Share

Bukan Gosip

last update publish date: 2026-03-21 21:59:02

Keheningan mendadak menyergap sudut ruangan koas itu. Sera membeku. Jemarinya yang tadi lincah menulis laporan mendadak kaku, tertahan di udara.

Pertanyaan Karina barusan seolah-olah menyedot seluruh oksigen di sekitar Sera.

Erika yang duduk di samping Sera menoleh cepat ke arah Karina dengan mata membelalak.

"Apa maksudmu?" sembur Erika, suaranya naik satu oktav.

Karina menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia melipat tangan di depan dada, menatap Sera yang masih bergemin
Adinasya Mahila

like dan komen ya Geng 🤗

| 27
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
Dihhh blg aj g knal Ser.. Klo s Lampir tau² ntr ngaku ank blg aj emg lu knal gw gtuin aj hahahaa
goodnovel comment avatar
Wida
siapa sich yg mendengar ucapan Sintia semalam
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
yg sbr ya ser.. ni ujiaaan.. smg km bisa mleluiny
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Meredam Berita

    Ratu bukannya tidak tahu soal berita yang menghebohkan publik pagi ini. Tengah malam tadi ia sempat terbangun dari tidur, iseng membuka ponsel lalu menjelajahi media sosial, dan langsung menemukan artikel serta foto-foto itu berseliweran di linimasanya. Pandangan Ratu beralih dari ujung karpet menuju layar tablet yang baru saja dilempar kasar oleh ibunya. Gadis itu menarik napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa tanpa rasa gentar sedikit pun. "Kenapa sih, Ma, ribut sekali sepagi ini?" keluh Ratu seraya memutar bola matanya malas. "Mana mungkin aku berkencan dengan pria seperti pengawal pribadi Sera? Itu cuma berita ngaco yang dibesar-besarkan media saja." Dada Sintia kian naik-turun mendengar jawaban santai putrinya. Sorot matanya menatap tajam ke arah Ratu. "Kalau memang berita itu ngaco, kenapa bisa sampai muncul foto dan narasi memalukan seperti ini di internet?!" "Ya mana aku tahu, Ma," sahut Ratu ketus seraya mengibaskan tangannya pelan. "Jangan tanya ke aku. T

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Sembrono

    Rendra menggeleng pelan, raut wajahnya tampak mengeras menatap layar ponsel yang kini berada di tangan Sera. "Aku belum tahu persis apa yang sebenarnya terjadi."Sera menurunkan ponsel itu ke pangkuannya, keningnya berkerut cemas seraya menatap profil samping suaminya. "Apa Pak Evan belum melapor soal berita heboh ini ke Mas Rendra?""Belum," sahut Rendra pendek seraya meraih kembali ponselnya dari genggaman Sera. Jemarinya mengetuk layar cepat. "Aku baru saja mengirim pesan padanya, tapi belum dibaca. Kemarin Evan bilang sedang tidak enak badan, jadi mungkin jam segini dia masih tidur karena pengaruh obat."Sera menggeser duduknya, menatap Rendra lekat-lekat dengan rasa penasaran yang kian memuncak. "Lalu Mas Rendra dapat info dari mana sepagi ini? Apa Mas tadi tidak sengaja membuka portal berita?"Rendra mengangguk pelan seraya melirik sekilas ke arah istrinya. "Iya. Tadi saat membuka ponsel, notifikasi beritanya langsung muncul di beranda." Rendra menarik napas pendek, lalu mengges

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Terbalik

    Erika dan Deo melangkah cepat membelah keremangan taman, mempercepat ayunan tungkai mereka ke arah bangku di bawah pohon rindang. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Erika langsung menghambur ke depan dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Arkan, memeluk anak laki-laki itu dari samping.Arkan tersentak kaku, nyaris berseru heran, namun bisikan cepat Erika di samping telinganya seketika menahan suaranya di tenggorokan."Diam dan jangan bergerak aneh. Ada orang di ujung jalan yang sedang memata-matai kalian berdua."Ratu yang sempat melotot kaget melihat seorang wanita tiba-tiba muncul dan merengkuh Arkan begitu saja, baru hendak membuka mulut untuk memprotes. Namun, Deo sudah lebih dulu berdiri tegap sedikit membelakangi arah mobil penguntit, bersedekap seraya menundukkan pandangan ke arah sepatunya sendiri. Pria itu berbicara dengan bibir yang nyaris tak bergerak, bergaya seolah-olah ia tidak sedang berkomunikasi langsung dengan adik presidennya."Nona, ada seseorang di dalam mobil s

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berita Besar?

    Sementara itu di sebuah taman kota yang temaram, Erika dan Deo duduk berdampingan di atas bangku kayu panjang. Embusan angin malam terasa cukup dingin, namun Erika tampak gelisah seraya meremas kedua tangannya di atas pangkuan.Erika menoleh ke samping, menatap profil wajah Deo yang tenang. "Deo, sebenarnya ada hal penting yang harus kukatakan padamu," buka Erika dengan suara tertahan.Deo menoleh pelan, menatap kekasihnya dengan kening terangkat sedikit. "Ada apa, Erika?"Erika menarik napas dalam-dalam sebelum berucap jujur, "Anak Pak Wapres berniat melamarku ke Papa."Deo tidak langsung bersuara. Pria itu hanya terpaku menatap wajah Erika yang tampak cemas."Tapi tenang saja, Deo," lanjut Erika cepat-cepat seraya memegang lengan jaket Deo. "Besok aku akan jujur ke Papa. Aku akan bilang kalau aku menolak lamaran itu karena aku sedang menjalin hubungan denganmu."Alih-alih merespons lega, Deo justru mengunci mulutnya rapat-rapat. Pria itu menurunkan pandangannya ke arah tanah berbatu

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Dua Hubungan

    Sera menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa, jemarinya bertaut di atas pangkuan. "Itulah, Mas. Tadi aku sudah meminta Erika untuk jujur saja ke papanya kalau selama ini dia dan Deo memang sedang menjalin hubungan."Rendra menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar lewat mulut. Tangannya yang semula bersedekap kini terlipat di atas lutut seraya menatap lurus ke depan."Sepertinya ada dua hubungan yang harus kita bantu selesaikan sekarang."Kening Sera berkerut dalam mendengar ucapan itu. Ia menoleh cepat menatap suaminya, menyuarakan rasa bingung yang langsung memenuhi kepalanya. "Selesaikan bagaimana maksud Mas Rendra?"Rendra menolehkan kepalanya perlahan, membalas tatapan Sera dengan sorot mata yang tenang. "Setidaknya membuat hubungan-hubungan itu menjadi terang di hadapan keluarga. Pertama masalah Ratu dan Arkan, lalu sekarang masalah Erika dan Deo."Mata Sera membulat sedikit, ia menggeleng pelan tanda enggan. "Tapi aku tidak mau ikut campur, Mas. Aku takut."Rendra mena

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Benar-benar Dalam Masalah Besar

    Evan membetulkan posisi duduknya, sedikit menoleh ke belakang seraya menjawab dengan sopan, "Nona Sera meminta izin pergi ke kediaman Nona Erika, Pak."Kening Rendra seketika berkerut dalam. Tatapannya menuntut penjelasan lebih. "Ke rumah Erika? Kenapa tiba-tiba sekali ke sana? Apa terjadi suatu masalah?"Evan mengangguk singkat. "Benar, Pak. Tampaknya ada urusan mendesak yang terjadi pada Nona Erika."Beberapa jam sebelumnya.Langkah kaki Sera dan Erika beriringan menyusuri lorong dingin dari arah ruang UGD menuju ruang koas. Suasana koridor cukup lengang, hanya terdengar derit roda brankar yang didorong perawat di kejauhan.Sera menoleh ke samping, memperhatikan Erika yang sejak tadi berjalan lesu dengan tatapan tertunduk ke lantai. Merasa tak tega melihat pundak sahabatnya yang merosot, Sera menyenggol pelan lengan Erika dengan sikunya."Kamu masih terus memikirkan soal rencana lamaran dari anak Pak Wapres?" tanya Sera hati-hati seraya memiringkan wajahnya, mencoba menatap manik ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status