeran Kedua sedikit terkejut.

Shen Yuan terdiam. Apa yang dikatakan Lian Ruo benar adanya. Sudah tak terhitung berapa bawahan yang mati karena perintahnya, tapi hal demikian juga diluar kendalinya.

“Mulai sekarang, aku akan memanggilmu A Ruo.”

“Hmm, terserah. Apa Pangeran terluka?”

“Tidak, aku baik-baik saja, kembalilah beristirahat, nikmati makanan dan pakaian hangatmu. Aku akan memanggilmu lebih sering lagi.” Tangan Shen Yuan memberikan isyarat agar Lian Ruo pergi. Gadis berpipi tembem itu melangkah tapi sesaat kemudian Shen Yuan menoleh padanya.

“Dia bahkan tidak memberi hormat padaku. Berani sekali si babi gendut itu, hhhh.” Emosi Shen Yuan naik dan beberapa benda di dalam kamarnya langsung membeku dibuatnya.

***

Langit di atas Kuil Ramalan Utama berwarna kelabu ketika Ling Qiyue berdiri di balik tirai sutra. Ia mendengarkan laporan yang dibisikkan pelayan istana. Wajahnya tetap anggun, alisnya tipis juga halus, bibirnya merah alami, tetapi di balik ketenangan itu, sesuatu mengusik hatinya.

Perempuan itu disentuh Pangeran Api. Dan masih hidup.

A Yue—panggilan Ling Qiyue, tersenyum tipis. Senyum seorang gadis cantik yang terbiasa menundukkan dunia dengan kelembutan.

A Yue yang cantik dan kurus serta memiliki kulit seputih porselen itu, melangkah masuk ke paviliun ramalan, gaun putih kebiruannya menyapu lantai batu. Ia membunyikan lonceng kecil di pergelangan tangannya dan berdenting lembut, seperti doa atau peringatan.

Peramal Agung Xuanling duduk bersila di depan cermin air, rambutnya sudah putih semua dan matanya terpejam. Asap dupa yang berpendar terkadang membentuk siluet ular.

“Guru,” ucap A Yue penuh hormat, “aku membawa kabar dari Istana Utara.”

Xuanling membuka mata perlahan. “Tentang perempuan itu?”

“Ya,” jawab A Yue tanpa ragu. “Perempuan yang seharusnya mati dan ternyata menjadi pusat perhatian.”

Xuanling diam. A Yue tahu, keheningan adalah celah terbaik untuknya memanipulasi keadaan. Ia mengisi keheningan itu dengan kata-kata yang manis, hampir mirip dusta, tetapi lebih ke kebenaran yang dipelintir.

“Pangeran Api memeriksanya hari ini,” lanjutnya hati-hati. “Panasnya melukai kulit gadis itu, tapi ia tidak apa-apa. Tubuhnya yang seperti babi itu mampu menahan serangan dua musim.”

Alis Xuanling naik sebelah. “Mustahil.”

“Mustahil,” ulang A Yue. “Benar, kecuali jika ramalan lama itu benar-benar bangkit.”

Gadis dengan kulit putih itu mengangkat wajahnya. Mata beningnya berkilau. Tidak terlihat ketakutan, hanya tampak kekhawatiran yang dibalut dengan keindahan.

“Guru, jika dia benar perempuan lintas waktu, maka kutukan Ratu Agung bisa dipatahkan. Kuil akan kehilangan peran sucinya.”

Xuanling menahan napas dan membuat nyala dupa bergetar.

“Lebih dari itu.” A Yue menunduk lebih dalam. “Jika dua pangeran tidak lagi terikat kutukan, keseimbangan Dinasti Hanlu runtuh. Api dan Es akan bersatu, atau saling memusnahkan tanpa kendali. Aku tidak mau ini terjadi, guru.” A Yue meneteskan air mata.

Xuanling menatapnya lama. “Kau takut?”

“Aku takut. Bukan untuk diriku sendiri saja. Tapi untuk dinasti, kuil dan Pangeran Kedua.”

“Kau terlalu dekat dengan urusan istana,” kata Xuanling akhirnya.

A Yue tersenyum. “Karena aku peduli.”

Ia bangkit perlahan dan berjalan mendekati cermin air. Pantulan wajahnya terlihat suci dan tanpa noda.

“Guru, izinkan aku melakukan penyelidikan spiritual. Jika gadis itu benar membawa bencana, kita harus bertindak, sebelum para pangeran memanfaatkannya.”

Xuanling terlihat meragu.

Di balik pintu, bayangan seseorang berhenti. Sepasang mata licik mengintip, utusan Jenderal Zhao Minghai. Senyum tersirat muncul di wajahnya ketika mendengar nama perempuan lintas waktu.

Xuanling akhirnya mengangguk. “Baik. Tapi tanpa kekerasan.”

A Yue menunduk penuh hormat. Dalam hatinya, ia tertawa.

Tanpa kekerasan, pikirnya. Siapa bilang aku tidak suka kekerasan. Aku hanya tidak pernah menunjukkannya pada siapapun.

Saat A Yue melangkah keluar paviliun, pelayan berbisik, “Nona Yue, Pangeran Kedua memanggil tabib perempuannya malam ini, lagi”

Langkah A Yue berhenti. Kuku jarinya menekan telapak tangan. Senyumnya tetap terpasang dengan indah dan terlihat berbahaya.

“Maka kita tak punya banyak waktu.”

Pada malam harinya saat sinar bulan sempurna, A Yue memasuki altar suci dengan baju putih bersih dan lonceng kecil di tangannya. Tak lama kemudian setelah ia mengangkat kedua tangannya, lonceng kuil berdentang, cermin air di altar suci beriak, menampilkan bayangan dua pangeran dan seorang perempuan di tengah badai salju. Ramalan mendekati kenyataan.

“Aku bersumpah, jika aku tak bisa memiliki Pangeran Salju, maka tak seorang pun boleh memilikinya.”

Bersambung…

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   124. Kebangkitan

    "Malam ini? Badai di luar sedang ganas, dan kau baru saja melihat kakakmu menjadi Putra Mahkota. Kenapa terburu-buru sekali kembali ke tanah buangan yang beku dan dingin itu?"Shen Yuan menoleh ke arah A Ruo, lalu meraih tangan gadis berpipi tembem itu dan menggenggamnya dengan erat. Tindakan itu membuat mata Ye Lin melirik mereka. Ada rasa iri dan haru di hati Ye Lin melihat A Ruo akhirnya menemukan tempat berlindung."Aku sudah terlalu lama berada di sini. Udara ibu kota membuat isi kepalaku tidak tenang," jawab Shen Yuan jujur. "Lagi pula, aku membawa A Ruo bersamaku. Saat di Utara nanti, aku akan menikahinya dan menjadikannya istriku satu-satunya."Yanzuo tertegun. Ia menatap A Ruo dari atas ke bawah, lalu tertawa dengan kerasnya."Seorang pelayan medis? Yuan'er, selera pangeran es sepertimu sungguh tak bisa ditebak!" ucap Yanzuo apa adanya. Namun, ia tidak bermaksud demikian. Hanya ingin memastikan pilihan adiknya agar tidak salah langkah."Ta

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   123. Sah

    Pintu Aula Berkat Dari Surga terbuka, Ye Lin masuk didampingi beberapa dayang. Mereka semua bungkam soal tragedi di luar tembok istana.Jenderal perempuan itu melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya. Wajah Ye Lin tetap sedingin es. Tidak ada air mata yang tersisa, hanya penyesalan yang membekukan jiwa.Melihat pengantin wanitanya tiba, Yanzuo melangkah maju. Mata merah Pangeran Api itu terlihat bahagia. Bagi Yanzuo, Ye Lin adalah kemenangan utam karena membawa benih di dalam rahimnya.Yanzuo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Ye Lin. Dengan senyum keangkuhannya, Pangeran Pertama itu mengulurkan tangan yang memancarkan hawa panas.Ye Lin terdiam sejenak. Matanya menatap uluran tangan itu seperti menatap bara api neraka. Namun, menyadari di mana ia berada sekarang, Ye Lin menyambut uluran tangan tersebut.Saat kulit mereka bersentuhan, hawa es dan api saling meredam. Yanzuo menggenggam tangan Ye Lin dengan sangat erat, lalu me

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   122. Perang Tanpa Suara

    Di waktu yang sama, hawa panas memenuhi paviliun pribadi Pangeran Pertama. Udara di dalam ruangan itu berapi-api seperti di jurang neraka.Yanzuo berdiri tegak di depan cermin, ia sedang mendandani dirinya sendiri. Tidak ada satu pun pelayan atau kasim yang berani masuk untuk membantunya berpakaian.Mereka semua terlalu takut menjadi abu, jika tak sengaja menyentuh kulit sang pangeran yang panas membara.Yanzuo mengikat sabuk giok di pinggangnya. Jubah pengantin merah darah dari Sutra Teratai Salju itu menempel pas di tubuhnya yang gagah. Ia menatap pantulan dirinya yang tersenyum penuh keangkuhan.“Hari yang dinanti tiba. Gelar putra makhkota dan Ye Lin menjadi permaisuriku,” ucapnya penuh percaya diri. Di luar paviliun, puluhan Pasukan Phoenix berjaga, tubuh mereka berkeringat menahan hawa panas yang menembus pintu, meski salju sedang turun.Pintu terbuka lebar. Yanzuo melangkah keluar, dengan sepatu baru yang pas di kakinya. Naga emas yang disulam di jubahnya seolah hidup dengan

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   121. Tandu Pengantin

    Hari penobatan dan pernikahan agung itu akhirnya tiba. Langit ibu kota Dinasti Hanlu tampak kelabu. Bahkan matahari pun enggan menjadi saksi dari perayaan yang dibangun di atas penderitaan.Di kamar Ye Lin, keheningan begitu terasa. Belasan pelayan istana sibuk mengelilinginya, mendandani jenderal perempuan yang sedang kehilangan separuh jiwanya.Jubah pengantin merah darah yang ditenun dari Sutra Teratai Salju membalut tubuhnya yang semakin kurus. Hawa dingin dari salju di luar sana, hawa dingin dari tubuhnya serta dari jubah pengantin membuat hatinya semakin dingin dengan nasibnya.Secercah penyesalan muncul untuk pertama kalinya, karena ia sendiri yang dengan penuh kesadaran mendatangi Yanzuo. Harusnya ia tak pernah penasaran dengan sensasi panas serta dingin ketika saling menyatu.Seorang dayang memberikan gincu warna merah menyala di bibir tipisnya. Warna yang terlihat sangat berlawanan dengan kulitnya yang seputih salju.Setelahnya mahkota emas bertahtakan burung phoenix yang sa

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   120. Sumpah Berdarah

    Badai salju di luar kediaman Keluarga Ye semakin mengganas. Rasa malu dan aib keluarga itu seperti telah terkubur oleh salju. Bahkan Jenderal Besar Ye menolak dirinya diperiksa oleh tabib karena sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun.Akibatnya Jenderal Besar Ye terbaring lemah setiap saat. Napasnya terdengar berat, dan dadanya masih sesekali terasa nyeri sisa dari serangan jantung tempo hari.“Siapa di sana?” tanya Jenderal Besar Ye ketika lilin di kamarnya mendadak bergoyang, dan rasanya ada sekelebat bayangan yang melintas di kamarnya.“Jika tujuanmu baik, keluar, aku sedang tidak punya tenaga untuk bertarung,” ucap lelaki tua itu dengan suara beratnya.Saat menoleh ke kanan, Jenderal Besar Ye membelalakkan matanya."Jenderal Zhao?" ucap Jenderal Besar Ye setengah tak percaya. Yang ia tahu dari dulu mereka berbeda pandangan karena klan partai kiri dan kanan yang alirannya tak sama."Beraninya kau menyusup ke kamarku di tengah malam seperti seorang pengecut. Apa maumu?"Jendera

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   119. Jubah Pengantin

    Wajah Wei Lan Yi seketika memerah. Kelembutan seorang wanita telah mati di dalam raganya. Semua karena cinta butanya bukan pada kaisar melainkan pada takhta di depan matanya."Aku tidak peduli pada kutukan itu. Aku tidak peduli jika mereka menjadi siluman sekalipun!" jerit Wei Lan Yi sambil tertawa. Ia sangat putus asa. "Berikan benih itu padaku. Biarkan anak-anakku menjadi pembawa kehancuran, asalkan mahkota tetap berada di lingkaran keluargaku!"Kilat merah dan biru menyambar dari langit secara bersamaan, menghantam tubuh Wei Lan Yi hingga ia terpental dan pingsan di atas salju. Ia bangun ketika badai salju berhenti turun dan ia tertatih berjalan menuju kereta, di mana Momo yang masih muda setia sekali menunggunya.“Momo, aku lelah sekali,” ujarnya kala itu.“Yang Mulia, ayo kita istirahat di penginapan.” Momo memapah tubuh permaisuri yang lemah setelah tidak makan selama berhari-hari.Di dalam penginapan Wei Lan Yi sepert

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status