FAZER LOGINkomen & like jangan lupa follow Igeh Na di @nasyamahila makasih 🤗🤗🤗
Di luar ruang kerja Rendra yang tertutup rapat, Sera dan Evan seketika saling pandang dengan mata membulat. Ketegangan yang membubung dari dalam ruangan menembus celah pintu, membuat keduanya membeku di tempat. Evan mendekatkan wajahnya ke arah Sera, berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Bisa-bisanya kita menguping pembicaraan seperti ini, Nona?" Mendengar bisikan panik dari ajudan suaminya, Sera langsung mengangkat jari telunjuk kanannya ke depan bibir, memberikan isyarat tegas agar Evan menutup mulut. Evan menelan ludah gundah, lalu mengangguk-angguk paham. Tanpa sadar, keduanya justru semakin mendekatkan telinga ke arah daun pintu kayu jati yang tebal itu untuk kembali mendengarkan kelanjutan perdebatan antara Rendra dan Sofia dengan saksama. Di dalam ruangan, Sofia tampak terkejut. Gurat wajahnya menegang, namun ia segera menguasai diri untuk menjawab dengan nada profesional yang dipaksakan. "Kontrak kerja saya menjadi juru bicara kepresidenan itu adalah li
Sofia menatap Sera dengan tatapan meremehkan, sudut bibirnya terangkat tipis. "Tentu saja," jawab Sofia, suaranya terdengar angkuh. "Ada hal penting yang ingin Rendra bahas secara langsung denganku malam ini." Sera tidak menunjukkan riak emosi apa pun di wajahnya. Ia justru mempererat cengkeramannya pada kotak susu dan camilan di tangannya, lalu menatap Sofia dari undakan tangga dengan pandangan menghunjam. "Kamu datang ke sini dalam kapasitas sebagai bawahannya, kan? Jadi, tolong jaga caramu bicara saat berada di lingkungan istana. Panggil dia Pak Presiden," ucap Sera dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan. Tanpa menunggu balasan dari Sofia, Sera langsung membalikkan badannya dan melangkah lebar menaiki sisa anak tangga, meninggalkan area itu begitu saja. Sofia yang ditinggalkan di undakan bawah hanya bisa tergelak pendek, menatap punggung Sera dengan pandangan sinis sebelum akhirnya melangkah naik menuju ke lantai atas, mengarahkan tujuannya ke ruang ker
Eyang Utari mengembuskan napas kasar, membuat pundaknya turun dengan kentara. "Kalau setelah semua ini kamu masih menutup mata dan enggan menerima keberadaan Sera, artinya kamu memang tidak tahu diri dan tidak tahu cara membalas budi, Sintia," ucapnya dengan nada ketus yang tidak lagi disembunyikan. Sintia tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menatap diam ke arah ibunya dengan sepasang mata yang tampak meredup, sebelum akhirnya memalingkan muka ke sisi lain ranjang, menghindari perdebatan lebih jauh. Eyang Utari yang melihat sikap keras kepala Sintia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia memilih untuk tidak lagi membuang kata-kata. Pandangannya beralih dari ranjang, bergerak menyapu ruangan hingga tertuju pada Ratu yang kini sudah duduk santai di atas sofa kulit di sudut kamar sembari memainkan ujung kukunya. Di dalam benak Eyang Utari, sebuah ironi mendadak melintas, bahkan anak kandung yang dilahirkan dan dibesarkan oleh Sintia sendiri pun tidak peduli pada keselama
Di dalam kamar perawatan Sintia. Keluarga wanita itu sudah datang. Ratu tampak melangkah masuk terlebih dahulu, disusul oleh Eyang Utari di belakangnya. Sedangkan Dewa belum nampak batang hidungnya. Eyang Utari berjalan dengan langkah yang sedikit tergesa. Wajah senjanya dipenuhi kecemasan yang mendalam saat pandangannya terkunci pada sosok Sintia yang masih terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di punggung tangan. Wanita tua itu segera mengambil tempat duduk di kursi yang berada tepat di sisi ranjang. "Sintia... bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja? Bagian mana yang terasa sakit?" tanya Eyang Utari, suaranya bergetar pelan saat tangannya yang keriput meraih dan mengusap jemari Sintia yang terasa dingin. Sintia tidak langsung menjawab. Ia hanya diam mematung, memalingkan wajahnya ke arah lain seolah enggan menatap mata ibunya. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat, menyembunyikan emosi yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Melihat keterdiaman ibunya, Ratu
Erika duduk di depan Rendra dan Sera di salah satu meja bundar kantin rumah sakit. Beberapa saat yang lalu, setelah tertangkap basah membicarakan cowok keren di balkon lantai tiga, Rendra dengan santai justru mengajak dua wanita itu untuk minum kopi bersama. Namun, alih-alih santai, Erika langsung didera rasa takut yang luar biasa. Sepanjang duduk, kepalanya menunduk terus menatap permukaan meja, bahkan tidak berani menyentuh cangkir kopi di depannya. Tubuhnya sempat tersentak kaget saat suara berat Rendra memecah keheningan di antara mereka. "Jadi, siapa nama kapten tim bola basket yang kalian bicarakan tadi?" tanya Rendra, nadanya terdengar datar namun menuntut jawaban. Erika tersentak, bola matanya bergerak gelisah. Ia melirik Sera sekilas, merasa bingung dan bimbang apakah harus menjawab pertanyaan sensitif itu atau tetap diam. Namun, melihat tatapan mata Rendra yang lurus menghujam ke arahnya, ia akhirnya memberanikan diri membuka suara dengan terbata-bata. "Na-namanya
Di dalam kamar perawatan VIP yang sunyi, aroma cairan antiseptik menguar tipis. Sintia berbaring di atas ranjang dengan separuh tubuhnya tertutup selimut. Wajah wanita paruh baya itu masih nampak pucat, menyisakan gurat syok yang teramat sangat. Selang infus terpasang di punggung tangan kanannya. Rendra melangkah mendekat ke sisi ranjang, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap ibunya datar. "Aku sudah menghubungi Papa. Orang-orang di rumah juga sudah dikabari mengenai kondisi Mama," ucap Rendra memecah keheningan. Sintia tidak menoleh. Sepasang matanya hanya menatap lurus dan datar ke arah pintu kamar rawat yang tertutup rapat, seolah sedang menunggu seseorang. Rendra menyadari arah pandangan ibunya. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Sera tidak mau masuk ke sini. Dia tidak ingin kehadirannya malah membuat kondisi Mama semakin memburuk." Mendengar nama itu disebut, Sintia tetap bergeming. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengalihkan pandangannya dari pintu menuju







