ログインMobil akhirnya tiba di rumah sakit. Begitu kendaraan berhenti, beberapa petugas medis yang sudah mendapat informasi dari pihak keluarga segera menghampiri dengan ranjang dorong. Javendra langsung keluar sambil menggendong Sasa. Ia membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan hati-hati, lalu mengikuti petugas yang segera membawanya menuju ruang penanganan. "Pasien sedang hamil dan mengalami pendarahan," jelas Javendra dengan cepat. "Dia juga sempat pingsan." "Baik, Pak. Kami akan segera melakukan pemeriksaan." Seorang perawat memeriksa kondisi Sasa sambil memberikan instruksi kepada rekannya. Mereka bergerak cepat memasuki ruang penanganan. Javendra hendak mengikuti, tetapi seorang perawat menghalangi langkahnya. "Maaf, Pak. Kami perlu melakukan pemeriksaan awal terlebih dahulu. Silakan menunggu di luar. Dokter akan memberikan penjelasan setelah pemeriksaan selesai." "Saya suaminya. Saya ingin tetap berada di samping istri saya." "Kami mengerti, Pak. Namun, saat ini kami
Javendra berusaha mengendalikan suaranya, tetapi kegelisahan terlihat jelas pada wajahnya. "Bagaimana dengan bayinya, Javen? Bagaimana keadaan cucu Ibu?" tanya Ibu Amara dengan suara bergetar. "Aku tidak tahu, Bu." Javendra kembali menunduk memandang Sasa. Ia memanggil istrinya beberapa kali, tetapi perempuan itu belum juga membuka mata. Bercak darah pada celana Sasa membuat pikirannya semakin kacau. "Sasa, Sayang. Buka mata kamu." Ia menepuk pelan pipi istrinya, tetapi tidak ada respons. Ibu Amara segera berjongkok di samping mereka. Tangannya menyentuh pipi Sasa, lalu menggenggam tangannya yang terasa lemas. "Sasa, Nak. Bangun, Sayang. Ini Ibu." Suaranya mulai bergetar. Ia beberapa kali menepuk pelan pipi menantunya, berusaha membuat perempuan itu sadar. "Javen, kenapa Sasa tidak bangun?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Sasa, ayo buka mata. Jangan membuat Ibu takut." Di tengah kepanikan itu, Bi Lastri segera mendekat. Ia sempat melihat bercak darah pada pakaian Sasa se
Javendra baru saja kembali ke ruang keluarga setelah menyelesaikan panggilan teleponnya. Ponsel yang dibawanya masih berada di tangan ketika sebuah notifikasi pesan masuk dari Bram. Ia membuka pesan tersebut dan membaca laporan singkat yang dikirimkan asistennya. (Tuan, kami menemukan bukti tambahan. Foto tersebut dikirim kepada pengelola akun gosip saat pertemuan Anda dengan Laura berlangsung. Kami masih menelusuri identitas pengirim dan kemungkinan adanya komunikasi lain.) Javendra membaca pesan itu sekali lagi. Ada sesuatu yang membuatnya semakin yakin bahwa Laura bukan satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas masalah ini. Namun, ia belum ingin mengambil kesimpulan sebelum mendapatkan bukti yang lebih kuat. "Mas, makanannya sudah disiapkan." Suara Sasa membuat Javendra mengalihkan perhatian. Perempuan itu berdiri tidak jauh dari meja makan bersama seorang pelayan. Javendra memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu menghampiri istrinya. "Kamu sudah merasa
Javendra menekan tombol panggilan pada layar ponselnya. Tidak sampai tiga detik, Bram sudah menjawab. "Ya, Tuan." "Jelaskan perkembangan yang kamu temukan. Aku ingin tahu dari mana foto itu berasal dan siapa yang pertama kali menyebarkannya." Bram terdengar sedang membuka sesuatu di hadapannya. "Kami sudah menelusuri beberapa akun yang mengunggah foto tersebut. Dari hasil pemeriksaan sementara, unggahan pertama muncul dari sebuah akun gosip yang cukup aktif membagikan informasi tentang kalangan bisnis dan selebritas. Namun, akun itu bukan sumber asli fotonya." "Jadi, siapa sumber aslinya?" "Kami belum bisa memastikan identitasnya. Foto tersebut dikirimkan kepada pengelola akun melalui pesan pribadi. Pengirimnya menggunakan akun anonim dan sudah menghapus percakapan setelah foto itu diunggah." Javendra menyandarkan punggungnya ke sofa. Tatapannya tertuju pada lantai di hadapannya. "Apakah kamu bisa melacak akun pengirimnya?" "Kami sedang mengusahakannya, Tuan. Ada beberapa hal
"Aku tahu, Sayang, aku paham." Javendra menarik napas panjang, kemudian menggenggam tangan Sasa lebih erat."Dan aku tidak akan meminta kamu mempercayai aku hanya karena aku suami kamu. Aku akan membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar. Tapi selama aku sedang berusaha mencari buktinya, aku ingin kamu memberiku kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini. Jangan langsung menyakiti diri sendiri dengan menganggap semua yang mereka katakan itu benar."Sasa menunduk. "Aku berusaha, Mas.""Aku tahu kamu berusaha." Suara Javendra melunak. "Tapi kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Ada aku di sini."Ia menggeser duduknya hingga berada di samping Sasa, kemudian merangkul bahu istrinya dan menariknya perlahan ke dalam pelukan."Sayang, kamu sedang mengandung anak kita. Aku tidak mau kamu terus gelisah sampai lupa makan, sulit tidur, atau memaksakan diri memikirkan masalah ini sepanjang hari. Aku tahu kamu tidak bisa begitu saja mengabaikan apa yang terjadi, tetapi setidaknya jangan
Ia melanjutkan langkah menuju kamar. Kali ini, ia tidak berniat menunda pembicaraan mereka. Ia tahu Sasa membutuhkan penjelasan, dan ia tidak ingin membiarkan istrinya terus memikirkan foto-foto itu sendirian.Ketika pintu kamar terbuka, Sasa yang sedang duduk di sofa langsung menoleh. Tatapan mereka bertemu, tetapi tidak ada yang segera berbicara.Javendra menghampirinya, lalu duduk tepat di hadapannya."Sasa, aku sudah membaca pesan kamu.""Aku menunggu penjelasan kamu sejak pagi," jawab Sasa pelan."Aku tahu. Maaf karena baru bisa pulang sekarang. Ada urusan di kantor yang harus aku selesaikan, tetapi aku tidak pernah berniat menghindari kamu."Sasa mengangguk kecil. Ia berusaha menahan kegelisahan yang sejak pagi mengganggu pikirannya."Mas, aku ingin kamu menjawab dengan jujur. Kemarin, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Laura di ruang kerja?"Javendra menatap istrinya dengan serius."Laura datang untuk membicarakan ayahnya. Aku menolak permintaannya karena aku tidak ber
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi







