Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire

Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-14
โดย:  Strroseอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
8บท
10views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

“Dia tidak berisik, dia tidak canggung dan dia tidak banyak tingkah. Dia seperti tupai kecil yang mencoba bersembunyi. Dia sangat hati-hati dan sangat teliti. Matanya penuh dengan kepatuhan yang menghipnotisku. Membuatku berpikir memiliki kuasa akan dirinya dan begitulah kenyataannya. Aku bisa membuatnya menjadi budakku atau bisa membuatnya menjadi ratuku. Aku bisa membuatnya mencintaiku, atau bahkan membuatnya membenciku. Semua keputusan pada akhirnya ada dalam kuasaku, setidaknya itulah manipulasi yang dia lakukan padaku” -- Silas Sinclaire "Kau pikir aku hanya pelayan, Tuan? Aku ini manusia. Tapi di tanganmu, aku merasa seperti boneka. Kau memelukku, tapi matamu tetap dingin. Semua tindakanmu tak bisa kubaca dengan jelas. Apa yang kau inginkan dariku? Kau suka ketaatanku, maka ambillah. Tapi kau harus mempercayaiku. Setidaknya kepercayaan itu akan menjadi pembalasan terbaikku" -- Hanaya Eloska

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Chap 1 Trapped

“Hanaya Eloksa!”

Suara berat namun bening dari Mrs. Ivara menggema di ruangan sempit berisi belasan perempuan muda berwajah cantik. Aroma parfum mahal dan pengap bercampur menjadi satu, menyesakkan napas. Jendela satu-satunya yang menghadap gang sempit tak mampu menawarkan udara segar.

Salah satu dari antara mereka, perempuan pemilik nama Hanaya Eloksa itu langsung tersentak. Ia yang tadi terlelap dalam mimpi singkat yang damai, kini kembali ditarik paksa ke realitas pahit.

Matanya terbuka dengan cepat, iris cokelat tuanya masih sedikit mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang lampu bohlam yang menggantung di tengah ruangan.

Wajah cantik para perempuan yang baru Hanaya kenal selama seminggu itu serentak menoleh padanya. Sebagian menatapnya dengan rasa sinis dan sebagian lain dengan tatapan kosong, seperti tak peduli dan pasrah pada nasib.

“Hanaya Eloksa?”

“Saya, Mrs Ivara” Jawab perempuan muda itu. Jantungnya berdebar kencang, firasat buruk seketika merayapi benaknya.

Mrs. Ivara melangkah menuju ranjang Hanaya, tumit sepatunya beradu dengan lantai, menciptakan irama tegas. Rambutnya disanggul rapi, bibir merahnya menyisakan garis tipis dingin yang menghadirkan wibawa agar membuat semua orang merasa ciut, tak terkecuali Hanaya.

Mrs Ivara berhenti tepat di depan Hanaya. Bayangannya yang tinggi dan langsing menyelimuti tubuh Hanaya yang meringkuk di tepi ranjang.

“Kau satu-satunya yang belum melayani siapapun di tempat ini kan?” Tanya Mrs Ivara tegas, suaranya dipenuhi keyakinan mutlak, seolah dia tak mungkin salah. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang diperkuat oleh keheningan total di ruangan itu.

Seketika itu juga, semua kepala yang tadi menoleh kini kembali fokus ke arah Hanaya. Mereka menunggu jawabannya, menunggu konfirmasi atas asumsi mereka.

“Ya, Mrs Ivara” Hanaya mengangguk cepat, menahan gugup yang nyaris membuncah. Kedua tangannya saling meremas, menjadi bukti kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan.

Mrs. Ivara menatapnya lekat. Matanya memindai penampilan Hanaya dari atas ke bawah. Gaun katun sederhana yang ia kenakan sudah pudar warnanya, jauh berbeda dari pakaian mencolok yang dikenakan anak-anak asuh Mrs. Ivara yang lain.

Kulit Hanaya masih terlihat bersih, bebas dari sentuhan bedak tebal atau perona bibir. Wajahnya polos, dengan tulang pipi dan mata almond yang menyimpan kepolosan yang nyaris menyakitkan.

Mrs. Ivara mengangguk pelan, senyum samar tersungging di sudut bibirnya, seolah ia baru saja menemukan sebuah barang langka yang bernilai tinggi.

“Ikuti aku.”

Hanaya menelan ludah, berusaha keras menata langkah meski lututnya gemetar seperti jeli. Jemari mungilnya yang pucat meremas saku bajunya yang pudar, seolah mencari kekuatan dari kain usang itu.

Mrs. Ivara berjalan di depannya dengan mantap, meninggalkan jejak aroma parfumnya yang kuat di indera penciuman Hanaya.

Mereka tiba di ruang tamu besar. Suasana di sini sangat kontras dengan kamar tidur tadi. Lampu gantung kristal berkilau terang, memantulkan cahaya ke mana-mana, menerangi furnitur mahal dan karpet tebal. Ruangan ini terasa dingin dan formal, namun keindahan yang dipaksakan itu justru membuatnya tampak lebih menakutkan bagi Hanaya.

Di salah satu sofa beludru merah dengan model mewah itu, duduklah seorang pria muda.

Pria itu mengenakan setelan kemeja dan jas rapi, rambut blonde kecoklatannya disisir ke belakang. Sorot matanya tenang namun penuh wibawa.

Dia berdiri, menundukkan kepala singkat pada Mrs. Ivara lalu menyorot pada Hanaya

“Ini dia?” suaranya rendah, beraksen dan fasih menyebut bahasa Inggris

Mrs Ivara mengangguk.

“Hanaya Eloksa. Pelayan yang akan dibawa pada Mr. Sinclaire.” Ucap Mrs Ivara

“virgin?” Tanya pria muda itu

Mrs. Ivara tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata.

“Aku tak yakin tapi hanya dia satu-satunya yang paling bersih di sini.” Jawabnya

Pria muda itu kembali menatap Hanaya. Tatapannya kali ini jauh lebih tajam, menilai dirinya seperti sebuah barang berharga yang akan segera dijual.

Hanaya berusaha keras untuk tidak memalingkan wajah, takut membuat Mrs. Ivara marah.

“Nama yang unik. Hanaya Eloksa. Sepertinya dia bukan berasal dari sini”

“Hmm pengiriman asia” Jawab Mrs Ivara santai

Pria itu melangkah ke depan Hanaya. Ia berhenti di depannya. Ia mengangkat dagu Hanaya dengan ujung jari telunjuknya yang terbungkus sarung tangan hitam.

Sentuhan yang dingin dan asing.

“Usianya?”

“Dua puluh dua tahun” Jawab Mrs Ivara.

Tatapan pria itu turun, menelusuri wajah pucat dan tubuh kurus Hanaya. Matanya yang gelap bergerak menilai dari bahu, ke garis leher, hingga dada Hanaya. Alisnya berkerut.

“Kau tidak memberinya makan?” gumamnya, suaranya mengandung nada yang terdengar seperti teguran, tapi lebih ditujukan pada Hanaya daripada Mrs. Ivara. “Kenapa dia kurus sekali?”

Hanaya menunduk lebih dalam, pipinya memanas karena malu. Perasaan menjadi objek yang diteliti begitu intim membuatnya ingin menghilang. Jemarinya saling menggenggam erat di balik punggung, seperti mencari pegangan agar tidak runtuh di tempat.

Mrs. Ivara tersenyum tipis, meski matanya tampak tidak suka dipertanyakan. Ia melipat tangannya di depan dada.

“Dia baru datang seminggu yang lalu setelah hampir jadi barang dagangan di pasar gelap,” Nada bicaranya manis, tapi ada ketegangan samar yang membuat ruangan terasa lebih sempit.

Pria itu mendengus pelan, seolah tidak peduli dengan penjelasan itu. Ia melepaskan dagu Hanaya, namun masih menatapnya lama.

“Pantas saja,” desahnya. “Tubuhnya ringkih seperti korban penyiksaan. Mr. Sinclaire tidak suka barang yang rusak.”

Hanaya tersentak. Kata-kata itu menusuk karena sebuah kebenaran. Pikirannya langsung teringat pada hari-hari mengerikan sebelum ia sampai di sini.

Ia diculik dan hampir dijual oleh sekelompok orang yang tak ia kenal.

Jika bukan karena intervensi Mrs. Ivara maka Hanaya mungkin tidak akan berdiri di sini sekarang, melainkan telah menjadi budak seks atau bahkan mayat kosong di suatu tempat terpencil.

“Aku tak tahu jika seorang bawahan sepertimu banyak sekali bicara” Ketus Mrs Ivara, wajahnya kini mengeras. Ia melangkah maju, memecah jarak antara pria itu dan Hanaya. “Tugasmu hanya memastikan dia memenuhi spesifikasi, Mr. Sinclaire bukan memberi saran nutrisi atau mengkritik manajemenku.”

Pria itu menarik napas dalam, bahunya terangkat sejenak, lalu ia menghembuskannya perlahan. Ekspresi tenangnya kembali, seolah ketegangan tadi hanyalah gangguan kecil.

“Aku perlu memastikan kualitas barang sesuai dengan harga yang dibayar oleh Tuanku” jawabnya datar, membalas tatapan Mrs. Ivara dengan tatapan sama tajamnya.

“Bagaimanapun, ini adalah transaksi” lanjutnya. Ia kembali menatap Hanaya sejenak. “Dia harus disiapkan dengan layak sesuai dengan harga yang dibayarkan.”

Mrs Ivara menggeram pelan, seperti suara kucing besar yang terganggu. Jelas sekali ia tidak suka wibawanya dipertanyakan di depan anak asuhnya, bahkan jika anak asuh itu adalah Hanaya yang akan segera pergi.

“Dia bukan menjadi model sampul majalah” cibir Mrs. Ivara

Jemari panjang Mrs. Ivara yang mengenakan cincin besar tiba-tiba menyentuh dagu Hanaya ringan, membuat gadis itu refleks menegang dengan kepala yang sedikit terangkat. Jari-jari itu memaksanya untuk menatap pria muda itu.

“Lihat!” Mrs. Ivara memamerkannya layaknya boneka pameran. “Seperti keinginan Mr. Sinclaire, dia satu-satunya perempuan polos yang aku punya. Tidak tahu menari, tidak tahu merayu. Dia hanya bekerja sebagai pembersih meja bar. Itupun hanya dua malam karena dia langsung ketakutan saat ditarik seorang pelanggan. Pelayan yang sempurna, kan?”

Pria itu hanya mengamati. Pandangannya bergerak dari wajah Hanaya yang memerah karena malu ke jemari Mrs. Ivara yang mencengkeram dagunya.

Tak lama ia mengeluarkan sebuah dompet kulit tipis dari saku dalam jasnya. Ia mengeluarkan selembar cek bank yang dicetak dengan sangat elegan, lalu menyodorkanya pada Mrs. Ivara.

Mrs. Ivara langsung melepaskan dagu Hanaya dan mengambil cek itu. Perhatiannya langsung tertuju pada angka-angka yang tertera di sana. Angka-angka yang membuat mata Mrs. Ivara melebar sedikit dan senyum puas yang jarang terlihat itu kembali menghiasi wajahnya.

“Seperti biasa, Tuan Sinclaire tahu cara membayar dengan layak.” katanya, suaranya kembali manis setelah melihat nominal yang ia dapatkan. Mrs. Ivara melipat cek itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam saku pakaiannya

Setelahnya, Mrs Ivara menatap Hanaya. Tatapannya kini bukan lagi menilai, melainkan sebuah instruksi yang tidak bisa dibantah.

“Bereskan semua barang-barangmu, jangan tinggalkan satupun barang yang pernah kau gunakan”

Hanaya langsung mengangguk patuh. Meskipun dia suka berada disini namun Hanaya tak bisa menolak ketika Mrs Ivara sudah memberikan perintah

“Mira!” panggil Mrs. Ivara, suaranya menggema ke lorong. “Berikan dia tas yang layak dan bantu dia bersiap”

“Baik Madam” balas pelayan paruh baya bernama Mira seraya mengangguk

Hanaya bergegas kembali ke kamar sempit yang kini terasa lebih dingin dan sepi. Ia menarik laci penyimpanan besar dari bawah ranjang. Di dalamnya hanya ada sedikit barang, beberapa helai pakaian tipis, buku catatan, dan sebuah kalung liontin yang sangat ia jaga.

Mira masuk membawa sebuah tas jinjing kulit hitam yang tebal dan tampak baru.

“Ini,” bisik Mira, menyerahkannya pada Hanaya. “Cepat. Jangan sampai Nyonya marah.”

Hanaya dengan sigap memindahkan barang-barangnya. Ketika Hanaya kembali ke ruang tamu, Mrs. Ivara masih berdiri, memandang jam tangannya dengan ekspresi tidak sabar.

“Sudah semua?” Tanya Mrs Ivara

“Sudah Mrs Ivara” Jawabnya

Mrs Ivara menepuk bahu Hanaya, sebuah sentuhan yang terasa lebih seperti dorongan yang memaksa. “Patuhi Tuan barumu. Jangan membuat namaku buruk karena tingkahmu Hanaya” Bisiknya

“Baik Mrs Ivara” Jawab Hanaya patuh

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
8
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status