ログインLangkah kaki Amira terasa begitu berat melintasi lorong-lorong batu pualam yang dingin. Ia terus teringat kekacauan yang baru saja terjadi di dalam peraduan pribadi Sang Sultan—penolakan tegas yang ia lemparkan, tawaran tahta permaisuri yang tak masuk akal, serta tatapan kehampaan Rayyan yang tertinggal di balik pintu mahoni.Dalam lima belas menit setelah mengganti pakaian dan merapikan rambutnya, Amira sampai di Balai Utama, tempat perjamuan agung pagi ini digelar.Meja-meja panjang telah terisi oleh para pejabat tinggi Kerajaan Al-Fariz, anggota Dewan Tetua yang mengenakan jubah keagungan, serta rombongan utusan diplomasi dari Kesultanan Ash-Shaf.Di meja kehormatan paling depan, Putri Sahira duduk bak seorang ratu. Di samping tempat duduknya, berdiri Zurie—Kepala Pelayan istana yang selama ini menaruh dendam dan rasa iri membara pada Amira. Zurie mengawasi pintu masuk dengan binar mata gelisah yang menyimpit penuh intrik.Amira menarik napas dalam-dalam, berusaha menundukkan panda
"Asal kau mau berada di sisiku... menjadi selirku, aku akan memastikan seluruh kerajaan ini tunduk di bawah kakimu. Kau tidak perlu takut lagi, Amira. Maukah kau?"Atmosfer di dalam kamar mendadak membeku.Rayyan menunggu respons gadis itu. Ia membayangkan Amira akan meneteskan air mata haru, mengangguk pasrah dalam dekapannya, atau setidaknya memeluknya dengan rasa syukur atas perlindungan mutlak yang baru saja ia tawarkan.Namun, Amira hanya diam terpaku.Rona merah di pipi gadis itu perlahan surut, digantikan oleh warna pucat yang dingin. Binar hangat di mata Amira mendadak padam secara perlahan, menyisakan tatapan kosong yang teramat dalam dan asing.Kata 'Selir' bergema liar di kepala Amira.Selir.Wanita simpanan. Pemuas gairah yang dilegalkan hukum kerajaan. Wanita yang akan selalu berada di bawah bayang-bayang seorang Permaisuri berdarah murni seperti Sahira. Seorang pemuas dahaga yang statusnya bisa dibuang kapan saja jika intrik politik mendesak.Rayyan mengira ia sedang men
Teriakan Amira yang menggelegar di peraduan pribadi Sultan langsung memotong lamunan liar Rayyan. Pria itu berkedip perlahan, menyerap raut wajah Amira yang memerah padam antara amarah, malu, dan kepanikan yang bertumpuk menjadi satu.Sebuah kekeh rendah yang amat serak meluncur dari tenggorokan Rayyan. Pria itu menyandarkan kepala di sandaran ranjang sutra, menatap Amira dengan pandangan yang kian pekat oleh rasa kepemilikan."Aku tidak melamun, Amira," bisik Rayyan lembut namun sarat akan kejahilan yang memabukkan. "Aku hanya sedang mengutuk bahu kiriku sendiri... karena retak di saat yang paling tidak tepat.""Astaga, Yang Mulia... Yang kau katakan itu benar-benar membuat malu, jika didengar orang lain!" Pekik Amira menahan napas, dadanya kempis-kembang. Gadis itu meletakkan cawan obat berbahan porselen ke atas meja samping ranjang dengan dentang yang sedikit kasar. "Makanya... tubuhmu jangan secandu ini, dong," kekeh Rayyan lagi, matanya mengkilat jahil.Dengan satu tarikan man
Bisikan Rayyan yang sarat ancaman mematikan itu menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Amira terpaku kaku di atas bantal sutra, menatap manik mata hitam Sang Sultan yang memancarkan kegilaan tanpa penyesalan sedikit pun.Namun, saat mata Amira turun menelusuri bahu kiri Rayyan, napas gadis itu tertahan.Di balik kemeja hitam tipis yang melekat pada dada bidangnya, noda darah segar berbau hanyir merembes pelan, membendung kain yang robek akibat tersayat pengait pelana saat kuda itu melintas kencang."Anda... Anda terluka, Yang Mulia," cicit Amira, kepanikannya mendadak bergeser dari masalah diplomasi menuju rasa cemas yang tak sanggup ia kekang.Tanpa memedulikan pening di kepalanya, Amira mendorong dada tegap Rayyan pelan. "Luka bahu Anda sangat parah. Kita harus memanggil tabib—""Aku tidak peduli pada luka ini, Amira," potong Rayyan serak, menolak bergeser satu inci pun."Tapi hamba peduli!" pekik Amira tertahan, matanya mendadak berkaca-kaca oleh perpaduan rasa lelah, a
Derap langkah tegap Rayyan memantul keras di atas pualam lorong Istana Dalam, memecah keheningan mencekam yang merayap cepat ke seluruh penjuru kerajaan.Di sepanjang koridor, puluhan pelayan dan pengawal bertopeng perak berjatuhan bersujud di lantai. Wajah mereka pucat pasi, tak berani mendongak sedikit pun melihat Sang Sultan berjalan membopong seorang pelayan rendahan yang tak sadarkan diri di dadanya, dengan jubah kebesaran yang penuh noda debu arena dan sisa darah dari luka di bahunya!BAM!Rayyan menendang pintu kayu mahoni kamar pribadinya hingga terbuka lebar, lalu membawa Amira masuk dan membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang berseprai sutra emas miliknya."Tabib Utama! Masuk sekarang juga!" bentak Rayyan, suaranya menggelegar dipenuhi amarah yang membakar.Tabib Kerajaan bersama tiga asistennya menerobos masuk dengan tubuh gemetar hebat. Mereka berdiri di ambang pintu, tak berani menatap mata Sang Sultan yang memancarkan aura membunuh yang kental."Periksa Amira sekara
"Mm... Lagipula... Amira terlihat sangat kuat. Dia pasti tidak keberatan... bukan begitu, Amira?"Amira menahan napasnya yang terasa membakar di kerongkongan. Gadis itu tahu betul bahwa jika Rayyan membela dirinya saat ini di depan seluruh Pejabat Ash-Shaf, rahasia hubungan mereka dan martabat Sang Sultan akan hancur seketika.Dengan sisa-sisa kesadaran yang terancam padam, Amira membungkukkan tubuhnya kaku.Dan sebagai seorang pelayan rendahan... ia sama sekali tidak pantas!"Hamba... akan segera melaksanakannya, Tuan Putri," desis Amira sangat lirih.Gadis itu membalikkan badannya, lalu melangkah menuruni undakan batu panggung utama, berjalan menuju hamparan debu arena yang mendidih di bawah sengatan matahari.Setiap langkah kaki Amira yang menyentuh batu pelataran arena bawah terasa bagaikan menapak di atas bara api. Entah mengapa siang ini, gaun pelayan hitam yang membungkus tubuhnya serasa menekan dadanya hingga sulit bernapas.Pandangan Amira mulai bergoyang parah. Bintik-binti







