
Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan
"Kau tahu apa artinya, Amira? Mulai detik ini... Jika aku menyuruhmu membuat roti di dapur ini, kau harus membuat roti dengan kualitas terbaik. Dan... jika aku menyuruhmu untuk membuka lebar-lebar kedua kakimu untukku, di atas ranjangku... Kau juga harus melakukannya tanpa ragu. Persis seperti seekor anjing yang jinak, di hadapan tuannya. Kau paham?!"
Sultan Rayyan Al-Fariz—penguasa tiran yang dingin dan angkuh—hidup dalam kegelapan yang hambar. Trauma masa lalu membuatnya membenci wanita dan kehilangan selera makannya akibat penyakit anoreksia yang dideritanya. Baginya, dunia ini hanyalah tempat yang penuh racun. Sampai ia mencicipi roti buatan Amira—dan merasakan gairah liar saat menatap bibir gadis itu...
.
Amira, seorang pembuat roti yang hancur karena terlilit utang dan dikhianati, tidak punya pilihan selain menandatangani kontrak "berdarah".
Sultan Rayyan menawarkan kebebasan finansial, dengan satu syarat mutlak: Amira harus melayani apa pun yang ia minta, kapan pun ia mau!
.
Kesepakatan itu segera berubah menjadi permainan dominasi yang berbahaya!
Di siang hari, Amira adalah koki pribadi yang memberikan kehangatan lewat masakannya. Namun di malam hari, di atas ranjang sutra hitam yang panas, Rayyan terus menuntut "menu tambahan" , untuk memenuhi nafsu dan obsesinya.
.
Saat Amira mulai terjebak dalam pesona pria yang memujanya di atas ranjang, Ibu tiri Sultan malah berusaha menyingkirkannya dengan berbagai cara!
Di tengah intrik istana dengan segala kebusukannya, haruskah Amira pergi dan kembali ke kehidupannya sebagai rakyat biasa, atau menetap di istana megah itu dan melawan musuh-musuh mereka?
Read
Chapter: Bab 108: Kau Takut Mati?... Tapi Kenapa—?Bau karat, kelembapan batu tua, dan hawa dingin yang menusuk tulang menyambut langkah Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz saat ia menuruni tangga batu melingkar menuju ruang interogasi terlarang di dasar Menara Barat.Di dalam ruangan minim cahaya itu, dua buah tungku tembaga raksasa menyala membara. Arang merah menyala memancarkan panas yang menyengat udara, membakar ujung-ujung batang besi tebal hingga memerah pijar.Di sudut lain, dari balik jeruji besi sel isolasi yang gelap, suara rintihan dan isak tangis ketakutan Zeydan Melik yang babak bunur terdengar samar, kian menambah atmosfer teror yang mencekik tempat itu.Selin terikat erat di atas kursi besi tebal. Rantai besi berat mengunci kedua pergelangan tangan dan kakinya. Wajahnya yang berbedak kusam kini berantakan oleh air mata, keringat dingin, dan riasan yang luntur. Ketika pintu besi dihantam terbuka dan sosok tinggi tegap Rayyan melangkah masuk dengan aura tiran yang amat kelam, tubuh Selin seketika bergetar hebat."Y-Yang Mulia...
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: Bab 107: Topeng yang Terkelupas"A-apa yang Anda bicarakan, Yang Mulia?!" jerit wanita itu seraya terbatuk-batuk, matanya membelalak lebar memancarkan penolakan yang luar biasa.Ia memegangi pergelangan tangan Rayyan yang mencekik lehernya, berusaha keras menggelengkan kepala."Hamba bukan Puan Selin! Hamba hanyalah pelayan dapur bernama Marna! Ampun, Yang Mulia! Wajah hamba... wajah hamba sama sekali tidak mirip dengan mantan selir Puan Selin! Lihat hamba, Yang Mulia! Anda pasti salah orang!"Farhan yang berdiri di dekat mereka melangkah mendekat, menyipitkan mata mengamati wajah pelayan itu di bawah pendar temaram cahaya pagi. Panglima Pengawal Bayangan itu mengerutkan keningnya, mendadak diliputi keraguan.Jika diingat kembali, sketsa wajah Selin yang tersebar di seluruh papan buronan lima tahun lalu memiliki bentuk wajah bulat dengan hidung agak pipih dan mata lebar. Sedangkan wanita di hadapan mereka ini memiliki rahang tirus yang tajam, hidung mancung melengkung tinggi, dan lipatan mata yang jauh berbeda. Seca
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: Bab 106: Topeng yang TerkuakBunyi gemerincing rantai besi yang mengunci pintu ganda Sayap Kanan Kamar Agung dari luar bergema berat di sepanjang koridor menara. Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz berdiri tertegun sejenak di depan pintu yang tertutup rapat itu. Dadanya naik-turun memburu, merasakan nyeri yang menghantam jiwanya tatkala mengingat wajah Amira yang basah oleh air mata dan jejak memar kemerahan di pipi halus gadis itu.Gadis itu mempercayainya... namun manipulasi iblis dari Paviliun Utama hampir saja merusak jembatan cinta yang baru mereka bangun."Panglima Farhan!" panggil Rayyan dengan suara bariton yang amat dingin dan pekat."Siap, Yang Mulia!" sahut Farhan seraya membungkuk tegap."Biarkan dua puluh prajurit bayangan terbaik bertaruh nyawa membentengi kamar ini. Jika ada satu ekor lalat pun yang berani mendekati peraduan Selirku tanpa izinku, tebas kepalanya di tempat!""Siap laksanakan, Yang Mulia!"Dengan jemari yang mencengkeram erat hulu pedang utamanya, Rayyan berbalik. Langkah kaki bertelanjang yan
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: Bab 105: Kebenaran di Balik StempelHujan gerimis membungkus gerbang utama Istana Agung Al-Fariz pagi itu. Udara dingin merayap menusuk tulang, namun atmosfer di sekitar gerbang besi tempa setinggi lima meter tersebut justru membara oleh ketegangan yang nyaris meledak.Di hadapan belasan prajurit penjaga berzirah lengkap, Amira berdiri tegap dengan tubuh yang gemetar. Ia memeluk erat koper kusam kecil di dadanya—koper yang sama yang dulu dibawanya saat pertama kali menginjakkan kaki di istana iblis ini. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap oleh lelehan air mata yang tak henti mengalir sepanjang malam."Buka gerbangnya!" jerit Amira dengan suara parau yang pecah. "Hamba bukan lagi pelayan di sini! Hamba berhak pergi!"Para prajurit penjaga berdada kaku itu saling melirik dengan pelipis yang dibasahi keringat dingin. Tak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuh Amira, apalagi mengarahkan senjata pada wanita yang baru saja diumumkan sebagai Selir Agung Utama Kesultanan. Namun, membiarkan wanita milik Sultan melangkah
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: Bab 104: Keretakan dan PelarianUap ketegangan melingkupi peraduan Sayap Kanan Kamar Agung hingga ke taraf yang menyesakkan. Rayyan terpaku menatap kertas dokumen berstempel merah darah di tangannya, sebelum akhirnya memutar pandangannya ke arah Amira. Bukannya memberikan penjelasan dengan kepala dingin, rasa terluka yang amat mendalam mendadak memicu amarah dan ego Sang Sultan. Setelah semua hal yang ia pertaruhkan—menghancurkan aliansi, menantang Dewan Tetua, hingga membuka seluruh hatinya di pulau pribadi—Amira justru dengan mudah menuduhnya sebagai iblis pembunuh tanpa bertanya terlebih dahulu. "Kau menuduhku?!" suara Rayyan mengalun rendah, bergetar oleh amarah yang membakar. "Kau melihat Stempel Agung itu dan langsung menyimpulkan bahwa aku yang membunuh ibumu, Amira?!" "Lalu siapa lagi, Yang Mulia?!" jerit Amira histeris, air matanya meluncur deras melintasi pipinya yang pucat. "Stempel itu adalah milik Sultan Al-Fariz! Hak mutlak penguasa kerajaan ini! Apakah Anda ingin membual bahwa ada orang lain yan
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Bab 103: KehancuranUap darah dan hawa dingin dari sel bawah tanah menguap seiring langkah Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz yang membelah koridor menuju Sayap Kanan Kamar Agung. Pria itu telah membersihkan jemarinya, meninggalkan kekejaman terhadap Zeydan Melik di dalam kegelapan sel isolasi tanpa menyampaikan sepatah kata pun pada Amira. Bagi Rayyan, masa lalu yang kotor itu tidak layak mencemari kedamaian wanita yang paling ia cintai.Rayyan mendorong pintu ganda peraduan pribadi dengan pelan. Suasana kamar terasa begitu sunyi, hanya dihiasi oleh pendar temaram lampu minyak dan hembusan angin malam dari celah jendela.Di tepi ranjang pualam, Amira duduk mematung. Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra longgar, menundukkan kepala dengan kedua tangan yang tertangkup kaku di atas pangkuan.Melihat sosok Amira yang jelita di bawah temaram cahaya, naluri posesif dan rasa rindu Rayyan seketika meledak. Pria itu melangkah mendekat tanpa suara, melucuti jubah luarnya, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Dari belakan
Last Updated: 2026-08-31

Suami Pengganti: Petarung Jalanan di Ranjang Nyonya Besar
Bumi Ganendra mengira wanita anggun yang menginjak wajahnya di gang kumuh itu datang untuk membunuhnya. Namun, tawaran yang dilemparkan Vania Valerine jauh lebih gila: menjadi "alat" pemuas sekaligus suami pengganti di ranjangnya!
.
Demi menyelamatkan nyawa adiknya, Bumi terpaksa membuang identitasnya sebagai petarung jalanan, dan menjelma menjadi Aksa Valerine—konglomerat paling kejam di Jakarta—dengan satu tugas: menghamili Sang Nyonya Besar, dalam waktu satu tahun.
.
Bumi tak pernah mengira, di malam pertama sandiwara dimulai, ia akan menemukan rahasia mengejutkan: Wanita itu masih perawan, dan dirinya... hanyalah binatang buas yang baru saja menemukan mangsa terlezatnya.
"Boleh aku coba gaya lain, Nyonya? Aku ingin kau merintih memanggil namaku, sampai fajar tiba."
"Kau pikir kau bisa menggunakanku sebagai bidak?! Jangan bercanda. Kau yang memintaku masuk, dan sekarang, kau tidak akan pernah bisa menghentikanku semudah itu."
"Jadi, katakan.. siapa yang kau inginkan di dalam tubuhmu sekarang? Suamimu, atau bajingan jalanan yang sedang menghancurkanmu ini?"
.
Saat transaksi fisik berubah menjadi obsesi yang membakar, seseorang justru mengintai dari balik bayang-bayang, memastikan rahim Vania tidak akan pernah melahirkan seorang pewaris!
.
Ketika konspirasi berdarah mulai terkelupas, apakah Bumi—Aksa Valerine palsu—dapat keluar hidup-hidup dari kediaman Valerine?
Read
Chapter: Bab 150: Final Chapter (Berita Baik nan Ngeselin!)Satu bulan berlalu sejak kewajiban "puasa" Bumi dicabut, dalam suasana yang "menggairahkan" dan membahagiakan. Pagi menjelang di Mansion Valerine dengan sinar matahari keemasan yang menerobos celah tirai kamar utama. Suasana begitu tenang, diisi oleh suara napas teratur dari box bayi di sudut ruangan tempat Arka Samudra Valerine tertidur lelap setelah menyusu pada pukul tiga dini hari tadi.Di atas ranjang king size, Vania menggeliat pelan dalam tidurnya. Matanya masih setengah terpejam, namun ia merasakan sensasi geli yang aneh sekaligus nikmat menjalar di bagian dadanya. Sesuatu yang hangat, basah, dan kenyal sedang menghisap puting payudaranya dengan ritme pelan namun teratur.'Ah... perasaan tadi Arka sudah dipindah ke box... kok rasanya beda ya?' batin Vania setengah sadar.Perlahan-lahan, Vania membuka matanya lebar-lebar. Alih-alih melihat bayi mungil berkepala botak, pandangannya justru disambut oleh sepasang rambut hitam tebal yang sedang membenamkan diri di dadanya. Pria
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: Bab 149: Goyang sampai Pagi!Dua bulan berlalu begitu cepat di Mansion Valerine. Masa nifas Vania resmi berakhir, menandai selesainya "periode darurat nasional" bagi kaum adam di rumah tersebut—terutama bagi Bumi yang selama enam puluh hari terakhir harus menahan diri dengan tingkat kesabaran setara biksu bertapa di gua.Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kamar utama tampak temaram, diterangi cahaya lampu tidur berwarna keemasan. Arka Samudra Valerine, sang bayi kesayangan, sudah terlelap nyenyak di dalam box bayi yang berada di sudut ruangan.Di atas ranjang king size, Vania baru saja selesai merapikan pakaiannya setelah menyusui. Ia mengenakan jubah tidur satin berwarna rose gold berlapis renda tipis yang membuatnya terlihat makin memesona pasca-melahirkan.Tiba-tiba, dari arah kamar mandi, Bumi keluar hanya mengenakan celana bahan hitam tanpa baju, memamerkan otot dada bidang dan perut six-pack-nya yang basah oleh sisa air wudhu—atau mungkin sengaja dibasahi agar terlihat dramatis. Pria itu
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: Bab 148: Papa SiagaPintu kamar perawatan VIP kelas presiden itu terbuka perlahan. Sofia melangkah masuk lebih dulu dengan mata yang sedikit sembap dan memerah, namun senyuman hangat nan lega terpancar jelas di wajah cantiknya. Di belakangnya, Bumi mengekor dengan raut wajah yang jauh lebih tenang, seolah beban seberat gunung yang bertahun-tahun mengimpit dadanya baru saja diangkat tak berbekas.Vania yang sedang bersandar di ranjang langsung menghentikan kegiatan menyusuinya, menatap Sofia dan suaminya bergantian dengan raut cemas. Laras yang sedang mengupas buah apel di sofa pun ikut menahan napas."Mama..." panggil Vania pelan, khawatir guncangan emosi akan memicu penyakit jantung Sofia.Sofia berjalan mendekati ranjang Vania, lalu mengelus lembut puncak kepala menantunya itu. "Vania, Sayang... terima kasih, ya. Terima kasih sudah melahirkan cucu yang begitu tampan untuk Mama."Ia lalu menoleh ke arah Bumi yang berdiri di samping ranjang, menatap pria itu dengan binar kasih sayang murni seorang ibu."
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: Bab 147: Kebenaran yang TerkuakSuara dengkur halus dari box bayi berbalut selimut lembut menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruang perawatan bayi VIP pagi itu.Sofia berdiri di samping kaca box, menatap cucunya yang mungil dengan binar mata penuh kehangatan. Jemarinya yang lentik mengelus pipi kemerahan bayi tersebut dengan sangat berhati-hati. Di sebelahnya, Bumi berdiri tenang, memperhatikan raut bahagia di wajah wanita yang sangat ia hormati itu."Lucu sekali... hidungnya mirip sekali denganmu waktu kecil," gumam Sofia pelan, tersenyum manis.Namun, sedetik kemudian, senyuman Sofia perlahan memudar. Ia tak mengalihkan pandangannya dari si bayi, tetapi suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang—sebuah ketenangan yang justru menyimpan getaran kecurigaan yang ditahan sejak lama."Aksa..." panggil Sofia pelan.Bumi menoleh, menatap Sofia. "Ya, Ma?""Kenapa Vania memanggilmu 'Bumi' saat berjuang di ruang persalinan tadi?" tanya Sofia. Ia perlahan memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Bumi. "Sej
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: Bab 146: LAHIR!!Keheningan Mansion Valerine pecah secara mendadak pada pukul tiga pagi.Di dalam kamar utama yang tenang, Vania mendadak terbangun dengan kening berkerut menahan rasa mulas yang luar biasa hebat di perut bawahnya. Punggungnya terasa seperti dihantam sesuatu yang berat, dan saat ia mencoba menggeser tubuhnya, ia merasakan cairan hangat membasahi kasur.Vania menarik napas panjang, lalu menyikut pelan pria di sebelahnya yang sedang tidur nyenyak dengan posisi telentang dan mulut sedikit terbuka."Bumi... bangun, Bumi..." bisik Vania sambil menahan napas.Bumi hanya bergumam pelan, membalikkan badan dan memeluk gulingnya makin erat. "Udah malam, Yang... besok saja kalau mau dielus-elus perutnya, lagi...""Bumi! Air ketubanku pecah!" seru Vania, kali ini dengan nada melengking yang tidak bisa dibantah.Mata Bumi seketika membelalak lebar. Kata 'ketuban' seolah memicu alarm bahaya tingkat tinggi di dalam otaknya. Dalam hitungan detik, aura mantan petarung jalanan yang biasanya tenang dan t
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: Bab 145: Gladi Bersih Putri Baru ValerineTiga hari menjelang Gala Dinner, penderitaan Laras bukannya berkurang, justru makin mencapai puncaknya.Di ruang dansa khusus lantai dua Mansion Valerine, suara ketukan sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter beradu dengan lantai kayu polished. Laras melangkah terpincang-pincang dengan wajah mengernyit menahan pegal, sementara di atas kepalanya bertumpuk dua buah buku ensiklopedia tebal yang siap meluncur jatuh kapan saja."Tegakkan bahumu, Laras! Pandangan lurus ke depan, jangan menunduk menatap lantai!" seru seorang instruktur etiket paruh baya berwajah kaku yang disewa khusus oleh Sofia. "Bayangkan dirimu adalah seorang ratu yang sedang melangkah menuju singgasana, bukan preman yang sedang melarikan diri dari kejaran petugas!"Laras menggeram gemas di dalam hati. Ratu dari mananya?! Ini mah kaki rasanya mau copot dari panggul! batinnya menjerit.Sofia yang duduk di sofa panjang sambil menikmati cangkir teh porselennya menyahut anggun, "Ingat, Laras... nanti malam ada ratusan mata
Last Updated: 2026-08-19