Home / Romansa / Pelayan Kesayangan CEO Arogan / Bab 642 — Pelindung

Share

Bab 642 — Pelindung

Author: Apple Cherry
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-10 11:20:26

Javendra melumat bibir bawah Sasa dengan kelembutan yang sangat terukur, menyerap seluruh rasa bahagia, ketenangan, dan cinta kasih yang meluap-luap dari diri istrinya.

Tak ada lagi keterburu-buruan atau dominasi kasar. Ciuman itu mengalir jauh lebih lambat, seolah Javendra sengaja memberikan waktu kepada Sasa untuk merasakan setiap sentuhan yang ia berikan. Tidak ada tuntutan di sana, hanya kelembutan dan pemujaan yang begitu dalam, seakan perempuan dalam pelukannya adalah sesuatu yang sela
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 761 - Mencoba Menenangkan

    "Aku tahu, Sayang, aku paham." Javendra menarik napas panjang, kemudian menggenggam tangan Sasa lebih erat."Dan aku tidak akan meminta kamu mempercayai aku hanya karena aku suami kamu. Aku akan membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar. Tapi selama aku sedang berusaha mencari buktinya, aku ingin kamu memberiku kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini. Jangan langsung menyakiti diri sendiri dengan menganggap semua yang mereka katakan itu benar."Sasa menunduk. "Aku berusaha, Mas.""Aku tahu kamu berusaha." Suara Javendra melunak. "Tapi kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Ada aku di sini."Ia menggeser duduknya hingga berada di samping Sasa, kemudian merangkul bahu istrinya dan menariknya perlahan ke dalam pelukan."Sayang, kamu sedang mengandung anak kita. Aku tidak mau kamu terus gelisah sampai lupa makan, sulit tidur, atau memaksakan diri memikirkan masalah ini sepanjang hari. Aku tahu kamu tidak bisa begitu saja mengabaikan apa yang terjadi, tetapi setidaknya jangan

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 760 - Aku Tidak Mau Dihohongi

    Ia melanjutkan langkah menuju kamar. Kali ini, ia tidak berniat menunda pembicaraan mereka. Ia tahu Sasa membutuhkan penjelasan, dan ia tidak ingin membiarkan istrinya terus memikirkan foto-foto itu sendirian.Ketika pintu kamar terbuka, Sasa yang sedang duduk di sofa langsung menoleh. Tatapan mereka bertemu, tetapi tidak ada yang segera berbicara.Javendra menghampirinya, lalu duduk tepat di hadapannya."Sasa, aku sudah membaca pesan kamu.""Aku menunggu penjelasan kamu sejak pagi," jawab Sasa pelan."Aku tahu. Maaf karena baru bisa pulang sekarang. Ada urusan di kantor yang harus aku selesaikan, tetapi aku tidak pernah berniat menghindari kamu."Sasa mengangguk kecil. Ia berusaha menahan kegelisahan yang sejak pagi mengganggu pikirannya."Mas, aku ingin kamu menjawab dengan jujur. Kemarin, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Laura di ruang kerja?"Javendra menatap istrinya dengan serius."Laura datang untuk membicarakan ayahnya. Aku menolak permintaannya karena aku tidak ber

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 758 - Sasa Juga Bisa Terluka

    Sementara itu, Sasa berada di kamar ketika Amara datang berkunjung. Perempuan itu membawa beberapa barang yang sebelumnya diminta Sasa. Namun, langkahnya melambat ketika melihat menantunya duduk di sofa dengan ponsel di tangan. "Kamu sedang apa, Sasa?" tanya Amara sambil meletakkan barang bawaannya. Sasa segera mematikan layar ponsel. "Tidak sedang apa-apa, Bu." Amara memperhatikan wajah menantunya dengan saksama. "Kalau tidak sedang apa-apa, kenapa wajahmu murung begitu?" Sasa berusaha tersenyum. "Aku cuma sedikit lelah." "Sudah makan?" "Sudah, Bu." Amara melirik ke arah meja kecil di samping sofa. Ada segelas air dan beberapa potong buah yang belum disentuh. "Kamu yakin sudah makan? Jangan berbohong kepada Ibu." Sasa menghela napas. Ia tahu Amara tidak akan berhenti bertanya jika melihat dirinya menghindar. "Aku memang belum banyak makan, tetapi nanti aku makan lagi." Amara duduk di sebelahnya. "Ada masalah dengan Javendra?" Pertanyaan itu membuat Sasa terdia

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 757 - Rasa Cemas Javendra

    Sasa mengatupkan bibir. Ia tidak suka membaca kalimat yang sengaja menggiring orang untuk menyimpulkan sesuatu, padahal tidak ada bukti yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu. Ia juga tidak tahu siapa yang mengambil foto tersebut. Kalau memang ada orang yang sengaja ingin menjatuhkan Javendra, mengapa dirinya harus ikut diseret ke dalam masalah ini? Pertanyaan itu membuat Sasa meletakkan ponselnya. Ia tidak ingin terus membaca komentar orang asing yang tidak mengetahui kehidupan rumah tangganya. Namun, belum sampai satu menit, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama dengan pengirim pesan anonim sebelumnya. (Kamu sudah melihat beritanya, bukan? Sekarang kamu tahu kenapa Laura keluar dari ruangan itu dalam keadaan berantakan.) Sasa membaca pesan tersebut dengan dahi berkerut. Ia tidak langsung membalas. Sebaliknya, ia mengambil tangkapan layar pesan itu dan menyimpannya. Ada sesuatu yang tidak beres dengan cara orang terse

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 756 - Sasa Hanya Butuh Penjelasan

    Di tempat lain, Laura duduk di dalam mobil sambil memandangi layar ponselnya. Senyum tipis muncul ketika melihat unggahan tentang pertemuannya dengan Javendra mulai menyebar. Beberapa akun lain sudah mengutip foto yang sama. Komentar-komentar bernada curiga pun terus bertambah, tepat seperti yang ia harapkan. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari orang yang membantunya menyebarkan foto tersebut. (Unggahannya mulai ramai. Apa kita lanjutkan ke media lain?) Laura mengetik balasan tanpa ragu. (Jangan terlalu cepat. Biarkan orang-orang membicarakannya dulu. Setelah itu, sebarkan lagi dengan narasi yang membuat istrinya merasa ada sesuatu yang disembunyikan.) Ia mengirim pesan itu, lalu membuka foto Sasa yang tersimpan di galeri ponselnya. "Silakan saja kalian saling percaya," gumam Laura sambil memperbesar foto tersebut. "Aku hanya perlu membuat kepercayaan itu retak sedikit demi sedikit." Ia tahu Sasa belum tentu langsung mempercayai tuduhannya. Karena itu, ia tidak

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 755 - Sasa Bisa Salah Paham

    Rani membuka pintu sambil membawa segelas air hangat. Ia baru melangkah beberapa langkah ketika melihat Sasa duduk bersandar di kepala ranjang dengan wajah yang tampak murung. "Nyonya belum sarapan?" Rani meletakkan gelas di atas nakas. "Saya tadi sudah meminta dapur menyiapkan makanan kesukaan Nyonya." "Nanti saja, Ran. Aku belum lapar." Rani memperhatikan wajah majikannya. "Nyonya kurang enak badan?" "Enggak. Aku cuma belum ingin makan." Rani tidak langsung menjawab. Selama mendampingi Sasa, ia cukup mengenal perubahan suasana hati perempuan itu. Sasa biasanya tetap berusaha makan meskipun sedang tidak berselera, terlebih karena kehamilannya sudah memasuki bulan kedelapan. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nyonya?" tanyanya hati-hati. Sasa menggeleng kecil. "Enggak ada apa-apa." Rani mengangguk, tetapi matanya sempat menangkap layar ponsel Sasa yang kembali menyala. Nama akun gosip itu masih terlihat di bagian atas notifikasi. Ia tidak berniat ikut campur. N

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 2 - Kepergok Majikan

    Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 1 - Salah Pegang Milik Majikan

    "Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 7 - Kondisi Yang Mendesak di Tengah Transaksi

    Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 6 - Gunakan Dadamu Yang Seksi Itu

    Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status