Share

Akan Mendukungmu

Penulis: Adinasya Mahila
last update Tanggal publikasi: 2026-10-17 15:08:48

Keheningan kembali menyergap seisi ruang makan. Tidak ada satu pun yang langsung menyahut pengakuan gamblang itu. Suasana mendadak begitu beku sampai deru pendingin ruangan terdengar jelas.

Ratu mengedarkan pandangannya dengan dagu terangkat. Sorot matanya beralih menatap Rendra yang masih bergeming, lalu bergulir tepat menatap Sera.

"Apa ada yang salah kalau kami pacaran?" desak Ratu lagi, suaranya menuntut jawaban tegas.

Sera menegakkan punggungnya. Ia merasa tatapan Ratu barusan seperti seda
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Wida
ratu emang lawan yg sesungguhnya buat rakyat iriyana
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
makasi up nya kk 🩷
goodnovel comment avatar
🍁Mam 2R🍁
Kapok ga tuh Sintia di sindir2 sama anaknya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berjanji

    Senyuman puas langsung mengembang lebar di bibir Ratu. Sorot matanya berbinar cerah saat ia menoleh ke samping, menatap wajah Arkan dengan senyum penuh kemenangan yang tak berusaha ia sembunyikan. Arkan yang ditatap seperti itu hanya bisa menggaruk pelipisnya seraya membalas dengan senyum tipis bercampur lega."Sudah, lanjutkan lagi makannya," ujar Rendra memecah keheningan yang tersisa seraya meraih kembali sendok dan garpunya. Pria itu memberi isyarat dengan anggukan kepala pada semua orang di meja. "Jangan biarkan makanannya dingin."Mau tidak mau, denting alat makan perlahan kembali terdengar satu per satu. Meski begitu, suasana di meja perjamuan itu berubah menjadi sangat canggung.Pak Angga dan Bu Siwi hanya menyendok nasi sedikit demi sedikit, sesekali melirik cemas ke arah besan mereka. Sera pun hanya memotong daging di piringnya dalam diam seraya menatap suaminya bergantian dengan Arkan.Sementara itu, Sintia benar-benar tidak berkutik lagi di kursinya. Wajah wanita paruh baya

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Akan Mendukungmu

    Keheningan kembali menyergap seisi ruang makan. Tidak ada satu pun yang langsung menyahut pengakuan gamblang itu. Suasana mendadak begitu beku sampai deru pendingin ruangan terdengar jelas.Ratu mengedarkan pandangannya dengan dagu terangkat. Sorot matanya beralih menatap Rendra yang masih bergeming, lalu bergulir tepat menatap Sera."Apa ada yang salah kalau kami pacaran?" desak Ratu lagi, suaranya menuntut jawaban tegas.Sera menegakkan punggungnya. Ia merasa tatapan Ratu barusan seperti sedang menodongnya tepat di depan hidung, memaksanya untuk memihak. Sera menarik napas pendek, lalu melipat jemarinya di atas meja."Tidak ada yang salah dengan menjalin hubungan, Ratu," sahut Sera dengan intonasi tenang dan hati-hati. "Tapi setidaknya kalian harus bersikap bijak.""Bijak apa maksudmu?" balas Ratu cepat tanpa jeda sedetik pun. Nada bicaranya terdengar skeptis. "Karena perbedaan usia kami berdua, makanya kalian semua menganggap hubungan ini aneh dan tidak wajar?""Ratu! Cukup!" benta

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Makan Malam Yang Tegang

    Rendra malah tertawa pelan mendengar ucapan polos bercampur pasrah dari adik iparnya itu. Tawa renyahnya memecah ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan, membuat pundak Pak Angga dan Bu Siwi ikut sedikit mengendur. Tangan Rendra kembali menepuk bahu Arkan, kali ini dengan cengkeraman bersahabat."Tenang saja, Arkan," kata Rendra seraya menggelengkan kepalanya geli. "Semua itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang akan mengeksekusimu malam ini."Arkan mengembuskan napas panjang yang terdengar jelas, mengusap tengkuknya dengan senyum canggung. Belum sempat Arkan membalas perkataan sang kakak ipar, suara derap langkah kaki dari arah pintu masuk kembali terdengar.Pintu ganda ruang makan terbuka lebar, menampilkan rombongan keluarga Narrottama. Eyang Utari melangkah di barisan paling depan dengan tongkat kayunya yang berketuk pelan di lantai marmer, didampingi oleh Dewa. Tepat di belakang mereka, Sintia berjalan dengan gaun sutra mewahnya, disusul Ratu yang melangkah santai dengan dagu se

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berat Hati

    Hari berikutnya, Sera menghabiskan waktu dari pagi sampai sore dengan perasaan gelisah yang terus menggerogoti hatinya. Bahkan saat memeriksa rekam medis pasien di rumah sakit, fokusnya kerap kali buyar. Pikirannya melayang jauh pada acara malam nanti di istana. Ia sama sekali tidak bisa memprediksi kemungkinan buruk apa yang akan meledak di sana.Karena terus dihantui rasa cemas, Sera memutuskan pulang dari RS Narita lebih awal. Begitu kakinya melangkah melewati pintu penghubung ruang makan utama istana, matanya menangkap kesibukan para pelayan. Deretan piring porselen sudah tertata rapi di atas meja, berdampingan dengan set sendok garpu.Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah mendekat, lalu membungkuk sopan di hadapannya. "Nona Sera, jamuan makan malam untuk nanti hampir siap sepenuhnya."Sera mengangguk pelan seraya menarik sudut bibirnya tipis. "Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku mau ke kamar dulu untuk bersiap.""Baik, Nona."Sera melangkah menaiki tangga menuju kam

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Tapi Menohok

    Ratu mendengus geli mendengar ocehan panjang ibunya. Senyuman tipis yang mengejek tersungging di bibirnya seraya menatap sang ibu tanpa berkedip."Aku tidak mau," sahut Ratu dengan nada datar dan sangat santai, menolak mentah-mentah tuntutan itu.Dewa yang sejak tadi menyimak perdebatan panas itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seraya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia benar-benar pusing melihat keras kepalanya Ratu yang sama sekali tak bisa diatur."Sudah! Coba kalian berdua tenang dulu dan jangan terus-terusan berdebat seperti ini," potong Dewa menaikkan intonasi bicaranya demi menghentikan kegaduhan. Pria itu mengarahkan tangannya ke arah sofa kosong di seberangnya. "Duduk kalian berdua!"Ratu tanpa membantah sedikit pun langsung melangkah santai, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk di seberang sang ayah seraya menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun.Sementara itu, Sintia masih berdiri mematung di tengah karpet, napasnya memburu kasar

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Anak Gadis Yang Membangkang

    Rendra menatap wajah Sera yang masih basah oleh air mata beberapa detik. Alisnya yang sempat bertaut perlahan mengendur, lalu sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman kecil yang nyaris tak terlihat."Jadi, ceritanya kamu sedang melakukan pengakuan dosa sekarang?" tanya Rendra dengan nada suara yang begitu tenang dan santai.Sera mengerjapkan matanya yang masih basah, sedikit bingung mendapati tidak ada kilat amarah sama sekali di mata suaminya. Ia akhirnya mengangguk pelan seraya menundukkan kepala kembali, meremas ujung bajunya."Iya, Mas..."Melihat kepolosan istrinya itu, Rendra mengembuskan napas pendek. Kedua telapak tangannya kemudian terangkat, menangkup kedua belah pipi Sera dengan lembut. Ibu jarinya bergerak perlahan, menyeka sisa jejak air mata yang masih membasahi kulit pipi sang istri."Dengar, Sera," ucap Rendra seraya menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu. "Aku sama sekali tidak marah dengan apa yang sudah kamu ucapkan pada Mama."Sera mendongak sedikit,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status