เข้าสู่ระบบJavendra masih menatap layar ponselnya setelah membaca laporan terbaru dari Bram. Seseorang di dalam perusahaan telah menggunakan akun staf administrasi untuk mengakses jadwal pertemuannya dengan Laura. Lebih buruk lagi, orang tersebut sengaja menyiapkan semuanya sebelum foto-foto itu tersebar. Javendra mengunci layar ponselnya dengan kasar. Sialan! Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Namun, bukan hanya rencana itu yang membuatnya marah. Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu pikirannya. Ucapan Sasa. Kalau Mas menginginkan wanita lain dalam hidup Mas, katakan saja. Rahang Javendra mengeras. Bagaimana mungkin istrinya sampai berpikir seperti itu? Selama ini, dia bahkan tidak pernah bisa merasakan ketertarikan terhadap perempuan lain. Keberadaan wanita-wanita di sekitarnya tidak pernah berarti apa pun baginya. Hanya Sasa yang mampu membangkitkan sesuatu yang tidak pernah bisa dia rasakan kepada siapa pun. Lalu sekarang, karena ulah Laura, istrinya
Bukan karena tidak memahami maksud ucapan istrinya, melainkan karena ia tidak pernah membayangkan Sasa bisa memikirkan hal seperti itu. Ada dorongan untuk langsung membantah dengan nada tinggi. Namun, ketika melihat wajah istrinya yang masih pucat dan tubuhnya yang belum pulih, Javendra segera menahan diri. Ia tidak boleh menjawab kecemasan Sasa dengan kemarahannya. "Kenapa kamu berpikir begitu?" Sasa menunduk lagi. "Aku tidak tahu, Mas. Mungkin karena sekarang aku sedang hamil. Aku juga tidak bisa selalu menemani Mas seperti biasanya. Sedangkan Laura..." "Sayang." Javendra menyela dengan lembut. Ia meraih tangan Sasa, lalu menggenggamnya dengan kedua tangan. "Dengarkan aku." Sasa mengangkat wajah. "Kamu masih ingat bagaimana awal kita bertemu?" Sasa mengangguk kecil. "Aku ingat." "Sejak saat itu, pernahkah aku menjalani kehidupan dengan wanita lain di belakangmu?" Sasa tidak menjawab. Javendra mengusap punggung tangannya. "Aku bahkan tidak pernah tertarik untuk menge
Malam semakin larut, tetapi Javendra belum beranjak dari sisi ranjang Sasa. Ibu Amara sudah beberapa kali memintanya beristirahat. Namun, pria itu selalu menolak dengan alasan ingin memastikan kondisi istrinya tetap stabil. Sasa sendiri sudah kembali tertidur setelah sempat terbangun beberapa kali. Wajahnya masih pucat, sementara infus di tangannya terus menetes. Javendra mengusap punggung tangan istrinya sebelum mengambil ponsel yang tergeletak di meja kecil. Ada satu pesan dari Bram. (Bram, Tuan Javendra. Saya menemukan perkembangan baru. Ada aktivitas akses terhadap jadwal pertemuan Tuan dengan Laura dari sistem internal perusahaan. Saya sedang menelusuri identitas pengguna dan riwayat komunikasinya.) Javendra membaca pesan itu dua kali. Matanya menyipit. Jadi, seseorang di dalam perusahaan memang mengetahui jadwal pertemuannya. Ia mengetik balasan singkat. (Jangan hubungi orang yang bersangkutan dulu. Periksa seluruh riwayat aksesnya dan cari tahu apakah ada komunikasi
Javendra masih duduk di samping ranjang ketika Sasa akhirnya tertidur. Sejak beberapa menit lalu, ia tidak melepaskan genggaman tangannya. Sesekali, pria itu memperhatikan wajah pucat istrinya, memastikan napas Sasa tetap teratur. Ibu Amara yang duduk di kursi seberang ikut memperhatikan mereka. "Javen, kamu sebaiknya keluar sebentar. Ibu akan menemani Sasa." Javendra menggeleng pelan. "Aku tidak ingin meninggalkannya, Bu." "Kamu tidak harus meninggalkan rumah sakit. Ibu hanya meminta kamu beristirahat sebentar. Sejak tadi kamu belum makan dan belum duduk dengan tenang." "Aku tidak lapar." Ibu Amara menghela napas. Ia tahu putranya tidak akan mudah dibujuk selama kondisi Sasa belum benar-benar membaik. "Kalau begitu, setidaknya cuci muka. Wajahmu terlihat sangat lelah." Javendra akhirnya mengangguk. Ia melepaskan genggaman tangannya dengan hati-hati, lalu merapikan selimut yang menutupi tubuh Sasa. "Bu, kalau dia bangun, tolong panggil aku." "Iya. Ibu akan menjag
Mobil akhirnya tiba di rumah sakit. Begitu kendaraan berhenti, beberapa petugas medis yang sudah mendapat informasi dari pihak keluarga segera menghampiri dengan ranjang dorong. Javendra langsung keluar sambil menggendong Sasa. Ia membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan hati-hati, lalu mengikuti petugas yang segera membawanya menuju ruang penanganan. "Pasien sedang hamil dan mengalami pendarahan," jelas Javendra dengan cepat. "Dia juga sempat pingsan." "Baik, Pak. Kami akan segera melakukan pemeriksaan." Seorang perawat memeriksa kondisi Sasa sambil memberikan instruksi kepada rekannya. Mereka bergerak cepat memasuki ruang penanganan. Javendra hendak mengikuti, tetapi seorang perawat menghalangi langkahnya. "Maaf, Pak. Kami perlu melakukan pemeriksaan awal terlebih dahulu. Silakan menunggu di luar. Dokter akan memberikan penjelasan setelah pemeriksaan selesai." "Saya suaminya. Saya ingin tetap berada di samping istri saya." "Kami mengerti, Pak. Namun, saat ini kami
Javendra berusaha mengendalikan suaranya, tetapi kegelisahan terlihat jelas pada wajahnya. "Bagaimana dengan bayinya, Javen? Bagaimana keadaan cucu Ibu?" tanya Ibu Amara dengan suara bergetar. "Aku tidak tahu, Bu." Javendra kembali menunduk memandang Sasa. Ia memanggil istrinya beberapa kali, tetapi perempuan itu belum juga membuka mata. Bercak darah pada celana Sasa membuat pikirannya semakin kacau. "Sasa, Sayang. Buka mata kamu." Ia menepuk pelan pipi istrinya, tetapi tidak ada respons. Ibu Amara segera berjongkok di samping mereka. Tangannya menyentuh pipi Sasa, lalu menggenggam tangannya yang terasa lemas. "Sasa, Nak. Bangun, Sayang. Ini Ibu." Suaranya mulai bergetar. Ia beberapa kali menepuk pelan pipi menantunya, berusaha membuat perempuan itu sadar. "Javen, kenapa Sasa tidak bangun?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Sasa, ayo buka mata. Jangan membuat Ibu takut." Di tengah kepanikan itu, Bi Lastri segera mendekat. Ia sempat melihat bercak darah pada pakaian Sasa se
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi







