Share

Pelukan Hangat Tuan Presiden
Pelukan Hangat Tuan Presiden
Author: Adinasya Mahila

Tatapan Pria Itu

last update publish date: 2026-04-08 14:32:23

Sera menunduk dalam, membiarkan rambut hitamnya jatuh menutupi sisi wajah saat suara tawa tertahan pecah di ruang istirahat koas RS Narita.

“Harusnya rumah sakit ini punya filter udara yang lebih baik,” celetuk seorang koas pria sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung saat Sera melewatinya untuk mengambil air minum. “Bau bensin dan aspal itu susah hilang, ya? Nempel sampai ke serat jas putih.”

“Wajar saja,” sahut yang lain dengan nada meremehkan yang sengaja dikeraskan. “Beasiswa dari Yayasan Narrottama memang bisa membeli kursi di fakultas kedokteran, tapi tidak bisa membeli kasta. Sejauh apa pun dia berlari, dia tetap saja putri sopir pribadi keluarga Presiden.”

Sekarang Sera sudah terbiasa mendengar hinaan itu. Hampir semua orang di angkatannya tahu bahwa ia adalah “anak emas” Yayasan Narrottama, yayasan milik keluarga presiden terpilih saat ini, yang membiayai seluruh pendidikannya dari nol.

Awalnya menyakitkan. Namun lama-kelamaan, Sera belajar membangun tembok di hatinya. Ia tidak punya waktu untuk merasa hancur, karena setiap detik yang ia buang untuk menangis terasa seperti pengkhianatan bagi keringat ayahnya.

Jari-jarinya mengencang di gelas plastik yang ia pegang, tetapi hanya sesaat. Sera menggeleng pelan, lalu kembali duduk. Lebih baik ia fokus pada jurnal di hadapannya. Menyahut atau membalas tatapan mereka tidak akan mengubah apa pun.

Namun, keriuhan di ruang istirahat mendadak berpindah arah saat volume televisi di dinding ruangan dinaikkan. Perdebatan tentang kasta terhenti, digantikan oleh wajah yang kini mendominasi setiap sudut negeri.

Dharendra Narrottama.

Sera mendongak tanpa sadar, merasakan detak jantungnya berubah cepat setiap kali melihat pria itu.

Di layar, Rendra berdiri di balik podium marmer setelah pengumuman kemenangan mutlaknya sebagai Presiden terpilih Iraya. Ia tampak matang dalam setelan jas hitam yang membalut bahu lebarnya dengan sempurna. Tidak ada senyum berlebih, hanya tatapan mata tajam yang seolah mampu menembus layar dan mengintimidasi siapa pun yang menontonnya.

Pembawa berita membacakan deretan prestasinya dengan nada menggebu-gebu. Dharendra Narrottama disebut sebagai tokoh muda paling berpengaruh di Iraya, mantan ketua dewan reformasi ekonomi, sosok di balik restrukturisasi industri energi nasional, dan figur yang paling dikagumi oleh para milenial dan gen Z.

Itu adalah siaran ulang berita saat pelantikan Presiden Iraya dua bulan lalu.

Sera menarik napas pendek, mengalihkan pandangan ke ujung sepatu putihnya yang sedikit berdebu. Namun suara bariton dari televisi itu tetap menembus pertahanannya.

Ia mendongak lagi.

Kali ini, bukan sebagai warga Iraya yang sedang menyaksikan pemimpin barunya, melainkan sebagai gadis yang pernah mengenal pria itu dari jarak yang sangat dekat.

Sudah bertahun-tahun Sera tidak melihat wajah itu secara langsung, sejak ia masih mengenakan seragam putih abu-abu dan Rendra harus berangkat ke luar negeri untuk mengejar mimpinya.

Bagi dunia, Rendra adalah pemimpin baru yang tak terkalahkan. Namun di mata Sera, pria itu tetaplah sosok “Tuan Muda” yang dulu pernah membelanya di depan anak-anak sombong di lingkungan mansion. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya, namun juga rasa segan yang begitu besar.

Ia menghormati Rendra lebih dari siapa pun. Namun Sera sadar, semenjak pria itu duduk di kursi nomor satu, hubungan mereka bukan lagi sekadar gerbang depan dan paviliun belakang.

Kini, mereka berada di dua dunia yang berbeda.

Namun di balik kekaguman itu, ada kegelisahan tipis yang merayap di benak Sera. Ia menatap Rendra yang berdiri sendirian di podium, tanpa pendamping, tanpa seseorang di sisinya.

Sera teringat cerita-cerita ayahnya saat malam hari di paviliun. Tentang beban berat yang dipikul seorang pemimpin Iraya dan bagaimana alam akan menuntut 'keseimbangan'.

Pikiran itu yang membuat Sera merasa ada sesuatu yang aneh setiap kali ia menatap sorot mata Rendra di layar, seolah ada badai yang sedang mengintai pria itu dari tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun.

“Semoga Anda baik-baik saja, Tuan Muda…” bisik Sera lirih.

Ia memaksa sudut bibirnya terangkat kecil, lalu kembali menatap jurnal di atas meja. Ia harus fokus. Lagi pula, hidup Rendra sekarang terlalu jauh untuk dipikirkan olehnya.

Namun beberapa menit kemudian, Sera justru merasa dadanya sesak. Napasnya terasa pendek, sementara ruang istirahat yang sempit itu saat ini membuatnya semakin tidak nyaman.

Ia bangkit dari kursi, berniat menuju kantin lobi untuk mencari udara.

Namun begitu kakinya menapak di lantai marmer lobi utama, Sera langsung menyadari ada yang salah.

Lobi yang biasanya tenang, tiba-tiba ramai dan ribut. Barisan pria berjas hitam dengan komunikasi nirkabel di telinga berlalu-lalang dengan langkah cepat namun sunyi. Mereka menutup jalur umum dan mengarahkan orang-orang ke pintu samping dengan gerakan tangan yang tegas.

“Ada apa ini?” tanya Sera lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

“Sepertinya ini, Protokol Sanctuary,” bisik seorang perawat senior yang tiba-tiba ada di sampingnya, suaranya bergetar antara gugup dan kagum. “Presiden terpilih harus meninjau beberapa rumah sakit sebagai pusat medis utamanya. Dan… rumah sakit kita ternyata termasuk dalam pilihan Pak Presiden.”

Jantung Sera mendadak berdegup kencang hingga terasa sampai ke kerongkongan.

Belum sempat Sera bergerak, barikade keamanan sudah terbentuk di belakangnya. Ia terjebak di pinggir koridor, bahunya merapat ke dinding di antara barisan staf medis yang kini diperintahkan untuk menunduk hormat.

Lalu, pintu kaca ganda itu terbuka.

Suara sepatu yang beradu dengan lantai marmer terdengar tegas, berat, dan terukur. Sera memberanikan diri sedikit mendongak.

Dan di sanalah pria itu.

Dharendra Narrottama melangkah masuk dengan wibawa yang seolah sanggup menghisap seluruh oksigen di ruangan itu. Rendra tidak mengenakan jas formal. Kemeja hitam yang ia kenakan digulung hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangan kokoh yang selama ini hanya Sera lihat lewat layar kaca.

Di sekelilingnya, jajaran direksi dan dokter-dokter senior RS Narita segera membungkuk hormat. Direktur rumah sakit berjalan cepat di sisi Rendra dengan wajah penuh sanjungan, memaparkan keunggulan fasilitas mereka dengan antusias.

Rendra menanggapi semuanya dengan tenang. Ia mengangguk sopan pada Kepala Departemen Bedah dan memberi senyum tipis yang berwibawa saat sang direktur mulai menjelaskan teknologi terbaru rumah sakit mereka. Suara baritonnya terdengar rendah, namun cukup untuk memenuhi setiap sudut lobi.

Namun tepat saat rombongan besar itu melintasi barisan tempat Sera berdiri, langkah tegas Rendra mendadak melambat.

Direktur rumah sakit tersentak pelan. Kalimatnya tentang fasilitas radiologi menggantung di udara.

Para dokter senior di belakangnya ikut menghentikan langkah, saling melirik dengan raut bingung yang tak mampu mereka sembunyikan.

Pria itu perlahan memutar kepalanya, mengabaikan jajaran direksi yang kini terpaku menatapnya dengan penuh tanya. Tatapan tajam Rendra menembus lurus ke depan, melewati pundak para petinggi medis.

Lalu, pandangan itu berhenti.

Pada Sera.

Napas Sera tercekat.

Di tengah kerumunan orang-orang paling berkuasa di rumah sakit itu, Rendra justru mengunci matanya pada Sera.

Tatapan itu begitu gelap, berat, dan penuh tekanan yang tidak sanggup Sera mengerti.

Jari-jarinya mencengkeram ujung jas putihnya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Lututnya terasa lemas, sementara dadanya berdebar tidak karuan.

Tuan Rendra... menatapku?! Kenapa dia menatapku di depan mereka semua?

Adinasya Mahila

Halo terima kasih sudah mampir ke dunia Sera. Mampir juga ya ke Igehnya di Iraya_Universe buat lebih kenal sama dunianya Sera. Makasih

| 3
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Novita Sari
masuk na, balik ke novel lagi stlh kmrn dracin
goodnovel comment avatar
Devi Pramita
bakal seru nih.. semangat ya sera
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
kenapa kamu ditatap rendra?? karena rendra punya rencana buat kamu sera,,hihihi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Namun Memprovokasi

    Sintia merebut ponsel itu dari tangan Sofia dengan gerakan cepat. Matanya membelalak lebar, terpaku pada gambar yang terpampang di layar. Di sana, terlihat jelas sosok Ratu sedang duduk berdua di sebuah bangku taman dengan seorang remaja laki-laki. "Geser saja layarnya, Tante. Masih banyak foto lain yang menunjukkan betapa dekatnya mereka berdua," bisik Sofia, suaranya terdengar begitu tenang namun memprovokasi. Jemari Sintia bergetar saat ia menyapu layar ponsel ke samping. Foto demi foto menampilkan kedekatan yang nyata. Di salah satu gambar, Ratu tampak tertawa seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Arkan. Napas Sintia seketika tercekat, dadanya bergemuruh hebat hingga genggaman tangannya di ponsel itu mengerat kuat. "Ratu... mana mungkin..." desis Sintia tak percaya, bibirnya bergetar menahan amarah yang mulai membakar ubun-ubunnya. Sofia menarik napas panjang, melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut prihatin yang dibuat-buat. "Aku sendiri yang meminta foto-foto

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pasangan Romantis

    Deo melangkah mendekat, lalu tangannya terulur meraih kembali jemari Erika, menggenggamnya mantap tanpa keraguan."Aku akan menemanimu bicara ke papamu," ucap Deo dengan tatapan lurus menghujam manik mata Erika. Suaranya terdengar begitu tenang dan dalam. "Aku ingin melihat langsung bagaimana reaksinya. Dan kalau beliau sampai marah besar, aku sendiri yang akan berdiri di depan untuk melindungimu."Erika menatap pria itu lekat-lekat, bibirnya terkatup rapat sementara rasa hangat seketika melingkupi dadanya, meluruhkan sisa-sisa amarah yang tadi membakar kepalanya.Kalimat penuh kesungguhan dari Deo itu rupanya sampai ke telinga Lana yang sejak tadi mengintip dari balik sekat pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah. Lana berdiri menyandarkan bahu di kusen kayu, meneguk air putih dari gelas kaca di tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sejoli itu."Kamu sedang melihat apa, Lana? Kamu menguping ya?" bisik sebuah suara lembut tepat di belakang telinga Lana."Asta

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Dulu!

    Arkan menggeleng santai seraya menatap kakaknya tanpa rasa bersalah. "Ayah sama Ibu belum tahu. Dari awal kami memang sepakat untuk backstreet saja."Mendengar kata itu meluncur begitu enteng, Sera membelalakkan matanya sesaat, lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke sandaran kursi seraya menggeleng-gelengkan kepala. Rasa tak percaya kian menguasai benaknya. Sikap adiknya yang terlalu santai itu justru membuktikan dugaannya sejak awal bahwa Arkan memang tidak akan pernah sanggup berpikir sampai ke jenjang yang lebih serius dengan Ratu.Sera menarik napas panjang, menatap Arkan dengan sorot mata yang sarat ketegasan. "Aku tidak akan memberitahu Ayah dan Ibu soal hubungan kalian berdua ini. Itu hak kamu sendiri untuk memberitahu mereka atau tidak, dan aku tidak mau ikut campur lebih jauh ke ranah itu."Sera memajukan sedikit tubuhnya ke arah kasur, menunjuk dada adiknya dengan jari telunjuk. "Tapi yang paling penting kamu harus ingat baik-baik, Arkan. Perasaan orang itu bukan barang maina

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Cinta Monyet

    Sera tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap lekat manik mata adiknya, lalu menganggukkan kepala perlahan dengan guratan wajah yang tegas."Ayo masuk ke dalam. Kita bicara di dalam saja," ucap Sera seraya menunjuk pintu depan rumah dengan dagunya.Arkan menghela napas pasrah, menundukkan pandangannya seraya meletakkan helm di atas jok motor. Sera kemudian berbalik, menoleh ke arah Lana dan Deo yang masih berdiri tegak di dekat pintu mobil dengan sikap waspada."Lana, Deo, kalian berdua ikut masuk saja ke dalam," ujar Sera lembut seraya melambaikan tangannya pelan. "Tidak perlu berjaga di luar seperti itu, cuacanya panas. Duduk di ruang tamu saja.""Baik, Nona Sera," sahut Deo dan Lana hampir bersamaan seraya mengangguk patuh.Mereka berempat akhirnya melangkah beriringan melewati pintu teras yang terbuka. Begitu kakinya menjejak lantai ruang tamu yang beralas karpet sederhana, Arkan berbalik menghadap kakaknya. Pemuda itu melirik sekilas ke arah Deo dan Lana yang mu

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Cemburu Berat

    Sera yang menangkap arti tatapan saling melempar pandang antara suaminya dan Evan langsung membuka suara. Sudut bibirnya terangkat tipis untuk meredakan kecemasan di ruangan itu."Tenang saja, Mas. Aku tetap tahu batas kok," ucap Sera meyakinkan seraya memandang suaminya lurus.Rendra menghela napas tipis lalu mengangguk singkat. Sera melangkah mendekat, meraih tangan kanan Rendra untuk mencium punggung tangannya dengan takzim. "Aku pamit pergi dulu ya, Mas.""Hati-hati di jalan. Jangan terbawa emosi saat bicara dengan Arkan," pesan Rendra lembut seraya membalas remasan tangan sang istri.Sera berbalik dan melangkah keluar menuju pelataran istana. Di sepanjang koridor, jemarinya terus bergerak mengetik balasan pesan singkat dari Erika. Sahabatnya itu sejak tadi tiada henti mengeluh lewat pesan teks, mengaku kepalanya hampir pecah memikirkan situasi yang ada. Pasalnya, Deo sudah berjanji akan memberanikan diri menemui papanya. Namun gara-gara berita heboh itu mencuat, papanya kini mala

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Meredam Berita

    Ratu bukannya tidak tahu soal berita yang menghebohkan publik pagi ini. Tengah malam tadi ia sempat terbangun dari tidur, iseng membuka ponsel lalu menjelajahi media sosial, dan langsung menemukan artikel serta foto-foto itu berseliweran di linimasanya. Pandangan Ratu beralih dari ujung karpet menuju layar tablet yang baru saja dilempar kasar oleh ibunya. Gadis itu menarik napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa tanpa rasa gentar sedikit pun. "Kenapa sih, Ma, ribut sekali sepagi ini?" keluh Ratu seraya memutar bola matanya malas. "Mana mungkin aku berkencan dengan pria seperti pengawal pribadi Sera? Itu cuma berita ngaco yang dibesar-besarkan media saja." Dada Sintia kian naik-turun mendengar jawaban santai putrinya. Sorot matanya menatap tajam ke arah Ratu. "Kalau memang berita itu ngaco, kenapa bisa sampai muncul foto dan narasi memalukan seperti ini di internet?!" "Ya mana aku tahu, Ma," sahut Ratu ketus seraya mengibaskan tangannya pelan. "Jangan tanya ke aku. T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status