LOGINkomen & like jangan lupa follow Igeh Na di @nasyamahila makasih 🤗🤗🤗
Aki Banyu meletakkan cangkir bambunya di atas meja kayu dengan gerakan perlahan. "Kalian pasti sudah membaca buku tentang sejarah Iraya," ujar Aki Banyu santai. "Tidak mungkin tidak. Dan di sana sudah tertulis sangat jelas. Lalu, kalau kalian memang sudah saling mencintai, kutukan itu pasti sudah hilang." Rendra menggerakkan tubuhnya sedikit maju. "Tapi kami tetap terkena musibah, Aki. Beberapa kali hal buruk terjadi pada kami," balas Rendra seraya menatap dalam pria tua itu. Aki Banyu menggelengkan kepalanya pelan seraya menyunggingkan senyum tipis, seolah meremehkan sekaligus menyayangkan cara berpikir Rendra. "Kalau begitu, artinya musibah itu bukan disebabkan oleh kutukan. Seperti itu saja kamu tidak paham." Naka yang duduk bersila di dekat pintu mendengar ucapan itu dengan raut tegang. Dadanya naik turun menahan emosi, rahangnya merapat tajam. Pria itu hampir saja menyemburkan umpatan, namun ia menggepalkan tangannya kuat-kuat di atas paha untuk menahannya. Sera yang seja
Sera dan Rendra melangkah mendekat ke arah pondok Aki Banyu. Namun, baru beberapa langkah jemari mereka menjejak tanah pelataran, suara teriakan memanggil mendadak memecah udara."Pak Presiden, tunggu!"Sera dan Rendra kompak menoleh ke belakang.Naka bergegas berlari kecil mengikis jarak, napasnya sedikit terengah sewaktu sampai di hadapan mereka. Matanya menyapu Rendra dan Sera bergantian dengan raut cemas melingkupi wajahnya."Mau ke mana, Pak?" tanya Naka cepat.Rendra mengulas senyum tipis, menggerakkan dagunya mengarah pada pintu pondok kayu yang terbuka. "Aki Banyu meminta kami masuk ke pondoknya. Bahkan dia menawari kami makan."Naka melotot pelan, kebingungan setengah mati. Lidahnya mendadak kelu, bingung harus merespons apa. Pandangannya bergulir menatap pria tua di ambang pintu.Aki Banyu yang menyadari tatapan curiga Naka lantas berdecak malas. "Kamu ikut ke sini, ikut makan juga!" celetuk Aki Banyu seraya menggerutu kasar. "Memangnya kamu pikir aku mau meracuni kalian, apa
Sera mendongak sekilas tanpa menghentikan tekanan tangannya. "Anak Bapak mengalami sumbatan jalan napas berat yang memicu cardiac arrest! Aku sedang melakukan resusitasi jantung paru dan kompresi dada untuk mengembalikan sirkulasi darah serta detak jantungnya!" sahut Sera cepat dengan istilah medis formal. Jawaban rumit itu tentu saja tidak dipahami oleh sang ayah ataupun warga di sana. Merasa anaknya diperlakukan sembarangan, sang ayah melangkah maju dengan mata mendelik murka. Tangannya terangkat, hendak menarik kasar lengan Sera agar menjauh dari tubuh anaknya. Namun, sebelum jemari pria itu menyentuh baju Sera, sebuah tangan kekar lain mencengkeram pergelangan tangannya di udara dengan sangat kuat. Rendra sudah berdiri pasang badan di depan tempat tidur, menatap ayah anak itu dengan sorot mata tajam dan penuh wibawa. "Tolong, percayalah pada istriku," ucap Rendra dengan intonasi suaranya yang dalam dan menenangkan. "Istriku seorang dokter. Dia hanya ingin menolong anakmu."
Aki Banyu menatap Sera lekat-lekat, raut wajahnya yang tadi dingin berangsur-angsur menunjukkan binar antusias yang tak mampu ia sembunyikan. Sera tersenyum manis, membalas tatapan curiga itu dengan tenang. Ia berjongkok sebentar, mengusap helai daun pekat itu, lalu kembali mendongak. "Aku seorang dokter, Aki," sahut Sera ramah. Matanya kemudian tak sengaja menangkap tumbuhan lain yang tumbuh merambat di celah batu tak jauh dari sana. Muka Sera berbinar gembira. "Lihat, itu juga! Itu pegagan hijau, 'kan? Tumbuhan di bukit ini benar-benar sangat berpotensi untuk diteliti!" Sera bangkit berdiri, menatap Aki Banyu yang masih terpaku. "Aki Banyu, menurut Aki... apa aku harus memberitahu teman-temanku yang sesama dokter untuk datang dan melakukan penelitian di desa ini?" Aki Banyu terdiam sejenak. Sorot matanya yang tajam menyapu wajah Sera, lalu beralih menatap Rendra yang berjalan tenang di belakang istrinya. Pria tua itu tertawa terkeh pelan, menyunggingkan senyum yang sarat akan sin
Rendra tak bisa berkata-kata, lidahnya mendadak kelu. Begitu pula dengan Sera yang membelalak lebar, benar-benar terkejut melihat sosok pria tua itu tiba-tiba muncul dan melompat turun dari dahan pohon besar di atas mereka. Naka langsung berdiri tegak dalam sekejap, melangkah maju seraya memasang gestur siaga. Matanya memicing tajam karena merasa pergerakan Aki Banyu selalu tak terduga dan sulit ditebak. Pria tua dengan rambut beruban melambai itu menyapu pandangan ke arah mereka satu per satu. Ia mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut putih, lalu terkekeh pendek. "Kenapa banyak sekali yang datang ke sini?" tanya Aki Banyu dengan nada santai. "Apa kalian semua juga mau mencari bahan makanan di bukit ini?" Naka yang sudah menahan kekesalan sejak tadi langsung menjawab dengan intonasi ketus. "Kami ke sini ingin bertemu denganmu! Bukankah anak buahku sudah bilang kalau Pak Presiden dan Ibu Negara ada perlu denganmu?!" Aki Banyu memindahkan pandangannya, menatap ke arah Rendra dan Se
Sera melihat gurat kesedihan yang membayang di raut wajah suaminya. Ia menggeser duduknya sedikit, lalu menggenggam lembut tangan Rendra. "Ini bukan salah Mas Rendra," ujar Sera pelan namun tegas. Matanya menatap dalam pada manik mata Rendra. "Semuanya pasti efek domino. Sejak awal Amartapura dibiarkan, dan pada akhirnya pemimpin-pemimpin seterusnya juga sama sekali tidak mengutamakan perkembangan Amartapura. Jadi, Mas bisa mulai memutus rantai itu sekarang. Aku harap di bawah kepemimpinan Mas Rendra, Amartapura bisa benar-benar maju." Wajah Rendra seketika berubah sedikit bersemangat mendengar ucapan istrinya. Sorot matanya yang tadi redup kembali hangat. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Iya," sahut Rendra lembut seraya mengusap punggung tangan Sera. "Aku akan berusaha memajukan Amartapura semampuku." Sera berdiri dari batu tempat duduknya. Wajahnya tampak segar dan bersemangat lagi. Ia menepuk-nepuk celananya yang terkena sedikit debu tanah, lalu mengulurkan tangannya pada Rend







